Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Cheerleader


__ADS_3

"Naura, Rendra." Rian duduk di samping mereka yang masih membereskan buku pelajarannya.


"Om, PR nya sudah selesai. Aku mau bertemu opa ya!" ucap Narendra yang bersiap untuk berlari.


"Rendra, sebentar!" Rian menarik tangan Narendra.


Anak itu menghentikan langkahnya dan menatap wajah Rian dengan tatapan bingung.


"Kita pulang dulu yu!" ajak Rian.


"Pulang?" tanya Narendra dengan wajah kecewa.


"Om kok pulang sih? Tadi katanya janji mau main sama Opa kalau PRnya sudah selesai," protes Naura.


"Naura, Rendra, dengarkan Om. Tolong kerja samanya ya! Kali ini saja kalian nurut sama Om. Om janji akan mengganti hari ini. Kita jalan2 kemanapun kalian mau," bujuk Rian.


"Naura tidak mau jalan-jalan om. Naura mau main sama Opa," ucap Naura.


"Naura, Opa sedang sibuk." Rian masih berusaha memberi penjelasan yang kecil kemungkinan untuk diterima oleh kedua keponakan kembarnya.


"Tadi Opa ada di rumah kok," ucap Narendra.


"Tadi kalian lihat sendiri kan Opa sedang membaca? Opa sedang mempelajari urusan bisnis," ucap Rian.


"Tapi kan kita juga mainnya tidak lama. Kita hanya sebentar," ucap Naura.


"Nah, setelah baca Opa pasti lelah dan harus istirahat. Makanya kita pulang dulu ya! Om janji deh lain kali bawa kalian ke sini lagi," ucap Rian.


"Pokoknya Naura mau main sama Opa," rengek Naura.


Rian terus berusaha menolak dan menjelaskan dengan berbagai macam alasan. Tapi Naura masih terus merengek dan tidak menerima alasan Rian.


"Ya sudah, kita pulang tapi pamit dulu ya sama Opa!" ucap Narendra.


"Rendra," ucapan Rian dipotong oleh Narendra.


Sepertinya Narendra lebih peka dari Rian. Ia tahu kalau Rian bersiap untuk memberi alasan lain lagi.


"Kenapa? Pamit saja tidak boleh?" tanya Narendra dengan wajah cemberut.


"Bukannya begitu Rendra, tapi Om..." Lagi-lagi ucapan Rian dipotong oleh Narendra.


"Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Narendra sambil menarik tangan Naura.


"Rendra, tunggu Om." Rian kembali menarik tangan Narendra.


"Kenapa lagi Om? Katanya kita harus pulang," ucap Rian.

__ADS_1


"Jangan marah dong. Om ganti ya! Gimana kalau kita beli mainan dulu?" bujuk Rian dengan senyum lebar.


"Tidak perlu Om. Aku sama Naura mau pulang saja," tolak Narendra. "Ayo!" lanjutnya sambil kembali menarik tangan Naura.


Naura yang semakin bingung dengan situasi itu hanya bisa melihat Rian dengan tatapan bingung. Sedangkan kakinya hanya melangkah mengikuti kakak kembarnya. Meskipun hatinya masih tetap ingin berada di sana. Berharap jika masih ada kesempatan untuk bermain dengan Tuan Wira meski hanya sebentar.


"Naura, Rendra." Panggilan Rian terdengar menggema.


Langkah kaki dipercepat sangat tertinggal jauh oleh Naura dan Narendra. Setengah berlari ia mengejar kedua keponakan kembarnya itu. Berusaha meredam amarah keduanya walaupun masih bingung dengan cara yang harus ia lakukan.


Berkali-kali Rian memanggil keduanya namun tidak ada jawaban. Baik Naura ataupun Narendra, hanya terus berjalan sampai garasi.


"Tunggu dulu. Kalian kok marah sih?" tanya Rian.


"Ayo buka pintunya! Katanya mau pulang," ucap Narendra kesal.


"Tapi jangan marah begitu dong," ucap Rian.


"Cucu kesayangan Opa mau kemana? Kenapa kalian meninggalkan Opa? Katanya mau main?" teriak Tuan Wira.


Ketiga orang itu menatap sumber suara. Melihat sosok Tuan Wira yang sedang duduk di kursi roda dengan tatapan bingung.


"Kenapa masih di sana?" Ayo peluk Opa," ucap Tuan Wira lagi.


"Opa kan sibuk. Sudah Opa kerja lagi. Aku sama Naura tidak akan mengganggu Opa. Kita mau pulang," jawab Narendra.


Jawaban yang sangat tidak diduga oleh Tuan Wira dan Rian. Tatapan bingung Rian pada Tuan Wira kini berpindah pada Narendra. Ia semakin bingung dengan kemarahan Narendra.


"Rendra tidak mau main dengan Opa?" tanya Tuan Wira.


"Kata Om, Opa sedang sibuk. Aku tidak boleh mengganggu Opa, kan?" Narendra balik bertanya.


"Kata siapa? Opa tidak sibuk. Opa juga tidak lelah," jawab Tuan Wira.


