
"Pah, aku mau bicara." Hiro menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Bicaralah. Tentang apa?" tanya ayahnya.
"Apa yang terjadi dengan Kak Maudi?" tanya Hiro.
"Sudahlah Hiro. Kamu jangan memikirkan kakakmu. Dia baik-baik saja. Lebih baik kamu sekolah yang benar. Papa ingin kamu mendapat nilai yang baik," ucap ayahnya penuh harap.
"Aku akan mendapat nilai yang baik. Aku juga ingin kuliah ke Jerman. Dan satu lagi, aku sudah bukan anak kecil Pah. Aku harap Papa bisa menganggapku lebih dewasa dari ini," ucap Hiro.
Ayahnya hanya memandang Hiro yang pergi menjauh dari pandangannya. Tubuh anak itu memang tinggi. Bahkan sudah melebihi tinggi badannya. Namun entah mengapa, ia selalu menganggap Hiro adalah anak kecil. Anak bungsu yang menurutnya akan selalu menjadi anak kecil di rumah itu.
Sementara di dalam kamar, Hiro tengah mengacak rambutnya. Napas berat dan tidak beraturannya menjadi tanda jika ia benar-benar sedang emosi. Ia berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya dan beberapa kali ia hantamkan ke telapak tangannya yang lain.
"Kenapa Papa selalu menganggapku anak kecil? Kenapa aku selalu tidak tahu apa-apa di rumah ini? Papa hanya selalu memintaku untuk belajar dan belajar," gerutu Hiro.
Setelah kejadian itu, Hiro tidak keluar dari kamarnya. Ayahnya juga tidak berusaha menemuinya. Mereka sudah saling mengenal. Di saat Hiro marah, ayahnya tidak boleh menemuinya. Karena jika mereka bertemu, Hiro yang masih emosi justru malah semakin emosi. Yang Hiro butuhkan hanya ketenangan.
"Rian, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu membuat kakakku terluka begini?" gumam Hiro.
Hiro tidak tahu jika selama ini justru Rian yang menjadi korban. Setelah kejadian itu, Rian masih tetap menerima teror dari Maudi sampai saat ini. Bahkan saat ia tengah sibuk dengan pekerjaannya pun, Maudi masih menjadi beban dalam hidupnya.
Seperti malam ini, Rian tengah sibuk dengan tugas kuliahnya. Namun Tuan Felix melihat ada wajah yang berbeda pada Rian.
"Kenapa kamu Ri,?" tanya Tuan Felix.
"Tidak Pah," jawab Rian.
"Kamu cape ya?" tanya Tuan Felix.
Tuan Felix duduk dan membawa secangkir teh hangat untuk Rian. Ia merasa tidak enak hati saat melihat Rian harus ikut berjuang untuk perusahaannya. Padahal ia sendiri tahu kalau seharusnya Rian hanya fokus belajar dan menikmati masa mudanya.
"Tidak Pah. Aku hanya kesal pada Maudi. Ia masih saja menerorku," ucap Rian.
Baru kali ini Rian dengan mudahnya menceritakan tentang Maudi. Mungkin ia sudah tidak kuat dengan kelakuan Maudi yang menyebalkan. Atau justru karena ia tidak mau ayahnya berpikir jika semua berhubungan dengan pekerjaannya di kantor.
"Dia masih menghubungimu?" tanya Tuan Felix kesal.
Rian hanya mengangguk dan mengusap kasar wajahnya.
"Ya sudah besok kita ganti nomor ponselmu. Aku tidak mau dia membuat hidupmu tidak nyaman. Ingat Rian, dia hanya masa lalu. Papa tidak mau kamu sampai jatuh pada jebakan yang sama," ucap Tuan Felix.
Ketakutan Tuan Felix bukan hanya pada terganggunya fokus Rian. Tapi ia lebih takut jika Maudi berhasil mengambil kembali hati Rian. Ia tidak menginginkan wanita licik itu menjadi pendamping Rian suatu saat nanti.
"Papa jangan memikirkan hal itu. Aku tidak mungkin kembali membuka hati untuk Maudi," ucap Rian.
Tuan Felix sudah bisa bernapas lega saat mendengar jawaban Rian.
"Karena hati kamu sudah terbuka untuk Riri ya?" goda Tuan Felix.
"Papa," ucap Rian.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu fokus ya. Papa mau ke kamar dulu. Jangan terlalu malam ya. Kamu butuh istirahat yang cukup, ucap Tuan Felix.
"Siap," ucap Rian.
Setelah Tuan Felix keluar dari kamarnya, Rian kembali melanjutkan tugasnya. Ia menutup laptopnya dan segera tidur saat tugasnya sudah selesai.
Rian bangun lebih pagi dari biasanya. Karena tugas kuliahnya sudah selesai, Rian lanjut mengerjakan tugas kantor. Ia terlalu asyik sampai lupa waktu kuliahnya. Ia baru tersadar saat Tuan Felix menemuinya di kamar.
"Kamu belum siap-siap?" tanya Tuan Felix.
"Ya ampun. Siap Pah, aku siap-siap sekarang ya!" ucap Rian.
Rian segera menutup laptopnya. Ia mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Dengan buru-buru, Rian segera pamit pada Tuan Felix.
"Aku pergi dulu ya Pah," ucap Rian.
"Bawa ini ya!" ucap Tuan Felix.
Rian melihat Tuan Felix memberikan kotak bekal berisi roti. Ia terkejut dengan perlakuan Tuan Felix.
"Terima kasih Pah," ycap Rian.
