
"Opa pikir Naura tidak di sini," ucap Tuan Wira saat berdiri di depan kamar Rian.
Pintu kamar yang terbuka lebar membuat Tuan Wira bisa melihat bagaimana Rian dengan sabar dan lembut menghadapi kemanjaan Naura.
"Opa sini!" ajak Naura sambil melambaikan tangannya.
"Ada apa?" tanya Tuan Wira sambil mendekat dan duduk di samping Naura.
"Opa kenapa sih Aunty Sindi jadi berubah?" tanya Naura.
Setelah putus asa karena tidak mendapat penjelasan dari Rian, Naura berusaha mencari tahu jawaban lain dari Tuan Felix.
"Naura, kan tadi Om sudah jelaskan. Aunty Sindi itu buru-buru karena ada pekerjaan," jawab Rian.
Rian sengaja menjawab pertanyaan Naura, karena takut jawaban Tuan Wira tidak sama dengan jawabannya. Belum saatnya Naura tahu masalah yang terjadi dengan Sindi.
"Tapi kan bisa telepon. Aunty Sindi tidak pernah sama sekali menelepon Naura," ucap Naura sedih.
"Sayang, memangnya kasih sayang Opa masih kurang ya?" tanya Tuan Wira.
"Bukan begitu Opa. Tapi berasa ada yang berkurang aja," jawab Naura.
"Ya sudah kalau begitu Opa tambah lagi. Biar Naura tidak merasa berkurang ya," ucap Tuan Wira.
"Ah, Opa sama Om Rian sama saja. Selalu membela Aunty Sindi. Naura gak suka," ucap Naura.
"Naura, Naura," ucap Tuan Wira.
Rian menarik tangan Tuan Wira yang akan mengejar Naura.
"Biarkan dia tenang Pah. Naura sedang badmood. Nanti juga dia membaik. Dia cuma butuh waktu," ucap Rian.
"Kamu yakin?" tanya Tuan Wira.
"Iya. Papa tenang saja," jawab Rian.
Obrolan Tuan Wira dan Rian berlanjut tentang pertemuannya dengan Riri. Ia merasa kesal saat tidak membawa Riri ke rumah itu.
"Pah, Riri itu kan tidak bisa sesantai itu. Dia ke sini untuk bekerja," ucap Rian.
"Kan cuma sebentar bisa. Itu sama Naura bisa jalan-jalan dulu," ucap Tuan Wira.
Rian menggelengkan kepalanya. Kenapa Tuan Wira jadi seperti Naura?
"Ini sedang apa? Kok berduaan di kamar?" tanya Nyonya Helen.
Pertanyaan itu membuat Rian merasa terselamatkan. Ya, terselamatkan untuk beberapa saat. Karena pada akhirnya Nyonya Helen pun bertanya tentang hal yang sama. Bahkan pertanyaan itu semakin membuat Rian diam tidak berkutik.
Ternyata suami istri sama saja. Sama-sama kepo.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka bertiga. Asisten rumah tangganya datang untuk menyampaikan bahwa di luar sedang ada tamu.
"Tamu? Siapa?" tanya Nyonya Helen.
Sayangnya karena asisten rumah tangga itu pekerja baru, ia tidak mengenali tamu yang datang ke rumahnya itu.
"Biar Mama saja. Kalian tunggu di sini," Ucap Nyonya Helen.
Rian dan Tuan Wira memang sempat melanjutkan obrolan tentang perusahaan. Namun akhirnya mereka pergi mencari tahu tamu yang membuat penasaran.
Mata Rian terbelalak saat melihat Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie kembali bersitegang. Keduanya nampak sedang berdebat. Nyonya Nathalie yang duduk santai di atas sofa membuat Nyonya Helen semakin naik darah.
"Pergi dari sini!" usir Nyonya Helen kasar.
Kesabaran Nyonya Helen sudah hilang saat Nyonya Nathalie berusaha mengungkit masa lalu Mia dengan Danu. Bahkan Nyonya Nathalie membanding-bandingkan Mia dengan Sindi.
Rasa sayang Nyonya Helen pada Mia membuat itu terasa menyakitkan. Dengan penuh emosi, Nyonya Helen memakin Nyonya Nathalie dan mengusirnya berkali-kali. Namun Nyonya Nathalie masih tetap duduk dengan santai. Senyum licik Nyonya Nathalie menandakan jika ia senang dengan kemarahan Nyonya Helen.
