Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Happy Ending


__ADS_3

"Eh ada Bu Bos. Ayo silahkan duduk!" cap Maya sambil menarik tangan Riri.


Riri hanya mengikuti ap yang diinginkan Maya sambil masih menyembunyikan perasaan cemburunya. Matanya menatap Maya dan Rra bergantian. Tidak ada rahasia yang disembunyikan. Keduanya tidak terlihat terkjeut sama sekali dengan kedatangan Riri.


Lalu apa yang dibicarakan mereka?


Pertanyaan yang tidak sempat terlontarkan itu akhirnya tersisih karena adanya telepon. Konsumen sedang mengatur jadwal untuk bertemu. Ada beberapa baju pesanana yang dipesan dengan bandrol yang fantastis.


"Kak Maya sering keluar untuk hal seperti ini?" tanya Riri saat panggilan sudah selesai.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Maya dan Rara saling menatap. Mereka mencoba mengartikan pertanyaan yang tidak mereka duga itu.


"Memangnya ada yang salah?" tanya Maya.


"Ah, tidak-tidak. Aku hanya tidak tahu kau ada sistem seperti ini di toko," jawab Riri.


"Ri, apa yang dilakukan Maya adalah perjuangan luar biasa untuk butik ini. Berkat hal ini, pelanggan kita makin banyak," ucap Rara.


"Memangnya butik kita sudah mulai sepi ya?" tanya Riri.


Rara pun segera menyanggah dugaan adik kandungnya itu. Bahasanya bukan sebagai seorang kakak pada adik. Dalam hal ini, Rara menempatkan diri sebagai pegawai yang sedang memberi penjelasan pada atasannya. Rara benar-benar mengatur kata dan bahasa sebaik mungkin.


"Oh begitu ya. Terima kasih banyak ya Kak. Aku tidak menyangka kalau kalian berdua sangat totalitas pada butik ini," ucap Riri.


Penjelasan Rara membuat Riri merasa sangat terharu. Perjuangan keduanya benar-benar luar biasa. Riri bahkan tidak tahu hal itu. Artinya baik Maya atau Rara, tidak ada yang cari muka padanya.


Hubungan yang terjalin baik diantara ketiganya membuat butik kian berkembang. Semakin banyak permintaan dari konsumen. Hal itu tentu membuat produsen kain itu semakin sering berkunjung ke butik.


Perlahan, Maya berusaha menjalankan misinya. Membuat janda dan duda itu semakin sering berkomunikasi. Meskipun sampai saat ini, baru masalah bisnis saja. Namun Rara yakin suatu saat nanti mereka bisa semakin dekat.


"Kamu kenapa sih?" tanya Reza sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Maya dengan sangat senang segera menjelaskan apa yang sudah lama ia rahasiakan dari suaminya. Reza bahkan sampai terkejut. Ia tidak menyangka jika Maya benar-benar menjodohkan Rara dengan pria itu.


Kini, bukan hanya Maya. Tapi Reza mulai ikut membantu. Ia mencari tahu bagaimana latar belakang pria itu. Setelah yakin kalau pria itu adalah orang baik, Reza semakin yakin kalau pria itu bisa membahagiakan Rara.


Perjodohan itu mulai bocor. Riri hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Ada rasa bahagia luar biasa saat tahu kalau kakak kandungnya sudah dekat dengan pria baik. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Kakak kandungnya sudah benar-benar bisa bahagia dengan pria yang memang lebih pantas untuknya.


Kebar kedekatan Rara dengan produsen kains itu semakin menyebar. Bahkan Rian dan Dion ikut mendukung kedekatan keduanya. Semakin banyak dukungan membuat pernikahan keduanya di depan mata.


"Kenapa harus buru-buru begini sih?" tanya Maya saat pria itu memberikan sebuah cincin berlian sembari mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Rara.


"Niat baik itu harus disegerakan," jawab pria itu.


Selalu simple. Begitulah jawaban pria itu. Awalnya Rara ragu, namun akhirnya semua berhasil meyakinkannya. Anggukan kepalanya pun membuat semua orang yang mendukung hubungan keduanya bersorak girang.


"Wah, nambah om baru nih." Naura ikut berkomentar.


"Makin seru nih. Ajarin aku bawa mobil ya om," ucap Narendra menambahkan.


