Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kue kecil


__ADS_3

"Pus, kamu target menikah kapan?" tanya Dion memecah keheningan.


"Hah?" tanya Riri spontan.


"A, apaan sih. Mpus itu baru mahasiswa tingkat satu. Satu semester saja belum kelar, Aa udah bahas nikah." Mia menyikut Dion. "Maaf ya Pus. Kak Dion memang begitu," lanjut Mia.


"Tidak apa-apa Kak," jawab Riri dengan senyum canggung.


Rian merasa tidak enak saat melihat Riri npak kurang nyaman dengan pertanyaan Dion. Riri memang bukan orang yang mudah terbawa perasaan. Namun Rian tahu jika Riri punya luka mendalam tentang pernikahan. Mungkin saat ini trauma ini kembali menghantui Riri.


Jari telunjuknya yang menggulung ujung baju membuat Rian yakin jika Riri memang sedang tidak baik-baik saja. Pertama kalinya Rian berani menggenggam tangan Riri saat Mia dan Dion ada di dekatnya. Mata Rian mengedip mengisyaratkan jika Riri tidak perlu mencemaskan apapun.


Riri tersenyum. Rian pun melepaskan genggaman tangannya. Mia melihat kejadian itu namun ia tidak berkomentar apapun.


"Ri, Papa tidak tahu kan kalau aku mau ke sini hari ini?" tanya Mia yang mencoba mengalihkan pembahasan.


"Aman Kak. Aku tidak bicara apapun. Padahal tadi pagi Papa bertanya tentang Kakak," jawab Rian.


"Bertanya tentangku?" tanya Mia.


"Katanya kenapa Kakakmu sudah beberapa hari ini tidak menghubungi Papa," jawab Rian.


"Apa Papa curiga?" tanya Mia.


"Sepertinya tidak. Soalnya ini bukan hari ulang tahun Papa," jawab Rian.


"Ah, semoga. Aku tidak mau kejutan ini gagal," ucap Mia penuh harap.


"Aku yakin kejutan ini akan berhasil. Ya, walaupun sedikit mengecewakan." Rian tertawa.


"Iya. Padahal kita tahu kalau Papa lebih merindukan Narendra dan Naura dibanding dia ya, Ri?" goda Dion.


"Iya Kak," jawab Rian sambil tertawa.


"Kalian benar-benar ya!" ucap Mia.


Riri tersenyum, senang melihat Rian dan Mia yang begitu akrab. Padahal tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi dia dan kakaknya? Mereka bahkan tidak saling berkomunikasi sudah sejak lama.


"Pus, Papa kira-kira seneng tidak kalau bertemu aku?" tanya Mia membuyarkan lamunan Riri.


"Emmm, kalau menurutku Papa pasti senang. Ya walaupun memang benar apa kata Kak Dion. Hehe," ucap Riri.


"Tuh kaaaaaan," ucap Rian dan Dion bersamaan.


"Ih, kalian ini memang benar-benar kompak. Awas ya!" ucap Mia.


"Tapi kalau kata orang memang begitu Kak. Setelah ada cucu, kasih sayang orang tua akan lebih besar kepada cucunya dibanding anaknya. Itu juga baru katanya sih," ucap Riri.

__ADS_1


"Itu sih bukan katanya lagi, Pus. Memang kenyataannya begitu," ucap Dion.


"Cieeee, yang curhat cieee." Mia menunjuk Dion.


"Loh kok jadi aku?" tanya Dion.


"Iya kan memang begitu. Aa curhat kan karena kemarin dimarahi Mama helen gara-gara Narendra jatuh waktu main sama Aa?" ucap Mia mengingatkan.


Dion hanya cemberut saat Mia mengingatkan kemarahan Nyonya Helen padanya. Dion yang semangat mengajak Narendra bermain sepeda, ternyata harus pulang membawa Narendra menangis dengn luka din lututnya. Darahnya dan lukanya memang tidak seberapa. Tapi kepanikan Nyonya Helen sangat luar biasa.


"Kamu ini kalau ngajak main cucuku yang benar dong Dion. Awas ya kalau sampai Mama lihat kejadian seperti ini lagi, Mama tidak akan memberikan izin kamu mengajak Narendra bersepeda lagi," ucap Mia memperagakan kemarahan Nyonya Helen.


Rian dan Riri tertawa. Dion hanya semakin cemberut dan kesal.


"Padahal kan Narendra anak aku ya. Darah dagingku, kok Mama yang begitu marah. Masa aku sampai tidak diberi izin lagi buat sepedahan sama Narendra?" ucap Dion.


"Berarti ucapan Mpus benar. Kalau sudah ada cucu, kasih sayangnya lebih besar ke cucu." Rian mempertegas topik pembicaraan mereka.


"Kalau begitu, nanti siap-siap aja bagian Kak Mia yang kena omelan Papa Felix." Riri berhasil membuat Mia terbelalak.


"Eh, Mpus kita sama-sama perempuan loh. kamu tidak ada niat buat bela aku gitu?" tanya Mia.


"Maaf Kak sekarang aku kubu Kak Dion dulu ya!" jawab Riri.


"Baguuuus," ucap Dion memberi jempol tangannya.