"Tidak perlu berbohong Opa. Opa butuh istirahat. Ya sudah istirahat saja! Aku tidak akan mengganggu kok," ucap Narendra.


"Rendra," panggil Tuan Wira dengan suara lirih.


Dengan susah payah Tuan Wira memutar roda dengan kedua tangannya untuk mendekat pada Narendra dan Naura. Rian yang menyadari kesulitan Tuan Wira segera berlari mendekat dan membantu mendorong kursi rodanya. Narendra dan Naura melihat Om dan Opanya dengan bingung.


"Opa kenapa duduknya di kursi roda?" tanya Narendra saat Tuan Wira sudah ada di sampingnya.


Rupanya Naura dan Narendra tidak tahu kalau Tuan Wira tidak bisa berjalan seperti saat itu. Entah mereka yang terlalu polos atau karena mereka tidak menyadari hal itu. Saat bertemu, memang fokus mereka hanya melepas rindu.


"Opa cedera ya? Terkilir? Atau patah tulang? Main bola dimana Opa?" tanya Naura sambil mendekat dan memeriksa kaki Tuan Wira.


"Opa tidak terkilir atau patah tulang kok," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Terus kenapa?" tanya Naura.


"Opa sedang sakit, Naura." Rian mencoba menghentikan pertanyaan-pertanyaan konyol itu.


Konyol? Ya mungkin konyol untuk Rian, tapi tidak bagi Tuan Wira. Terlihat Tuan Wira semakin tidak nyaman dengan desakan Naura yang membuatnya menyerah.


"Naura, Opa cacat." Tuan Wira menunduk.


Rian berada di posisi sulit. Melihat tangan Tuan Wira yang mengepal sempurna membuat ia menyimpulkan bahwa ayah angkatnya itu sedang marah. Tidak! Tuan Wira tidak sedang marah pada kedua cucu kembarnya. Ia hanya sedang marah pada dirinya sendiri. Merasa dirinya tidak berguna lagi.


Lalu apa yang harus Rian jelaskan pada Naura dan Narendra? Mereka masih terlalu kecil untuk menerima penjelasan yang tidak bisa diterimanya.


"Opa bukan cacat. Tapi semua orang sakit memang duduknya di kursi roda. Di film-film juga begitu kok,"ucap Narendra.


"Ternyata Opa beneran sakit ya?" tanya Naura.


"Nanti kalau sudah sembuh kursi rodanya buat aku ya! Aku mau main dokter-dokteran sama Naura," ucap Narendra.


Rian mengerutkan dahinya dengan kekonyolan Naura dan Narendra. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Opa makan sayur yang banyak ya. Biar cepat sembuh," ucap Naura.


"Iya Opa harus cepat sembuh. Aku kan mau main bola. Ya sudah ayo kita main bola di PS aja. Tapi nanti kalau sudah sembuh kita main bola di lapangan ya!" ajak Narendra.


"Naura jadi cheerleadernya ya!" ucap Naura.


"Tidak perlu. Mengganggu," tolak Narendra.


"Eh, kehadiran cheerleader itu tidak mengganggu. Justru membuat seru. Apalagi kalau Naura yang jadi cheerleadernya," protes Naura.


"Tapi aku tidak mau Naura. Itu sangat mengganggu," ucap Narendra.


Tuan Wira tertawa melihat perdebatan keduanya dan segera memeluk Naura yang sedang jongkok memegang kakinya.


"Kalian sangat menggemaskan. Opa rindu suasana seperti ini," ucap Tuan Wira.


Rian menatap Tuan Wira. Ia ikut terharu dengan rasa kasih sayang antara kakek dan cucu itu. Ia benar-benar merasa beruntung bisa berada di lingkungan itu. Bersama dengan orang-orang baik yang penuh kasih.


"Om Rian tidak dipeluk juga Opa?" tanya Naura.


"Tidak usah," jawab Tuan Wira.


Naura tertawa dan mengolok-ngolok Rian. Tuan Wira semakin tertawa saat melihat tingkah Naura. Ternyata ia merasa salah karena sudah menyembunyikan diri selama. Karena pada kenyataannnya, mereka tidak terbebani sekali. Keduanya tidak menunjukkan rasa iba berlebih sehingga membuatnya tetap tenang.


Seandainya aku tahu kalau semua tidak menyeramkan seperti yang aku bayangkan, aku tidak akan tersiksa seperti ini.


Sebenarnya ia sendiri merasa tidak nyaman dengan persembunyianya. Ia harus menabung rindu sebanyak-banyaknya untuk kedua cucunya itu. Namun hari ini, celengan rindu itu terlalu dan pecah. Rasa bahagia pun berhamburan dalam hati ketiganya. Eh, empat dong. Karena Rian juga termasuk orang yang merindukan suasana haru seperti itu.

__ADS_1


"Ri, terima kasih." Tuan Wira menatap Rian.


Tidak ingin bahasan ini terlalu panjang dan menyita waktu, ia hanya mengangkat kedua jempolnya. Selain itu, ia juga tidak mau kalau waktu ini terbuang sia-sia. Rian ingin ketiganya segera bemain bersama.


__ADS_2