
Seperti yang Rian duga, semua tugas pagi ini sudah dikerjakan oleh Manto. Sementara Danu sudah menemui tamu yang memang sudah dijanjikan pagi ini. Tanpa Rian beri tahu, mereka sudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan.
"Maaf ya Pak," ucap Rian.
"Tidak masalah Pak. Kami masih bisa mengatasi semuanya dengan baik," jawab Manto.
Rian mengangguk dan tersenyum senang. Sebuah kotak sarapan ia keluarkan dan segera makan, karena perutnya sudah terasa perih. Manto yang melihat Rian makan dengan lahap hanya tersenyum. Hal buruk yang belum bisa Rian hilangkan adalah kesiangan.
"Pak, sarapan?" ucap Rian sambil mengangkat kotak bekal yang tinggal setengah.
"Silahkan Pak. Saya sudah sarapan di rumah," ucap Manto.
Rian iri pada Manto yang ke kantor dan sarapan tidak pernah telat. Manto selalu membanggakan Istrinya. Dari cerita Manto, tips agar semua serba teratur adalah istrinya.
"Aku kapan ya Pak punya istri?" tanya Rian.
"Bapak sudah siap lahir batin. Tinggal meyakinkan calonnya saja," jawab Manto.
"Itu yang sulit," ucap Rian.
"Tidak ada yang sulit selagi kita berusaha," ucap Manto.
"Wanita yang aku inginkan bekerja di luar Indonesia. Aku tidak yakin ia bisa ikut denganku atau tidak," ucap Rian.
"Kan belum dibicarakan Pak. Cari waktu yang tepat untuk bicara. Saat suasananya mendukung, saya rasa akan ketemu titik tengahnya." Manto memberi masukan.
"Aku akan bicara nanti. Tapi kalau ternyata dia tidak bisa ikut denganku?" tanya Rian.
"Semuanya tergantung Bapak. Ada orang yang menginginkan selalu bersama. Ada juga pasangan yang terpaksa tinggal berjauhan karena satu dan dua hal. Tapi mereka sama-sama bahagia asal semuanya sudah sesuai kesepakatan," jawab Manto.
Rian mencerna kata-kata Manto. Ia memcoba mencari jawaban atas kegelisahannya. Apa mungkin ia bisa berjauhan saat mereka sudah menikah nanti? Karena untuk saat ini, Rian masih menuntut Riri untuk dekat dengannya saat keputusan menikah disepakati.
Hal itu yang membuat Rian masih enggan bicara serius soal pernikahan. Ia masih terus membahas konsep pesta yang membahagiakan. Tapi ia sendiri belum siap dengan kenyataan jika Riri tetap bertahan tinggal di Jerman karena alasan perusahaan.
Siang ini Rian mengirim agendanya kepada Riri. Ia menceritakan keterlambatannya datang ke kantor. Apa yang ia dengar dari Manto, ternyata ia dengar kembali dari Riri.
"Makanya cepat-cepat punya istri biar tidak kesiangan," ucap Riri.
Ingin sekali rasanya Rian membahas tentang jarak yang terbentang diantara mereka. Seandainya mereka menikah nanti, apa mungkin Rian bisa lebih baik? Sementara Riri sendiri masih tetap jauh dengannya.
"Iya, sebentar lagi juga punya istri. Lagi nabung dulu. Buat pesta impian calon istri," jawab Rian.
Tidak ingin hubungan yang baru membaik itu jadi buruk, Rian berusaha mencari bahasan yang aman. Saat ini ia masih butuh dan menikmati masa-masa bahagianya karena bisa kembali membaik dengan Riri.
Berdamai dengan waktu saja sudah membuatnya cukup lelah dan hampir menyerah. Ia tidak mau memikirkan dulu tentang berdamai dengan jarak. Itu terlalu membuatnya takut. Takut jika seandainya semua mengecewakan karena ia belum siap dengan kenyataan terpahitnya.