"Nanti aku balas ya kalian semua," ucap Mia.


Mia senang saat melihat Riri sudah ikut dalam ritual mereka. Cemberutnya Mia tidak sampai marah, ia hanya kesal saja saat mereka semua berkubu menyerangnya.


"Pus, kamu jangan senang dulu ya. Nanti semakin lama kamu pasti yang akan jadi korban," ucap Mia.


"Tenang Kak. Aku sudah tahan banting. Masalah begini saja sih kecil," ucap Riri percaya diri.


"Widiiiih, keren." Mia bertepuk tangan.


Dion sendiri mengamati dalam diam. Ia melihat apa yang ada pada Riri nyaris mirip dengan Mia saat pertama kali mereka bertemu. Berani dan humble. Dion mengalihkan pikirannya saat Riri meminta untuk berhenti di depan sebuah toko kue.


"Tidak perlu, aku sudah memesan kuenya." Rian menahan Riri.


"Mas, hanya kue kecil saja. Sesuai uang yang aku punya. Aku tidak merasa terbebani sama sekali," ucap Riri.


"Biarkan saja. Itu kan tanda sayang dari Mpus untuk Papa. Kamu jangan cemburu dong Ri," ucap Dion.


"Ih, mana ada aku cemburu. Aku kan bukan Kakak yang cemburuan," ucap Rian.


Dion sudah tersenyum senang, kini harus menelan kenyataan pahit saat Mia justru ikut mengejeknya.

__ADS_1


"A Dion pasti cemburu lah sama aku. Aku kan cantik," ucap Mia sambil tertawa terbahak.


Riri ikut tertawa lalu turun untuk membeli sebuah kue. Seperti ucapannya. Kue yang ia beli kecil. Mungkin itu adalah kue terkecil yang dijual di toko itu. Namun itulah kemampuan Riri. Ia tidak punya uang. Karena bayarannya untuk pekerjaannya adalah kuliah.


Hanya sedikit uang jajan yang ia pegang. Itu pun sebagian ia gunakan untuk membeli beberapa buku yang ia butuhkan di kelasnya. Mr. Aric bisa saja memberi Riri berapapun nominal uang jika berurusan dengan kuliah. Namun Riri berusaha mandiri. Ia malu jika terus-terusan merepotkan Mr. Aric. Riri juga sadar jika upah dari pekerjaannya saja tidak sebanding dengan biaya kuliah yang dibayarkan Mr. Aric untuknya.


"Maaf ya kuenya kecil," ucap Riri saat masuk kedalam mobil.


"Ih, lucu sekali. Papa pasti suka," ucap Mia.


"Benarkah?" tanya Riri.


"Ya, tentu. Aku yakin," jawab Mia.


Rian mengagumi Mia. Wanita yang selalu bisa menempatkan diri. Selalu menjadi teman meskipun baru bertemu. Wanita yang tidak pernah memandang siapapun dari tingkat ekonomi seseorang. Wajah malu Riri pun kini berubah menjadi senyum bahagia dengan pujian Mia. Padahal yang ia tahu, kue itu tidak terlalu bagus.


Mobil kembali melaju sampai akhirnya tiba di depan kantor. Mereka semua melangkah menuju ruangan Tuan Felix. Riri masih ragu dengan kue kecil yang ada di tangannya.


"Mas, Papa tidak tersinggung kan kalau aku kasih kue ini?" bisik Rian.


"Tidak. Kamu seperti tidak kenal Papa saja. Mama mungkin Papa mempermasalahkan ukuran kue," ucap Rian.


"Aku takut," ucap Riri.


"Tenang saja," ucap Rian.


"Ri, kue kamu belum datang ya? Gimana sih? Katanya semua sudah siap?" tanya Mia.


Rian melihat kode dari Mia langsung mengerti.


"Tapi aku sudah menyiapkan semuanya. Ya kalau datangnya telat bukan salah aku," ucap Rian.


"Sudah jangan ribut di sini. Itu kan ada kue dari Mpus. Satu juga sudah cukup," ucap Dion.


"Hah? Ta-tapi ini kan kecil," ucap Riri gugup.


Riri sangat terkejut ketika Dion menyarankan kue ulang tahun berukuran kecil itu akan dijadikan kejutan untuk Tuan Felix. Sempat menolak karena ragu. Namun Mia meyakinkan Riri jika saat ini hanya Riri yang bisa memberikan kejutan untuk Papa.


"Happy Birthday Papa," ucap mereka bersamaan saat membuka pintu ruang kerja Tuan Felix.


"Loh, Papa kemana?" tanya Mia.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Felix yang keluar dari kamar mandi. "Miaaaa," teriak Tuan Felix saat menyadari kehadiran Mia.


"Papaaaaa," teriak Mia.


Pelukan hangat dari dua manusia yang terpisah oleh jarak itu kini tengah membongkar semua celengan rindunya. Tangis haru pecah. Tidak hanya Mia, Riri pun ikut menangis melihat Mia dan Tuan Felix.

__ADS_1


"Pah, selamat ulang tahun ya!" ucap Mia.


"Siapa yang ulang tahun?" tanya Tuan Felix.


__ADS_2