Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Pokoknya beda


__ADS_3

Lembur di kantor yang dilanjutkan dengan lembur urusan hasrat membuat Mia dan Dion tidur dengan pulas. Ia bahkan tidak tahu kalau Rian yang terbangun jam tiga pagi sempat menggerutu di depan kamar mereka.


Akibat Rian yang ketiduran, akhirnya ia dibuat membuang kesempatan untuk bisa bercerita dengan Mia. Padahal ia tahu kalau Mia akan berangkat lebih pagi karena sedang sibuk.


"Kak Mia sama Kak Dion pasti sudah tidur nyenyak. Ah, padahal aku sudah berusaha membuka mata biar tidak ngantuk. Aduh, mata kok susah banget di ajak kompromi sih," gerutu Rian.


Setelah merasa semuanya tidak mungkin lagi, Rian kembali ke kamar. Ia masih harus menyimpan apa yang ingin ia ceritakan. Waktu yang tidak tepat membuatnya gelisah.


"Padahal cuma minum teh, bukan kopi hitam. Kok bisa insom begini ya?" gumam Rian.


Rian sudah membaringjmkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya ia gunakan sebagai bantalan kepalanya. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali terngiang dengan ucapan Riri yang akan datang ke Indonesia.


Berbagai pertanyaan tersusun rapi di kepalanya. Salah satunya adalah alasan kepulangan Riri yang menurutnya terkesan mendadak. Belum lagi ia bingung dengan sikap yang seharusnya ia ambil. Apakah harus gerak cepat? Atau justru membiarkan Riri menyelesaikan dulu semuanya?


Rian berusaha melupakan apa yang membuatnya gelisah. Berbagai posisi tidur Rian lakukan hanya dalam hitungan menit. Sampai akhirnya Rian terbangun dan berdiri di depan cermin.


Ia berbicara di depan cermin. Mengutarakan apa yang seharusnya ia bahas dengan Mia. Meskipun tidak ada jawaban tapi paling tidak ia bisa meluapkan isi hatinya. Akhirnya ia bisa tidur setelah jam empat pagi.


"Ya ampun kenapa waktu cepat sekali sih," ucap Rian serak saat alarm di ponselnya membangunkannya.


Rian tahu betul jika alarm itu menunjukkan jam lima pagi. Artinya Rian baru tidur satu jam setelah sempat terbangun jam tiga. Ia merasa kepalanya cukup berat. Matanya perlahan di buka namun silau lampu membuatnya kembali memejamkan matanya.


"Om Rian," teriak Naura.


Saat Rian membuka matanya, ia melihat Naura sudah mengenakan seragam sekolahnya.


"Mau kemana Naura?" tanya Rian.


"Ya ke sekolah dong. Masa om tidak lihat seragam Naura," jawab Naura.


"Memangnya ini sudah jam berapa?" tanya Rian sambil mengucek matanya.


"Jam setengah tujuh Om. Om libur ya? Nanti jemput Naura pulang sekolah ya!" jawab Naura.


"Setengah tujuh?" tanya Rian terkejut.


Rian dengan cepat menyibakkan selimut putih yang menutupi tubuhnya. Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Pagi ini ia harus berangkat lebih pagi karena Manto sedang mengurus istrinya yang sedang sakit.


"Om, Naura jemput ya nanti!" Naura kembali berteriak sambil mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Rian mengiyakan saja apa yang diucapkan Naura. Padahal ia sendiri tidak tahu apa yang disampaikan keponakannya itu. Saat ini fokusnya hanyalah jangan telat berangkat ke kantor.


"Aduh, jam kok cepat sekali bergeraknya sih?" gumam Rian sambil mengenakan baju kerjanya.


Sebuah sisir ia ambil dan segera merapikan rambutnya. Hanya dalam hitungan detik ia sudah menyambar tas laptop dan keluar dari kamar mandi.


"Mas Rian tunggu," panggil salah satu asisten rumah tangga di rumah Mia.


"Apa? Aku kesiangan harus cepat-cepat berangkat," ucap Rian.


"Ini ada titipan," jawab asisten rumah tangga.


"Buat aku?" tanya Rian meyakinkan.


"Iya. Itu khusus dibuatkan Nyonya Mia. Katanya untuk sarapan Mas Rian," jawab asisten rumah tangga.