Rian tersenyum dan segera pergi membawa kotak bekalnya. Selama perjalanan, Rian berkali-kali melihat kotak bekal itu. Bibirnya tersenyum saat mengingat perlakuan Tuan Felix. Sudah sangat lama ayahnya tidak memperlakukannya seperti ini.
Biasanya saat Rian kesiangan, Tuan Felix hanya mengingatkan Rian untuk tidak lupa untuk makan. Tapi kali ini, Tuan Felix sampai menyiapkan bekal untuknya.
Mungkin hal ini tidak diinginkan oleh sebagian besar pria seusianya, namun Rian merasa justru sangat bahagia dengan perlakuan Tuan Felix. Hari ini ia begitu bersemangat saat sampai di kampus.
"Ri," panggil Rey.
"Lagi dapat undian nih?" tanya Rey.
"Lebih dari undian," jawab Rian sambil bersemangat.
"Ada apa nih?" tanya Rey.
Rian dengan begitu bangganya mengeluarkan kotak bekal yang diberikan oleh Tuan Felix.
"Apa ini?" tanya Rey.
"Ini bekal dari Papa. Khusus dibuatkan untukku," jawab Rian dengan sangat senang.
Rey menatap Rian dengan lekat. Ia melihat Rian berbeda dari biasanya. Ia sangat senang saat melihat Rian sudah kembali ceria. Apalagi saat Rian bertemu dengan Riri. Mereka bicara seperti biasa di bebangkuan.
Melihat Riri dan Rian semakin asyik bicara, Rey segera pergi. Ia memberikan kesempatan kepada keduanya untuk semakin dekat. Berharap jika keduanya bisa saling mengungkapkan perasaannya.
Sayangnya tidak lama setelah Rey ke kelas, Rian juga ikut ke kelas. Rey mengerutkan dahinya saat melihat Rian datang menghampirinya.
"Kenapa sudah ke kelas?" tanya Rey.
"Loh, ya memang kenapa?" Rian balik bertanya.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa," jawab Rey.
Rian hanya melihat Rey dengan tatapan bingung. Ia tidak menyadari kalau Rey sengaja pergi untuk membiarkannya berdua dengan Riri. Apalagi Riri sama sekali tidak membahas apapun. Ia hanya memberi semangat pada Rian untuk tetap melanjutkan kuliah meskipun sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Selesai kuliah, Rian segera pulang. Ia langsung menuju kantornya. Sudah ada Tuan Felix di sana. Namun ia melihat Tuan Felix sedang memegang kepalanya sambil menunduk.
"Pah, kenapa?" tanya Rian.
"Eh, kamu sudah pulang?" tanya Tuan Felix.
"Ada apa Pah?" Rian terus bertanya dan mengesampingkan pertanyaan Tuan Felix.
"Tidak apa-apa. Papa baik-baik saja," ucap Tuan Felix.
"Aku berhak tahu semua yang terjadi dengan perusahaan ini. Aku bekerja di sini sekarang Pah. Beri tahu aku apa permasalahan yang ada di sini," ucap Rian.
Tuan Felix menghela napas dengan berat. Benar, Rian juga berhak tahu atas perusahaan. Terlebih ini soal maju dan mundurnya perusahaan.
"Perusahaan butuh dana," ucap Tuan Felix.
"Tabungan sudah habis?" tanya Rian.
Tuan Felix diam. Sebenarnya ia memegang dana yang cukup untuk menutupi masalah keuangan di kantornya. Hanya saja uang itu ia simpan untuk masa depan Rian.
"Pah, aku yakin Papa punya uang simpanan." Rian terus menyelidik Tuan Felix.
"Uang ini adalah milikmu. Papa menyimpannya untuk masa depan kamu. Ini juga uang untuk biaya kuliahmu. Tapi karena kamu kuliah dengan beasiswa, Papa menyimpan uangnya untuk menambah persiapan merintis masa depan kamu.
"Pah, karena itu uangku maka aku berhak menggunakan untuk apapun. Benarkan?" tanya Rian.
"Kamu butuh untuk apa?" tanya Tuan Felix.
"Aku minta uang itu untuk menutupi biaya produksi perusahaan," jawab Rian.
"Tapi bagaimana dengan masa depanmu?" tanya Tuan Felix.
"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara kita menyelamatkan perusahaan ini," jawab Rian.
"Tapi dengan uang itu kita korbankan, tidak menjamin perusahaan ini kembali stabil Ri. Papa takut justru keduanya hancur begitu saja," ucap Tuan Felix.
"Tapi setidaknya kita sudah berusaha, Pah. Aku yakin kita bisa. Hanya butuh waktu saja," ucap Rian dengan penuh keyakinan.
"Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan Mia?" tanya Tuan Felix.
"Tidak Pah. Kak Mia dan Kak Dion tidak perlu tahu selama Papa masih punya tabungan Kecuali jika memang sudah tidak punya tabungan. Aku yakin kita bisa Pah," jawab Rian.
Tuan Felix menatap Rian. Itulah kelebihan yang dimiliki Rian. Rian selalu menjadi penyemangat disaat ia sedang kehabisan semangat hidup.
"Papa tidak tahu harus bicara apa padamu," ucap Tuan Felix.
"Papa hanya harus mendukungku. Sama halnya seperti aku yang akan selalu mendukung Papa sepenuhnya," ucap Rian.
__ADS_1
Tuan Felix tersenyum saat mendengar ucapan Rian. Ia benar-benar tidak gagal sudah menjadikan Rian anaknya.
Keputusanku untuk menjadikanmu bagian dari hidupku memang tepat. Aku sangat menyayangimu, Ri.