Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Rahasia aman


__ADS_3

Riri masih berusaha meminta penjelasan Rian dengan maksud ucapannya. Namun Rian mencoba menghindar. Ia menyesal sudah menyebut nama Rey.


"Mas, jawab dong. Mas kenapa bilang seperti itu. Memangnya ada apa dengan Mas Rey?" tanya Riri.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya memberi tahu kamu kalau Rey ada di kelas," jawab Rian.


"Untuk apa?" tanya Riri dengan mengerutkan dahinya.


Rian tahu jika Riri tahu apa maksudnya. Namun ia tidak mau jika Riri merasa tidak nyaman dengan kedekatan Riri dan Rey. Apa haknya? Memang ia tidak berhak untuk mengatur Riri, namun ia tidak bisa membohongi perasaannya.


Dering ponsel Mia berhasil menyelamatkan Rian dari pertanyaan Riri tentang rasa cemburunya. Ia segera menjauh dari Riri untuk menjawab panggilan dari Mia.


"Kamu kok lama jawab teleponnya?" tanya Mia.


"Iya maaf Kak. Aku sedang di perpustakaan tadi," jawab Rian.


"Oh maaf. Ya sudah kamu lanjutkan saja ya," ucap Mia.


"Ah tidak-tidak. Aku sudah diluar. Ada apa Kak?" tanya Rian.


"Aku hanya memberi tahumu jika besok aku dan A Dion mau ke Jerman. Apa kamu ada jadwal kuliah besok?" tanya Mia.


"Kakak serius? Besok aku libur. Jangan lupa bawa keponakan kembarku ya!" ucap Rian.


"Mereka mau ikut. Tapi aku tidak lama di sana. Kasihan kalau harus bolak balik," ucap Mia.


"Jadi mereka tidak diajak?" tanya Rian.


"Lain kali saja," ucap Mia.


"Yaaah, padahal aku kangen sama mereka." Rian terdengar sedih.


"Jadi sama aku tidak kangen?" tanya Mia.


"Ya bukannya begitu Kak. Tapi aku rindu kelucuan mereka," ucap Rian.


"Aku juga tidak kalah lucu kok," ucap Mia.


"Haha, iya, iya. Oh ya Papa sudah tahu?" tanya Rian.


"No. Jangan sampai Papa tahu. Besok aku mau buat kejutan untuk Papa," ucap Mia.


"Siap Kak. Tapi dalam rangka apa nih?" tanya Rian.


"Sebenarnya aku ke sana untuk urusan bisnis. Tapi aku juga ingin sekalian merayakan hari ulang tahun Papa," jawab Mia.


"Ulang tahun?" tanya Rian.


"Ah iya ulang tahunnya memang masih bulan depan. Tapi aku tidak yakin jika bulan depan bisa ke Jerman lagi. Makanya sekalian saja," jawab Mia.


"Pengiritan sekali," ucap Rian.

__ADS_1


"Enak saja. Bukan pengiritan. Aku sibuk ya! Nanti juga kamu kalau sudah kerja bisa tahu rasanya jadi aku," ucap Mia.


"Hahah, iya. Jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua," goda Rian.


Setelah saling ejek satu sama lain akhirnya panggilan itu berakhir. Telepon Mia saat itu bisa mengalihkan perasaan kecewanya dari Riri.


Tanpa Rian sadari ada wanita yang cemburu menyaksikan kebahagiaan Rian. Ya, cemburu. Karena selama ini, Riri sama sekali tidak pernah menghubungi keluarganya.


"Pus," ucap Rian saat membalikkan badannya dan mendapati Riri tidak jauh darinya.


"Mas," ucap Riri sambil tersenyum lebar.


"Kamu kenapa?" tanya Rian.


"Tidak. Aku hanya iri pada kehidupan Mas yang begitu sempurna," ucap Riri.


"Kamu salah. Aku hanya beruntung saja. Kehidupanku sebemarnya sangat menderita, namun aku bertemu dengan orang-orang yang tepat," ucap Rian.


"Berarti aku berada di keluarga yang tidak tepat ya Mas?" tanya Riri sambil mengusap sudut matanya.


"Kamu kenapa jadi nangis begitu?" tanya Rian panik


"Aku hanya rindu pada kehidupanku yang dulu," jawab Riri.


"Kamu yang menjauh dari mereka," ucap Rian.


"Aku belum bisa menerima kenyataan ini Mas," ucap Riri.


"Aku kan pernah cerita kalau ini bukan hanya soal cemburu dan move on. Tapi kenapa aku diperlakukan seperti anak tiri?" tanya Riri.


"Kamu jangan begitu dong. Mereka sayang padamu. Yakinlah suatu saat kamu akan mengenalkan pria yang paling tepat pada orang tuamu. Kamu harus yakin kalau mereka juga akan merindukanmu," jawab Rian.


"Mas tidak usah berushaa membahagiakan aku. Aku sudah tidak berharap semua mimpi itu menjadi sebuah kenyataan," ucap Riri.


