
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Tuan Felix. Ia harus mengeluarakan dana simpanan untuk masa depan Rian. Keyakinannya terbentuk atas setiap kalimat yang Rian ucapkan padanya.
"Papa tahu ini adalah keputusan yang paling tepat. Meskipun Papa tidak yakin apapun hasilnya nanti, tapi seperti katamu Ri. Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap Tuan Felix.
"Kita harus siap dengan segala resikonya Pah. Aku yakin kita bisa. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku yakin bisa," ucap Rian.
Tuan Felix mengangguk. Hari ini Rian masuk siang hingga pagi ini, ia ikut terlibat langsung bagaimana uang yang Tuan Felix simpan untuknya digunakan untuk perusahaan.
"Ri," ucap Tuan Felix ragu.
"Kita harus yakin," ucap Rian.
"Iya," ucap Tuan Felix.
Sampai siang itu, Rian menemani bahkan membantu pengarahan dan pelaporan uang itu. Bahkan Rian ke kampus sedikit terlambat karena harus membereskan data itu sampai tuntas.
"Ri, kok kamu terlambat?" tanya Rey sambil berbisik.
"Nanti aku cerita ya!" bisik Rian.
Rian tidak ingin melewatkan perkuliahan saat itu. Ia tahu bagaimana sibuk pekerjaannya. Ia lelah. Namun saat sudah sampai ke kelas, kewajibannya hanya belajar.
"Nih tugasmu!" Rey memberikan tugas yang harus dikumpulkan hari ini.
Rian memegang kepalanya. Ia bahkan melupakan tugas itu, sementara Rey sudah membuatkan semua itu untuknya.
"Terima kasih Rey," ucap Rian dengan penuh haru.
"Tidak perlu lebay. Santai saja," ucap Rey.
Rian ingin sekali memeluk Rey. Mengucapkan terima kasih karena perlakuan Rey padanya. Ia tidak menyangka jika mereka akan kembali sedekat ini. Setelah ketegangan karena Maudi, akhirnya Riri bisa membuat mereka kembali seperti dulu.
Setelah pelajaran usai, Rian segera menggeser kursinya agar mendekat pada Rey.
"Rey," ucap Rian.
"Kalau mau terima kasih sama Riri saja. Dia yang mohon-mohon biar bantuin kamu. Padahal aku sudah ngantuk," ucap Rey.
"Jadi kamu tidak ikhlas? Terpaksa?" tanya Rian.
"Tidak. Hanya saja kalau kita mau itungan, Riri jauh lebih peduli sama kuliahmu. Dia memantau tugas-tugas apa yang harus dikerjakan. Bahkan dia kemarin ke rumah," jawab Rey.
"Ke rumah?" tanya Rian terkejut.
"Kamu tidak cemburu kan, Ri?" tanya Rey.
"Ti-tidak," jawab Rian gugup.
Rey hanya menahan tawanya. Bagaimana mungkin mulutnya mengatakan tidak. Jelas sekali raut wajahnya berubah. Ketidaksukaan Rian dengan kedatangan Riri ke rumah Rey, segera dijelaskan oleh Rey. Ia tidak mau Rian salah paham dengan kejadian itu.
"Dia ke rumah hanya untuk belajar tentang tugas kita hari ini. Riri yang bukan jurusan arsitek, mati-matian belajar buat ngerjain tugas kamu. Aku sih bukan hanya tepuk tangan. Sampai tepuk kaki," ucap Rey.
"Hah?" tanya Rian tidak percaya.
__ADS_1
"Aku bingung, kenapa kalian tidak saling jujur tentang perasaan kalian sih?" tanya Rey.
"Aku dan Mpus hanya berteman," jawab Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jelas terlihat salah tingkah. Rey sudah tahu betapa besar rasa cinta Rian pada Riri. Namun bukan hanya Rian, Rey juga ragu pada Riri. Gadis yang dingin dan penuh teka teki itu sulit sekali ditebak.
Di satu sisi, ia memang selalu menganggap Rian dan Rey teman. Namun di sisi lain, Rey tidak percaya jika rasa peduli Riri terhadap Rian hanya sebagai seorang sahabat.
"Aku tidak percaya jika seorang teman bisa begitu peduli dan berkorban banyak hal untuk sahabatnya. Apalagi aku dengar, tidak ada laki-laki dan perempuan yang benar-benar bisa berteman seutuhnya," ucap Rey.
"Artinya ada kemungkinan kamu juga akan mencintai Riri?" selidik Rian.
"Jika seandainya Riri mau, aku siap maju. Kamu hanya menganggapnya sebagai teman, kan?" tanya Rey.
"Ya sudah, kenapa tidak diungkapkan sekarang saja?" tanya Rian.
Rian memundurkan kursinya. Membuat ia lebih jauh dari Rey. Namun Rey hanya tersenyum dan menepuk bahu Rian.
"Makanya maju," ucap Rey sambil menepuk bahu Rian.
Rian hanya bisa menatap Rey yang keluar dari kelas setelah menantangnya. Ia diam, mencerna kalimat yang Rey ucapkan. Maju? Haruskah? Bisakah? Ia tidak yakin. Selain ia tidak bisa memastikan perasaan Riri, ia juga sedang fokus dengan perusahaan ayahnya. Belum lagi ia harus membagi waktu dengan jadwal kuliahnya.
"Pus," panggil Rian saat melihat Riri di kantin.
"Eh, Mas Rian. Ayo makan!" ajak Riri.
