
Keesokan paginya Rian bangun lebih siang. Tidak ada alarm yang membangunkannya karena ponselnya sudah hancur berantakan. Ia menggeliat dan melihat sinar mentari mulai masuk melalui celah gorden.
Sempat terkejut, namun akhirnya ia kembali merebahkan tubuhnya. Percuma buru-buru bangun karena ia tidak akan masuk ke kantor. Hari ini ia sedang tidak ingin mengerjakan apapun. Tujuan hidupnya sudah mulai hilang.
Waktu terus bergerak. Rian bangun saat mentari semakin panas. Ia menggeliat dan duduk di tepi ranjang. Melihat sudut kamarnya. Pecahan ponsel berantakan. Ia tidak tahu sekeras apa lemparan itu hingga ponselnya berantakan.
"Semua sama saja," ucap Rian.
Rian berjalan membuka gorden kamarnya. Ia sampai menutup matanya karena cahaya mentari memburu penglihatannya.
"Ah, sial!" ucap Rian kesal.
Rian mandi dan berganti baju. Ia keluar dari kamar karena perutnya terasa lapar. Keadaan di rumah benar-benar sepi. Hanya terdengar asisten rumah tangga yang sedang mencuci piring di dapur.
"Hai Mba," sapa Rian.
"Selamat siang, Tuan." Asisten rumah tangga itu mengangguk sopan.
Ada raut takut pada wajah asisten rumah tangga itu. Secara tidak sengaja ia mendengar perdebatan Mia dan Rian tadi malam. Ia takut kalau kemarahan Rian akan berimbas padanya yang tidak tahu apa-apa.
Selesai sarapan, Rian kembali ke kamar membawa tas cukup besar. Asisten itu tidak berani bertanya sampai akhirnya ia tahu saat Rian sendiri yang mengatakannya. Rian pamit untuk tidak tinggal di rumah itu lagi. Ia juga membawa semua baju dan barang-barangnya.
Tidak pulang ke rumah Tuan Wira, Rian justru menyimpan barangnya di dalam mobil. Sementara ia sendiri pergi ke rumah sakit. Ia mencari Rina. Sayangnya hari itu Rina piket malam. Jadi ia tidak akan ke rumah sakit siang ini.
"Tolong hubungi dia. Katakan padanya aku menunggunya di sini!" ucap Rian tegas.
Perawat yang ada di sana mengenal Rian. Hanya saja, mereka tidak pernah melihat sikap Rian yang seperti itu. Tidak ingin kemarahan Rian semakin menjadi-jadi, perawat itu segera menghubungi Rina.
"Mana ponselmu!" pinta Rian saat tahu panggilannya sudah terhubung.
Rian terlihat menjauh dari si pemilik ponsel. Namun ucapan Rian yang lebih tinggi dari biasanya, membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya tahu apa yang Rian ucapkan.
Berkali-kali Rian meminta Rina untuk datang ke rumah sakit, tapi Rina menolak. Ia hanya akan ke sana saat sudah jam kerja. Hal itu membuat Rian nekat untuk menyusul Rina ke rumahnya.
"Rina," panggil Rian saat ia sudah sampai di depan rumah Rina.
Sebuah rumah besar namun tidak seperempat dari besarnya rumah keluarga Mia yang ia diami. Rian melihat sekeliling. Sekilas rumah itu tampak sepi tidak berpenghuni. Sampai akhirnya ia mendengar Rina berteriak dan keluar dari rumah itu.
"Sombong sekali kamu, sampai-sampai tidak mau menemuiku." Rian dengan sangat percaya diri masuk ke rumah itu tanpa dipersilahkan oleh Rina.
Rina yang panik karena Rian menerobos masuk, segera mengikuti Rian dan memintanya untuk segera keluar. Ia hanya tinggal sendiri. Ia tidak mau kalau sampai ada orang yang salah paham dan mengira yang tidak-tidak.
Meskipun sempat berdebat, namun akhirnya Rina berhasil menarik Rian keluar dari rumahnya. Rina menyiapkan sebuah bangku agar Rian bisa duduk di teras rumahnya.