"Ma, sudah Ma." Tuan Wira memeluk Nyonya Helen dan berusaha menenangkannya.
"Dia harus pergi dari rumah ini, Pah. Dia harus pergi," teriak Nyonya Helen.
"Maaf Nyonya. Sebaiknya Anda pulang saja," ucap Rian lembut.
Sekesal apapun Rian, ia tidak bisa kasar pada wanita yang seumuran dengan ibunya. Ia berusaha membuat Nyonya Nathalie pergi agar Nyonya Helen tenang. Tapi sayangnya, justru ia yang kena oleh ulah Nyonya Nathalie.
"Tidak usah so jadi pemilik rumah. Kamu kan hanya anak pungut. Kamu hanya menumpang kan di rumah ini? Kamu tidak malu? Mau sampai kapan? Tidak mungkin seumur hidup dong," ucap Nyonya Natahlie dengan senyum sinis.
Rian merasa jantungnya seakan berhenti. Wajahnya pucat seakan sudah tidak ada aliran darah dalam tubuhnya. Kalau saja orang yang di depannya adalah seorang pria seusianya, ia pasti sudah mengajaknya duel.
__ADS_1
"Hentikan omong kosongmu dan keluar dari rumahku!" teriak Nyonya Helen lagi.
"Kenapa? Kamu takut anak pungut itu marah padaku? Ayo! Apa yang mau dia lakukan padaku?" tantang Nyonya Nathalie.
"Dasar kurang ajar," ucap Nyonya Helen yang siap melayangkan tangannya.
Dengan cepat Rian menangkap tangan Nyonya Helen.
"Kenapa? Biarkan Mama membuatnya kapok. Mama sudah geram dengan mulutnya yang menyebalkan itu," ucap Nyonya Helen.
"Jangan kotori tangan Mama hanya untuk menampar Nyonya Nathalie. Biarkan dia berucap sesuai hatinya." Rian menggenggam tangan Nyonya Helen.
"Jangan khatwatir Rian! Aku akan bicara sesuai dengan kenyataan." Nyonya Nathalie nampak tersenyum sinis.
"Silahkan. Aku menunggu semua ucapanmu tentang aku," ucap Rian.
Dengan sangat percaya diri Rian melepaskan genggaman tangan Nyonya Helen dan duduk tepat di hadapan Nyonya Nathalie. Wanita itu mulai bingung dengan sikap Rian yang mulai berani.
"Apa maksudmu duduk di depanku?" tanya Nyonya Nathalie.
"Loh memangnya kenapa? Kalau Anda bisa duduk dimanapun semau Anda, kenapa saya tidak boleh?" Rian balik bertanya pada Nyonya Nathalie.
Keberanian Rian mulai membuat Nyonya Nathalie merasa takut. Ia bersiap dengan kalimat pedasnya untuk membuat Rian down dan kalah.
"Kamu memang beruntung ya! Jadi anak pungut yang sukses," ucap Nyonya Nathalie.
"Bagus dong. Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukanku dengan orang Tuan seperti Mama Helen dan Papa Wira. Mereka berhasil mendidikku hingga sukses. Kalau saja Tuhan mempertemukanku dengan Anda," ucap Rian menjeda ucapannya.
"Apa maksudmu? Apa aku tidak lebih baik dari mereka? Begitu?" tanya Nyonya Nathalie sambil berdiri dan menunjuk Nyonya Helen.
"Turunkan tangan Anda. Toh Anda sudah tahu jawabannya," ucap Rian.
"Apa? Kamu berani padaku?" tanya Nyonya Nathalie geram.
"Loh, memangnya aku harus takut? Aku hanya takut ada makhluk halus. Anda bukan makhluk halus kan?" ucap Rian.
"Dasar anak kurang ajar," ucap Nyonya Nathalie.
Nyaris tangan Nyonya Nathalie menampar pipi Rian. Namun Nyonya Helen menangkap tangan Nyonya Nathalie dan menggenggamnya kuat.
"Jangan pernah sekalipun menyakiti anakku. Dia memang bukan darah dagingku, tapi aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi anak kandungku. Kalau kamu merasa Rian bersikap kurang ajar padamu, berarti kamu pantas diperlakukan seperti itu. Karena aku mengajarkannya menjadi cermin," ucap Nyonya Helen.
