
"Sudahlah Ma, jangan pikirkan soal itu. Kita hanya perlu saling menguatkan. Kita bisa bahagia kan tanpa Kak Sindi?" tanya Rian.
"Kamu benar," jawab Nyonya Helen.
Bibirnya mungkin mengiyakan apa yang Rian ucapkan. Tapi jauh di lubuk hatinya ia menolak. Kehadiran semua orang yang ada di sekitarnya memang bisa membuatnya bahagia. Tapi akan jauh lebih bahagia jika Sindi berada di tengah-tengah mereka seperti dulu. Apalagi saat ada Dandi. Rumah pasti akan semakin hangat dan ramai.
"Ini kenapa pada kumpul di sini?" tanya Tuan Wira.
"Papa mau tahu aja urusan Mama," jawab Nyonya Helen.
"Loh, kan Mama juga selalu mau tahu urusan dompet Papa. Wajar dong," ucap Tuan Wira.
"Papa memang tidak tahu situasi," ucap Nyonya Helen kesal.
Nyonya Helen berdiri dari bebangkuan dan memukul tangan Tuan Wira lalu meninggalkan mereka berdua. Tuan Wira hanya mengerutkan dahinya sambil mengaduh.
"Ri, mau kemana?" tanya Tuan Wira saat melihat Rian berdiri dari bebangkuan.
"Aku mau ke kamar," jawab Rian.
"Oh, tidak bisa. Duduk!" perintah Tuan Wira sambil menunjuk bebangkuan.
"Loh, kenapa?" Rian balik bertanya.
"Papa harus tahu apa yang kalian bicarakan tadi," jawab Tuan Wira. "Ayo cepat duduk!" lanjutnya sambil menarik tangan Rian agar duduk di sampingnya.
"Maaf ya Pah. Aku mau ke kamar," ucap Rian.
"Eh, tunggu dulu. Ayo jelaskan padaku apa yang kalian bicarakan," ucap Tuan Wira.
"Tapi aku tidak selalu tahu urusan dompet Papa kan?" tanya Rian.
Rian menahan tawa melihat reaksi Tuan Wira yang menatapnya bingung. Sementara tangannya masih dipegang erat oleh Tuan Wira.
"Jadi aku tidak apa-apa kan kalau tidak menjelaskan apapun?" lanjut Rian sambil melepaskan Tuan Wira dari tangannya.
"Ibu sama anak kok sama aja," ucap Tuan Wira.
Rian berlalu meninggalkan Tuan Wira sambil tersenyum. Ia berusaha untuk menyimpan masalah ini agar tidak terlalu banyak orang yang sedih karena mengingat perubahan Sindi.
Baru saja Rian merebahkan tubuhnya, ia sudah kembali bangun. Tuan Wira menyusulnya ke kamar. Rasa penasaran yang membuatnya tidak bisa melepaskan Rian begitu saja.
"Rian, jelaskan pada Papa apa yang kalian bicarakan tadi," ucap Tuan Wira.
"Rahasia," jawab Rian.
"Rian," ucap Tuan Wira dengan nada ancaman.
"Iya Pah iya," ucap Rian.
Rian pun duduk di samping Tuan Wira sambil menjelaskan apa yang sudah ia bicarakan dengan Nyonya Helen.
Tuan Wira hanya diam mendengarkan dengan penuh kesedihan. Hatinya juga bergetar saat mengingat semua perubahan Sindi. Namun di hadapan Rian ia tdiak mau terlihat cengeng. Ia bersikap seolah tenang-tenang saja.
__ADS_1
"Namanya juga hidup. Semua berjalan sesuai arah. Mungkin arahnya Sindi berbeda dengan arah hidup kita. Kamu bantu Mama ya biar tidak berlarut-larut memikirkan Sindi," ucap Tuan Wira.
Telinga Rian memang mendengar kalimat itu. Namun sorot mata Tuan Wira tidak bisa dibohongi. Seperti halnya Nyonya Helen yang sudah menyayangi Sindi dengan tulus, tentu ada rasa kecewa dan sakit saat Sindi tiba-tiba berubah menjauh. Bahkan menghilang begitu saja dari kehidupan mereka.
"Iya Pah. Nanti aku bicara dengan Mama," ucap Rian.
Mungkin pura-pura tidak peka akan membuat kesedihan di rumah itu selesai. Rian hanya diam saat melihat Tuan Wira pamit untuk kembali ke kamar.
Melewati malam ini dengan pemikiran yang sama, membuat ketiganya tidak bisa tidur. Mereka masih bergulat dengan perubahan Sindi yang sangat drastis.
Entah jam berapa mereka tertidur. Yang pasti pagi ini mereka bangun lebih siang dari biasanya. Sampai-sampai Naura dan Narendra menunggu mereka bertiga di ruang makan untuk sarapan.
"Naura kita makan duluan yu!" ajak Narendra.
"Nanti. Kita harus nunggu yang lain," ucap Naura.
"Tapi ini sudah siang. Kita bisa kesiangan," ucap Narendra.
Naura melihat jam dinding. Ini memang sudah waktunya sarapan. Kalau ia menunggu lebih lama, ia takut berangkat sekolah lebih siang. Padahal jam pertama ada ulangan di sekolahnya.
"Ya sudah ayo makan!" ajak Naura.
