Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Dijamin endul


__ADS_3

Acara sore ini berlangsung sedikit kaku. Apalagi Rian yang jelas sangat menjaga sikap. Bahkan sejak mereka bersama dalam satu meja, Rian terlihat selalu menghindar dari Shelin. Riri senang saat Rian selalu memperlakukannya dengan manja. Namun ada rasa tidak nyaman saat Rian selalu berusaha menghindari bersitatap dengan Shelin.


Apa mereka masih ada rasa Ya? Apa jangan-jangan ini modus Shelin hanya untuk bertemu dengan Mas Rian? Apakah yang dikatakan Mama Helen memang benar adanya?


Riri berkali-kali melihat sikap Rian yang terlihat canggung. Untuk mencairkan suasana, ia berusaha untuk memulai pembicaraan. Karena ia tidak terlalu mengenal Shelin, maka Hiro adalah orang yang tepat untuk diajak bercerita.


"Sudah lama tidak bertemu kamu semakin gemuk ya?" ucap Riri sambil tersenyum.


"Iya. Padahal aku masih sering lari pagi. Tapi tumpukan lemak masih betah aja nih," ucap Hiro.


Obrolan demi obrolan mulai nyambung. Suasana pun mulai mencair. Bahkan Riri mencari tahu alasan Shelin untuk bertemu dengannya. Ternyata setelah acara makan itu nyaris usai, Shelin meminta pekerjaan pada Rian untuk Hiro.


"Tanya istriku saja. Dia adalah orang yang menyeleksi siapa saja yang bisa masuk ke kantor," ucap Rian.


Kalimat pertama yang Rian keluarkan untuk Shelin.


Riri menatap Rian saat seolah suaminya itu tidak mau ada penyesalan nantinya. Riri paham betul jika Rian sangat menjaga perasaannya. Padahal sebenarnya ia sama sekali tidak terlibat tentang perusahaan Rian. Namun kali ini ia yang harus menentukan keputusan itu.


"Bagaimana Mba? Aku bisa bawa persyaratannya ke kantor kapanpun Mba minta," ucap Hiro.


"Kenapa kamu memilih perusahaan Mas Rian? Bukankah ayahmu juga memiliki perusahaan?" tanya Riri.


"Ayahku bangkrut setelah kepergian Kak Maudi," jawab Hiro.


"Eh maaf. Aku tidak tahu," ucap Riri.


Riri menatap Hiro yang telihat tengah menunduk. Ia yakin Hiro tengah menyembunyikan kesedihannya. Sejahat apapun Maudi, tapi Hiro sangat menyayanginya. Wajar jika Hiro sangat kehilangan Maudi.


"Tidak apa-apa. Ak justru yang harus minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud menjual kesedihanku. Tentang pekerjaan, aku akan melamar sesuai prosedur yang biasa digunakan di kantor," ucap Hiro.


"Ya sudah. Besok kamu datang ke kantor ya! Aku lihat besok!" ucap Riri.


Meskipun Riri tidak memberikan kepastian untuk menerimanya di kantor itu, tapi Rian yakin jika Riri akan sangat mempertimbangkan permintaannya. Hiro juga akan memberikan apa yang ia mampu agar Riri bisa menerimanya.


Acara makan pun sudah selesai. Rian menggandeng Riri saat mengajaknya pulang. Tangan mungil nan putih itu tidak pernah lepas dari genggaman Rian. Entah karena Rian tidak mau memberi harapan untuk Shelin, atau justru karena Rian tengah merayu agar malam ini bisa mendapatkan haknya lagi.


"Mas, kamu kok tadi kaku banget? Memangnya masih ada rasa ya?" tanya Riri.


"Ya ada lah. Masa aku mati rasa," jawab Rian sambil menggeleng.


"Eh, kebiasaan. Padahal aku kan serius," ucap Riri sambil cemberut.

__ADS_1


"Kalauarah begitu cantiknya kok nambah sih?" goda Rian.


"Oh, jadi Mas mau aku marah terus? Begitu?" tanya Riri sambil memukul Rian pelan.


"Ya coba saja kalau mau. Nanti ukur bibirmu. Sudah nambah berapa senti pas sampai di rumah," ucap Rian sambil tertawa.


"Ihhh, Mas." Lagi-lagi Riri memukul Rian sambil cemberut.


Rian sangat menikmati masa-masa seperti ini. Bisa bermanja dengan wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Kebahagiaannya tiada terkira saat Riri ada di sampingnya.


"Mas, aku mau sate." Riri tiba-tiba menatap ke luar dari kaca mobil.


"Hah?" tanya Rian.


"Sate. Aku mau sate," jawab Riri sambil memperagakannya dengan bantuan bahasa isyarat.


"Ya aku tahu kamu sate. Tapi aku hanya ingin memastikan kalau pendengaranku ini memamg masih normal," ucap Rian.


"Maksudnya? Memangnya kenapa kalau aku mau sate?" tanya Riri.


"Ya tidak apa-apa. Aku yang salah. Kamu mau apapun kita berangkat Pus," jawab Rian.


Rian menggelengkan kepalanya saat melihat Riri yang begitu girang saat Rian mengiyakan keinginannya. Dan Rian terkejut saat Riri berteriak saat melihat pedagang sate pinggir jalan.


