Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Anemia berat


__ADS_3

Setelah seminggu sejak semua rahasia Maudi dan Hiro terbongkar, Rian melihat keduanya di pusat perbelanjaan. Saat ia sedang mengajak kedua keponakan kembarnya bermain di akhir pekan. Ia berpura-pura tidak melihat keduanya. Sampai akhirnya Maudi dan Hiro menghilang dengan sendirinya.


Rian hanya tersenyum sinis. Akhirnya ia bisa terbebas dari Maudi. Lagi pula, sebenarnya mereka tidak ada lagi urusan dengannya. Apa yang mereka inginkan sudah tercapai. Karena Rian sudah tidak bersama lagi dengan Riri.


"Rian," sapa Maudi sambil bergelayun manja di lengan Rian.


Rian benar-benar terkejut dengan nyali Maudi. Entah apa yang membuat keberanian Maudi untuk mendekatinya lagi. Padahal sudah lama wanita itu tidak mengganggu hidupnya.


"Mau apa kamu?" tanya Rian sambil melepaskan tangan Maudi dari lengannya.


"Kamu masih saja dingin padaku," jawab Maudi sambil memelas.


"Berhenti drama di depanku Maudi. Aku sudah jijik padamu," ucap Rian.


Mungkin Maudi sudah mati rasa. Atau mungkin juga Maudi hanya berusaha menutup telinga dari ucapan Rian yang kadang sangat menyakitkan itu.


"Rian, aku mencintaimu. Bagaimana caraku untuk membuktikan semua itu?" tanya Maudi.


"Kamu tidak perlu membuktikan apapun padaku. Kamu cukup pergi menjauh dari hidupku," jawab Rian dengan nada tinggi.


Maudi tidak bergeming. Ia tetap memohon untuk bisa selalu di samping Rian. Mencoba memerbaiki semuanya. Namun Rian tidak pernah memberikan sekalipun kesematan untuk Maudi.


"Om, dia siapa?" tanya Naura.


"Dia bukan siapa-siapa. Ayo pergi Naura!" ajak Rian.


Naura yang tangannya ditarik Rian bergerak menjauh dengan cepat. Sementara Narendra yang mengikutinya di belakang mengangkat jari tengahnya. Membisikkan kalimat kebencian untuk Maudi yang selalu mengganggu hidup Rian.


"**** you hantu mall," bisik Narendra.


Maudi mengepalkan tangannya dengan keras. Seandainya ia tidak ingat semua rencananya, sudah pasti ia tarik anak itu dan menyumpal mulutnya.


Di dalam mobil Naura terus memberondong Rian dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Maudi. Malas sebenarnya menjawab pertanyaan tentang wanita itu. Tapi kalau tidak dijawab, maka Naura akan terus merengek dan Rian tidak suka itu. Jadi, ia tetap menjawab semua pertanyaan tentang Rian meskipun mungkin ada beberapa jawaban yang Naura sendiri tidak mengerti.

__ADS_1


"Jangan bilang sama Mama dan Papa kalau kita bertemu dengan dia ya!" ucap Rian.


"Kenapa?" tanya Naura.


Ah pertanyaan apa lagi itu? Rian merasa tidak ada yang perlu dijelaskan tentang Maudi. Rasanya sudah lelah seharian hanya menghabiskan waktu untuk membahas Maudi. Namun lagi-lagi Rian tidak bisa mengelak.


Cerita demi cerita sudah Rian ungkapkan semua. Ia tahu kalau Naura belum saatnya tahu semua yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Namun saat ini Rian memang sedang butuh teman cerita.


Tidak perduli Naura dan Narendra mengerti atau tidak dengan ceritanya. Yang pasti mereka hanya menjadi pendengar setia. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang membuat Rian mati kutu dan menjelaskan apa yang tidak ingin diceritakannya pada siapapun.


Hari sudah berganti. Rian kembali fokus dengan berkas laporan yang sudah menumpuk di mejanya. Rian memijat kepalanya yang terasa pusing. Beruntung Manto tahu kondisi Rian. Manto segera membawa Rian untuk tiduran di sofa, karena ia harus istirahat.


Manto gagal membujuk Rian untuk pergi ke rumah sakit. Tapi nampaknya Rian sangat menolak keras untuk mengunjungi rumah sakit. Tempat yang paling tidak sukai akhir-akhir ini.


"Pak, sebaiknya Bapak pulang. Istirahat di rumah saja kalau tidak mau ke rumah sakit," ucap Manto.


"Tidak perlu. Saya hanya butuh istirahat sebentar dan setelah itu siap untuk bekerja kembali," ucap Rian.


"Jangan memaksakan diri Pak. Laporan hari ini bisa saya handle kok," ucap Manto.