"Astaga! Kamu benar-benar keterlaluan Rina," ucap Rian kesal.
"Ri, di sini juga sama saja. Aku akan dengarkan semua kekesalanmu. Ayo cerita!" ucap Rina.
__ADS_1
Rian nampak duduk di hadapan Rian dan menatapnya dengan sangat tajam. Rian yang merasa tidak nyaman langsung membuang muka.
"Kenapa? Katanya mau cerita. Ayo cerita!" ucap Rina.
"Kenapa kamu sesombong itu?" tanya Rian mengawali cerita siang ini.
Rina menjelaskan ia sengaja tidak mau ke rumah sakit karena takut akan lebih banyak yang tahu tentang masalah Rian. Jadi lebih baik Rian datang ke rumahnya dan bercerita lebih bebas.
Rian menunduk. Lagi-lagi ia sudah salah mengartikan sikap Rina. Wajah sedihnya membuat Rina berusaha menenangkan pria itu. Meskipun pada akhirnya Rian malah kesal karena Rina terus memberinya masukan yang tidak di harapkannya.
"Kamu dan mereka semua sama saja," ucap Rian kesal.
"Karena kita semua waras. Makanya pemikiran kita sama," jawab Rina.
"Maksudmu aku tidak waras?" tanya Rina.
"Tdiak. Saat ini kamu memang sedang tidak waras," jawab Rina.
Rina melihat kemarahan di wajah Rian. Namun ia tidak mau membela Rian. Ia tidak mau Rian merasa seolah-olah ia korban dan selalu merasa paling benar.
"Apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Rian.
"Enak saja," jawab Rina.
"Kamu pelit sekali. Benar-benar perhitungan," ucap Rian.
Rian teringat uang yang pernah diberikan Tuan Felix padanya. Seharusnya uang itu bisa ia gunakan untuk biaya resepsi pernikahannya yang akan digelar mewah. Namun ia memutuskan untuk menggunakan uang itu untuk pembelian rumah.
"Carikan aku rumah," pinta Rian.
"Memangnya kamu mau cari rumah dimana?" tanya Rina.
"Di daerah sini," jawab Rina.
Rumah Rina memang terletak cukup jauh dari jalan raya. Ia takut tempatnya tidak sesuai untuk Rian. Rina sempat memberi saran untuk mengambil sebuah apartemen saja. Namun Rian ingin tinggal di daerah itu. Lebih nyaman dan tenang menurut Rian.
"Paling karena lebih murah kan?" goda Rina.
Rian hanya tersenyum dingin. Ia sedang tidak mood untuk becanda dengan Rina. Untunglah Rina peka. Ia menyadari raut wajah Rian yang sedang gelisah. Ia mengingatkan Rian untuk mengambil keputusan lagi dalam keadaan dingin dan tidak terburu-buru.
"Carikan aku rumah kontrakan saja di sekitar sini," ucap Rian.
Rian berpikir ulang kalau ia tidak bisa membuang uangnya begitu saja. Membeli rumah di wilayah itu sama sekali bukan keputusan tepat. Saat ini ia hanya butuh tempat untuk menenangkan diri saja sementara waktu. Mengontrak adalah pilihan tepat untuk saat ini.
Sore ini Rian sudah mendapat rumah kontrakan baru. Ia membawa koper berisi pakaian dan barang-barang pentingnya saja. Ia duduk di tepi ranjang yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan ranjangnya di rumah Mia atau di rumah Tuan Wira. Apalagi di rumah Tuan Felix.
Semua yang ada di sana nyaris berbanding terbalik dengan keadaan rumah yang sebelumnya ia tempati. Tapi di tempat itu ia merasa tenang. Ia bebas menangis tanpa ada yang tahu. Ia bisa mengacak semua tempat itu sampai ia puas. Ia benar-benar meluapkan semua kekecewaannya.
__ADS_1
Seharian tidak ada kabar tentang Rian, membuat Manto dan Danu khawatir. Dengan penuh pertimbangan, Manto menghubungi Tuan Felix. Tentu saja saat tahu Rian tidak ada kabar dan nomornya tidak aktif, Tuan Felix sangat khawatir.
