Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ancaman Tuan Felix


__ADS_3

"Ri, Papa pulang ya!" ucap ayahnya.


Tanpa jawaban, Riri memilih untuk memeluk ayahnya dengan sangat erat. Kalau boleh jujur, ia menginginkan ayahnya tetap berada di sampingnya. Menjadi saksi atas kebahagiaan dirinya setelah menjadi istri Rian. Tapi apa boleh buat, ayahnya tidak mungkin meninggalkan istri dan anaknya yang lain.


"Papa sudah tenang karena kamu berada pada keluarga yang tepat. Bukan hanya suami, tapi semua keluarga suamimu begitu menyayangimu. Tapi Papa punya tugas yang lain. Masih ada yang harus Papa lakukan di sana," ucap ayahnya.


Air mata Riri sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia ingin mengantarkan ayahnya pulang. Ia ingin berjumpa dengan ibu dan kakaknya. Namun ayahnya melarang. Menurutnya ini bukan waktu yanh tepat. Ayahnya tidak mau jika hari bahagia Riri berubah karena ulah keduanya.


"Kamu jangan khawatir. Papa yang akan menemani ayahmu pulang. Papa akan memastikan ayahmu akan baik-baik saja di sana," ucap Tuan Felix.


Pria yang sudah tidak muda lagi namun memiliki semangat yang selalu berapi-api. Ia tidak pernah kelihatan lelah meskipun banyak hal yang harus dikerjakan. Ia selalu memiliki ide-ide bagus yang bisa menyelesaikan banyak permasalahan. Bukan hanya tentang perusahaan, tapi juga tentang urusan pribadi.


Termasuk hari ini, bisa dikatakan semua acara berjalan lancar berkat bantuan Tuan Felix. Ia yang menjamin jika semua terjadi sesuai rencana, tanpa gangguan apapun.


"Jangan merepotkan Tuan, saya bisa pulang sendiri. Lebih baik Tuan dan yang lain tetap di sini. Saya yakin kalian pasti lelah," ucap ayahnya Riri.


"Jangan pilih kasih. Masa Wira dan istrinya dipanggil besan, saya tidak? Saya juga ayahnya Rian," ucap Tuan Felix.


Dengan malu-malu akhirnya ayahnya Riri ikut memanggil Tuan Felix dengan sebutan Pak Besan. Ia tidak menyangka jika banyak sekali yang menyayangi Riri. Rasa bersalahnya pada Riri terbayar saat melihat Riri dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik dan tulus.


Tuan Felix mengantar ayahnya Riri pulang. Ia bahkan menemui ibu dan kakaknya Riri sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu. Tidak lupa ia memberi sedikit ancaman kecil saat melihat wajah emosi kakaknya Riri di sana.


"Jangan macam-macam," ucap Tuan Felix sambil menepuk pistol yang ada di tangan orang suruhannya.


Baik ibu ataupun kakaknya Riri tidak ada yang berani buka suara. Keduanya bungkam meskipun wajah mereka memerah menahan amarah. Bagaimana tidak, pernikahan Riri yang disebut-sebut akan diadakan dengan sangat sederhana, ternyata digelar mewah dan disiarkan di beberapa stasiun televisi.


"Kami pulang ya Pak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menelepon saya. Saya pastikan saya akan datang bersama mereka," ucap Tuan Felix.


Ancaman yang berhasil membuat kedua wanita itu diam mematung tanpa bicara sedikitpun. Bahkan sampai Tuan Felix pergi pun, keduanya tidak ada yang berani bicara pada ayahnya.


"Kalian sudah makan? Ini aku bawakan makanan. Ma, besan kita membawakanmu banyak makanan yang sangat enak," ucap ayahnya Riri.


Sebenarnya mereka sama sekali tidak merasa itu adalah hal yang istimewa. Namun karena merasa lapar, mereka segera memburu apa yang dibawa dari pesta pernikahan Riri.


Keduanya makan dengan lahap. Hampir menghabiskan banyaknya makanan yang dibawa ke rumah itu. Setelah selesai makan, keduanya memilih untuk pergi ke kamar masing-masing. Sikap dingin terjadi di rumah itu. Tapi itu bukan masalah besar bagi ayahnya Riri.