"Nanti aku lihat pabrik kainnya ya om," timpal Yaza.


Pernikahan itu tidak ditunda lama-lama. Semua segera mempersiapkan pernikahan Rara dan pria itu. Namanya Hendra. Pria yang menyuplai kain untuk butik Riri itu sudah benar-benar diterima di keluarga Rara.


Pernikahan yang awalnya akan digelar sngat sederhana namun disulap menjadi sangat mewah berkat bantuan semua orang yang sangat mengharapkan kebahagiaan Rara.


Rumah yang awalnya sepi, kini sudah mulai hangat kembali. Kehadiran Hendra membuat rumah itu sering dikunjungi oleh Bu Risa dan suaminya. Orang tua Maya itu bahkan sering menginap di sana. Mengenang bagaimana kehidupan mereka saat itu. Semua terasa semakin indah apalagi saat melihat Rara sudah sangat bahagia.


Bukan hanya orang tuanya, bahkan keempat keponakan Riri pun sering main ke rumahnya. Tak jarang mereka curhat ada Maya atau Hendra. Hal itu membuat Riri merasa ada saingan dan tak jarang ia cemburu.


"Naura, bagaimana kabar pacarmu yang kutu buku itu?" tanya Riri saat Naura main ke rumahnya.


"Kan aku sudah curhat kalau aku putus sama dia. Dia tidak peka," jawab Naura setelah meneguk segelas air putih.

__ADS_1


"Putus? Kapan kamu cerita?" tanya Riri.


"Oh ya ampun. Aku lupa kalau kemarin aku curhat sama Onty Rara," jawab Naura dengan polos.


Lagi-lagi Riri merasa tidak diprioritaskan setelah kemarin ia tahu kalau Yaza sudah curhat pada Rara. Yaza sedih saat tahu kalau ia tidak diterima baik oleh keluarga pacarnya.


"Anak jaman sekarang masih SMP kok kisah cintanya rumit. Kalah deh orang-orang dewasa," ucap Riri saat menyisir rambutnya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Rian.


"Gak," jawab Riri ketus.


Rian tidak mengerti. Ia yang terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Sudah banyak sekali cerita tentang keempat keponakannya yamh sedang puber. Kisah cinta yang bahkan mirip dengan ceritanya pun terlewat begitu saja.


Dulu Riri adalah satu-satunya orang yang menjadi tempat bercerita keempat remaja itu. Namun kini Rara menjadi tempat baru yang tak kalah menyenangkan. Kadang hal itu diterima tidak baik oleh Riri.


"Jangan menganggapku saingan. Mereka hanya butuh tempat yang lebih luas. Tidak pergi meninggalkanmu. Mereka hanya sesekali datang padaku," ucap Rara setelah tahu kalau Riri cemburu ada kehadirannya untuk keempat keponakannya.


"Kakak jangan salah paham. Aku tidak berpikir seperti itu kok," ucap Riri bohong.


Rara segera memeluk Riri. Ia sangat mengenal adik kandungnya itu. Dari sorot matanya saja, ia tahu kalau Riri tengah berbohong. Namun berkali-kali Rara menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud untuk merebut apapun darinya.


"Maaf ya Kak," ucap Riri sambil memeluk Rara.


Pelukan erat itu terlepas saat terdengar riuh dari ruangan tempat mereka berdua. Tepuk tangan dan ucapan selamat ulang tahun pun membuat Riri menangis terharu. Ia sama sekali tidak menyangka jika semua masih sangat peduli padanya. Terlebih ia tidak berpikir jika Rara sudah berusaha membuat semuanya berkumpul untuk merayakan hari ulang tahunnya.


"Terima kasih semuanya," ucap Riri sambil mengusap air matanya.


Rian yang tengah menggendong anak mereka segera memeluk Riri. Mencium wanita yang tengah berbahagia itu. Bukan hanya Rian, Raazi pun ikut memeluk dan mencium Riri. Tingkah manis itu tentu membuat semua mata yang melihatnya bersorak senang.


Rara menatap Maya yang banyak membantu menyiapkan semua ini. Senyuman keduanya menandakan kemenangan. Akhirnya semua berjalan dengan lancar sesuai harapan.

__ADS_1


"Berhasil. Happy ending," bisik Maya.


Rara tertawa senang.


__ADS_2