Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Minggu depan


__ADS_3

Kabar baik itu belum Rian keluarkan pada Mia dan yang lainnya. Ia akan menentukan tanggal yang pasti baru kabar itu akan ia umumkan. Ia yakin Nyonya Helen akan senang dengan berita ini. Tapi ia harus bisa menahan diri sebelum semuanya benar-benar yakin.


"Pah, besok aku boleh ke kantor?" tanya Rian.


"Tentu. Kamu jangan khawatir. Ada mba yang merawat Mama di rumah," jawab Tuan Wira.


Malam ini sebelum tidur Rian memijat kaki Nyonya Helen sebentar. Ia juga menceritakan banyak hal sebelum Nyonya Helen benar-benar tidur dalam pijatan Rian. Dari sofa, Tuan Wira melihat Rian begitu tulus merawat istrinya.


"Ri, ayo keluar! Biarkan Mama istirahat," ucap Tuan Wira.


"Iya Pah," jawab Rian.


Tuan Wira meminta Rian untuk duduk sebentar di ruang keluarga. Ia secara pribadi sebagai suami dari Nyonya Helen meminta maaf dan berterima kasih, atas semua yang terjadi di rumah itu.


"Pah, apaan sih. Aku ini sama seperti Kak Dion. Sama-sama anak Mama. Jadi aku punya kewajiban juga untuk merawat Mama," ucap Rian.


"Tapi akhirnya jadi kamu yang sering direpotkan dibanding dengan Dion. Kadang Papa malu sendiri," ucap Tuan Wira.


"Pah, Kak Dion kan sudah berumah tangga. Punya istri dan anak, jadi fokusnya terbagi. Papa jangan mikir yang macam-macam ah," ucap Rian.


"Jadi kalau nanti kamu berumah tangga, kamu juga akan sibuk mengurus keluarga barumu?" tanya Tuan Felix.


Pertanyaan Tuan Felix membuat Rian merasa dadanya sesak. Bahkan ia sendiri tidak tahu akan seperti apa rumah tangganya nanti. Namun ia punya kewajiban. Menenangkan Tuan Wira atas kekhawatirannya saat ini.


"Papa jangan khawatir. Aku akan berusaha menjaga fokusku untuk Mama dan Papa. Doakan saja aku dan istriku nanti bisa tetap menjadi anak yang diharapkan oleh Mama dan Papa," ucap Rian.


"Terima kasih ya Ri," ucap Tuan Wira.


Setelah melihat Tuan Wira tenang, Rian kembali ke kamarnya. Ia menaris napas dalam saat tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar namun pikirannya menerawang jauh menduga-duga apa yang akan terjadi dengan masa depannya nanti.


Tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ia menghubungi Riri. Panggilannya langsung dijawab dan tiba-tiba Rian merass gugup saat mendengar suara Riri. Suara yang sebentar lagi akan menjadi suara penting dalam bagian hidupnya.


"Papa sudah sampaikan jawaban kamu. Aku ucapkan banyak terima kasih atas jawabanmu Pus," ucap Rian.


"Ya meskipun sebenarnya aku kecewa karena Papa yang menanyakan hal sepenting itu," jawab Riri.

__ADS_1


"Maaf Pus. Tapi aku tidak punya keberanian akan hal itu," ucap Rian.


"Kamu itu calon kepala keluarga Mas. Jadi harus tegas. Seharusnya apapun jawabanku saat itu, kamu harus berani." ucap Riri.


"Tapi aku belum siap untuk kecewa Pus," ucap Rian.


"Mas selalu saja kalah sebelum berperang. Ya dicoba dulu dong," ucap Riri yang masih meluapkan kekecewaannya.


"Ya sudah kan yang penting sekarang kamu sudah siap jadi istriku," ucap Rian mengakhiri perdebatan.


Rian pun mulai memberanikan diri bertanya tentang kapan kesiapan Riri untuk menikah dengannya. Jawaban Riri sangat mengejutkan. Karena Riri menjawab jika minggu depan ia akan pulang ke Indonesia dan menawarkan waktu itu digunakan untuk akad nikah.


"Tapi aku belum mempersiapkan apapun," ucap Rian.


Rasa bahagia itu terbentur kecemasannya karena tidak ada persiapan sama sekali. Semua uang masih ditabung dan belum ada pemesanan gedung atau apapun itu.


"Yang penting akadnya. Mama Helen juga tidak minta pesta mewah kan?" tanya Riri.