"Mama sekarang tahu kan bagaimana cara menghadapi orang seperti Nyonya Helen?" tanya Rian.
Nyonya Helen mengusap dadanya. Ia berusaha menenangkan dirinya setelah Nyonya Nathalie sudah benar-benar pergi.
"Terima kasih ya Ri," ucap Nyonya Helen.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Mama sudah membelaku di hadapan orang yang sudah menginjak harga diriku," ucap Rian.
"Jangan begitu. Kamu memang anak baik dan Mama sayang sama kamu. Tidak ada yang bisa merendahkanmu apalagi di hadapan Mama. Kamu sudah sukses. Kamu sudah melewati masa panjang yang tidak mudah. Kamu sudah berhasil," ucap Nyonya Helen.
Rian terharu dengan ucapan Nyonya Helen. Ia benar-benar merasa ada ketulusan dari Nyonya Helen dan Tuan Wira. Tekadnya semakin kuat untuk segera sukses. Ia ingin membuktikan pada Nyonya Nathalie bahwa anak pungut pun bisa sukses.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Dia menang kalau kamu seperti ini. Lebih baik sekarang kamu istirahat," ucap Tuan Wira.
"Iya Pah," ucap Rian.
Rian segera pergi ke kamarnya. Ia membuka bajunya dan melempar ke sembarang arah. Tangannya mengepal sempurna dan dihantamkan pada tembok kamarnya. Memar ditangannya tidak terasa. Hanya sesak yang ia rasakan saat ini.
Ucapan Nyonya Nathalie terngiang-ngiang di telinganya. Anak pungut. Numpang. Mau sampai kapan? Kepala Rian sakit. Ia benar-benar tertampar dengan ucapan Nyonya Nathalie.
"Aku harus sukses. Aku harus membeli rumah dengan keringatku sendiri. Aku harus bisa berdiri di atas kakiku. Sudah cukup aku selalu merepotkan semuanya," gumam Rian.
Tiba-tiba Rian ingat cek yang diberikan Tuan Felix untuknya. Ia membuka lemarinya dan memandangi cek itu.
Aku sama sekali tidak meminta semua ini. Mungkin aku hanya menjadi manusia yang terlalu beruntung karena berada dalam keadaan seperti ini. Tapi ini takdir.
Rian merebahkan tubuhnya. Berusaha melupakan rasa kecewanya yang teramat dalam. Berharap setelah bangun tidur semua sudah membaik. Hati dan kepalanya tidak lagi memikirkan kejadian buruk yang baru saja ia alami.
Rian bangun saat alarm sudah berdering berkali-kali tidur tanpa menggunakan pakaian. Pagi-pagi ia bangun dengan tubuh nyeri. Bersin-bersin dan hidungnya mampet.
"Aduh, sepertinya aku masuk angin," ucap Rian sambil memijat pundaknya yang terasa berat.
Rian kembali berbaring saat merasa kalau tubuhnya tidak baik-baik saja. Namun tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian yang tidak mengenakkan itu. Ia segera bangun dan melawan rasa sakitnya.
Baginya sakit yang ia rasakan saat ini, tidak ada apa-apanya dibanding dengan sakit hatinya. Ucapan Nyonya Nathalie memang menyakitkan. Tapi Rian tidak mau terus-terusan terpuruk seperti itu. Bagaimanapun ia harus menjadikan hinaan dan cacian itu semangat untuknya.
"Pagi," sapa Rian dengan senyum ceria saat menghampiri Naura di ruang makan.
__ADS_1
"Pagi Om," sapa Naura.
Nyonya Helen dan Tuan Wira merasa tenang saat melihat Rian sudah kembali ceria. Sempat ada rasa khawatir kalau Rian terpuruk akibat ulah Nyonya Nathalie.
"Kamu mau antar anak-anak sekolah, Ri?" tanya Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Rian.
"Pulangnya biar Mama yang jemput," ucap Nyonya Helen.
"Tapi jangan ke rumah teman Oma dulu ya!" ucap Narendra.
Ada trauma tersendiri saat Narendra pulang dijemput oleh Nyonya Helen. Pasalnya mereka tidak langsung pulang. Tidak juga bermain atau membeli mainan. Tapi mereka diajak untuk ke rumah teman Nyonya Helen.
