Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Papa kemana?


__ADS_3

"Untuk apa kamu ke sini? Senang melihatku begini?" tanya Nyonya Nathalie yang tiba-tiba masuk ke rumah Sindi.


"Mi," ucap Danu menahan Nyonya Nathalie.


"Kenapa kamu membiarkan orang itu masuk ke sini? Biar dia membeberkan keadaan kita ke semua orang? Bagitu?" tanya Nyonya Nathalie sambil menunjuk Nyonya Helen.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu egois. Hidup itu berputar. Hal seperti ini sudah biasa. Jangan kamu bebani anak dan cucumu seperti ini," ucap Nyonya Helen.


"Tidak usah menceramahiku. Aku tidak butuh bantuanmu," ucap Nyonya Nathalie.


Tidak ingin masalah semakin berlarut, Danu meminta ibunya untuk pulang. Namun justru jadi salah paham. Nyonya Nathalie menganggap Danu mengusirnya. Tentu hal ini membuat Nyonya Nathalie semakin marah dan kesal pada Danu.


Hal ini sebenarnya bermula dari Danu yang tidak mengikuti kemauan Nyonya Nathalie agar menyewa apartemen di kawasan elit. Danu berpikir ulang untuk menghamburkan uangnya yang pas-pasan. Berbeda dengan Nyonya Nathalie yang tidak mau tahu soal keuangan mereka yang sudah tidak stabil.


Jauh di hati Danu, ia sangat menyayangi Nyonya Nathalie. Meskipun sebenarnya semua masalah ini terjadi karena ulah ibunya sendiri. Nyonya Nathalie yang membuat keuangan keluarganya perlahan oleng. Dari mulai hobby belanja barang-barang branded, hingga akhirnya tertipu dengan saham bodong.


"Danu, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau kedatangan saya justru akan membuat hubunganmu dengan ibumu menjadi tidak baik," ucap Nyonya Helen.


"Tidak Nyonya. Semua akan baik-baik saja," ucap Rian.


Setelah itu mereka kembali membahas tentang pekerjaan Danu. Nyonya Nathalie membujuk Danu untuk ikut bekerja sama di perusahaan suaminya. Namun Danu terus saja menolak. Sementara Sindi hanya diam dan tidak ikut berkomentar.


"Jangan ikut di kantor Papa, Ma. Kak Danu lebih baik bantu aku saja. Perusahaan aku kan baru. Aku juga belum punya siapa-siapa kecuali Pak Manto. Kalau ada Kakak, pasti perusahaan akan semakin maju. Mau ya Kak, bantu aku!" bujuk Rian.


Danu tahu ini adalah salah satu cara Rian untuk membantunya. Ia tetap menolak karena tahu maksud Rian. Namun ia cukup senang melihat Rian melakukan cara itu. Setidaknya, Rian masih sangat menghargainya.


"Benar Danu. Bantu Rian. Dia benar-benar butuh bimbingan. Saat ini perusahaannya mulai berkembang, tapi dia keteteran. Bantu dia ya!" ucap Nyonya Helen.


Nampaknya Nyonya Helen juga paham arah bicara Rian. Ia meyakinkan Danu untuk bekerja sama dengan Rian.


"Aku sih terserah Mas saja," jawab Sindi saat Danu menatapnya seolah meminta saran.


Jujur saja, sebenarnya Sindi juga sangat menginginkan Danu bekerja dengan tetap di Jakarta. Apalagi mengingat masa depan Dandi yang masih sangat panjang. Tapi ia juga tidak mau membuat Danu merasa tertekan. Ia memberi kebebasan kepada Danu.


"Aku pikir-pikir dulu ya!" ucap Danu.


Jika saja ia hanya memikirkan dirinya, tentu detik itu juga ia akan mengiyakan tanpa berpikir panjang. Namun sayangnya ada banyak sekali yang harus ia pertimbangkan. Mulai dari bagaimana kesan Dion padanya. Sampai sikap ibunya yang pasti akan sangat marah.


"Tidak masalah, Kak. Aku akan menunggu sampai Kakak benar-benar bisa membantuku," ucap Rian.

