
Rian senang saat mendapat banyak dukungan atas hubungannya dengan Riri. Tapi ia tidak bisa dengan mudah mengenalkan Riri. Untuk bertemu saja ia tidak tahu kapan waktunya. Hanya menunggu dan tidak ada kepastian.
Malam ini Rian tidur hingga larut. Ada beberapa pekerjaan yang ia bawa ke rumah. Jaga-jaga kalau besok ia akan keluar kantor untuk menemui Riri.
"Aku sangat merindukanmu," gumam Rian sambil mengusap layar laptopnya yang terpampang foto Riri.
Tepat setelah itu, ponsel Rian berdering. Wanita yang tengah ia rindukan ternyata menghubunginya. Berita bahagia ia dengar dari Riri. Besok mereka bisa bertemu dengan santai. Mr. Aric akan mengunjungi sebuah perusahaan dan Riri diperbolehkan menunggunya di luar.
"Tapi jangan jauh-jauh ya Mas. Di sekitar kantor itu saja," ucap Riri.
"Kenapa? Aku tidak akan menculikmu. Tenang saja," ucap Rian.
"Bukannya begitu Mas. Aku hanya takut kalau nanti Mr. Aric selesai, tapi aku tidak di sana. Pasti kacau," ucap Riri.
"Memangnya dia tidak memberi tahumu berapa lama di kantor itu?" tanya Rian.
"Katanya cukup lama. Tapi kan kata cukup itu tidak bisa diartikan," jawab Riri.
Rian mengerti. Sebagai orang yang bekerja, Riri tidak ingin mengecewakan Mr. Aric. Bagaimanapun Mr. Aric sudah sangat membantunya dalam menjalani hidup ini. Kini kehidupannya jauh lebih berarti. Ada harapan dan tujuan.
"Ya sudah, nanti kamu kirim alamat kantornya ya! Kita bertemu di sekitar kantor itu saja," ucap Rian.
Riri senang saat Rian mengerti keadaannya. Setelah panggilan berakhri Riri segera mengirimkan alamat kantor itu. Malam ini Riri dan Rian tidur nyenyak. Hatinya sudah tidak sabar menunggu hari besok. Mereka ingin segera memecahkan celengan rindu yang sudah sangat penuh itu.
Pagi hari Rian bangun sebelum alarmnya berdering. Dengan cepat ia bangun dan bersiap. Pertemuan itu memang tidak terlalu pagi. Tapi ia harus mempersiapkan semuanya dari pagi.
"Ini sudah, ini juga. Apa lagi ya?" ucap Rian sambil menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke kantor.
Mereka betemu sekitar jam sepuluh. Jadi pagi ini Rian ke kantor dulu untuk menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia kerjakan tadi malam. Sekalian ia meminta Manto untuk menghandle kantor selama ia sedang keluar untuk menemui Riri.
Rian keluar dengan wajah yang ceria. Ia segera bergabung dengan anggota keluarga yang lain untuk sarapan. Nampak Naura yang tersenyum lebar menyambut kedatangan Rian. Rian mengusap kepala Naura dengan lembut lalu duduk di sampingnya.
"Om hari ini antar Naura tidak?" tanya Naura.
"Iya," jawab Rian.
"Pulangnya?" tanya Naura.
"Sama sopir dulu ya!" jawab Rian.
"Iya. Tapi kalau om tidak sibuk, kapan-kapan jemput Naura ya!" pinta Naura manja.
Sepertinya Naura mulai mengerti dengan keadaan Rian. Tapi kalau saja Naura tahu Rian tidak sibuk dengan pekerjaannya siang ini, mungkin akan lain ceritanya. Naura yang posesif terhadap Rian selalu cemburu jika ada yang diprioritaskan oleh Rian.
"Ayo om! Naura ada ulangan jam pertama. Takut terlambat," ajak Naura.
Rian segera meneguk air yang tersisa di gelasnya. Lalu ia segera pamit dan berangkat lebih dulu. Tangannya menggenggam tangan Naura dan Narendra. Dari belakang, Rian tampak seperti seorang ayah yang siap mengantar kedua anaknya ke sekolah.
