Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Bikin yang banyak!


__ADS_3

Begitu terbukanya Papa sama Riri. Aku yakin Riri pasti bisa menenangkan Papa.


"Mas," panggil Riri.


Rian yang sudah ketahuan oleh Riri tidak bisa lari. Ia hanya tersenyum dan menghampiri mereka. Duduk di samping Tuan Felix dan menggandeng bahunya.


"Aku yakin Papa bisa menghadapi semua ini," ucap Rian.


"Tolong carikan tiket untuk Papa. Besok Papa harus pulang. Masalah ini harus segera diselesaikan," ucap Tuan Felix.


"Papa serius?" tanya Rian terkejut.


Rian menatap Riri yang justru nampak tenang. Rupanya Rian tidak tahu jika semua itu adalah ide Riri. Saran itu diambil Tuan Felix karena ia sudah yakin dengan keputusannya. Walaupun awalnya ia ragu karena masih ingin menikmati liburannya. Namun Riri meyakinkannya untuk pulang dan menyelesaikan masalah itu. Setelah itu baru mereka bisa kumpul lagi dengan keadaan tenang.


Benar kata Riri, percuma kumpul tapi hati dan pikiran Tuan Felix masih gelisah dengan masalah yang tengah di hadapinya. Lagi pula masalah itu akan semakin besar jika dibiarkan. Dan Tuan Felix akan rugi semakin besar.


"Ya sudah. Papa mau aku temani ke Jerman?" tanya Rian.


"Tidak usah. Papa bisa sendiri," jawab Tuan Felix.


"Papa pasti butuh aku. Aku harus memastikan Papa jika Papa baik-baik saja," ucap Rian.


"Papa bisa sendiri, Ri. Kamu harus fokus di kantor. Ingat, hari ini proyek baru sudah kamu tandatangani dan nilainya tidak kecil. Jangan sampai mengecewakan," ucap Tuan Felix mengingatkan.


Rian menatap Riri dan menggelengkan kepalanya. Seolah ia memberi kode bahwa Tuan Felix tidak bisa pergi sendiri. Harus ada yang menemaninya. Rian khawatir jika Tuan Felix tidak bisa mengontrol emosi dan berimbas pada kesehatannya.


"Mas di sini saja. Biar aku yang akan pergi dengan Papa. Sekalian aku mau mengecek perusahaan di sana," ucap Riri.


Ucapan Riri bersambut mata Rian yang membulat sempurna dengan mulut yang menganga. Bagaimana mungkin Riri meninggalkannya ke Jerman sementara dirinya saja belum mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Hanya sebentar. Nanti aku pulang secepatnya," ucap Riri.


"Jangan! Kalian itu pengantin baru. Nikmatilah hari-hari bahagia kalian. Papa baik-baik saja dan alan menyelesaikan masalah itu secepatnya. Papa janji," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


Rian diam. Ia belum berkomentar. Ia masih memikirkan keputusan yang harus diambilnya. Pasalnya keberangkatan Riri dengan Tuan Felix ke Jerman akan membuat Nyonya Helen marah. Kehadiran Riri bagaikan obat baginya. Maka saat Riri tidak ada, Rian khawatir jika kesehatan Nyonya Helen akan memburuk.


Jika sampai semua itu terjadi, masalah tidak akan selesai sampai di sana. Tuan Wira dan yang lainnya akan menyalahkan Riri dan semua akan menjadi rumit dan panjang. Ah, Rian tidak bisa membayangkan bagaimana jika semua itu terjadi. Pasti akan membuatnya sangat pusing.


"Sudahlah. Papa bisa pulang sendiri," ucap Tuan Felix.


Rian masih diam. Ia tahu Tuan Felix memang bisa menyelesaikannya sendiri. Yang dikahawatirkan hanyalah kesehatannya. Ia takut pikiran yang terlalu berat akan membuat kesehatannya akan terganggu. Kini Tuan Felix sudah semakin tua dan tidak sesehat dulu.


"Ah, Pak Manto. Papa bisa ke Jerman dengan Pak Manto," ucap Rian yang tiba-tiba mendapat ide begitu saja.


"Tidak, tidak. Dia harus stay di kantormu. Banyak sekali pekerjaan di sana," ucap Tuan Felix.


Sebenarnya ia senang saat Rian mengingatkannya tentang Manto. Dan memang benar jika Manto adalah orang yang sangat tepat untuk menemaninya. Tapi ia tidak mau mengorbankan perusahaan Rian yang akan keteteran dengan kepergian Manto beberapa hari ke depan.


"Papa lupa kalau aku punya Kak Reza? Aku rasa Kak Danu dan Kak Reza akan bisa menghandle pekerjaan di kantor. Aku juga yakin kalau Papa tahu bagaimana kemampuan mereka," ucap Rian.


"Papa mau mendengar saran Mas Rian kan? Percayalah, semua karena kami sayang sama Papa. Bukannya kami tidak percaya sama Papa. Tapi kami juga yakin kalau Papa akan jauh lebih baik kalau ada Pak Manto," ucap Riri dengan sangat lembut dan penuh ketulusan.


Akhirnya Tuan Felix mengangguk. Sebelum memesan tiket, Rian menelepon Manto terlebih dahulu. Bagaimanapun ia juga harus yakin atas kesiapan Manto. Karena permintaannya ini terlalu mendadak. Sempat ragu jika Manto akan mengiyakan permintaannya. Namun keraguan itu ditepis seketika.


