Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Detektif kentang


__ADS_3

Rey menggelengkan kepala melihat Rian yang sampai kabur ke toilet, hanya karena tidak bisa jujur soal perasaannya.


"Kamu ini kenapa sih, Ri?" gumam Rey.


Ide gila muncul saat Rey ingin membuat Rian mengaku soal perasaannya. Ia ingin melihat Rian bahagia setelah kecewa atas sikap Maudi dan dirinya.


Anggap saja apa yang aku lakukan ini untuk menebus kesalahanku padamu. Aku memang menyesal saat ingat betapa jahatnya aku karena bersama dengan Maudi saat itu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Maaf. Dan izinkan kali ini untuk aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.


Rey beberapa kali menatap pintu, namun Rian belum kunjung masuk. Rian baru masuk beberapa detik sebelum dosen masuk. Ia jadi tidak punya kesempatan untuk menjalankan ide gila itu. Sedangkan saat pembelajaran selesai, Rian segera pergi dengan terburu-buru. Jelas menghindar dari Rey.


"Ri," panggil Rey.


"Duluan ya!" teriak Rian sambil pergi meninggalkan kelas.


Rey tidak bisa berbuat apa-apa selain menggelengkan kepalanya. Ia keluar kelas dengan santai karena Rian tidak mungkin ia kejar. Jika sudah seperti ini, Rian sudah pasti tidak bisa ia ajak bicara.


"Mas Rey," panggil Riri saat melihat Rey sudah pulang.


"Hai, mau pulang?" tanya Rey.


"Iya. Mas mau pulang sekarang?" Riri balik bertanya.


"Iya. Jemputan kamu belum datang?" tanya Rey.


"Tidak dijemput Mas," jawab Riri.


"Ayo biar aku antar!" ajak Rey.


"Wah, tidak merepotkan Mas?" tanya Riri.


"Tidak. Ayo!" ajak Rey.


Riri segera masuk. Rey menatap Riri sebentar. Ia tersenyum melihat betapa polos dan apa adanya seorang Riri. Ia sama sekali tidak pernah merasa jaga image saat ditawari ketika sedang membutuhkan.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Rey memecah keheningan.


"Sudah pernah," jawab Riri.


"Hah? Jawaban apa itu?" tanya Rey.


"Ya memang kenyataannya aku sudah pernah punya pacar Mas. Dan rasanya tidak enak," jawab Riri.


"Jadi kamu tidak mau pacaran lagi?" tanya Rey.


"Untuk saat ini sih tidak Mas," jawab Riri.


Rey mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia sadar alasan Rian tidak berani mengungkapkan perasaanya. Mungkin Rian sudah tahu apa yang terjadi pada Riri.


"Mas gimana dengan Mba Maudi? Sudah ada komunikasi lagi?" tanya Riri.


Rey menggeleng.


"Kenapa?" tanya Riri.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus melupakan Maudi," jawab Rey.


"Karena Mba Maudi sudah kehilangan kehormatannya?" tanya Riri.


"Tidak. Ini soal perasaan," jawab Rey.


"Mas sudah tidak cinta lagi sama Mba Maudi?" tanya Riri.


"Selama ini dia tidak mencintaiku," jawab Rey.


Ya, sedih memang saat harus mengakui kenyataan pahit itu. Tapi Riri berhak tahu.


"Mas kan orang baik. Kenapa Mba Maudi tidak cinta sama Mas ya?" tanya Riri.


"Memangnya kamu cinta sama aku?" tanya Rey.


"Tidak," jawab Riri sambil menggeleng.


Tidak? Jujur sekali kamu, Riri. Dasar manusia mistar. Lempeng.


"Katanya aku baik," ucap Rey.


"Tapi kan baik saja tidak cukup untuk mrmbuat aku jatuh cinta sama Mas," ucap Riri.


"Nah, itu kamu tahu jawabannya. Maudi tidak bisa mencintaiku hanya karena aku baik. Tapi semuanya sudah berlalu. Aku hanya bisa bersyukur meskipun hubunganku dengan Maudi kandas, tapi hubunganku dengan Rian sudah membaik. Aku senang," ucap Rey.


"Iya sih Mas. Cinta itu tidak bisa dipaksakan," ucap Riri.


"Entahlah. Yang aku tahu cinta itu tidak bersyarat. Jadi kalau kita sudah jatuh cinta, rasanya tidak ada kriteria yang dikhusukan. Apapun keadaan dia, kita akan tetap cinta. Meskipun tidak sesuai kriteria kita. Iya tidak Mas?" ucap Riri meminta pendapat.


"Kalau itu aku setuju sekali," jawab Rey.


Iya aku tahu Mas akan setuju. Karena aku melihat semua itu. Mas mencintai Mba Maudi meskipun tahu semua keburukan Mba Maudi. Beruntung sekali Mba Maudi dicintai sama Mas Rey. Tapi sayang Mas Rey tidak mendapat balasan untuk ketulusan cintanya.


"Mas, kalau suatu saat Mba Maudi ternyata jatuh cinta sama Mas gimana?" tanya Riri.


"Itu adalah sebuah ketidakmungkinan Ri. Bagiku jika sekalipun Maudi ingin kembali itu semua bukan karena cinta," jawab Rey.


"Lalu?" tanya Riri.


"Dia hanya butuh aku untuk pelarian saja. Aku yakin itu," jawab Rey.


