
Segelas air minum yang diberikan Rian diteguk habis oleh Tuan Felix. Ia duduk dengan menggunakan kedua tangannya untuk menyangga kepalanya yang terasa begitu berat.
"Pah, aku tahu Papa sedang ada masalah. Tapi aku baru melihat Papa seperti ini. Papa tidak akan bisa menyelesaikan masalah kalau begini," ucap Rian setelah melihat Tuan Felix sedikit tenang.
"Papa tidak tahu harus bagaimana. Dia benar-benar licik Rian. Wanita itu memang sangat licik," ucap Tuan Felix.
"Apa yang dia inginkan sebenarnya?" tanya Rian.
Tuan Felix menatap Rian. Sepertinya Rian memang sedang menyelidiki kasus ini lebih dalam. Ia ingin tahu apa penyebab mendasar kelakuan mantan istri Tuan Felix. Pasalnya perceraian itu terjadi sudah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Kalau masalah uang, Rian yakin Tuan Felix tidak mungkin menceraikan mantan istrinya tanpa memberi uang jaminan.
"Dia ingin melihat Papa hancur," ucap Tuan Felix.
"Dendam apa yang membuat dia sangat menginginkan kehancuran dalam hidup Papa?" tanya Rian.
"Aku tidak tahu," jawab Tuan Felix menggeleng.
Rian masih menatap Tuan Felix yang kembali menunduk. Ia tidak yakin jika Tuan Felix benar-benar tidak mengetahui alasan dendam dari mantan istrinya itu.
"Papa jangan khawatir. Mulai sekarang aku akan ikut di kantor Papa. Aku akan mempelajari semua data keuangan. Aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini," ucap Rian.
"Tapi sudah defisit lima puluh persen Rian," ucap Tuan Felix tidak yakin.
"Masih ada lima puluh persen. Papa tenang saja. Kita akan membuat mereka kembali percaya dengan perusahaan kita. Jangan. khawatir," ucap Rian.
Meskipun Rian sangat tidak yakin, namun ia harus membuat Tuan Felix tenang saat ini. Setidaknya ia tidak melihat Tuan Felix sakit karena memikirkan keuangan perusahaan yang semakin memburuk.
"Aku terancam bangkrut. Aku tidak yakin perusahaan ini bertahan," ucap Tuan Felix pasrah.
"Jangan begitu Pah. Kita harus tetap berusaha. Apapun hasilnya nanti, aku yakin semuanya adalah yang terbaik." Rian menyentuh bahu Tuan Felix.
Bahu yang kini sedang menanggung beban yang sangat berat. Tangannya perlahan menyentuh tangan Rian. Ia menggenggam erat tangan Rian. Berusaha meyakinkan Rian kalau ia akan bangkit. Meskipun itu sangat sulit.
Rian mulai duduk dan membuka file dalam laptopnya. Matanya fokus menatap layar laptop. Sementara tangannya mulai menyentuh berkas yang ada di meja. Membuka lembar demi lembar data yang sudah mulai tidak masuk akal.
"Ri, sudah siang. Kamu siap-siap ke kampus. Papa tidak mau kalau kamu sampai bolos kuliah," ucap Tuan Felix.
Rian tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Masih ada satu jam lagi Pah," ucap Rian.
"Kamu harus siap-siap. Sudahlah Rian. Kamu berangkat sana!" ucap Tuan Felix.
"Aku sudah bawa semua kebutuhan kuliahku. Papa tenang saja," ucap Rian.
Terlihat santai, Rian masih fokus dengan laptopnya. Tuan Felix masih melihat perjuangan Rian yang sangat serius.
"Rian, jangan membebani dirimu seperti itu. Ini tanggung jawab Papa," ucap Tuan Felix.
"Pah, jangan perhitungan begitu. Ini tanggung jawab kita bersama. Papa tenangkan diri dulu. Biar nanti kita hadapi semuanya bersama ya!" ucap Rian.
Rian baru mengangkat wajahnya sebentar dan tersenyum. Getar semangat mulai terasa dan membangkitkan Tuan Felix kembali. Ia segera meraih berkas dan mulai membukanya setelah sejak lama hanya diam dan memperhatikan Rian.
"Ri, berangkatlah dulu. Sekarang bagian Papa," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Melihat Tuan Felix sudah mulai membuka berkas dan laptop, Rian tersenyum bahagia. Ia menutup berkasnya dan mulai bersiap.
"Aku berangkat dulu ya Pah. Aku sangat yakin Papa bisa menghadapi semua ini bersama Pah," ucap Rian.
"Semua karena kamu Ri. Papa bisa kembali seperti ini berkat melihat rasa semangatmu," ucap Tuan Felix.
"Aku kan sudah bilang kalau kita akan semakin kuat jika bersama," ucap Rian.
"Ya, kamu benar." Tuan Felix mengangguk.
Tuan Felix melihat Rian yang pergi semakin menjauh. Setelah Rian hilang dari penglihatannya, Tuan Felix segera menutup berkas itu. Laptopnya pun ia geser.
Maaf Ri. Tapi sampai saat ini pun Papa belum siap. Papa ingin menyerah. Lima puluh persen itu bukan angka kecil Ri. Papa tidak yakin bisa menyelesaikan semua ini.