Narendra kesal saat ia harus menunggu dan mendengarkan tawa riang dari Nyonya Helen dan teman-temannya. Sementara ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang mereka bahas.
"Iya, Oma janji. Nanti kita langsung pulang ya!" ucap Nyonya Helen.
"Awas kalau Oma sampai bohong," ucap Naura.
Ternyata bukan hanya Narendra, Naura juga merasa malas saat dijemput oleh Nyonya Helen. Alasannya juga sama. Naura tidak mau kalau ia hanya menunggu dan mendengar Nyonya Helen dan teman-temannya asyik, tanpa memikirkan Naura yang sudah ingin pulang.
"Iya. Ya ampun kalian sampai segitunya sama Oma," ucap Nyonya Helen.
"Tuh kan Ma. Makanya jangan macam-macam sama mereka. Ingatannya panjang. Mereka kapok tuh dijemput sama Mama," ucap Tuan Wira sambil menahan tawa.
"Baru juga sekali Pah," ucap Nyonya Helen.
"Tapi membekas di hati mereka," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen nampak cemberut saat merasa tidak ada yang membelanya.
"Lain kali aku saja yang ikut sama Mama. Siapa tahu ada anaknya temen Mama yang bening-bening kan bisa dikenalkan," ucap Rian.
"Benar ya Ri," ucap Nyonya Helen senang.
"Oh, jadi gitu. Mau Papa laporkan sama Mpus?" ancam Tuan Wira.
"Eh, tidak-tidak." Rian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Temannya Oma gak ada yang cantik. Cuma Oma yang paling cantik," ucap Naura.
Rian terbelalak dengan ucapan Naura. Apalagi saat melihat Tuan Wira menahan tawanya.
"Apa?" tanya Rian.
"Yang paling cantik cuma Oma," ucap Tuan Wira sambil menunjuk Nyonya Helen dan tertawa keras.
"Papa," ucap Nyonya Helen sambil menginjak kaki Tuan Wira.
Rian hanya kesal kalau ia yang berusaha menyenangkan hati Nyonya Helen malah dongkol sendiri dengan ulah Tuan Wira. Ia jelas mengerti dengan maksud Tuan Wira. Jika yang paling cantik Nyonya Helen, artinya anak-anak mereka lima puluh persen punya kemungkinan bening.
"Apa sih Ma? Papa kan hanya menekan apa maksud Naura. Mama yang paling cantik. Harusnya Mama berterima kasih sama Papa," ucap Tuan Wira.
"Tapi anak teman Mama juga banyak yang cantik. Malah ada kok yang cantik banget," ucap Nyonya Helen.
"Iya, iya. Ini kenapa Papa yang salah sih. Papa berangkat duluan ah," ucap Tuan Wira setelah selesai sarapan.
Tuan Wira pamit pada yang lain. Namun saat ia pamit pada Rian, ia membuat Rian nampak geram dengan apa yang disampaikannya.
"Kalau .mau dikenalkan harus pakai kacamata ya! Soalnya kata Naura yang paling cantik itu Mama," bisik Tuan Wira.
"Papaaaa," teriak Rian.
"Sudah Ri, sudah. Ayo lanjutkan sarapannya biar Naura sama Rendra tidak kesiangan," ucap Nyonya Helen.
Rian pun kembali melanjutkan sarapannya lalu mengantarkan Naura dan Rendra ke sekolah, sebelum akhirnya ia ke kantor. Saat di jalan menuju kantor, Rian mendapat telepon dari Riri. Wanita yang ia cintai itu mengabarkan kalau dirinya sudah berada di Jerman dengan selamat.
"Padahal masih kangen," ucap Rian.
Manjanya Rian kambuh saat sudah membahas tentang Rindu yang menggebu dalam hatinya. Ia akan menjadi anak kecil saat Riri memanjakannya.
"Nanti ketemu lagi ya Mas. Terima kasih untuk waktunya selama aku di Indonesia," ucap Riri.
"Kapan?" tanya Rian manja.
"Kapan-kapan," jawab Riri sambil tertawa.
"Kuliah yang bener biar cepat selesai. Biar cepat pulang cepat..." Rian menggantungkan ucapannya.
__ADS_1
"Cepat apa?" tanya Riri pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya ia sangat mengerti arah bicara Rian.