"Mas jangan pesimis begitu dong. Aku yakin suatu saat Mba Maudi juga bisa merasakan ketulusan Mas kok," ucap Riri.


"Mungkin. Tapi kemungkinannya sangat kecil sekali," jawab Rey.


"Yang penting usaha dulu Mas," ucap Riri.


"Kamu mengajariku? Kamu sendiri sama Rian gimana?" tanya Rey.


"Hah? Kok bawa-bawa Mas Rian sih?" tanya Riri.


"Rian baik," jawab Rey.

__ADS_1


"Mau balik lagi sama bahasan baik dan cinta?" tanya Riri.


"Jangan ah. Tidak akan beres bahasannya. Muter terus disitu," jawab Rey sambil tertawa.


Keduanya melanjutkan obrolan sampai akhirnya mobil sudah sampai di depan kediaman Riri.


"Terima kasih ya Mas," ucap Riri.


"Sama-sama. Nanti kalau ponselnya sudah bagus lagi, kabari aku ya!" ucap Rey.


"Siap Mas," jawab Riri.


Rey kembali ke rumahnya dengan berbagai pikiran. Memikirkan Maudi karena sudah sempat dibahas kembali. Memikirkan Rian yang menurutnya harus lebih berjuang karena Riri masih sibuk dengan traumanya. Tanpa ia sadari jika Rian ternyata mengikutinya.


"Itukan mobil Rian," ucap Rey saat melihat mobil Rian melaju sangat cepat melewati mobilnya.


Rey tersenyum.


Padahal ide gila itu tidak aku lakukan. Tapi ternyata dengan mengantar Riri, aku sudah membuat Rian gila.


Dibalik Rey yang sedang tertawa puas melihat kecemburuan Rian, Rian justru benar-benar sedang marah. Kemarahannya tidak jelas pada siapa. Mungkin pada Riri, Rey, dan dirinya sendiri. Intinya Rian kesal pada perasaannya sendiri.


"Kenapa lagi-lagi aku dan Rey harus mengulang hal yang sama?" gerutu Rian.


Rian kembali terbayang saat ia dan Rey sempat renggang karena Maudi. Beruntung mereka bisa kembali dekat meskipun tidak seperti dulu. Namun Rian tidak mau jika hal itu terulang kembali.


"Apa kali ini aku harus menyerah? Ah tidak! Rey sudah menusukku dari belakang. Tadi dia bilang aku harus jujut tentang perasaanku. Nyatanya dia juga mendekati Mpus," gumam Rian.


Sepanjang perjalanan, Rian terus menggerutu. Meratapi kekesalannya dan penyesalannya. Ia kesal dan menyesal tidak jujur dengan perasaannya. Namun akhirnya ia sadar jika Riri memang belum membuka hati untuk siapapun.


Kalau sampai kamu jadian sama Rey, aku tidak mau kenal lagi denganmu Pus.


Rian merasa kekesalannya belum usai. Ia memutuskan untuk ke cafe dulu sebelum pulang. Rasanya tidak enak jika ia membawa perasaan kesalnya ke rumah. Ia menyadari tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan. Dan ini tidak baik apalagi dalam keadaan ayahnya yang tidak baik-baik saja.


Rian mampir ke cafe yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tidak makan, ia hanya memesan segelas minuman untuk mendinginkan kepala dam hatinya yang sedang memanas. Padahal Rian belum makan siang, namun sayangnya selera makannya hilang entah kemana.


Saat ia meneguk minumannya, matanya terganggu dengan seorang pria yang membelakanginya. Dari postur tubuhnya, Rian sangat mengenal pria itu.


Itu kan Papa. Sedang apa Papa di cafe sendirian? Apakah bertemu dengan tamu itu? Bukankah pertemuan itu di hotel? Tapi Papa sendiri. Mungkinkah tamunya belum datang? Ah, aku jadi penasaran. Siaps tamu yang Papa tunggu hari ini.


Melihat Tuan Felix ada di cafe yang sama, tiba-tiba saja jiwa detektif Rian meronta-ronta. Ia segera menunduk dan menurunkan topinya agar tidak dikenali oleh siapapun.


Rian sesekali mengontrol Tuan Felix, namun sudah sampai tiga puluh menit tapi tidak ada siapapun di sana. Tuan Felix tetap sendiri sampai akhirnya ia pergi meninggalkan cafe itu.


"Loh, kok Papa pulang lagi? Tamunya tidak jadi datang?" gumam Rian.


Sepertinya Rian tidak tahu jika Tuan Felix justru sedang menghindarinya.


"Dasar detektif kentang. Mau coba-coba kamu menyelidiki Papamu sendiri," gerutu Tuan Felix saat keluar dari cafe itu.


Sementara di dalam, Rian masih sibuk memikirkan alasan Tuan Felix pergi begitu saja dari cafe itu. Ia tidak tahu justru kini, Tuan Felix yang sedang mengamatinya dari luar cafe.


Rian memang menunduk dan menutup wajahnya dengan topi. Tapi Rian lupa jika topi itu hadiah dari Tuan Felix. Topi yang sangat terbilang jarang. Tidak semua orang mampu membeli topi itu. Karena selain harganya yang fantastis, barangnya juga limited edition. Wajar jika Rian akan sangat mudah dikenali oleh Tuan Felix.

__ADS_1


__ADS_2