Rian tidak tahu jika Tuan Felix hanya berusaha membuatnya senang saja. Rasa senangnya juga semakin terlihat saat Riri datang menghampirinya.
"Mas, ini aku masak buat makan siang. Mas belum makan kan?" tanya Riri sambil menyerahkan sebuah tas bekal untuk Rian.
"Ini buatku?" tanya Rian.
"Buat tetangga," jawab Riri kesal.
"Jangan marah dong," ucap Rian.
"Lagian Mas lalau nanya bikin aku kesal," ucap Riri.
"Ya aku kan takut kalau kamu salah bicara," ucap Rian.
"Mau dimakan tidak?" tanya Riri.
Rian mengajak Riri duduk di bebangkuan seperti biasanya. Ia senang sekali saat di pangkuannya sudah ada kotak makan siang buatan Riri untuknya. Rian segera makan dengan begitu lahap. Selain lapar karena belum sarapan, makan siang buatan Riri juga memang sangat enak. Apalagi Riri yang memasak untuknya.
"Enak Mas?" tanya Riri.
"Enak," jawab Rian dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ri, ini. Terima kasih ya!" ucap Rey yang tiba-tiba datang mebghampiri mereka.
Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.
Rian terkejut dengan ucapan Rey. Ia sampai tersedak dan batuk-batuk.
"Minum Mas, minum." Riri memberikan sebuah botol minum untuk Rian.
Rian segera menerimanya dan meminum air itu hingga habis setengah botol.
"Pelan-pelan Mas," ucap Riri.
"Aduh maaf. Aku ke toilet dulu ya!" ucap Rian.
Rian menyimpan kotak makan siangnya di atas bebangkuan dan menerobos Rey yang berdiri di dekatnya.
"Dia kenapa sih?" tanya Rey.
__ADS_1
"Tidak tahu Mas," jawab Riri sambil menggeleng.
Riri dan Rey tidak tahu jika Rian sedang menggerutu kesal.
Aku pikir kamu hanya membuat makanan itu spesial untukku. Ternyata kamu juga membuatnya untuk Rey. Bahkan Rey lebih dulu mendapat makan siang itu. Aku keduluan sama Rey ternyata. Aku kalah saing sama Rey? Lagi? Ah tidak!
Rian menyesal karena sudah percaya diri jika Riri memiliki perhatian lebih padanya. Tapi akhirnya ia kecewa saat melihat Rey menyerahkan kotak makan siang yang sudah kosong.
"Kok Mas lama sih?" tanya Riri saat Rian sudah kembali ke bebangkuan itu.
"Mules," jawab Rian singkat.
"Nih dilanjut lagi Mas," ucap Riri sambil menyerahkan kotak makanan yang masih isi.
"Aku sudah kenyang," jawab Rian.
"Sudah kenyang?" tanya Riri kecewa.
"Ah syukurlah kalau kamu sudah kenyang. Sini biar aku habiskan," ucap Rey meminta kotak makan siang milik Rian.
"Jangan!" ucap Rian.
Rian segera merebut kotak itu padahal Riri sudah hampir menyerahkan kotak itu pada Rey.
"Kenapa?" tanya Riri.
"Ini milikku," jawab Rian sambil kembali membawa kotak makan siang itu.
"Tapi kan Mas sudah kenyang?" tanya Riri.
"Iya. Dari pada kamu buang, biar aku yang habiskan. Kasihan Riri sudah masak cape-cape kalau tidak dimakan," timpal Rey.
"Ah sudahlah Rey. Aku akan simpan makan siang ini untuk nanti," jawab Rian.
Rian segera memasukkan bekalnya ke dalam tasnya saat ia berhasil merebut kotak makan siang itu. Riri tidak peka dengan kode darinya. Dan itu tentu membuat Rian semakin kesal.
"Mas tapi kalau disimpan terlalu lama nanti basi," ucap Riri.
"Tidak Pus. Kalaupun basi, aku akan tetap makan makanan pemberian darimu ini. Aku janji," ucap Rian.
"Sudahlah Riri. Biarkan saja. Mungkin Rian memang sedang lapar," ucap Rey yang berusaha menengahi.
Entah mengapa, Rey yang berusaha peduli dan perhatian pada merkea justru membuat Rian semakin tidak nyaman.
"Aku ke kelas dulu ya!" ucap Rian. "Oh iya ini aku bawa ya Pus," lanjut Rian.
"Iya Mas," jawab Riri dengan wajah bingung.
Kamu benar-benar keterlaluan Ri. Cemburu sebesar ini masih tidak mau mengakuinya?
Rey tersenyum senang saat melihat Rian terbakar cemburu. Ia akan terus membuat Rian cemburu hingga akhirnya berani menyatakan perasaannya pada Riri.
Walaupun sebenarnya Rey sendiri tidak yakin dengan perasaan Riri. Ia terlihat baik namun kebaikannya juga dirasakan oleh Rey. Begitupun dengan perhatian.
__ADS_1
Kadang Rey juga meyadari kalau Riri memang memperlakukan dirirnya dengan Rian hampir sama. Pantas Rian cemburu namun ragu untuk menyatakan perasaannya pada Riri.