Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tangis bahagia


__ADS_3

Seharian ini Rian nampak bahagia setelah mendapat telepon dari Tuan Felix. Manto melihat ekspresi Rian yang berbeda dari biasanya. Namun ketika jam istirahat, Rian menahan Manto yang hendak keluar.


"Pak, saya mau bicara." Rian nampak gugup.


"Oh, silahkan. Ada apa Pak?" tanya Manto sambil duduk kembali.


Butuh waktu cukup lama untuk Rian menjelaskan tentang apa yang ada dalam kegelisahannya. Ia bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Dion. Namun akhirnya Manto yang tidak tahu apa-apa kini sudah tahu semuanya. Rian sampai menghabiskan waktu istirahat Manto untuk menceritakan tentang Danu.


"Kalau menurut saya, semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Lebih baik Bapak bicara dengan Tuan Dion. Yang saya tahu Tuan Dion orang baik. Saya yakin Tuan Dion akan sangat mengerti," ucap Manto.


Rian menarik napas panjang. Ia berpikir sejenak tentang saran dari Manto. Ia sampai mengelap dahinya yang basah oleh keringat. Tidak tahu akan seperti apa jadinya jika ia benar-benar bicara dengan Dion.


Sempat terpikir untuk tidak melibatkan Dion dalam urusannya dengan Danu. Namun Manto kembali mengingatkan bagaimana peran Dion di perusahaan itu. Rian senang saat mendapat peringatan-peringatan kecil dari Manto. Akhirnya keegoisannya tidak sampai membuatnya salah mengambil keputusan.


"Ya sudah terima kasih Pak. Saya akan atur waktu untuk bisa bicara dengan Kak Dion. Silahkan istirahat dulu," ucap Rian.


Manto menunduk dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam makan siang sudah lewat. Sekarang sudah waktunya untuk masuk lagi.


"Tidak usah Pak, Terima kasih." Manto kembali duduk dan meraih kertas yang ada di mejanya.


"Ini perintah dari saya. Tolong keluar dan makan sianglah dulu. Hitung waktu sesuai dengan jam istirahat," ucap Rian.


Manto diam sebentar. Ia bingung mencari respon untuk kalimat yang Rian ucapkan. Di satu sisi ini sudah jam masuk. Tidak seharusnya ia berada di kantin saat ini. Tapi di sisi lain, perutnya belum di isi. Bagaimanapun ia butuh asupan agar konsentrasinya tetap terjaga.


"Saya pesan makanan dulu, nanti kembali di sini. Saya izin makan di ruangan, Pak. Tidak enak kalau jam kerja malah nongkrong di kantin," ucap Manto.


Rian merasa tertampar dengan ucapan Manto. Tidak seharusnya ia mengganggu waktu istirahat Manto. Tapi saat ini hanya Manto orang yang bisa ia ajak bicara.


"Ya sudah. Ayo ke kantin, Pak. Saya juga mau makan di sini," ucap Rian.


"Ah tidak perlu. Bapak boleh makan di sana. Saya tidak masalah makan sendiri," ucap Manto.


"Bukankah sebagai seorang pemimpin saya harus memberi contoh?" tanya Rian.


Manto meminta maaf jika Rian tersinggung dengan beberapa ucapannya. Namun Rian justru senang dan berterima kasih. Akhirnya mereka pergi ke kantin dan kembali ke ruangannya setelah memesan makanan.


"Selamat makan," ucap Manto.


Rian yang hampir saja menyuapkan sendok ke mulutnya seketika berhenti.


"Selamat makan," ucap Rian.

__ADS_1


Keduanya makan bersamaan, namun Manto selesai lebih cepat. Dengan segera ia merapikan bekas makannya dan kembali dengan pekerjaannya. Hal itu tentu membuat Rian sangat malu.


Pak Manto ini seperti robot.


Rian yang masih belum siap bekerja akhirnya dituntut untuk mengimbangi cara kerja Manto. Meskipun sesekali Rian masih menggerutu, namun akhirnya ia mulai bisa mengikuti cara kerja Manto.


Selesai jam kerja, Rian memberanikan diri untuk menelepon Dion. Ia mengajak Dion untuk bertemu dan bicara di luar. Tidak enak jika hal seperti ini harus dibahas di dalam rumah. Dion yang kebetulan masih dikantor, mengajak Rian untuk menemuinya di kantor.


Mobil melaju, namun kepala Rian masih dipenuhi dengan berbagai pikiran yang tidak mengenakkan. Ia merangkai pertanyaan yang akan ditanyakan pada Dion. Beberapa bahasan yang akan ia bicarakan dengan Dion seolah sudah tersusun rapi di kepalanya.