Narendra dan Naura pun sarapan lebih dulu. Meninggalkan Rian dan yang lainnya. Setelah selesai, Rian baru datang ke ruang makan.
"Kita berangkat dulu ya Om!" ucap Narendra sambil mencium tangan Rian.
Naura tidak bicara apapun selain ikut mencium tangan Rian dan pergi. Sementara Rian hanya mengerutkan dahinya. Ia melihat pergelanga. tangannya. Jam silver yang harganya ratusan juta itu memang sudah menunjukkan waktu mereka untuk berangkat.
"Kenapa, Om?" tanya Narendra.
"Paling juga mau bilang hati-hati ya! Belajar yang pintar dan jangan jajan sembarangan," ucap Naura malas.
"Tetooooot. Kali ini jawaban kamu salah, anak pintar. Om mengerjar kalian karena kita akan berangkat bersama," ucap Rian.
"Benarkah?" tanya Naura senang.
"Memangnya wajah Om terlihat berbohong ya?" Rian balik bertanya untuk meyakinkan Naura agar kebohongannya tidak dicurigai.
"Horeeee," teriak Naura senang.
"Ayo berangkat. Ini sudah siang!" ucap Narendra sambil menutup telinganya karena teriakan Naura membuat telinganya terganggu.
"Ayo!" ajak Rian.
Rian segera mengikuti Naura dan Narendra yang berjalan lebih dulu. Sebelum masuk ke mobil, Rian tidak lupa titip pesan pada orang rumah untuk memberi tahu Nyonya Helen dan Tuan Wira tentang keberangkatannya.
Nyonya Helen yang menerima pesan itu segera memanggil suaminya untuk sarapan. Tuan Wira tidak sarapan di rumah karena ini sudah terlambat.
"Tungu, tunggu," panggil Nyonya Helen.
Sebuah tempat bekal di masukkan ke dalam sebuah tas jinjing berwarna pink untuk Tuan Wira.
"Mama tidak mau Papa sarapan sembarangan," ucap Nyonya Helen.
__ADS_1
Tuan Wira nampak bengong menatap tas bekal yang diberikan istrinya.
"Kenapa? Sarapannya enak kok. Bergizi dan dijamin higienis," ucap Nyonya Helen.
"Ini bukan masalah bekalnya Ma," ucap Tuan Wira.
"Terus kenapa?" tanya Nyonya Helen.
"Tasnya warna pink," jawab Tuan Wira sambil mengangkat tas bekal itu.
"Tasnya kenapa? Bagus kok," ucap Nyonya Helen sambil melihat tas bekal itu.
Bagus? Ucapan yang tidak bisa ia bantahkan lagi. Pasrah. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan daripada harus berdebat dengan istrinya pagi ini.
"Ya sudah Papa berangkat ya!" ucap Tuan Wira.
"Pah, tidak mau bilang sesuatu sama Mama?" tanya Nyonya Helen.
"Sesuatu?" tanya Tuan Wira.
"Terima kasih gitu Pah buat bekal dari Mama," ucap Nyonya Helen.
Terima kasih untuk bekal? Seharusnya ia protes. Tapi ya sudahlah. Ia tidak mau pagi ini menjadi runyam hanya karena perkara ucapan terima kasih saja.
"Terima kasih ya Ma," ucap Tuan Wira.
"Pah, Pah," panggil Nyonya Helen.
"Apa lagi sih Mah?" tanya Tuan Wira.
"Ini," ucap Nyonya Helen sambil menunjuk dahinya.
Tuan Wira segera mengecup dahi istrinya. Meskipun usia pernikahan mereka sudah cukup lama, namun keduanya menjaga keharmonisan rumah tangganya. Hal-hal kecil yang membuat rumah tangganya semakin dekat, selalu mereka lakukan.
"Dadah Papa," ucap Nyonya Helen sambil melambaikan tangannya.
Tuan Wira membalas lambaian tangannya. Senyum manis menghiasi wajahnya untuk menyenangkan hari istrinya. Namun setelah mobil melaju semakin jauh dari rumahnya, senyuman itu perlahan memudar dan hilang.
"Mama ini ada-ada saja. Masa tas bekalnya berwarna pink?" gumamnya sambil melihat tas bekal yang ada di pangkuannya.
Kali ini ia berangkat dengan sopir. Melihat kegelisahan Tuan Wira, sopir itu bertanya alasan perubahan sikap tuannya itu.
"Apa cara menyetir saya kurang nyaman, Tuan?" tanya sopir itu.
"Nyaman," jawab Tuan Wira.
"Maaf Tuan, tapi saya melihat Anda gelisah. Apa saya terlalu lambat menyetirnya?" tanya sopir itu memastikan.
"Tidak, ini tidak ada urusannya dengan caramu menyetir. Sudah fokus saja ke jalan," jawab Tuan Wira kesal.
"Baik, Tuan." Sopir itu hanya mengangguk dan kembali fokus dengan jalan.
Meskipun sesekali ia melihat Tuan Wira masih gelisah, tidak ada lagi pertanyaan untuk tuannya itu. Ia hanya memastikan untuk sampai ke kantor tepat waktu. Itu saja. Urusan kegelisahan Tuan Wira sudah bukan urusannya lagi.
__ADS_1