
Rian pamit setelah bicara dengan Hiro. Sebentar tapi setidaknya bisa membuat Hiro tersenyum. Apalagi saat membahas tentang Shelin. Rian semakin yakin jika Hiro memang menyimpan rasa untuk Shelin.
Aku harus membantu Hiro untuk bisa bersama dengan Shelin.
Rian merasa berhutang pada Hiro. Maka ia sudah berniat untuk membalas apa yang Hiro lakukan padanya. Seperti Hiro yang menginginkan Rian dan Riri bahagia, maka ia juga ingin melihat Hiro bahagia dengan Shelin.
Hanya saja semua itu tidak semudah yang Rian inginkan. Karena Rian sulit masuk ke kehidupan Shelin. Ia harus menjaga perasaan Riri. Lagi pula Shelin belum tentu menerima kehadirannya lagi. Ia tidak mau kalau kehadirannya membuat luka Shelin terbuka kembali.
"Ri," panggil Nyonya Helen.
"Ma," ucap Rian sambil mencium tangan Nyonya Helen.
"Kamu kenapa? Ada masalah apa? Cerita sama Mama," ucap Nyonya Helen yang terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja kok Ma," ucap Rian.
"Yakin?" tanya Nyonya Helen dengan tatapan menyelidik.
"Yakin," jawab Rian.
"Oke, istirahat ya! Jangan telat makan," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma. Terima kasih ya!" ucap Rian.
Rian segera masuk ke kamar dan mandi. Tanpa ia sadari kalau Nyonya Helen memang sudah tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja. Rian. lupa kalau Nyonya Helen bagaikan peramal baginya. Seolah ia tahu kapan Rian jujur dan berbohong.
Nyonya Helen memang sengaja membiarkan Rian pergi walaupun ia tahu ada kebohongan yang disembunyikan Rian padanya. Ia meluhat raut wajah Rian yang lelah. Membiarkannya tenang adalah pilihan terbaik. Jika Rian butuh teman, Rian pasti akan bercerita padanya.
"Ma," panggil Rian.
"Sudah makan?" tanya Nyonya Helen.
Rian pulang lebih malam dari biasanya. Tuan Wira sedang ada pekerjaan ke luar kota. Sedangkan Nyonya Helen sudah makan malam sebelum Rian pulang. Jadi ia harus memastikan jika Rian juga sudah makan malam ini.
"Sudah," jawab Rian.
"Baguslah. Kenapa tidak tidur?" tanya Nyonya Helen.
"Mama sendiri kenapa belum tidur?" Rian balik bertanya.
"Mama sedang menonton film kesukaan Mama. Apa kamu juga mau ikutan?" tanya Nyonya Helen sambil tertawa.
"Rian tidak suka," jawab Rian sambil menggeleng.
"Terus kamu kenapa tidak tidur saja?" tanya Nyonya Helen.
"Mama juga kenapa tidak nonton di kamar?" Rian balik bertanya.
"Tv di kamar rusak," jawab Nyonya Helen.
Nyonya Helen tidak bertanya apapun pada Rian. Ia yakin Rian akan bercerita padanya tanpa harus ditanya lagi. Kebiasaan Rian yang membalik-balikkan pertanyaannya membuat ia yakin Rian sedang butuh teman.
"Mama masih nonton ya?" tanya Rian.
Nyonya Helen mematikan televisinya, lalu ia menatap wajah Rian yang terlihat murung. Terlihat jelas kalau Rian sudah ingin menceritakan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Mau cerita apa? Ayo cerita. Jangan memendam semuanya sendirian. Beban kamu terlalu banyak. Mama tidak mau kamu beruban sebelum waktunya," ucap Nyonya Helen.
Rian tertawa mendengar ucapan Nyonya Helen. Ya, akhir-akhir ini ia memang sedang banyak pikiran. Beban di kantor yang semakin menumpuk membuat Rian lelah. Padahal Manto dan Danu membantunya dengan maksimal.
Saat ini Rian memang sedang butuh teman untuk bercerita. Ia lelah jika harus memendam semuanya sendirian. Kalau saja bukan tentang Shelin, ia pasti akan memilih Riri untuk teman ceritanya.
"Aku mau Shelin bersama dengan Hiro," ucap Rian.