Mobil sudah terparkir di depan kantor Dion. Detak jantung Rian berpacu semakin cepat. Ia benar-benar sulit mengendalikan diri. Keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya.


"Ayo Rian, kamu pasti bisa." Rian menyemangati dirinya sendiri.


Setelah bertemu dengan Dion, ia duduk berhadapan. Rian belum berani menatap.mata Dion. Ia mencoba untuk selalu mengalihkan pandangannya saat mata tajam Dion menatap bola matanya.


"Ada apa?" tanya Dion.


Rian mencoba menjelaskan semuanya. Ia memilih bahasa yang paling baik sebisanya. Benar-benar menjaga perasaan Dion. Ia tidak ingin cara ia menolong Danu, justru akan membuat hubungannya dengan Dion menjadi tidak baik.


Dion diam. Rian meremas tangannya yang basah karena tegang.


"Aku sangat mencintai Mia," ucap Dion.


"Aku akan selalu mengusahakan semua itu. Terima kasih," ucap Rian.


Rian segera pergi setelah selesai bicara dengan Dion. Namun ia tidak langsung ke rumah Tuan Wira. Ia pergi menemui Danu.


"Rian," sapa Sindi dengan tatapan bingung.


"Kak, sehat?" tanya Rian sambil meraih tangan Sindi dan menciumnya.


"Kamu sendiri?" Sindi balik bertanya.


"Sendiri," jawab Rian. "Kak Danu mana?" tanya Rian.


"Ada di dalam," jawab Sindi.


Rian masuk tanpa menunggu Sindi mempersilahkannya. Dengan wajah ceria Rian mencari Danu. Langkahnya terhenti saat melihat Danu sedang duduk dengan mata fokus pada sebuah koran dan ponsel di sampingnya.


"Kak," sapa Rian pelan.

__ADS_1


"Eh," ucap Danu gugup sambil melipat koran itu dengan cepat.


"Sehat Kak?" tanya Danu.


Perlahan Rian menghampiri Danu dan mencium tangannya. Koran itu semakin dilipat erat dan disembunyikan dari Rian.


"Baik," jawab Danu gugup.


"Aku mau minta tolong untuk ikut gabung denganku di perusahaan. Papa Felix membutuhkan orang baru," ucap Rian.


"Kenapa harus aku?" tanya Danu.


Meskipun Danu sangat membutuhkan pekerjaan, namun ia tidak mau bekerja hanya karena belas kasihan. Ia ingin bekerja karena kemampuan yang dimilikinya.


"Aku tahu kemampuan Kakak, makanya aku mau Kakak yang ada di sana. Kakak adalah orang yang tepat. Aku yakin itu," ucap Rian.


Danu terlihat senang mendengar ucapan Rian. Namun ia berusaha menutupinya. Ia tidak mau terlihat begitu susah di hadapan orang lain. Ia tidak mau banyak orang yang mengasihaninya.


"Jangan terlalu yakin. Aku takut mengecewakanmu," jawab Danu.


"Makanya aku mau buktikan ucapanku mulai besok," ucap Rian.


"Besok?" tanya Danu.


"Kenapa?" Rian balik bertanya.


"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Danu.


"Semakin cepat akan semakin baik," jawab Rian.


Sindi yang mendengar percakapan keduanya memegang dadanya sambil mengucap syukur. Tetesan air mata di pipinya menandakan betapa bahagianya ia dengan semua ini. Bukan malu karena suaminya tidak bekerja. Tapi ia kasihan melihat Danu yang nampak terbebani.


"Rian, terima kasih. Kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menumbuhkan kembali semangat hidup Mas Danu. Aku berhutang banyak padamu," ucap Sindi saat Rian oamit pulang.


"Jangan begitu. Aku hanya beruntung karena berada di tempat yang tepat saat itu. Kalau tidak, aku hanyalah si penjual lotek yang tampan," ucap Rian sambil mengedipkan matanya.


"Ah kamu ini tidak bisa diajak serius," ucap Sindi sambil tertawa.


"Nah begitu dong. Aku hanya mau melihat Kakak sehat dan bahagia, jangan sedih-sedih lagi ya." Rian pamit dan pergi.


"Dari mana kamu?" tanya Tuan Felix saat Rian pulang malam.

__ADS_1


Rian menegang. Ternyata ia belum selesai. Masih ada orang yang butuh penjelasan atas keputusannya.


__ADS_2