Akhir-akhir ini, Naura dan Narendra memang terlihat lebih dekat dengan Rian dibanding dengan Dion. Rian datang tepat di saat sosok Dion sulit Naura temui. Kehadiran Rian di rumah mereka, membuat mereka merasa diperhatikan.
Ketika Rian mulai sibuk dengan pekerjaan dan nyaris tidak punya waktu untuk mereka, disaat itu pula mereka kehilangan sosok yang dekat dengan mereka untuk kedua kalinya. Mungkin itu adalah alasan Naura marah pada Rian.
"Om, apakah jadi orang dewasa itu cape?" tanya Naura.
"Tidak. Memangnya kenapa?" Rian balik bertanya.
"Tapi aku melihat semua orang dewasa itu sibuk. Sepertinya tidak ada waktu untuk bermain," jawab Naura.
Rian tersenyum. Ia menjelaskan kepada Naura tentang perbedaan kehidupan anak-anak dengan dewasa. Naura mengangguk-anggukkan kepalanya. Rian sendiri tidak yakin kalau Naura benar-benar paham. Yang pasti ia sudah mencoba memberi pengertian pada mereka.
__ADS_1
"Naura tidak mau jadi dewasa ah Om. Naura mau jadi anak sekolah saja," ucap Naura.
"Kalau aku sih mau cepat dewasa," tambah Narendra.
"Kenapa?" tanya Rian dan Naura hampir bersamaan.
"Mau seperti om. Pakai baju keren dan menyetir mobil. Bisa pergi kemana saja yang kita mau," jawab Narendra dengan polosnya.
Rupanya selama ini Narendra merasa terkurung dan lelah dengan kebiasaan mereka yang begitu-begitu saja. Rian semakin menyadari perbedaan diantara Naura dan Narendra. Naura yang terkesan lebih kekanak-kanakkan dan bawel sedangkan Narendra yang lebih pendiam.
"Hati-hati ya! Sekolah yang bener. Biar jadi orang sukses," ucap Rian saat mobil sudah terparkir di depan kelas.
"Siap Om," ucap Naura.
Naura dan Narendra bergantian mencium tangan Rian lalu melambaikan tangan dan pergi menjauh. Setelah mereka berdua sudah tidak terlihat lagi, Rian pergi.
Mata Rian tertuju pada layar ponselnya. Tidak ada kabar apapun dari Riri. Lagi pula jam yang mereka sepakati juga masih lama. Tapi entah mengapa Rian berharap Riri mengajaknya bertemu saat itu juga.
"Waktu mendadak terasa lama," ucap Rian.
Mobil sudah sampai di depan kantornya. Ia masuk dengan terburu-buru, sampai tidak sengaja menabrak Manto.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Manto.
"Tidak. Maaf tadi saya terburu-buru," jawab Rian.
"Memangnya Bapak mau kemana?" tanya Manto.
"Mau ke ruangan," jawab Rian.
Belum sempat Manto bertanya lagi, Rian sudah pergi. Manto melihat pergelangan tangannya yang sawo matang. Jam tangan yang tidak terlalu mahal itu tidak menunjukkan kalau Rian terlambat. Tapi kenapa Rian terburu-buru seperti itu?
"Pak Rian kemana ya?" tanya Manto.
"Saya di sini Pak," jawab Rian.
"Pak Rian?" tanya Manto.
Manto segera memburu Rian yang terlihat duduk terkulai lemas di belakang kursinya.
"Pak Rian sakit perut?" tanya Manto.
Tebakan Manto karena tangan Rian melingkar di perutnya. Wajahnya pucat dan membuat Manto sangat khawatir.
"Iya nih Pak. Aduh," ucap Rian sambil mengelap dahinya yang mulai basah dengan keringat.
"Mari saya antar ke rumah sakit," ucap Manto.
"Tidak perlu Pak. Saya istirahat di sini saja," ucap Rian.
"Pak, ini harus diobati. Ayo biar saya antar," ucap Manto.
Rian berkali-kali menolak. Namun Manto terus berusaha membujuk Rian agar mau berobat. Akhirnya Rian mengalah dan mengikuti Manto untuk pergi ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, Rian tampak gelisah. Manto berusaha menenangkan Rian. Padahal Manto tidak tahu kalau Rian tidak hanya gelisah karena perutnya yang sakit, tapi gelisah karena khawatir kalau Riri sudah sampai di perusahaan itu.