Apa yang terjadi di rumah Riri diceritakan oleh Tuan Felix saat sudah kembali ke rumah Tuan Wira. Ia menceritakan bagaimana ancamannya yang membuat keduanya ketakutan. Hal itu tentu membuat Riri dan yang lainnya tertawa. Ia bahkan sampai memeluk Tuan Felix.


"Terima kasih ya Pah," ucap Riri.


"Iya, iya. Sudah jangan memeluk Papa seperti ini. Ada yang cemburu tuh," ucap Tuan Felix sambil memberi kode dengan matanya.


Semua mata tertuju pada Rian yang tampak mengerutkan dahinya. Tentu Rian mengelak saat dituduh cemburu pada Tuan Felix. Baginya pelukan itu sangat wajar karena Riri sudah menganggap Tuan Felix sebagai ayahnya juga.


"Ya sudah kalau begitu, pengantin baru istirahat ya. Silahkan lakukan tugas dan kewajibannya. Kejar pahala sebanyak-banyaknya malam ini ya," ucap Tuan Felix.


Kalimat itu membuat wajah Rian dan Riri memerah. Mereka malu dengan tatapan semua orang yang tertuju pada mereka. Belum lagi bayangan tentang malam pertama yang membuat keduanya masih bingung karena ini terjadi terlalu cepat. Jauh lebih cepat dibanding rencana yang mereka buat beberapa saat.


"Apa sih Pah, kita kan masih mau ngobrol-ngobrol." Rian mencoba mengalihkan pembahasan tentang malam pertama.

__ADS_1


"Ya sudah ngobrol di kamar. Kita mau istirahat. Ayo Pah," ajak Nyonya Helen.


Begitu cepat Nyonya Helen mengerti kode yang disampaikan oleh Tuan Felix. Tanpa menunggu aba-aba semua pergi ke kamarnya masing-masing. Menyisakan Rian dan Riri yang masih mematung dan salah tingkah.


"Ayo ke kamar!" ajak Rian.


"Mau apa Mas?" tanya Riri dengan polosnya.


"Istirahat. Kamu pasti lelah. Ayo!" ajak Rian sambil menggenggam tangan istrinya.


Rian tersenyum saat tangan yang ia genggam itu ikut melangkah menuju kamarnya. Meskipun ia tidak yakin kalau malam ini waktu yang tepat, tapi paling tidak malam ini ia akan menghabiskan waktu yang indah dengan Riri. Wanita yang selama ini didambakannya.


"Mas, kenapa pintunya ditutup?" tanya Riri saat Rian menutup rapat pintu kamarnya bahkan menguncinya.


Riri bukan akan kecil yang tidak tahu apa-apa. Ia sangat paham apa yang akan dilakukan Rian. Bukannya ia menolak, hanya saja ia masih belum siap. Rasanya ini terlalu cepat. Apalagi saat ini ia sedang menstruasi.


"Memangnya tidak boleh? Aku biasa menutup pintu kamarku meskipun tidur sendiri. Kamu tidak terbiasa?" tanya Rian.


Riri tidak menjawab. Ia hanya menelan salivanya dan salah tingkah. Beberapa tumpuk kado sudah ada di sudut kamar Rian. Kamar yang berukuran cukup besar itu nyaris dipenuhi kado.


"Kita buka-buka kado yu!" ajak Rian.


Sekejap Riri merasa sangat lemas saat mendengar kata buka-buka. Kepalanya sudah berpikir kotor. Namun saat ada kata kado yang melengkapi kata buka tersebut, akhirnya Riri bisa bernapas lega.


"Ayo Mas," ucap Riri.


Kado demi kado mereka buka. Banyak sekali dan semua sangat berguna. Apalagi saat sebuah kado dibuka dan ternyata isinya adalah lingerie berwarna merah. Mata Rian langsung tertuju pada Riri.


"Pakai. Ini pasti cocok untukmu," ucap Rian sambil menyerahkan lingerie merah itu.


Riri menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau memakai pakaian yang sangat tipis dan kurang bahan itu. Namun Rian memaksanya. Akhirnya Riri tidak mau memberi harapan pada Rian. Akhirnya ia jujur kalau saat ini tidak bisa melayaninya.