Senangnya Rian saat mendengar ucapan Manto. Manto benar-benar menghargai Rian sebagai atasan. Padahal selama ini Rian selalu menganggap Manto adalah teman dan keluarga barunya. Namun sedikitpun sikap Rian mengubah sikap Manto.


Kedekatan Rian dengan Manto sama sekali tidak membuat Manto bersikap seenaknya. Manto tetap menghargainya. Dan hal itu yang membuat yakin jika Manto akan menjaga dan melindungi Tuan Felix selama di Jerman.


"Saya tidak bisa memastikan berapa hari. Tapi sepertinya tidak lebih dari satu minggu. Bagaimana? Apa istri Bapak akan mengizinkan?" tanya Rian.


"Bukan masalah istri saya Tuan. Istri saya sama sekali tidak akan mempermasalahkan tugas saya. Hanya saja saya harus mempersiapkan pakaian yang harus saya bawa," jawab Manto.


"Masalah pakaian tidak usah Bapak pikirkan. Itu semua akan disiapkan di sana," ucap Rian.


Setelah fix Manto yang akan menemani Tuan Felix ke Jerman, Rian segera memesan tiket untuk dua orang. Tenang dan senang rasanya. Bukan hanya karena ada Manto yang menemani Tuan Felix, tapi karena Riri tidak jadi berangkat ke Jerman.


"Ayo kita makan!" ajak Rian.

__ADS_1


Rian sudah terlihat ceria. Harapannya untuk mendapatkan jatah sebagai seorang suami akan segera ia dapatkan. Tinggal menunggu Riri mengusir tamu bulanannya saja. Ya meskipun ia tidak tahu kapan waktunya. Tapi paling tidak, cicilan bisa dilakukan setiap malam.


"Pus, makan yang banyak! Kamu terlalu kurus," ucap Nyonya Helen saat mereka sudah siap untuk makan.


"Aku makannya banyak kok," jawab Riri.


"Iya Ma. Memang bawaannya kurus. Dia memang sering makan," ucap Rian memperjelas jawaban Riri.


"Iya tapi kalau nanti kamu hamil, berat badanmu harus naik banyak. Ngeri lihat kamu hamil kalau kurus begini," ucap Nyonya Helen.


Lagi-lagi bahasan tentang hamil membuat Rian semakin membayangkan proses pembuahannya, yang sampai saat ini belum pernah ia rasakan. Ah, sudahlah. Tidak perlu banyak mengeluh. Nanti juga akan ada waktunya.


"Iya Ma, nanti aku konsul ke dokter biar badannya bisa sedikit gemukan. Mama jangan khawatir. Pokoknya Mama tenang aja. Nanti hamilnya lancar kok," ucap Rian sambil mengusap perut Riri.


Riri menatap tangan Rian di perutnya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat tingkah suaminya. Andai saja tidak akan membuat tanda tanya untuk semua orang yang ada di sana, ingin sekali Riri memegang dahi Rian. mengecek suhu tubuhnya. Khawatir jika tiba-tiba suhunya naik begitu tinggi.


"Wah, Mama senang deh kalau membayangkan kalian punya anak. Pasti rumah ini seru ya kan Pah?" ucap Nyonya Helen yang meminta dukungan suaminya.


"Iya," jawab Tuan Wira singkat.


Bukan tidak peduli, tapi Tuan Wira khawatir jika seandainya harapan istrinya terlalu tinggi. Di satu sisi, Tuan Wira merasa wajar jika seorang istri meminta suaminya untuk mandiri. Sudah sewajarnya. Namun di sisi lain ia juga tidak tega melihat keadaan istrinya yang harus merasa kesepian lagi. Menahan kecewa karena Riri mengajak Rian untuk pindah rumah.


Tuan Wira tidak mau jika kejadian seperti Mia terulang kembali. Apalagi sekarang keadaan Nyonya Helen tidak sesehat dulu. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa agar semuanya tetap baik-baik saja.


"Nanti aku mau punya anak banyak boleh?" ucap Riri.


Ucapan yang mampu membuat mata Nyonya Helen berbinar. Namun dari obrolan Riri, Tuan Wira menangkap jika Riri akan memilih tinggal di rumah itu untuk menemani Nyonya Helen. Entah akan sampai kapan, namun ia berharap Riri mampu bertahan agar tetap tinggal di rumah itu.


"Boleh sayang. Bikin yang banyak ya!" ucap Nyonya Helen.


Bikin yang banyak? Rian sampai tersedak saat mendengar ucapan Nyonya Helen. Riri segera memberikan segelas air mineral agar Rian berhenti batuk.


"Pelan-pelan dong Mas. Ini bukan acara pramuka yang makannya diwaktu. Santai," omel Riri sambil menepuk-nepuk punggung Rian.

__ADS_1


Yang Riri lalukan bukan seperti seorang istri pada suami. Lebih ke seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Tuan Felix dan Tuan Wira hanya tertawa melihat sikap mereka berdua. Apalagi Rian yang pasrah dan hanya menganggukkan kepalanya lalu maelanjutkan kembali makannya.


Keduanya juga bukan hanya menertawakan sikap Riri pada Rian atau sebaliknya. Tapi mereka menyadari jika Rian tersedak karena ucapan Nyonya Helen. Sedangkan Riri justru terlihat polos dan tidak peka sama sekali.


__ADS_2