"Sabar ya Pak. Sebentar lagi juga sampai," ucap Manto.
Rian hanya mengangguk. Ia masih memegang perutnya yang sakit. Saat sudah sampai, Rian segera dibawa dan ditindak.
__ADS_1
"Bagaimana Dok?" tanya Manto.
"Pak Rian mengalami diare. Sepertinya sudah makan makanan tidak sehat," jawab dokter.
"Iya Pak. Saya memang tidak menjaga makanan. Saya pikir saya tidak masalah dengan makanan-makanan yang saya konsumsi," ucap Rian.
Beberapa obat sudah diberikan kepada Rian. Manto mengantar Rian ke rumah. Namun diperjalanan Riri mengabarinya bahwa ia sudah sampai di perusahaan itu.
"Pak, saya tidak langsung pulang. Ke alamat ini saja ya!" ucap Rian menunjukkan sebuah alamat kepada Manto.
"Tapi kata dokter Anda harus beristirahat," ucap Manto.
"Saya sudah minum obat. Kuatlah kalau hanya sebentar. Nanti saya bisa pulang sendiri," ucap Rian.
Sempat berdebat namun pada akhirnya Manto mengalah saat Rian menceritakan tentang kedatangan Riri. Bahkan ia menawarkan diri untuk tetap di sana agar berjaga. Khawatir kalau Rian kenapa-kenapa.
"Tidak perlu Pak. Saya baik-baik saja," ucap Rian.
"Anda yakin?" tanya Manto.
"Iya," jawab Rian.
Akhirnya Manto meninggalkan Rian di alamat yang sudah ditunjukkan itu. Ia segera pergi meninggalkan Rian untuk bertemu dengan Riri. Ia ikut bahagia saat Rian bahagia.
Rian yang sudah berdiri di depan gedung mencoba menghubungi Riri namun panggilannya diabaikan. Ia mencoba menghubunginya lagi namun yang menjawab panggilannya itu bukan Riri.
"Halo sayang," ucap seorang wanita dari balik sambungan telepon.
"Siapa ini?" tanya Rian bingung.
"Rupanya kamu masih bertahan dengan wanita ini? Si pembantu ini?" tanya wanita itu lagi.
"Kembalikan ponselku Mba," ucap Riri.
"Hey, siapa kamu?" tanya Rian lagi.
Tidak ada jawaban. Rian hanya mendengar dua wanita tengah bertengkar memperebutkan ponsel. Lama-lama ia semakin mengenali suara itu.
"Maudi," ucap Rian pelan.
Rian segera masuk dan mencari keberadaan Riri. Saat ini Riri pasti sangat membutuhkan bantuannya. Napasnya terengah-engah menahan amarahnya.
"Maudi, lepaskan calon istriku!" teriak Rian.
Maudi yang tengah memegang tangan Riri segera melepaskannya. Matanya menatap Rian dengan tajam penuh kemarahan. Ia kesal saat melihat Rian begitu membela Riri.
"Kamu tidak malu menyebutnya calon istri? Kamu ini adalah seorang pemilik perusahaan. Sedangkan dia? Kamu tidak tahu siapa yang disebut calon istri ini? Dia hanya seorang pembantu," hina Maudi.
"Ya, dia mungkin hanya seorang pembantu hari ini. Tapi setelah menikah denganku, dia akan menjadi istri dari seorang pemilik perusahaan. Dia akan menjadi Nyonya Rian," ucap Rian sambil menarik tangan Riri.
Air mata mulai menetes di pipi Riri. Antara sedih dengan hinaan Maudi atau justru bangga dengan pengakuan Rian. Atau mungkin karena ia takut apa yang akan terjadi dengannya setelah Maudi mengadu? Entahlah, yang pasti air mata itu sulit sekali Riri kendalikan.
"Kalian benar-benar menyebalkan," ucap Maudi sambil berlari ke dalam perusahaan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rian.
Riri tidak menjawab. Ia hanya menggeleng.
"Jangan menangis. Ada aku di sini," ucap Rian sambil mengusap air mata di pipi Riri.
__ADS_1