"Tidak. Mama sama sekali tidak meminta hal seperti itu. Mama hanya ingin melihat aku menikah dan benar-benar menemukan istri yang bisa mendampingiku," jawab Rian.


"Kamu tidak keberatan dengan pernikahan sederhana?" tanya Rian.


"Kenapa tidak?" ucap Riri.


"Lalu bagaimana dengan pesta pernikahan impian kita?" tanya Rian.


"Semua adalah sebuah rencana. Bisa terjadi dan bisa juga tidak. Tapi semua akan lebih indah karena berjalan lebih cepat dari yang kita duga," jawab Riri.


Rian tersenyum lebar. Ia tdiak menyangka jima jawaban Riri akan seperti itu. Begitu menenangkan dan menyenangkan hatinya. Selama ini ia hanya terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Ternyata Riri sudah menunggu ajakan nikah dari Rian.


Sebenarnya masih ada beban yang mengganjal di hatinya. Ia ingin membahas tentang bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nanti. Namun ia tidak mau Riri badmood hanya karena permintaan Rian yang terlalu banyak.


"Apa yang Mas inginkan dariku nanti setelah menikah?" tanya Riri.


Pertanyaan yang Rian sendiri tidak tahu maksudnya. Menurutnya arti dari pertanyaan itu terlalu luas. Namun ia meraba-raba arah pertanyaan Riri padanya.

__ADS_1


"Aku tidak menginginkan banyak hal darimu. Aku hanya ingin kamu tetap menjadi istriku apapun situasinya nanti," jawab Rian.


"Hanya itu?" tanya Riri.


"Aku tidak ingin banyak menuntutmu untuk ini dan itu. Karena aku sendiri belum tentu bisa menjadi suami yang baik sesuai keinginanmu," jawab Rian.


"Kita akan sama-sama belajar. Jangan takut. Lagi pula dalam pernikahan itu tidak ada istilah saling menuntut. Mereka hanya saling mengerti satu sama lain saja. Kemudian setelah itu saling memperbaiki diri agar sesuai harapan pasangan," ucap Riri.


"Kamu benar. Mungkin waktu akan mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik," ucap Rian.


Rian mengakhiri panggilannya saat sudah mendapat jawaban tentang waktu. Yang belum terjawab adalah rumah tangga macam apa yang akan mereka jalani nanti. Ah sudahlah, jangan terburu-buru. Ia yakin jika Riri wanita baik. Ia tentu tahu mana yang terbaik untuk rumah tangganya nanti.


Malam ini Rian tidur nyenyak. Banyak hal yang menjadi faktor nyenyaknya Rian malam ini. Dari mulai membaiknya kondisi Nyonya Helen, keadaan kantor yang masih stabil sampai jawaban Riri tentang waktu pernikahan mereka nanti.


"Pagi Pah," sapa Rian pagi hari di ruang makan.


"Ceria banget. Dapat undian dimana?" tanya Tuan Wira sambil tersenyum.


"Papa ini ada-ada saja. Oh ya Mama gimana kabarnya? Semalam tidurnya nyenyak?" tanya Rian.


"Mama sudah sangat membaik. Mungkin efek dari obat yang diminumnya Mama jadi tidur nyenyak. Cuma sayangnya semalam Mama mengigau. Nanya kapan nikah," jawab Tuan Wira.


"Katakan kalau aku akan menikah minggu depan," ucap Rian penuh percaya diri.


"Apa tidak sekalian besok?" tanya Tuan Wira.


Tuan Wira sama sekali tidak percaya dengan ucapan Rian. Namun Rian meyakinkan Tuan Wira jika itu semua serius. Sempat tidak percaya namun Rian menghubungi Riri dan memintanya bicara langsung dengan Tuan Wira.


"Terima kasih. Papa tidak menyangka jika kalian akan mewujudkan harapan Mama," ucap Tuan Wira penuh haru.


"Seharusnya aku yang berterima kasih sama Papa. Berkat Papa, akhirnya Mas Rian mengajakku menikah." Riri tertawa senang.


Tentu saja hal itu membuat Tuan Wira ikut tertawa. Selain karena bahagia dengan jawaban Riri, ia juga senang saat mengejek Rian. Mengatakan jika Rian tidak punya keberanian untuk mengajak Riri menikah.


"Cemen kamu Ri," ucap Tuan Wira sambil tertawa.

__ADS_1


Rian hanya bisa pasrah saat Tuan Wira dan Riri menertawakannya. Namun di samping itu ia senang melihat Tuan Wira sudah bisa tertawa ceria kembali.


__ADS_2