
"Boleh Papa masuk?" tanya Tuan Felix saat pintu kamar Rian terbuka.
"Eh Papa, masuk Pah." Rian bangun dan duduk di sofa.
Tuan Felix ikut duduk di samping Rian.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Tuan Felix.
"Aku baik Pah," jawab Rian.
Tidak perlu menyembunyikan apapun, Tuan Felix pasti akan tahu tentang dirinya. Seperti saat ini meskipun Rian sudah menjawab jika ia baik-baik saja, namun Tuan Felix meminta Rian untuk bersikap tenang.
"Papa mendengar ucapan Mama Helen tadi?" tanya Rian terkejut.
"Papa memang sempat tersinggung. Namun Papa rasa, dia hanya tidak tahu siapa Maudi sebenarnya. Papa yakin dengan kejadian ini kamu tahu betul siapa Maudi dan bagaimana liciknya wanita itu," ucap Tuan Felix.
Rian menelan salivanya dengan begitu sulit. Ia benar-benar merasa sangat bingung. Kenapa semua harus selalu tentang Maudi. Bagaimana ia bisa melupakan Maudi kalau hampir setiap hari bahasan tentang Maudi tidak pernah berhenti.
"Papa harap kamu mengerti jika Papa tidak pernah mengajarkan hal buruk apapun kepadamu. Walaupun Papa bukan orang baik, namun Papa ingin anak Papa tumbuh menjadi orang yang baik. Dan Papa tahu kamu adalah orang baik, ucap Tuan Felix.
Rian segera memeluk Tuaj Felix.
"Papa selalu menjadi yang terbaik untukku. Jangan pernah berpikir jika Papa tidak baik," ucap Rian.
Mia yang melihat kejadian itu merasa sakit. Kenapa tiba-tiba ia cemburu melihat kedekatan Tuan Felix dengan Rian. Apalagi selama di Indonesia, Tuan Felix begitu perhatian pada Rian.
"Kak Mia," panggil Rian sembari melepaskan pelukan Tuan Felix.
"Mia?" tanya Tuan Felix sembari membalikkan badannya, untuk melihat keberadaan Mia.
"Kenapa Kak Mia malah pergi ya?" tanya Rian.
Tuan Felix tidak menjawab pertanyaan Rian. Ia hanya bingung saat tidak sempat melihat kehadiran Mia di sana.
"Biar Papa susul Mia," ucap Tuan Felix.
"Jangan Pah. Biarkan dulu Kak Mia sendiri. Nanti biar aku yang menemui Kak Mia," cegah Rian.
Rian sudah merasa jika kemarahan Mia karena dirinya. Ia tidak ingin jika Tuan Felix kembali terluka hanya karena ulahnya. Rian berniat untuk menemui Mia dan bicara berdua. Saling terbuka agar tidak ada salah paham diantara mereka.
"Ya sudah Papa ke kamar dulu ya!" ucap Tuan Felix.
Setelah Tuan Felix keluar dari kamarnya, Rian berdiri di depan cermin. Ia menunduk dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen yang banyak agar masih tetap bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Rian merasa jika dirinya memiliki banyak beban hidup. Padahal usianya masih dua puluh tahun. Ia merasa usianya tidak sebanding dengan beban yang harus dilaluinya.
Tidak! Seketika Rian berusaha menepis pikiran buruknya. Ia hanya kurang bersyukur dengan apa yang ia peroleh dalam hidupnya. Memiliki keluarga baru yang benar-benar peduli dan sayang padanya. Bahkan ia berpikir jika seandainya ayah kandungnya masih ada, belum tentu ia seberuntung saat ini.
Rian menguatkan dirinya sendiri dan menemui Mia. Wanita yang selama ini ia anggap sebagai kakak kandungnya itu tengah duduk di taman belakang.
"Kak Mia," panggil Rian.
Mia tidak menjawab. Ia hanya menoleh lalu akhirnya membuang muka.
"Kak, aku salah lagi ya sama Kakak?" tanya Rian dengan lembut.
Rian memberanikan diri untuk duduk di samping Mia. Meskipun Mia tidak meresponnya, namun Rian masih teyap berusaha untuk bicara dengan Mia.
"Seharusnya aku tidak cemburu seperti ini. Mungkin aku sedang cape saja. Sudahlah lupakan," ucap Mia.
Mia berdiri dan berusaha menghindar. Namun Rian menahan tangan Mia. Ia bicara dengan lembut. Berusaha sesabar mungkin untuk menghadapi Mia.
"Aku minta maaf. Aku akan segera pulang ke Jerman. Menyelesaikan kuliahku dan mewujudkan cita-citaku. Mungkin suatu saat aku akan sibuk dan tidak akan punya waktu bersama Papa dan yang lainnya," ucap Rian.
Mia merasa tertampar dengan ucapan Rian. Mungkin karena perasaan Mia sedang tidak baik, ia malah tersinggung dengan ucapan Rian.
"Jadi maksud kamu, aku tidak punya waktu untuk Papa dan yang lain? Begitu?" tanya Mia dengan nada tinggi.