Rian melihat kotak bekal yang d berikan wanita itu untuknya. Apa yang ada dalam genggaman tangannya adalah sarapan spesial yang dibuat khusus oleh Mia untuknya.


Kesempatan untuk membahas apa yang mengganjal di hatinya memang tidak terwujud. Tapi akhirnya Rian dibuat baper dengan kebaikan dan perhatian Mia. Karena Mia tahu Rian akan kesiangan, Mia membuatkan sarapan untuk Rian.


"Kak Mia memang sangat baik," gumam Rian.


Pandangannya teralihkan. Ia melihat kotak bekal yang ada dalam pangkuannya. Ia tersenyum saat kembali teringat betapa beruntungnya bisa hidup di tengah keluarga Mia.


Tiiid.. Tiid....


Suara klakson dari mobil di belakangnya menyadarkannya. Ia segera melajukan mobilnya agar menjeda sarapannya. Pikirannya menjadi kacau saat perjalanan menuju kantor masih setengahnya tapi jam kerja sudah dimulai.


Rian berusaha menenangkan dirinya. Apapun yang terjadi ia memang sudah terlambat dan itu semua salahnya. Rian hanya mengatur moodnya agar bisa kerja dengan baik setelah apa yang ia lewati pagi ini.


"Aduh, mampus kesiangan nih." Rian setengah berlari saat tiba di kantor.


"Pagi Pak," sapa Manto.


"Loh, kok di sini?" tanya Rian sambil menunjuk Manto yang sedang menyambut kedatangannya.


"Loh, memangnya kenapa? Ini masih meja kerja saya kan?" tanya Manto.


"Ah iya. Tentu itu masih tetap meja Bapak. Tapi kok sudah masuk kantor? Istrinya sama siapa?" ucap Rian.

__ADS_1


"Istri saya sudah pulang dari rumah sakit. Kebetulan ada mertua yang jaga," ucap Manto.


"Oh ya syukurlah. Maaf kemarin saya tidak sempat ke rumah sakit lagi," ucap Rian.


"Justru kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar atas perhatian Bapak untuk saya dan istri," ucap Manto.


Rian mengingatkan Manto agar berhenti membahas tentang rasa terima kasihnya. Karena menurutnya, hal yang ia lakukan adalah sebuah kewajaran. Wajar baginya tapi tidak nagi Manto. Menurut Manto tidak mungkin ada atasan lain seperti Rian.


"Maaf saya terlambat ya Pak," ucap Rian.


"Tidak masalah Pak. Saya juga sudah mengirimkan laporan itu. Jadi Bapak tidak perlu khawatir," ucap Manto.


"Ah, syukurlah. Terima kasih banyak Pak," ucap Manto.


Lagi-lagi Manto dibuat kagum dengan Rian yang tidak malu saat mengucapkan maaf dan terima kasih. Hal yang sudah sangat jarang dilakukan oleh atasan pada bawahannya.


Setelah semua laporan yang membuatnya sempat gelisah bisa diatasi, ia melanjutkan sarapan yang belum sempat ia selesaikan. Belun juga Rian mulai bekerja, Rian sudah mendapat telepon dari Mia.


"Mpus," ucap Rian saat mendengar ponselnya berdering.


Saat Rian melihat siapa nama si pemanggil itu, Rian dibuat mengerutkan dahinya.


"Kak Mia?" ucap Rian penuh tanya.


Setelah Rian menjawab panggilan Mia, terjawab sudah semua pertanyaan dalam hatinya. Mia memang sempat bertanya tentang apa yang akan diceritakan tadi malam, namun Rian menoba mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya. Sementara ada Manto di sana.


Akhirnya Mia menjelaskan alasan ia menelepon Rian pada jam kerja. Mia memang meminta Rian untuk membantunya mempersiapkan acara pesta ulang tahun mereka.


"Bukannya kemarin sudah dirayakan?" tanya Rian.


"Beda dong Ri," ucap Mia.


"Memangnya pesta ulang tahunnya mau dibuat seperti apa, Kak?" tanya Rian dalam sambungan teleponnya.


"Sederhana saja, Ri. Tapi aku mau undangannya khusus keluarga saja," jawab Mia.


"Loh, bukannya kemarin juga sama?" Rian balik bertanya.


"Beda, pokoknya beda." ucap Mia.

__ADS_1


__ADS_2