Meskipun tidak setuju, Manto hanya bisa mengangguk. Dengan cepat tangannya menghubungi salah seorang dokter untuk berjaga di sekitar kantor. Rasa khawatir itu muncul saat melihat Rian begitu pucat.


Tidak menunggu lama, tiba-tiba Rian menggigil. Manto berusaha membangunkan Rian. Namun sepertinya Rian tidak sadarkan diri. Hanya beberapa menit saja dokter sudah masuk ke ruangan itu. Hasilnya memang yang ditakutkan Manto selama ini.


Rian mengalami anemia berat. Untuk sementara Rian diinfus selama perjalanan menuju rumah sakit. Kabar itu dengan cepat sampai ke telinga Tuan Felix.


Tanpa mengabari siapapun lagi, Manto hanya menunggu Rian di sampingnya. Tidak lama, Mia dan Dion sampai di tempat itu. Berusaha membangunkan Rian namun Rian masih susah untuk diajak bicara. Sesekali matanya memang terbuka, namun Rian tidak bisa berinteraksi dengan siapapun.


Kondisi Rian semakin malam semakin memburuk. Hal itu membuat Mia sangat ketakutan. Namun Dion selalu meyakinkan Mia jika Rian adalah anak yang sangat kuat. Bayangan Mia sudah kemana-mana. Jujur saja ia ingin pulang dan tidur. Ia ingin tiba-tiba bangun dan ternyata semua hanya mimpi.


"Pa, Pa," ucap Rian pelan saat ia mulai tersadar.


Tidak ada Tuan Felix. Namun Tuan Wira sudah berada di sana. Ia berbisik bahwa ia juga ayahnya. Ia akan selalu di sana dan memberikan semua yang dibutuhkan oleh Rian.

__ADS_1


"Mereka jahat. Semua jahat," ucap Rian gelisah.


Saat itu matanya tertutup. Namun kepalanya terus bergerak, nampak sangat gelisah. Manto yang merasa sangat khawatir segera menelepon istrinya. Ia mengabari untuk tidak pulang malam ini.


Sebagai bukti, Manto mengirimkan foto Rian yeng tengah tidak berdaya. Beruntung istrinya percaya dan tidak mempermasalahkan semua itu. Manto tidak akan meninggalkan Rian malam ini. Ia akan memastikan keadaan Rian agar tetap baik- baik saja.


Keadaan Rian membuat Riri yang jauh di sana nampak gelisah. Ada ikatan batin yang membuat Riri tidak nyaman padahal ia tidak tahu apapun tentang Rian. Tidak ada yang mengabarinya, sekalipun Tuan Felix.


Setelah Rian memutuskan hubungannya dengan Riri, Tuan Felix terkesan jaga jarak dengannya. Padahal Riri sama sekali tidak menganggap hubungannya sudah selesai. Jauh di lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Rian dan berharap cintanya akan kembali bersatu.


"Aku merindukanmu, Mas." Riri tersenyum manis di depan cermin.


Saat menyadari kegilaannya, Riri segera mengusap wajahnya. Ia bahkan memukul kepalanya pelan namun berkali-kali.


"Kamu ini kenapa sih Ri? Jangan terlalu berharap. Semuanya sudah berakhir," ucap Riri mengingatkan dirinya sendiri.


Kesendiriannya di sebuah lorong rumah sakit saat menunggu Mr. Aric, membuat kepala Riri tidak berhenti memikirkan Rian. Ia berkali-kali bicara tentang kerinduan dan penyesalannya.


"Mas, seandainya kamu tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Ah sudahlah. Mikir apa aku ini, Mas Rian sudah siapa-siapaku lagi. Aku harus sadar," gumam Riri.


Kerinduan Riri membuat Rian tidak sadar mengigau memanggil nama Riri pelan. Mia dan yang lainnya hanya saling menatap dan mencoba memahami apa yang dirasakan Rian.


"Mi, memangnya kamu tidak punya kenalan anak gadis?" tanya Dion dengan berbisik.


"Anak gadis?" Mia balik bertanya.


"Biar Rian sembuh. Katanya kalau sakitnya karena cinta, obatnya juga harus cinta. Siapa tahu beneran," jawab Dion.


"Aa," ucap Mia sambil menatap Dion tajam.


"Kan katanya Mi," ucap Dion.


Mia hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Manto yang bisa mendengar percakapan mereka berdua justru mengiyakan. Kali ini Manto setuju dengan ucapan Dion.

__ADS_1


Sebenarnya banyak wanita yang terlihat mendekati Rian saat ini. Namun Manto tidak melihat Rian membuka hatinya. Rian selalu dingin dengan wanita-wanita yang mendekatinya.


__ADS_2