Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Rebutan toples kue


__ADS_3

Acara sudah selesai. Mia dengan bangga melenggang keluar dari ruangan. Banyak kamera yang mengincarnya. Awalnya Mia memang tidak terbiasa dengan kilauan cahaya yang dihasilkan kamera para wartawan. Namun kali ini Mia membiarkan kamera itu dengan bebas menangkap gambarnya.


"Mau makan dulu?" Dion.


"Tidak A, kita langsung pulang saja. Mia sudah rindu sama si kembar," jawab Mia.


"Ya sudah," ucap Dion.


Dion yang sudah lama mendampingi Mia tahu betul apa yang istrinya inginkan. Mereka kembali melaju menuju rumah. Dion tengah perjalanan, Dion membeli beberapa jajanan untuk mengganjal perut istrinya.


Mia yang tidak menghilangkan kebiasaannya, selalu senang saat Dion membelikannya jajanan pinggir jalan. Ia segera melahap jajanan itu.


"Pelan-pelan Mi. Itu masih panas," ucap Dion.


"Enak A," ucap Mia sambil mengangkat plastik jajanan itu.


"Kamu tidak berubah Mi," ucap Dion sambil mengusap kepala Mia.


"Mia bukan spiderman. Jadi tidak mungkin berubah," jawab Mia santai.


"Iya. Kamu memang bukan spiderman. Tapi kamu adalah wanita tangguh yang tidak melupakan kodratmu sebagai wanita. Sebagai istri dan ibu untuk aku dan kedua anak kembar kita," ucap Dion.


"Ah, Aa bikin terharu. Mia bisa sekuat ini juga karena Aa selalu meyakinkan Mia kalau Mia pasti bisa. Masalah istri dan ibu, Mia kadang malu A. Banyak hal yang Mia lewatkan. Padahal seharusnya Mia di rumah merawat kedua anak kembar kita dan menyiapkan sarapan untuk Aa," ucap Mia sedih.


"Hey, kenapa jadi sedih begini? Mia, dengarkan aku. Bagiku, kamu sudah cukup mengimbangi pekerjaanmu sebagai wanita karir tanpa melupakan kami. Sampai saat ini, kamu masih selalu memprioritaskan aku dan anak-anak. Kamu hebat, Mi." Dion kembali mengusap kepala Mia.


"Mia beruntung memiliki Aa," ucap Mia.


"Sudah ah, jangan melow begitu. Lanjut lagi makannya. Setelah itu tidur. Kamu harus istirahat," ucap Dion.


Mia menuruti apa yang dikatakan Dion. Ia menghabiskan makanannya dan segera tidur. Badannya memang sangat lelah. Malam kemarin ia menghabiskan waktunya di dalam mobil. Dan paginya harus sudah presentasi. Malam ini pun Mia kembali menikmati malamnya dalam perjalanan pulang. Sementara besok ia masih harus kembali bekerja.


Kamu pasti lelah Mi. Tapi bukan tugasku untuk memintamu berhenti. Aku tahu ini impianmu. Tugasku hanya berusaha membantumu agar kamu tidak lelah dan sendirian. Semangat sayang.


Karena rasa lelah, Dion juga tertidur. Mereka dibangunkan saat mobil sudah terparkir di depan rumah Tuan Wira. Sesuai permintaan, sopir tidak menuju rumah Dion, tapi langsung menuju rumah Tuan Wira.


Sayangnya karena ini sudah sangat larut, semua anggota keluarga sudah tidur. Mia sedih. Namun Dion terus menguatkan Mia. Akhirnya Mia ke kamarnya dan tidur.


"Ini sudah hampir pagi. Tidurlah dulu, Mi." Dion mengingatkan Mia.


"Tadi Mia kan sudah tidur di jalan," jawab Mia.


"Mi, ingat. Badan kamu harus fit. Besok agenda kamu masih sangat banyak kan?" tanya Dion.


Agenda? Mia melupakan beberapa acara yang harus ia lalui besok. Pasti akan sangat melelahkan. Akhirnya Mia berusaha untuk memejamkan matanya meskipun rasa ngantuk itu belum menghampirinya.

__ADS_1


Mia bangun dan melihat jam dinding. Mentari pagi sudah malu-malu muncul ke peraduan. Mia segera mandi dan bersiap. Ia keluar dan bergabung dengan yang lain di ruang makan.


Pelukan hangat dari kedua anak kembarnya adalah hal yang paling Mia nantikan. Ucapan selamat pun terucap untuknya. Rasa haru kembali menyeruak dalam dirinya.


Bahagia tengah menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak? Semua orang mendukungnya. Tidak terkecuali Rian. Orang yang selalu menjadikan Mia sebagai gambaran orang yang sempurna.


"Kak Dion kemana, kak?" tanya Rian.


"Masih tidur. Kasihan, dia pasti lelah. Biarkan saja dia bangun lebih siang hari ini," jawab Mia.


Ya, Dion memang mengantar Mia untuk pergi ke luar kota. Tapi sebuah laptop juga tidak lebas dari tangannya. Ia selalu menenteng tas dan membuka laptopnya saat ada waktu luang. Jika bicara tentang lelah, mungkin Dion jauh lebih lelah dibanding Mia.


Selesai sarapan, Dion pamit lebih dulu untuk mengantar Naura dan Narendra. Sedangkan Mia kembali ke kamar untuk pamit kepada Dion yang masih nyenyak di bawah selimut putih.


"A, Mia berangkat duluan ya!" ucap Mia pelan.


Tidak ingin mengganggu tidur Dion, Mia hanya mengecup dahi suaminya dan pergi. Ia hanya pamit tanpa ingin membangunkan Dion pagi ini.