"Iya," jawab Rian.
Rian duduk di hadapan Riri. Memesan makanan yang sama dengan makanan yang dipesan oleh Riri. Saat ia akan memakan makananannya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Matanya melirik ke arah layar ponselnya yang disimpan di sebelah piringnya.
Dahi Rian mengernyit saat melihat nama si pengirim pesan. Ya, Rey. Rian membuka pesan itu buru-buru. Ia panik karena takut jika sudah ada dosen yang masuk. Namun setelah membaca pesan dari Rey, Rian celingukan mencari keberadaan Rey.
"Kenapa Mas? Cari siapa?" tanya Riri yang ikut melihat ke kiri ke kanan mencari orang yang tidak tahu siapa orang itu.
"Tidak, tidak." Rian menggeleng saat melihat Rey ternyata ada di pojok ruangan.
Bagaimana Rian tidak salah tingkah. Sahabatnya itu mengirim sebuah pesan yang membuatnya semakin bingung saat berada di hadapan Riri.
"Mas, kenapa sih?" tanya Riri.
"Tidak. Ayo makan lagi," ucap Rian.
Riri mengangguk dan melanjutkan makan. Beberapa kali Rian mencuri pandang pada wanita di hadapannya. Cantik namun begitu cuek.
Aku heran sama kamu, Pus. Apakah kamu benar-benar tidak punya perasaan untukku? Kenapa kamu begitu cuek? Padahal kamu selalu peduli dengan semua tugas-tugasku. Apakah semua perhatian dan kepedulianmu benar-benar hanya sebatas teman saja?
"Mas, kok tidak dimakan?" tanya Riri saat menangkap pandangan Rian tajam padanya.
"Eh iya. Ini aku makan lagi," jawab Rian.
Tidak seperti Rian yang nampak begitu gugup, Riri terlihat sangat santai. Tidak sedikitpun menunjukkan adanya kegugupan atau salah tingkah.
"Mas, bagaimana kabar perusahaan?" tanya Riri.
__ADS_1
Ah, mengingat pertanyaan Riri tiba-tiba ia ingat pertanyaan yang sama dengan Rey. Rian melambaikan tangannya pada Rey. Rey celingukan dan akhirnya menghampiri Rian dan Riri.
"Mas Rey juga ada di sini?" tanya Riri.
"Baru saja sampai," jawab Rey.
"Baru sampai kok sudah habis makanannya?" tanya Riri.
Rey bingung mencari jawaban yang tepat. Namun Rian hanya bisa menahan tawanya saat mendengar pertanyaan Riri. Apalagi melihat Rey yang tampak kebingungan.
"Oh ya ada apa kamu memanggilku?" tanya Rey yang mencoba mengalihkan pertanyaan Riri.
Rian kembali ke pertanyaan Riri. Ia pun menceritakan apa yang terjadi dengan perusahaannya. Ia juga meminta doa agar perusahaannya sudah kembali pulih.
"Sebagai sahabat, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Semangat terus ya Ri," ucap Rey. "Kamu sebagai apa?" lanjut Rey pada Riri.
"Aku?" tanya Riri sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu sebagai apa?" tanya Rey.
"Apa sih Rey," ucap Rian.
"Mas Rey itu kebiasaan deh. Aku ya sama seperti Mas. Kita bertiga kan teman," ucap Riri.
Rian menunduk. Ia sedih saat mendengar jawaban Riri. Sahabat? Selalu saja seperti itu. Rey segera mengajak Rian untuk kembali ke kelas. Ia menyesal karena sudah menggiring Riri membahas hal itu.
"Ya sudah aku juga ke kelas ya Mas," ucap Riri.
Mereka berpisah. Rey sibuk meminta maaf jika Rian benar-benar tidak nyaman dengan jawaban Riri.
"Sudahlah Rey. Jangan dibesar-besarkan begitu. Kamu sudah dengarkan jawaban Mpus seperti apa? Kita hanya berteman," ucap Rian.
Rey menutup mulutnya. Ia tidak mau jika Rian semakin kepikiran dengan jawaban Riri. Bahkan setelah dosen masuk ke kelas, Rey berkali-kali melihat Rian. Ia tidak nyaman dengan kejadian tadi. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Pulang duluan ya!" ucap Rian saat pembelajaran usai.
"Ri, tunggu sebentar!" ucap Rey.
"Ada apa?" tanya Rian.
"Besok kita libur. Kamu ke kantor atau tidak?" tanya Rey.
"Iya. Kenapa?" tanya Rian balik.
Meskipun kantor juga seharusnya libur, tapi Rian akan ke kantor. Ia akan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menumpuk
"Aku besok ke kantor. Boleh, kan?" tanya Rey.
"Buat apa?" tanya Rian.
"Ya, belajar. Aku ingin belajar banyak hal di sana. Kamu tidak keberatan, kan?" Mata Rey menatap wajah Rian untuk melihat ekspresinya.
"Boleh," jawab Rian dengan wajah bingung dan penuh tanya.
__ADS_1
Sebenarnya Rian ingin bicara banyak hal. Bertanya tentang alasan Rey yang ingin ke kantor ayahnyan. Sayangnya, Rian tidak bisa mengobrol terlalu lama. Ia tidak mau jika Tuan Felix menunggunya di rumah. Untuk saat ini, Rian benar-benar menghindari Tuan Felix dalam keadaan sendiri. Ia hanya akan meninggalkan Tuan Felix jika sedang ada waktu kuliah saja.