"Mas, nanti kalau sudah menikah aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Aku ingin mengubah semuanya menjadi lebih baik. Kita kerja sama ya Mas," ucap Riri.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, Rian menyadari jika sekarang Riri lah yang sering membahas tentang pernikahan. Sementara Rian sendiri berusaha mengulur bahkan menghindar. Bukan karena tidak mau menikahi Riri, tapi karena kekhawatirannya tentang keputusan Riri setelah menikah.
Saat ini yang Rian persiapkan bukan lagi soal tabungan materi untuk persiapan pesta. Tapi ia tengah mempersiapkan mental jika seandainya ia harus tetap terpisah jarak meskipun sudah menikah.
Hampir setiap hari saat mereka berkomunikasi, yang dibahas selalu tentang pernikahan. Tapi sampai saat ini, belum ada bahasan tentang waktu yang pasti untuk hari bahagia itu. Keduanya masih membahas itu tipis-tipis. Meskipun pada akhirnya Riri selalu mengkode tentang waktu, namun Rian berusaha untuk selalu mengalihkan bahasan itu.
"Oh ya kamu sudah mencoba menghubungi Hiro?" tanya Rian.
Seperti itulah kira-kira saat Rian berusaha mengalihkan Riri yang terus membahas tentang pernikahan.
"Belum. Aku masih sibuk Mas. Coba Mas yang hubungi Hiro ya!" ucap Riri.
Sibuk? Mendengar kata itu tiba-tiba Rian berpikir jauh ke depan. Bagaimana dengan nasib keduanya jika seandainya Riri masih selalu sibuk dengan pekerjaannya. Apakah fokus Riri hanya untuk perusahaan?
"Mas, Mas, halo." Riri mencoba memanggil Rian saat pria itu diam seribu bahasa.
"Eh iya gimana?" tanya Rian yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Mas kenapa sih? Mikirin apa?" tanya Riri.
"Aku masih dan akan selalu mikirin kamu," jawab Rian sambil tertawa.
"Gombalnya sudah kumat ya," ucap Riri.
Meskipun Riri tahu itu hanya sebuah gombalan, tapi hatinya tidak bisa menolak untuk merasa bahagia. Setiap kata dan perlakuan Rian selalu berkesan di mata Riri. Baginya, Rian adalah satu-satunya pria yang diinginkannya.
Acara pengajian sore ini terlihat sangat ramai. Rian hanya ikut mendoakan dari kejauhan. Ia tidak mau kehadirannya hanya akan menjadi pusat perhatian dan bahan ghibah setiap orang yang melihatnya.
Rian putar arah dan pulang. Ia memilih untuk membahas tentang Shelin melalui panggilan teleponnya. Meskipun Rian tidak tahu dari mana ia harus membahas semuanya.
Dua berkas yang Rian bawa dari kantor segera ia simpan dengan baik di kamarnya. Setelah mandi dan lebih segar, Rian mulai membuka laptopnya. Satu berkas ia kerjakan, dan berkas yang lain ia pelajari.
"Ri," panggil Tuan Wira sambil mengetuk pintu kamar Rian.
"Iya Pah," jawab Rian.
Tanpa melihat si pengetuk pintu, Rian sudah bisa memastikan jika orang yang menunggunya di luar kamar adalah Tuan Wira. Suaranya yang khas sudah sangat akrab di telinga Rian.
"Papa sudah pulang?" tanya Rian.
Seperti yang Rian lihat, Tuan Wira sudh ada di hadapannya. Pria itu bahkan masih mengenakan pakaian formal saat mengunjunginya di kamar.
Rian sangat merasakan ketulusan kasih sayang Tuan Wira. Tanpa mengganti pakaiannya, Tuan Wira langsung menemui Rian dan mengajaknya bercerita. Bahkan tidak terkecuali membahas tentang kepergian Maudi.
"Papa tahu juga?" tanya Rian.
"Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Papa jadi takut Ri," jawab Tuan Wira.
__ADS_1
"Papa mengikuti akun lambe gosip ya? Lagi pula Papa takut apa?" tanya Rian.
"Beritanya bahkan sudah sampai ke media cetak. Bukan lagi media sosial. Makanya Papa tahu," jawab Tuan Wira.