"Shelin?" tanya Nyonya Helen.
"Iya," jawab Rian.
"Kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Nyonya Helen.
"Tidak begitu Ma. Aku hanya sering berkomunikasi dengan Hiro. Aku kasihan melihat Hiro yang cintany bertepuk sebelah tangan," ucap Rian.
Untuk meyakinkan Nyonya Helen, Rian juga menceritakan jika yang ia lakukan karena ingin membalas budi atas kebaikan Hiro padanya. Kalau saja bukan karena Hiro, tidak mungkin ia akan merasakan kembali kebahagiaan dengan Riri.
"Menurut Mama sih jangan dulu. Mama takut nanti semuanya malah jadi tidak baik. Berita kamu dengan Shelin baru saja meredup. Mama tidak mau kamu dan Shelin jadi bahan gosip lagi," ucap Nyonya Helen.
"Jadi Mama tidak mendukungku?" tanya Rian.
"Mungkin kasarnya seperti itu. Tapi Mama mengatakan ini karena Mama tidak mau ada apa-apa dengan kamu. Belum lagi Mama takut kalau Riri salah paham. Mama tidak siap dengan kenyataan itu," ucap Nyonya Helen.
Rian menelan salivanya saat mendengar ucapan Nyonya Helen. Ia bingung harus berbuat seperti apa. Benarkah ia tidak bisa melakukan apapun? Padahal ia benar-benar ingin membantu Hiro agar bisa bahagia dengan Shelin.
"Tapi aku tidak tega Ma kalau melihat Hiro kecewa. Aku takut kalau Shelin memilih pria lain untuk mendampinginya," ucap Rian.
"Berarti tugasmu adalah meyakinkan Hiro untuk maju dan berani mengungkapkan perasaannya pada Shelin," ucap Nyonya Helen.
Setelah Rian bercerita pada Nyonya Helen, ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sebelum tidur, Rian mengirim pesan pada Riri. Ia menceritakan tentang kegelisahannya.
Ternyata Riri menghubunginya. Dengan senang Rian segera menjawab panggilan itu. Ia memang sangat butuh teman saat ini. Ia menyudahi obrolannya dengan Nyonya Helen karena Nyonya Helen terlihat mebguap beberapa kali.
Berbeda dengan saat Rian bercerita pada Nyonya Helen, ia bercerita dengan sangat hati-hati. Ia tidak mau jika Riri salah paham padanya.
"Tadi aku ke rumah Hiro. Katanya salam untukmu," ucap Rian.
"Salam kembali. Kasihan Hiro. Dia pasti terpukul dengan kepergian Mba Maudi," ucap Riri.
"Iya Pus. Tadi aku lihat dia benar-benar terpukul dan sangat sedih," ucap Rian.
"Apa banyak orang yang melayat?" tanya Riri.
"Banyak," jawab Rian.
"Syukurlah. Paling tidak Hiro tidak akan terlalu merasa kesepian," ucap Riri.
"Iya Pus," jawab Rian.
"Oh ya Mas, apa Shelin sudah punya pacar?" tanya Riri.
"Mana aku tahu," jawab Rian.
"Besok kamu cari tahu ya!" ucap Riri.
__ADS_1
Rian merasa jantungnya berdebar lebih ceoat dibanding biasanya. Ia bingung dengan bahasan Riri yang tiba-tiba bertanya banyak hal tentang Shelin. Ia merasa Riri punya indera keenam karena tahu apa yang ada di kepalanya tanpa bercerita apapun pada Riri.
"Kamu pikir aku pengangguran harus cari tahu urusan orang. Urusanku juga sudah cukup banyak Pus," tolak Rian.
"Mas tidak perlu gerak sendiri. Mas kan bisa minta orang buat cari tahu tentang Shelin," ucap Riri.
"Maksudmu aku harus cari detektif untuk mencari tahu hal yang tidak penting begitu?" ucap Rian.
Jujur saja, saat ini Rian tengah khawatir dengan permintaan Riri yang menurutnya sedang menjebaknya. Sayangnya Rian tidak menyadari jika Riri memang benar-benar bermaksud mencari tahu pacar Shelin. Semua tidak ada hubungannya dengan jebakan apapun.
