
Karena Mia menginap di rumah Nyonya Helen, Riri sudah mengatur alarm di ponselnya jauh lebih pagi. Ia harus mandi dan mengeringkan dulu rambutnya sebelum keluar kamar. Ia tidak mau Mia menatapnya dengan senyuman yang penuh kode saat keluar kamar lebih siang.
"Pus, mau kemana?" tanya Rian saat melihat Riri sudah siap dengan pakaian rapi.
"Keluar. Kan ada Naura sama Rendra. Mereka biasanya menunggu aku Mas," jawab Riri sambil merapikan rambutnya.
"Tapi aku masih kangen," ucap Rian sambil memeluk Riri dari belakang.
"Mas, ini sudah siang. Ayo mandi!" ucap Riri.
"Kamu tidak kangen ya sama aku? Bosan?" tanya Rian.
"Mas, bukan begitu. Tapi aku tidak enak sama si kembar. Mereka kan jarang menginap di sini. Kita juga belum pernah menginap di sana," jawab Riri.
"Ya sudah, tapi ini dulu." Rian menunjuk pipinya.
Riri mengecup pipi kanan yang ditunjuk Rian. Namun Rian menunjuk membali pipi kirinya. Riri pun mengecup pipi kirinya. Baru saja Riri menjauh, tapi tangan Rian menarik tubuh Riri hingga mereka berdua berdekatan. Sangat dekat hingga tidak ada jarak yang memisahkan keduanya.
"Ini belum," ucap Rian sambil menunjuk bibirnya.
Riri bingung. Ia takut Rian akan kembali menyerangnya. Ia memang tidak boleh menolak keinginan suami. Tapi masalahnya, di luar ada Mia dan kedua anak kembarnya.
Namun Riri berusaha tenang dan akan memberi pengertian pada Rian. Berharap Rian akan mengerti akan keadaan saat ini. Namun sayangnya Rian justru menahan Riri saat bibir mereka beradu.
Riri mendorong tubuh Rian agar tidak melahap bibirnya dengan rakus. Mendapat dorongan dari Riri, Rian semakin merapatkan tubuh mereka dan terus melakukan aksinya.
"Mas," ucap Riri sambil terengah-engah saat berhasil lepas dari pelukan Rian.
"Kenapa sih? Dosa tahu menolak keinginan suami," ucap Rian.
"Mas belum sikat gigi," ucap Riri sambil mengelap bibirnya.
"Apa? Hah," ucap Rian sambil menghirup aroma mulutnya sendiri.
Rian pun segera pergi ke kamar mandi. Ia menutup wajahnya. Malu rasanya saat ingat jika ia memang belum menyikat gigi. Ah, seandainya ia bisa mengulang waktu. Tapi andai-andai itu tidak bisa ia wujudkan. Semua sudah terjadi dan rasa malu itu terlalu besar.
Riri yang berhasil kabur dari Rian hanya tersenyum senang. Akhirnya ia bisa bebas pagi ini. Meskipun ia tahu jika suaminya sedang tidak baik-baik saja di kamar mandi.
"Mana Om Rian?" tanya Narendra saat Riri menghampiri mereka yang sedang berkumpul.
"Jadi Rendra cuma kangen Om Rian nih? Padahal Aunty ada di sini loh," ucap Riri.
"Bukan begitu Aunty. Tapi ada yang mau aku tanya sama Om Rian. Ini tentang lukisan. Aunty tidak akan mengerti," ucap Narendra sambil tertawa.
__ADS_1
"Hussst, jangan begitu." Mia menggelengkan kepalanya untuk memberi kode pada Narendra.
"Tidak apa-apa Kak. Aku memang tidak mengerti tentang lukisan," jawab Riri.
"Tuh kan. Aunty tidak marah kan?" tanya Narendra.
"Tidak. Asal Auntynya di kiss dulu ya!" ucap Riri sambil menunjuk pipinya.
Riri memang sangat menyukai anak kecil. Apalagi Naura dan Narendra yang sangat aktif dan pintar. Mereka selalu menggemaskan di mata Riri. Ia tersenyum senang saat Narendra berjinjit untuk mengecup pipinya.
"Ekhem," deham Rian saat keluar dari kamar mandi.
Riri dan yang lain menatap Rian yang nampak tidak suka saat Riri dikecup oleh Narendra. Mia menahan tawanya saat melihat Rian yang cemburu pada keponakannya sendiri.
"Om Riaaaan," teriak Narendra saat melihat Rian.
Narendra yang masih polos dan tidak peka dengan kecemburuan Rian, justru segera memeluknya. Ia segera mengajak Rian ke untuk menunjukkan lukisannya. Narendra masih duduk di bangku SD namun badannya tinggi. Jauh lebih tinggi dibanding Naura, adik kembarnya.
Kadang Rian justru merasa Narendra sudah bukan anak kecil lagi. Berbeda dengan Riri yang menganggap Narendra memang masih anak-anak. Narendra memang masih polos dan menggemaskan.
"Apa suamimu cemburu pada Rendra?" tanya Tuan Wira sambil berbisik.
Riri hanya mengerutkan dahinya. Seolah ia mengisyaratkan jika Rian tidak mungkin cemburu pada Narendra.