"Kamu jangan salah. Semua berawal dari mimpi. Kita tidak tahu bagaimana cara Tuhan mewujudkan semua mimpi kita," ucap Rian.


Untuk menghibur Riri, Rian pun bercerita tentang kehidupannya. Bagaimana ia yang seorang diri bermimpi untuk hidup bahagia dan bisa kuliah serta mewujudkan cita-citanya menjadi seorang arsitek.


Riri bahkan membuka matanya dengan sangat lebar dan menutup mulutnya saat mengetahui semua cerita Rian.


"Jadi Papa Felix bukan ayah kandung, Mas?" tanya Riri.


"Husssst! Jangan keras-keras. Aku tidak mau ada yang tahu tentang semua ini," ucap Rian.


"Kenapa? Mas malu?" tanya Riri.


Rian menggeleng.


"Bukan Pus. Aku hanya tidak mau Papa kecewa. Karena selama ini Papa selalu mengakuiku sebagai anak kandungnya," ucap Rian.


"Mas beruntung sekali," ucap Riri.

__ADS_1


Rian pun kembali menceritakan kisah hidupnya sebelum ia tinggal di Jerman. Bagaimana ia hidup dalam keluarga Nyonya Helen yang begitu baik padanya.


"Aku hanya beruntung bisa bertemu dengan orang-orang yang tepat," ucap Rian kembali.


Rian tidak pernah berhenti mengucapkan rasa syukurnya karena keberuntungannya. Dan semua cerita Rian semakin membuat Riri iri.


"Mas, beruntung sekali." Entah ke berapa kalinya kalimat itu Riri ucapkan selama Rian bercerita.


"Tapi aku tidak bisa sekuat kamu, Pus. Aku masih selalu menggantungkan hidupku pada Papa.dan Kak Mia," ucap Rian.


"Aku kalau jadi Mas juga akan seperti itu. Aku yang kuat bukan karena hebat, tapi karena memang keadaan yang memaksaku untuk kuat. Kalau tidak, siapa yang akan membelaku?" tanya Riri.


"Kamu bisa aja, Pus. Oh ya besok Kak Mia dan suaminya mau ke sini. Sekalian ada acara kantor, mereka mau merayakan ulang tahun Papa yang masih sebulan lagi. Kamu ikut ya!" ajak Rian.


"Hah? Ikut?" tanya Riri terkejut.


"Kenapa? Tidak mau? Sudah ada janji?" tanya Rian.


"Tidak-tidak. Tapi besok aku ada jadwal Mas. Lagi pula aku malu kalau ikut ke acara Mas. Aku kan tidak kenal sama Kak Mia," jawab Riri.


"Besok aku jemput setelah kamu selesai kuliah. Kalau perlu nanti aku izin sama Mr. Aric. Besok kamu aku kenalkan sama Kak Mia dan suaminya. Mereka baik dan humble banget," ucap Rian.


"Tapi aku malu," jawab Riri.


"Biasnya juga bikin malu," ucap Rian.


"Enak saja," ucap Riri sambil memukul tangan Rian sambil tertawa.


Rian senang saat melihat Riri kembali tersenyum lebar. Ia tidak menyangka jika hari ini cerita tentang jalan hidupnya diketahui oelh Riri. Dia orang pertama dan akan menjadi satu-satunya yang mengetahui semua kisah ini.


"Pus, jaga rahasia ini ya! Aku tidak malu. Aku hanya takut jika Papa kecewa saja," ucap Rian.


"Iya Mas, tenang saja. Rahasia aman kok," ucap Riri.


Rian kembali ke kelasnya saat waktu sudah menunjukkan jam kedua di kelasnya. Rey hanya bisa tersenyum saat melihat Rian kembali ke kelas dengan keadaan yang berbeda.


Rian yang baik-baik saja sudah kembali. Ia sama sekali tidak melihat kesedihan di wajah Rian.


Jadi Riri yang membuat semuanya berubah, Ri?Aku tidak akan merebut Riri darimu. Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku seperti saat itu.


Mengingat masa lalunya, Rey tiba-tiba teringat sosok Maudi. Ia yang sudah hilang kabar dengan Maudi tidak tahu kasus yang menima Maudi. Bahkan cerita tentang keluarnya Maudi dari kampus itu saja belum sampai di telinganya.


Setelah selesai kuliah, Rey tidak lagi mempedulikan Rian. Kini ia yang lebih dulu keluar kelas. Sementara Rian sudah panik saat melihat Rey keluar dengan terburu-buru.


"Dia pasti mau menemui Mpus. Kenapa aku tidak bisa mencegahnya sih?" gerutu Rian.


Tanpa seepengetahun Rey, Rian membuntutinya. Tangannya mengepal kuat saat melihat Rey benar-benar menemui Riri.


Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Mpus, Rey. Aku tidak bisa melihat kalian bahagia begitu. Aku tidak bisa.


Rian dikagetkan dengan suara klakson yang berbunyi keras. Ia tidak sadar jika keberadaannya menghalangi jalanan.

__ADS_1


"Mas Rian," panggil Riri sambil melambaikan tangan pada Rian.


__ADS_2