Riri memiliki pikiran yang sama dengan Rian. Ia juga ingin menjodohkan Shelin dengan Hiro. Selain ia merasa jika Hiro menyimpan perasaan untuk Shelin, ia juga bisa jauh lebih tenang saat Shelin sudah memiliki pria yang akan menikahinya.
Mungkin tidak penting untukmu. Tapi setidaknya itu mengurangi rasa kahwatirku karena cemburu padamu, Mas. Kenapa sih kamu tidak peka?
Setelah melewati obrolan yang lumayan panjang, akhirnya Rian mengiyakan apa yang diinginkan Riri. Karena sebenarnya keinginan mereka sama. Hanya saja Rian tidak berani mengutarakan semua itu karena takut masalahnya jadi melebar.
Semalam Rian tidur terlalu larut hingga ia bangun lebih siang. Bahkan Nyonya Helen sampai mengetuk pintu kamarnya karena Rian belum ke ruang makan saat jam sarapan nyaris habis.
"Ri, apa kamu belum bangun?" tanya Nyonya Helen sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Nyonya Helen kembali mengetuk pintu sambil memanggil Rian berkali-kali. Karena masih tidak ada sahutan maka Nyonya Helen memanggil Rian dan mengetuknya lebih keras.
Nyonya Helen juga berusaha untuk membuka pintu kamar Rian yang tertutup rapat. Namun sayangnya kamar Rian dikunci hingga ia tidak bisa masuk dan memastikan keadaan Rian.
"Ah, apa aku coba telepon dia saja ya? Siapa tahu ponselnya di simpan di dekat telinga," gumam Nyonya Helen.
Saat menyadari bahwa ponselnya ketinggalan, Nyonya Helen segera kembali ke kamarnya dan mencari ponselnya. Beberapa kali panggilannya diabaikan oleh Rian. Ia sampai menelepon Rian tepat di depan pintu kamar Rian yang masih tertutup rapat.
"Astaga Rian, kamu tidur atau pingsan? Bisa-bisanya kamu mengabaikan panggilan telepon dengan dering yang full begini," gerutu Nyonya Helen tanpa berhenti menghubungi Rian melalui ponselnya.
Panggilannya dijawab setelah berusaha lima kali menghubungi Rian. Padahal dering ponsel Rian terdengar nyaring keluar kamar. Sayangnya Rian masih memgabaikan panggilannya. Saat tahu telepon itu sudah terhubung, Nyonya Helen mendengar suara Rian serak. Suara khas bangun tidur yang sangat tidak asing di telinga Nyonya Helen.
"Kamu masih tidur? Rian, jam berapa ini?" omel Nyonya Helen melalui panggilan teleponnya.
"Iya Ma. Aku mandi dulu," ucap Rian.
Panggilan telepon itu masih terhubung, namun Nyonya Helen tidak bisa mendengar suara apapun. Sekilas ia mendengar kucuran air dari dalam kamar Rian.
"Astaga Rian, kamu ini kenapa sih?" gerutu Nyonya Helen.
Selang lima belas menit, Nyonya Helen melihat Rian sudah keluar dari kamarnya. Rian sudah rapi dengan setelan ke kantor. Tidak lupa tas laptop yang ia jinjing membuat tatapan Nyonya Helen begitu penuh tanya.
"Mau kemana?" tanya Nyonya Helen.
"Aku mau ke kantor dong Ma. Mana mungkin segelan begini mau ke mall," jawab Rian.
Nyonya Helen segera meminta Rian untuk segera ke kantor. Ini sudah terlalu siang.
"Ya ampun Ma jahat sekali. Masa aku tidak boleh sarapan?" ucap Rian sambil memegang perutnya.
"Mama sudah siapkan ini. Kamu bisa sarapan di kantor nanti," ucap Nyonya Helen sambil memberikan kotak bekal berisi sarapan untuk Rian.
"Mama memang best. Terima kasih Ma. Aku berangkat sekarang ya!" ucap Rian sambil mencium punggung tangan Nyonya Helen.
Lambaian tangan dan senyum Nyonya Helen serta bekal sarapan yang ada di tangannya, membuat Rian semangat menjalani harinya meskipun ia bangun kesiangan hari ini. Tapi ia tidak khawatir karena Manto dan Danu sudah menghandle semuanya.
__ADS_1