"Kata Opa, yang kangen sama Om Rian cuma Rendra." Tuan Wira menggoda Naura.
"Naura juga kangen. Tapi kan dia ngajak Om ke sana," ucap Naura sambil cemberut.
"Kan ada aunty. Sama aja kan?" ucap Riri sambil memeluk Naura.
Ya, saat tidak ada Riri, Naura memang selalu kesal saat Rian memilih bersama saudara kembarnya. Namun sekarang ada Riri. Setidaknya ia tidak tersisihkan karena ada teman baru. Riri yang hangat memang selalu membuat Naura merasa jauh lebih nyaman dibanding Rian.
"Pah, jangan mulai deh." Mia menatap Tuan Wira.
"Tahu nih aki-aki banyak tingkah," ucap Nyonya Helen yang baru datang.
Semua terkejut saat melihat Nyonya Helen datang tanpa kursi roda. Ia berjalan dengan kakinya sendiri. Meskipun di belakang ada pekerja rumah yang mengikutinya. Menjaga agar Nyonya Helen tetap baik-baik saja.
"Mama," ucap Riri.
"Mama sembuh," ucap Mia.
Nyonya Helen segera duduk saat merasa tubuhnya sedikit lemas. Memang belum sembuh total, jalan pun masih gemetar. Namun itu perubahan yang sangat besar. Setelah sempat hilang harapan untuk sembuh.
__ADS_1
Hari itu menjadi hari yang bahagia bagi semua orang yang ada di rumah itu. Bahkan Dion langsung menuju rumah Nyonya Helen saat tahu kalau Nyonya Helen sudah bisa berjalan. Padahal seharusnya Dion ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dion sampai menangis di pelukan Nyonya Helen. Ia sangat senang dengan kemajuan yang sangat pesat. Bahkan Dion sempat berpikir jika ibunya tidak mungkin sembuh dan bisa berjalan normal seperti saat ini.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Tuan Wira.
"Nanti aku ke kantor. Aku ingin melihat Mama yang sudah sembuh. Aku tidak ingin ketinggalan berita bahagia ini," ucap Dion yang masih betah dalam pelukan Nyonya Helen.
"Dion, Mama engap. Bisa tolong lepaskan pelukanmu?" ucap Nyonya Helen.
"Maaf Ma. Aku terlalu senang," ucap Dion setelah melepaskan pelukannya.
Dion tidak bisa terlalu lama di sana karena harus segera ke kantor. Akhirnya ia pergi meskipun masih sangat ingin berada di sana. Ikut berbaur dalam suasana yang membahagiakan itu. Tapi apa boleh buat. Ia masih punya banyak PR yang harus dikerjakan.
"Naura, Rendra ayo berangkat sama Papa." Dion mengajak kedua anak kembarnya.
Letak sekolah dan kantir Dion yang searah membuat Naura dan Narendra gagal diantar Rian. Lagi pula Rian akan berangkat ke kantor lebih siang. Mia memintanya untuk di sana dulu karena akan membahas butik yang akan ia bangun bersama Riri.
"Aku rasa ini tempat yang sangat strategis. Kalau untuk bahan, aku yakin Kakak dan Mpus tahu yang lebih bagus. Aku tidak mengerti kalau bahas masalah ini," ucap Rian.
Mereka pun melanjutkan bahasan itu sampai pukul sepuluh siang. Sesaat setelah selesai, Rian mendapat panggilan di ponselnya. Saat ia lihat nama Shelin, ia segera teringat janji yang sudah mereka buat untuk bertemu dengan Hiro hari ini.
"Pus, Shelin." Rian menunjukkan ponselnya pada Riri.
"Astaga," ucap Riri yang teringat janjinya.
Riri segera menjawab panggilan itu dan meyakinkan Hiro untuk menemuinya secepatnya. Ia juga meminta maaf atas kesalahannya karena sudah lupa janji itu.
"Kenapa? Shelin mengganggu kalian?" tanya Mia panik.
"Bukan, bukan." Riri menggeleng.
Riri pun menjelaskan tentang rencana yang terlupakan hari ini. Mia dan Nyonya Helen senang karena berharap Hiro sudah pulang dan tidak jadi bekerja di kantor Rian.
"Jangan begitu Ma. Dia orang baik," ucap Riri.
"Baik kan belum tentu kompeten," ucap Mia.
"Kompeten apanya. Dia lulus kuliah aja molor," ucap Nyonya Helen.
Riri dan Rian hanya saling menatap. Mereka mencari jawaban untuk membela Hiro. Ya, sebenarnya Hiro memang telat lulus kuliah. Tapi bukan karena ia tidak mampu. Ia hanya tidak fokus dengan kuliahnya.
Selama ini Hiro hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak seharusnya. Padahal Riri yakin Hiro punya kemampuan yang baik di bidangnya. Namun karena saat ini status Hiro adalah pasangan Shelin, Nyonya Helen dan Mia takut jika keberadaan Hiro akan mengancam ketenangan rumah tangga Rian dan Riri.
__ADS_1
"Iya nanti kita pertimbangkan lagi Ma. Sekarang kan aku mau cek surat lamarannya. Kalau tidak cocok ya tidak bisa masuk," ucap Riri.