Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ternyata Riri...


__ADS_3

"Pah, halo." Mia kembali memanggil Tuan Felix saat beberapa saat ayahnya tidak menjawab ucapannya.


"Iya, halo, halo. Gimana, Mi?" tanya Tuan Felix.


"Soal tanah gimana? Jadi atau tidak? Orangnya sudah setuju dengan harga yang kita ajukan," ucap Mia.


"Itu nanti kita bicarakan ya Mi. Beri Papa waktu sampai besok. Sekarang Papa sedang ada urusan," ucap Tuan Felix.


Mia menatap layar ponselnya dengan wajah bingung saat mendapati Tuan Felix mengakhiri panggilan itu begitu saja. Dion yang baru saja masuk ke dalam kamar ikut bingung melihat tingkah Mia.


"Kamu kenapa?" tanya Dion.


"Papa aneh, A." Mia mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Kamu juga aneh," ucap Dion.


"Ih Aa, aku serius. Papa sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap Mia.


"Menyembunyikan apa? Selingkuhan?" tanya Dion.


"Aa," ucap Mia kesal sambil melempar bantal.


Dion tertawa saat melihat bibir Mia manyun dan matanya yang mendelik tidak suka.


"Kamu kalau sama orang tua jangan buruk sangka. Dosa," ucap Dion sambil mendekat dan memeluk Mia.


Mia berontak dan meminta Dion melepaskan pelukannya. Namun sayangnya Dion memeluknya semakin erat. Seperti yang ia tahu, lama-lama Mia akan luluh dan kembali memeluk Dion. Dan disaat itu, Mia akan mulai bercerita semuanya.


Seperti halnya sekarang. Mia luluh dan mulai menceritakan kecurigaannya. Dion tidak menjawab. Ia hanya perlu jadi pendengar dan mencoba menganalisis sesuai pemikirannya.


"Apa mungkin Papa ada masalah dengan keuangan?" tanya Dion.


"Hah? Kenapa Papa tidak bilang sama Mia?" tanya Mia.


"Ya mana aku tahu. Itu kan hanya dugaanku saja, Mi. Belum tentu juga benar. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja," ucap Dion.


"Tapi aku khawatir," ucap Mia.


"Kenapa tidak tanya Rian saja?" tanya Dion.


"Rian sedang kencan," jawab Mia.


"Dengan Mpus?" tanya Dion.


"Iya," jawab Mia.


"Sepertinya kita harus nabung Mi. Kita sudah mau punya adik ipar," ucap Dion.


Mia menatap Dion. Suaminya benar.


"Itu artinya nanti kita punya keponakan ya, A?" tanya Mia.


"Masih lama. Nikah dulu. Bikin adonan dulu. Baru jadi keponakan buat kita," ucap Dion.


"Adonan apa? Dipikir donat kali," ucap Mia sambil tertawa.


"Adonan seperti yang biasa kita buat. Mau aku beri contoh?" tanya Dion.


Matanya menatap tajam. Langkahnya semakin dekat. Tangannya mengunci Mia dalam sebuah pelukan. Dan tidak lama, keduanya saling menunjukkan kehebatannya dalam aksi pembuatan adonan.


Alih-alih membayangkan pernikahan Rian dan Riri, Mia dan Dion justru lebih semangat melebihi pengantin baru. Sementara orang yang sempat mereka bicarakan justru masih saling kaku.

__ADS_1


Rian tidak mampu mengungkapkan perasaannya, karena sikap Riri yang menurutnya tidak menunjukkan rasa untuknya.


"Mas, aku lihat Mas lebih banyak diam hari ini. Apa Mas sedang sakit?" tanya Riri.


Riri berjalan mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahi Rian. Kegugupan sangat Rian rasakan. Terlebih saat napas Riri berhembus menerpa wajahnya.


Rian tiba-tiba mendekat dan menghirup semilir angin yang membuat rambut Riri sedikit berantakan.


"Mas mau apa?" tanya Riri panik.


"Aku mau merapikan rambutmu," jawab Rian.


Baru kali ini Rian melihat Riri begitu panik. Sementara dirinya justru merasa santai dan menikmati jarak mereka yang hanya terpisah beberapa senti saja.


"Biar aku saja Mas," ucap Riri.


Saat Riri menepis tangan Rian yang sudah menyentuh rambutnya, tanpa sengaja justru Riri menyentuh tangan Rian. Bukan melepaskan, Rian justru menggenggam tangan Riri.


"Dengarkan aku!" ucap Rian saat Riri berusaha melepaskan tangannya.


Riri melihat Rian yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya. Rian yang selalu terlihat gugup saat bersamanya, kini terlihat begitu berani. Ada ketakutan saat Riri sedang berdua bersama Rian.


"Mas, jangan macam-macan ya!" ucap Riri tegas.


"Apa yang ada di pikiranmu saat ini?" tanya Rian.


"Mas, aku mau pulang." Riri terlihat semakin panik.


"Apa kamu takut?" tanya Rian.


"Iya. Ayo pulang Mas!" ajak Riri.


Riri menatap Rian dan memukulnya.


"Mas ngerjain aku ya?" tanya Riri.


Rian hanya tertawa melihat Riri yang terlihat kesal setelah beberapa saat begitu panik.


"Pus, kamu harus percaya jika aku tidak mungkin merendahkan seorang wanita. Bagiku, wanita itu harus dijaga dan dihormati. Terlebih wanitanya sepertimu," ucap Rian yang kembali bicara serius dengan Riri.


"Memangnya aku wanita seperti apa?" tanya Riri.


"Cantik, baik, pintar, dan kuat." Rian menjawab dengan tidak lepas menatap Riri.