Sudah jam sembilan siang, Dion bangun dan tekejut melihat jam dinding. Ia juga mengaduh saat merasa badannya sangat pegal. Perlahan ia menggeliat dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Mia dan anak-anak sudah berangkat ya?" tanya Dion.


Tuan Wira melihat ke arah Dion dan mengiyakan. Ia juga meminta Dion untuk duduk di dekatnya. Mengungkapkan rasa bangganya pada Mia. Namun Dion malah cemberut.


"Gimana aku bisa senang, Papa itu selalu membanggakan Mia di depan aku. Padahal aku juga sudah berjuang banyak buat Papa," jawab Dion.


"Tapi kamu masih kalah jauh sama Mia," ucap Tuan Wira.


"Kalah apanya?" tanya Dion.


"Mia bisa tetap bangun pagi dan pergi ke kantor. Sementara jam segini kamu baru bangun tidur. Bukankah kalian pulang sama-sama?" ucap Tuan Wira sambil menahan tawanya.


"Papa memang ngeselin. Ya jangan bandingkan aku sama Mia dong," ucap Dion.


Meskipun bibirnya kesal pada ayahnya yang selalu membandingkan dirinya dengan Mia, tapi Dion juga memang mengiyakan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Mia memang hebat. Ia benar-benar kuat dan bertanggung jawab.


"Kalian kenapa sih? Ayo makan dulu kue nya!" ucap Nyonya Helen sambil membawa setoples kue kesukaan Dion.


Dion segera mengambil kue itu. Tapi sayangnya ia kalah cepat. Toples kue itu sudah dibawa Tuan Wira.


"Masih kalah cepat," ejek Tuan Wira.


"Sejak kapan Papa suka kue itu?" tanya Dion kesal.


"Sejak tahu kalau kue ini enak. Apalagi kalau melihat orang kesal karena tidak kebagian kue ini," jawab Tuan Wira sambil tertawa.

__ADS_1


Nyonya Helen juga ikut tertawa saat mendengar ocehan Tuan Wira. Sementara Dion duduk merapat dan merebut toples itu dari Tuan Wira.


"Nih buat Papa," ucap Dion sambil memberikan tiga kue kepada Tuan Wira.


Sementara ia berlari membawa toples itu sambil tertawa. Tuan Wira dan Nyonya Helen masih ikut tertawa saat melihat tingkah Dion yang nampak seperti anak kecil.


Dion memang sudah bukan anak kecil lagi. Tapi bagi Nyonya Helen dan Tuan Wira, Dion tetaplah anak kecil. Dion selalu mengingatkan pada tingkah konyolnya waktu kecil. Hal itu tentu sangat menghibur mereka. Meraasa kalau Dion tetaplah Dion yang dulu.


Dion yang menyaksikan tawa Tuan Wira merasa sangat bahagia. Akhirnya tawa ayahnya bisa kembali ia lihat. Setelah cukup lama Dion hanya melihat keputus asaan dari ayahnya.


Tuhaaaan, aku bahagia dengan semua ini. Meskipun Papa belum sembuh, tapi Papa sudah kembali bersemangat. Ini adalah kemajuan yang sangat pesat dan luar biasa bagiku. Semangat sehat ya Pah.


Dion kembali ke kamarnya dan membuka laptopnya. Ia kembali bekerja meskipun tidak ke kantor. Beberapa berkas sudah siap di hadapannya. Tidak lupa setoples kue pun ikut menemani pekerjaannya hari ini.


Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, Dion harus istirahat dulu saat ponselnya berdering. Saat melihat nama mandor proyek kantor baru Rian, Dion segera menjawabnya. Ia sangat senang bahwa hari ini dipastikan semua pembangunan akan selesai.


"Terima kasih untuk informasinya," ucap Dion.


Dion segera menghubungi Tuan Felix saat panggilan dengan mandor itu sudah berakhir. Tuan Felix yang sedang di kantor Mia sangat senang mendengar kabar ini. Dengan cepat Mia dan Rian pun tahu. Mereka akan menuju lokasi kantor Rian setelah jam kerja usai.


"Kamu pulang saja dulu. Kasihan Naura dan Rendra kalau kamu tidak menjemput mereka," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," jawab Rian.


"Tidak perlu Ri. Kan ada sopir yang bisa jemput anak-anak," ucap Mia.


"Tidak apa-apa Kak. Mereka pasti lebih senang kalau aku yang jemput. Lagi pula aku juga sudah janji mau mengajaknya ke tempat mainan dulu," ucap Rian.


"Jangan terlalu memanjakan mereka, Ri. Kamu juga menghamburkan uang bekalmu begitu," ucap Mia.


"Tenang saja. Bekalnya masih banyak. Jangan khawatir," ucap Tuan Felix.


"Lagi pula mereka tidak pernah membeli mainan yang mahal kok," ucap Rian.


"Terima kasih sudah sayang sama mereka ya Ri," ucap Mia.


"Jangan begitu, kak. Mereka juga kan keponakanku," ucap Rian.


"Iya, Mi. Kita adalah satu keluarga. Jadi jangan sungkan begitu. Biarkan Rian melakukan tanggung jawab sebagai omnya. Sebelum nanti dia punya tanggung jawab sendiri untuk keluarga kecilnya," ucap Tuan Felix.


"Ah Papa," ucap Rian malu-malu.


"Wah sebentar lagi aku punya keponakan baru nih," goda Mia.


Wajah Rian memerah dan segera pamit untuk menjemput Naura dan Narendra ke sekolah. Padahal masih ada setengah jam lagi untuk menjemput mereka. Tapi Dion ingin menghindari Tuan Felix dan Mia yang terus membuatnya malu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2