Tidak heran jika berita tentang kepergian Maudi sudah dengan cepat menyebar. Hal itu karena perusahaan ayahnya sedang disorot. Belum lagi alasan kepergian Maudi yang membuat geger kalangan para pengusaha.
Meninggal muda karena overdosis itu bukan hal yang wajar. Apalagi saat Maudi adalah anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Ayahnya yang terlalu sibuk dan kurang memperhatikannya, maka ia berusaha mencari teman yang bisa mendengarkan setiap keluh kesahnya selama ini. Sayangnya teman hanya sebatas teman. Kadang mereka tidak ada satu pun saat Maudi membutuhkan mereka.
Bahkan saat Maudi terakhir ada di dunia saja, hanya ada beberapa orang yang melayat ke rumah itu. Selama ini Maudi hanya berteman dengan kesedihan dan kesendirian. Terlebih saat Hiro sudah berubah menjadi lebih membela Rian dan Riri.
Hal itu menjadi salah satu alasan Maudi melampiaskan semuanya pada obat yang bisa menenangkannya. Saat itu pula, ia justru mendapat keterpurukan. Semunya berjalan begitu buruk dan berhasil membuat Maudi semakin tidak baik.
"Terus yang Papa takutkan apa?" tanya Rian.
"Papa takut mereka mengaitkan semuanya dengan kamu," jawab Tuan Wira.
Rian hanya tertawa. Baginya apapun yang terjadi saat ini semua tidak akan menbuat fokusnya berubah. Kali ini Rian hanya fokus pada perusahaan dan Riri. Soal gosip ini dan itu yang beredar tentang dirinya hanya akan ia tertawakan saja.
"Baguslah kalau kamu sudah kuat dengan tajamnya gosip yang selalu mengincar kesalahan kita. Papa yakin kamu bisa menghadapi dan menyelesaikan semua masalah dengan baik," ucap Tuan Wira.
"Terima kasih untuk dukungan dan kepercayannya Pah. Aku janji akan selalu jadi yang terbaik buat Papa," ucap Rian.
"Sudah cukup mengucapkan janji seperti itu. Papa tidak butuh sebuah ucapan. Yang Papa butuhkan hanya bukti atas ucapanmu itu," ucap Tuan Wira.
"Iya Pah. Aku mengerti," ucap Rian.
Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Nyonya Helen sudah berdiri di depan kamar Rian. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat keduanya asyik bercerita.
"Astaga Papa. Bisa-bisanya Papa sudah pulang dari tadi tapi Mama baru tahu sekarang,"ucap Nyonya Helen.
Tuan Wira segera pamit dan pergi ke kamarnya. Ia tidak mau melihat Nyonya Helen terus menceramahinya hanya karena ia menemui Rian dulu sebelum menemui istrinya.
"Papa ke kamar dulu ya. Nanti kita lanjut lagi," ucap Tuan Wira.
Padahal Rian sudah berniat untuk membahas kegelisahannya tentang Riri dan pernikahannya. Namun Tuan Wira harus segera kembali ke kamarnya.
"Siap Pah," jawab Rian.
Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Rian berusaha melanjutkan kembali pekerjaannya. Meskipun beberapa waktu sempat terganggu, namun Rian masih dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya.
Sebuah ponsel di atas mejanya menunjukkan nama Riri. Dengan senyum lebar ia segera menjawab panggilan itu. Rian menyimpan file yang sudah ia kerjakan sebagian lalu memingglakan layar komputer yang membuat matanya terasa perih.
Rian kembali melepas Rindu dengan Riri. Keduanya tidak hanya melakukan panggilan suara, beberapa kali mereka sering melakukan panggilan video saat waktunya sedang memungkinkan.
"Mas, gimana sudah mencoba menghubungi Hiro?" tanya Maudi.
Rian kesal saat hal pertama yang Riri bahas adalah Hiro. Seharusnya nama itu tidak perlu dibahas saat sedang bicara begini. Namun Rian tidak berhak marah karena itu hanya akan membuatnya kembali bertengkar dengan Riri.
__ADS_1