"Di sana?" tanya Rian sambil menunjuk gerobak pinggir jalan.


"Memangnya kenapa?" Riri balik bertanya.


Riri bukan orang yang lupa akan masa lalunya. Meskipun Riri kini sudah mempunyai banyak uang, namun ia tidak pernah malu untuk makan di pinggir jalan.


Saat mobil sudah menepi. Riri segera turun dan memesan sate. Banyak sekali. Hal itu membuat Rian mengerutkan dahinya. Awalnya ia pikir sate itu akan ia makan sendiri. Namun Rian begitu terharu melihat kebaikan Riri.


Istrinya membagikan sate itu ke setiap orang yang lewat. Saat ditanya apa apalasannya, Riri menjawab jika ia hanya ingin berbagi. Hari ini ia sudah makan gratis karena ditraktir oleh Hiro. Maka kali ini ia akan melakukan hal yang sama meskipun pada orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali.


"Makan di tempat tadi memang enak. Tapi mahal dan tidak kenyang. Coba Mas lihat itu!" ucap Riri sambil menunjuk orang-orang yang senang saat menerima sate darinya.


Ya, jumlah uang yang tidak seberapa bagi Rian saat ini. Tapi sangat berarti bagi mereka. Ia memeluk Riri yang sudah mengingatkannya untuk selalu bersyukur dan berbagi.


"Terima kasih sudah mengingatkanku sayang," ucap Rian.


"Tugas kita saling mengingatkan," ucap Riri.

__ADS_1


"Ayo pulang cantik!" ucap Rian sambil kembali menggenggam tangan Riri.


Mereka kembali ke rumah. Di sana sudah ada Mia dan kedua anak kembar yang menyambutnya dengan riang. Kedatangan Riri dan Rian tentu disambut pelukan hangat yang membuat mereka saling melepas rindu beberapa saat.


"Yang sudah kencan niyeee," goda Mia.


"Hehe.. Iya nih Kak. Kapan-kapan kita kencan bareng ya!" ajak Riri.


"Boleh, nanti agendakan ya!" ucap Mia.


Riri pikir kedatangan Mia ke sana hanya sekedsr ingin berkumpul saja. Tapi ternyata Mia datang ke sana untuk membicarakan apa yang Riri inginkan.


"Aku sudah menyiapkan tempat dan beberapa toko bahan yang berkualitas," ucap Mia.


"Hah?" tanya Riri.


Riri menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. Ia sama sekali tidak menduga jika Mia akan mewujudkan mimpinya semudah itu. Ternyata saat Nyonya Helen membahas tentang rencana Riri, Mia sangat antusias.


Sebenarnya Mia memang sempat mendengar Riri memiliki keinginan untuk membuka usaha butik. Namun awalnya ia pikir itu hanya sekedar harapan saja. Saat tahu jika Riri benar-benar ingin menekuni bidang itu, Mia tentu merespon baik dan segera bertindak.


Saat Riri dan Rian sudah berada dalam kamar untuk istirahat, Riri menatap Rian dengan mata berbinar. Lagi-lagi ia mengungkapkan kebahagiaannya.


"Tuh kan Mas. Kalau kita berbagi, rejeki kita tambah ngalir. Baru saja tadi kita jajanin sate ke mereka, tapi Alloh kasih kontan. Dibayar tunai. Impian aku bisa terwujud secepatnya Mas," ucap Riri senang.


Rian hanya ikut bahagia. Ia menganggukkan kepalanya. Kehadiran Riri memang benar-benar membawa dampal positif. Sudah sangat lama Rian tidak berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu. Sudah sangat lama Rian hanya sibuk dengan pekerjaannya saja.


Waktunya nyaris tersita hanya untuk kerja dan kerja. Semua yang ia lakukan kadang membuatnya bosan. Tapi saat ada Riri semua berbeda. Riri selalu mempunyai cara yang bisa membuat hari-hari Rian terasa lebih berwarna. Lebih hangat dan berkesan.


"Mas, Mas," ucap Riri sambil melambaikan tangannya di depan wajah Rian yang tengah menatapnya tajam.


Rian terperanjat dan menangkap tangan Riri. Tangan yang mulus itu sudah berhasil menggodanya. Rian sudah meminta haknya untuk malam ini. Tidak ada penolakan dari Riri. Riri hanya memperingatkan Rian agar pelan. Ia tidak mau merasa sakit seperti malam kemarin.


"Tenang saja. Malam ini dijamin endul," bisik Rian.


Malam ini hak Rian terpenuhi dengan baik. Bahkan lebih baik dari hari kemarin. Riri sudah bisa lebih luwes. Tidak sekaku saat pertama kali. Malam ini Rian meminta haknya dua kali. Riri sampai kewalahan menghadapi Rian yang begitu aktif dan bersemangat.


"Pus," ucap Rian sambil mengusap kepalanya.


"Cukup ya Mas. Jangan sampai ada yang ketiga kali. Bisa pingsan ini Mas," ucap Riri sambil menarik selimut.


Rian tertawa saat melihat wajah Riri yang sudah lemas dan tidak berdaya. Ia juga tidak berniat untuk meminta haknya lagi. Dua kali sudah membuatnya lelah malam ini.

__ADS_1


__ADS_2