"Mas memujiku?" goda Riri.


Rian segera mengalihkan pandangannya yang sudah terlanjur ketahuan oleh Riri.


"Pus, aku tidak tahu jalan hidup kita ke depannya akan seperti apa. Hanya saja, aku meminta yang terbaik di setiap perjalanan kita." Rian mulai bingung harus memulai bicara dari mana.


"Aku yakin setiap jalan yang kita lalui adalah yang terbaik menurut Tuhan. Kita tidak perlu meminta lebih. Jalani saja. Syukuri setiap aoa yang Tuhan beri untuk kita. Sekalipun mungkin kita tidak menyukai jalan yang harus kita lalui," ucap Riri.


"Ya, sekalipun nanti kita berjalan di jalan kita masing-masing. Mungkin berat Pus, karena aku harus kembali merasakan kehilangan orang yang aku sayang. Tapi seperti katamu, semua yang terjadi adalah jalan terbaik." Rian mencoba membuat Riri mengerti akan perasaannya.


"Terima kasih ya Mas sudah sayang sama aku. Tapi asal Mas tahu, aku tidak akan melupakan orang-orang yang aku sayang. Dan aku juga sayang sama Mas," ucap Riri sambil tersenyum.


"Jadi? Kamu?" tanya Rian.


"Mas, jujur saja aku sayang sama Mas. Mas orang yang selalu membuat aku senang dan tertawa. Mas adalah orang yang membuatku yakin jika dunia ini belum berakhir. Tapi aku tidak yakin perasaanku ini seperti apa untuk Mas," jawab Riri.


Rian menatap Riri lekat. Ternyata wanita yang selama ini ia cintai memiliki perasaan yang sama. Meskipun rasa itu tidak sebesar dan seyakin dirinya.

__ADS_1


"Tidak masalah. Kamu simpan saja ketidakyakinanmu itu, sampai suatu saat nanti aku bisa membuatmu yakin. Hanya satu pintaku, tetap jaga rasamu untukku." Rian tersenyum senang.


"Jadi Mas tidak mau nembak aku?" tanya Riri.


"Nembak? Kamu bukan lagi anak SMA yang butuh gelar jadian agar bisa bersama kan?" Rian balik bertanya.


Riri menggeleng.


"Tapi bukankah hubungan tanpa status itu tidak jelas ke depannya akan seperti apa?" tanya Riri kembali.


"Memangnya setelah mereka berpacaran, mereka bisa menjamin akan menikah dan bahagia hingga akhir perjalanan hidupnya?" Rian balik bertanya.


"Jadi kita akan menjalani hubungan tanpa status?" tanya Riri.


"Aku tidak menjawab seperti itu. Tapi jika kamu berpikir seperti itu, tidak masalah. Aku hanya ingin menyelesaikan kuliah dan menata masa depanku. Tentunya untuk mengumpulkan mahar dan membahagiakan istriku nanti," ucap Rian.


Mereka saling diam. Berusaha saling mengerti satu sama lain. Meskipun mungkin Riri tidak menginginkan hal ini.


"Pus, aku tahu mungkin wanita butuh kejelasan. Aku hanya tidak ingin mengikatmu dengan status pacaran. Aku hanya berusaha dan berdoa agar kamu menjadi wanita yang duduk di sampingku saat di pelaminan nanti," lanjut Rian.


Riri menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak menyangka jika saat ini akan menjadi hari bermakna baginya. Ia bisa mendengar langsung jika Rian menyayanginya. Bahkan pikiran Rian sudah sangat jauh dan matang.


Aku yakin Mas akan memperjuangkanku. Mas, berusahalah. Aku akan menunggumu sampai hari itu tiba.


"Jangan bayangin yang aneh-aneh ya!" goda Rian yang baru saja membuyarkan lamunan Riri.


"Mas," ucap Riri terkejut.


"Kita pulang?" tanya Rian.


"Ayo!" jawab Riri.


Riri kesal saat Rian mengajaknya pulang. Padahal ia masih ingin menikmati hari libur berdua bersama pria yang baru saja membuatnya terbang tinggi.


"Terima kasih untuk hari ini, Pus." Rian menatap Riri sebentar.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena Mas tidak malu mengajakku jalan-jalan," ucap Riri.


"Kenapa aku harus malu?" tanya Rian.


"Karena statusku sebagai seorang pembantu," jawab Riri lirih.


"Kamu seharusnya bersyukur. Kamu orang yang paling beruntung. Di tengah kesibukanmu bekerja di rumah Mr. Aric, kamu masih bisa menjalani kuliah dan mendapat nilai top. Jarang loh," puji Rian.


"Ah, Mas berlebihan." Riri tersenyum malu-malu.


"Jadi kamu hati-hati," ucap Rian.


"Hati-hati kenapa?" tanya Riri sambil mengernyitkan dahinya.


"Bisa-bisa ku di museumkan. Yang jarang itu kan sama artinya langka. Jadi biar tidak punah biasanya di museum kan," jawab Rian sambil tertawa.


"Ya ampun Mas. Kamu benar-benar ya!" ucap Riri sambil memukul Rian berkali-kali.


Hari ini mereka melewati waktu dengan sangat cepat karena rasa bahagia. Tidak terasa waktu nyaris gelap. Rian mengemudi mobil lebih cepat agar tidak terlalu malam sampai ke rumah Mr. Aric.


"Pelan-pelan Mas," ucap Riri mengingatkan.


"Kalau pelan-pelan keburu diambil orang. Jadi harus digas," jawab Rian sambil tersenyum tipis.


Riri hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar Rian yang semakin berani.

__ADS_1


__ADS_2