Mia adalah orang pertama yang dihubungi oleh Tuan Felix. Namun Mia yang sedang kesal pada Rian seolah tidak peduli. Bahkan Mia mengadu saat Rian mengungkapkan kekecewaannya pada Tuan Felix. Ayah mana yang tidak sakit hati saat dituduh yang tidak-tidak. Tapi Rian sudah terlanjut dianggap anak oleh Tuan Felix.
Tuan Felix juga sangat menyadari kesalahannya. Ia butuh waktu untuk menceritakan semuanya. Dan itu bukan sekarang.
Merasa gagal meminta bantuan Mia, Tuan Felix berusaha meminta bantuan Sindi. Paling tidak, ia merasa kalau Sindi adalah wanita yang sudah dianggap Kakak juga oleh Rian. Apalagi akhir-akhir ini mereka lebih sering berkomunikasi.
"Papa jangan khawatir. Nanti aku sama Mas Danu coba cari Rian ya!" ucap Sindi.
Sindi memang tidak menjanjikan waktu yang tepat pada Tuan Felix. Namun ia memastikan jika Rian akan baik-baik saja. Dan tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tuan Felix tahu kalau Sindi selalu punya berbagai cara untuk mengatasi masalah tentang Rian.
"Papa tunggu kabar baiknya ya Sin," ucap Tuan Felix.
Sindi tidak langsung mencari keberadaan Rian. Ia menganalisa dulu kemana saja kemungkinan Rian akan pergi. Sebenarnya ia ingin sekali mencari Rian dengan Mia. Tapi keadaan memang sedang tidak mendukung. Ia harus bergerak sendiri.
Harapannya saat ini adalah Danu, suaminya sendiri. Ia adalah salah satu orang yang dekat dan kemungkinan akan banyak tahu tentang Rian. Ia menunggu suaminya pulang dengan berbagai pertanyaan yang sudah ia siapkan.
"Mas, informasi apa saja yang kamu tahu tentang Rian?" tanya Sindi.
Danu yang baru saja pulang kerja menatap Sindi dengan menggelengkan kepala. Bahkan Danu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sindi.
"Mas, aku serius. Papa Felix minta aku bicara dengan Rian," ucap Sindi lagi.
"Tahu. Aku tahu. Tapi kamu juga tahu kan kalau aku baru saja sampai rumah. Masa kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan?" sindir Danu.
Sindi merasa malu sendiri. Ia sibuk dengan Rian, sampai ia lupa apa kebiasaan yang dilakukannya setiap Danu pulang bekerja. Ia segera meraih tangan Danu dan menciumnya. Ia juga membuka dasi suaminya dan mengambilkan minum.
"Nah begitu dong," ucap Danu.
Danu segera meneguk air di gelas itu hingga kandas. Sementara Sindi masih duduk di samping Danu dan menunggu beberapa informasi yang bisa ia dapatkan untuk.mebcari keberadaan Danu.
Berdasarkan informasi dari Danu, Rian memang tidak masuk kantor tanpa ada kabar apapun. Bahkan Mia saja tidak memberi kabar. Padahal biasanya Mia selalu mengabarkan keadaan Rian jika tidak bisa masuk kantor.
"Rian memang sudah berubah," ucap Danu sambil menggelengkan kepala.
"Iya Mas. Aku jadi kasihan sama Papa Felix," ucap Sindi.
"Aku yakin Papa pasti mengerti keadaan Rian," ucap Danu.
Sindi diam. Ia masih berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa ia tebak dengan mudah. Bahkan setelah semalaman berpikir, ia masih belum menemukan jawabannya.
"Tidur! Ini sudah terlalu malam," ucap Danu sambil mencium dahi istrinya.
Sindi tersenyum dan memeluk Danu. Ia berusaha tertidur meskipun sangat sulit. Kepalanya masih memikirkan keberadaan Rian.
Rian, kamu kabur kemana sih?
__ADS_1