"Sudahlah Rian. Akui saja. Kamu memang paling bisa mengambil hati Papa dan Mama. Mama bahkan begitu peduli dengan hubunganmu dengan wanita tidak jelas itu " ucap Mia.
Rian sakit saat mendengar Maudi disebut sebagai wanita tidak jelas. Bagaimana mungkin Mia sampai tega mengatai wanita yang paling ia cintai itu.
"Sayang, ayo tidur! Rian, kamu juga istirahat ya!" ucap Dion.
Beruntunglah Dion ada di sana di waktu yang tepat. Sehingga Rian masih bisa mengontrol emosinya. Rian mengangguk dan mengikuti langkah Dion dan Mia untuk meninggalkan taman belakang.
"Kamu kenapa sih Mi?" tanya Dion saat pintu kamar sudah Dion tutup dengan rapat.
"Aku tidak apa-apa A," jawab Mia.
"Mia, ini seperti bukan kamu. Sejak kapan kamu cemburu lagi pada Rian? Bukankah kamu sendiri yang berkata jika Rian sudah kamu anggap sebagai adik kandungmu sendiri?" ucap Dion mengingatkan.
Mia terdiam. Memang benar, Mia sendiri yang mengucapkan kalimat itu pada Dion. Namun saat ini ia sedang kesal saat mendengar Tuan Felix dan Rian akan pulang beberapa hari lagi.
Melihat Tuan Felix dan Nyonya Helen yang begitu peduli dengan Rian, tiba-tiba ia merasa jika Rian yang sudah mengambil semua itu. Ia merasa kasih sayang untuknya menjadi terbagi.
Hal itu tentu membuat Mia uring-uringan. Kenapa Rian harus pulsng secepat itu, padahal waktu liburnya masih lumayan panjang. Meskipun sempat berusah menepis pikiran buruknya. Namun Mia tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat Rian dan Tuan Felix bercerita bersama.
__ADS_1
"Kamu harus ingat, Rian itu sudah tidak punya siapa-siapa selain kita. Kamu tidak perlu cemburu padanya. Sekalipun Mama dan Papa Felix menurutmu lebih sayang pada Rian, itu karena mereka tahu kalau kamu punya aku. Ada aku," ucap Dion.
Pada akhirnya Mia sendiri merasa bersalah dengan sikapnya yang berlebihan terhadap Rian. Mia beranjak dari ranjangnya untuk meminta maaf pada Rian, namun Dion menahannya.
"Kamu istirahat saja. Nanti kita bicarakan setelah semuanya baik-baik saja. Sekarang, kalian saling menenangkan diri saja." Dion megusap kepala Mia dan mengecupnya.
Dion menemani Mia tidur. Setelah memastikan bahwa istrinya sudah tertidur pulas, Dion meninggalkan Mia. Bagaimanapun ia merasa tidak enak pada Rian.
"Rian, sudah tidur?" tanya Dion sembari mengetuk pintu.
"Belum Kak," jawab Rian sembari membuka pintu kamarnya.
"Boleh aku bicara?" tanya Dion.
"Tentang Kak Mia? Apa dia masih marah padaku?" tanya Rian dengan penuh beban.
"Aku boleh masuk? Kita bicara di dalam saja," ucap Dion.
"Oh ya tentu. Ayo silahkan masuk Kak," ajak Rian.
Dion masuk. Ia meminta Rian untuk duduk di hadapannya. Dion menatap lekat Rian yang masih menunduk.
"Atas nama istriku, aku minta maaf." Dion memulai bahasannya.
Rian segera mengangkat wajahnya.
"Kak Mia tidak salah," jawab Rian dengan cepat.
"Terima kasih karena kamu sudah tumbuh menjadi orang baik dan sayang pada kami semua," ucap Dion.
Pertama, Dion menceritakan kekagumannya pada Rian. Dari mulai sikap dan tutur katanya, hingga prestasi akademik yang diraihnya, Dion mengapresiasi dengan sangat baik.
"Kakak berlebihan. Aku begini karena aku dididik di keluarga ini. Kalau saja aku tidak bertemu dengan keluarga ini, aku pasti tidak akan seberuntung ini." Dengan rendah hati Rian membalikkan pujian Dion.
Setelah banyak basa basi, akhirnya Dion membahas tentang Maudi. Ia mengingatkan Rian, sebagai laki-laki ia harus bertanggung jawab. Bukan hanya soal perasaan, tapi ia harus bertanggung jawab soal moral pasangannya. Selain itu, bertanggung jawab secara finansial juga sangat penting.
"Jadi?" tanya Rian.
"Ya," jawab Dion sembari menganggukkan kepalanya.
"Kakak mendukung aku dengan Maudi?" tanya Rian meyakinkan.
"Kenapa tidak," jawab Dion dengan santai.
__ADS_1
Rian menatap Dion dengan tidak percaya. Dari semua orang yang menentang hubungannya dengan Maudi, hanya Dion yang mendukungnya. Padahal Dion tahu bagaimana sikap Maudi yang sebenarnya. Tidak seperti Nyonya Helen yang tidak begitu tahu sifat Maudi.