"Aku tidak bisa. Sedang palang merah," ucap Riri.


"Hah? Palang merah?" tanya Rian terkejut.


"Iya," jawab Riri.


"Sudah lama?" tanya Rian.


"Baru hari ini," jawab Riri.


"Astaga," ucap Rian sambil menepuk dahinya.


"Memangnya kenapa?" tanya Riri.


"Berapa lama biasanya?" tanya Rian lagi.


"Seminggu," jawab Riri.

__ADS_1


"Aduh, malang sekali nasibku." Rian menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal.


Sungguh tidak terbayang sebelumnya jika ia akan menunda malam pertamanya hingga seminggu. Menurutnya ibarat sayur, kalau sampai satu minggu itu sudah basi. Terlalu lama dan tentu membuatnya sangat kecewa.


"Mana aku tahu akan datang tamu hari ini," ucap Riri.


"Bisa dipercepat tidak sih?" tanya Rian.


"Mana bisa. Mas ini aneh-aneh saja ah," jawab Riri.


Malam ini Rian dibuat lemas dengan pengakuan Riri. Ia menyelesaikan bukaan kado karena semangatnya sudah hilang.


"Kita lanjut besok saja. Ini sudah malam. Ayo tidur!" ajak Rian.


Riri merapikan bungkus kado yang berserakan. Ia juga merapikan barang-barang pemberian tamu undangan itu ke dalam lemari. Meskipun belum tertata rapi karena ia belum tahu peruntukkan lemari yang ada di kamar Rian. Ia belum membahas pembagian zona lemari untuknya.


"Sudahlah, besok saja dilanjut. Sekarang lebih baik kamu istirahat," ucap Rian.


"Ini sebentar lagi Mas," ucap Riri.


Rian membiarkan Riri merapikan kamar itu sendirian. Ia sudah tidak lemas saat tahu jika perhelatan akbar yang sudah ia nantikan itu harus ditunda selama seminggu. Setelah melihat Riri selesai, Rian menepuk kasur di sampingnya.


"Ini pakai sekarang?" tanya Riri sambil menunjukkan lingerie merah itu.


"Tidak perlu. Nanti saja minggu depan," jawab Rian.


"Kan bisa dicicil," ucap Riri.


Mendengar kata cicilan, kepala Rian tiba-tiba menjadi kotor. Benar apa yang dikatakan Riri, meskipun sedang palang merah tapi mereka bisa mencicil. Ya anggap saja pemanasan selama seminggu ke depan, agar nanti semua berjalan lancar.


"Boleh, boleh." Rian tersenyum nakal.


Riri segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ia keluar dengan memakai handuk di bagian pinggangnya. Sementara tangannya melingkar di dadanya.


"Kenapa begitu?" tanya Rian.


"Bajunya terlalu tipis. Pendek lagi," jawab Riri.


Rian menghela napas dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Riri. Istrinya memang bukan wanita kuno. Riri tentu tahu tentang lingerie yang memang berbahan tipis dan pendek. Namun karena ia tidak terbiasa makanya ia tidak nyaman dengan pakaian itu.


"Aku kan suami kamu. Kenapa harus ditutupi? Biarkan aku menikmati pemandangan indah itu," ucap Rian.


Ruan menarik tangan Riri agar mendekat padanya. Ia juga membuka handuk yang melingkar di pinggang Riri dan melemparnya ke sembarang arah. Perlahan tangan Rian mulai bergerak nakal dan membuat Riri bergidik.


"Mas, geli." Riri berkali-kali bergidik.


"Diam dan nikmati saja," bisik Rian di telinga Riri.


Kini, bukan hanya tangan. Namun bibir Rian sudah mulai menjelajahi area yang menurutnya sangat menantang. Meskipun ada perboden di bagian pinggang ke pusat, namun Rian memaksimalkan apa yang masih bisa ia nikmati.

__ADS_1


Tuhan, sungguh indah dan sempurna ciptaanmu.


Berkali-kali Rian bersyukur atas apa yang ia lihat dan tengah dinikmatinya. Semua indah dan masih original. Ah, ia merasa sangat beruntung bisa menikahi Riri.


__ADS_2