__ADS_1


Sebenarnya Nyonya Helen belum puas untuk melepas rindu pada Sindi. Tapi waktu sudah semakin siang. Ia harus menjemput cucu kembarnya.


"Ri, kamu bujuk Danu ya biar bisa kerja di kantormu. Mama tidak tega melihat keadaan Sindi," ucap Nyonya Helen dalam perjalanan menuju sekolah.


"Iya. Mama jangan banyak pikiran. Tenang saja," jawab Rian.


Naura dan Narendra sempat bertanya kenapa Nyonya Helen ikut menjemputnya. Untung saja Rian segera menjawab dan membuat Naura hanya menganggukkan kepala. Nyonya Helen melirik Rian dan tersenyum sambil memegang dadanya.


Rian membalas senyuman itu. Ia tahu kalau Nyonya Helen tegang dengan pertanyaan Naura. Tentu saja Nyonya Helen tidak mungkin membuat Naura tahu masalah orang dewasa seperti ini.


"Ayo sayang!" ajak Nyonya Helen saat sudah sampai ke rumahnya.


Rian melambaikan tangannya pada Naura dan Rendra, lalu kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Di tengah perjalanan, Rian melihat pergelangan tangannya. Jam mewah itu menunjukkan waktu yang terlalu siang untuk ke kantor. Sempat terpikir untuk kembali saja ke rumah.


Panggilan dari Riri membuat Rian mengurungkan niatnya. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Riri selalu memberinya semangat. Bagi Riri, neskioun hanya sebentar tapi ada tanggung jawab yang harus dipenuhi Rian. Rian tidak bisa seenaknya mempercayakan semua pada Manto.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Riri dalam sambungan telepon.


"Ah iya. Aku baik, sangat baik." Rian yang baru saja tersadar dari lamunannya segera menceritakan penyebab ia datang terlalu siang. Tadinya ia tidak mau bercerita tentang apa yang terjadu sebelum Riri bertanya. Sayangnya Riri tidak sekepo yang ia harapkan.


"Oh ya? Syukurlah kalau Mama Helen sudah tahu. Berarti sekarang tugas Mas jadi bertambah," ucap Riri.


"Mas harus membujuk Kak Danu agar bisa masuk ke kantor. Ajak bekerja sama dengan perusahaan Mas. Aku yakin sebenarnya Kak Danu pasti sangat membutuhkan itu. Hanya saja ia tidak mau terkesan merepotkan orang lain," jawab Riri.


Rian terdiam. Ia mengakui jika dugaan Riri memang benar. Saat ini Danu memang belum bekerja di bidang yang sesuai. Padahal Rian sendiri mengakui kemampuan Danu yang sangat luar biasa.


"Iya. Kamu benar, Pus. Aku janji akan berusaha membuat Kak Danu segera gabung di perusahaanku," ucap Rian.


Setelah itu panggilan sudah terhenti. Rian dengan semangat menuju kantor. Di sana sudah ada Manto yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Pak," sapa Rian.


"Eh Pak Rian, katanya tidak ke kantor hari ini. Ada hal penting, Pak?" tanya Manto.


"Tidak Pak," jawab Rian.


"Lalu?" tanya Manto.


"Saya kangen sama Bapak," jawab Rian sambil tertawa.

__ADS_1


Manto hanya mesem sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Rian. Tdiak lama, karena ia sudah kembali fokus dengan pekerjaannya. Rian memperhatikan Manto yang begitu semangat. Ia merasa bersalah saat membebankan semuanya pada Manto.


"Pak, kalau saya bawa orang baru di sini gimana?" tanya Rian.


Manto menghentikan pekerjaannya. Ia membuka kacamatanya. Saling menatap satu sama lain. Manto berusaha mencerna apa yang ingin disampaikan oleh Rian.


"Apa kinerja saya masih kurang?" tanya Manto.


"No, No. Bukan begitu Pak," jawab Rian panik.


"Lalu dengan tujuan apa Bapak mengangkat pekerja baru?" tanya Manto.


Rian diam. Ia bingung cara menjelaskan tentang Danu pada Manto. Ia merasa bersalah dan terjebak sendiri dengan ucapannya.


"Bukan begitu Pak. Gimana ya? Ah sudahlah lupakan saja," ucap Rian.


"Maaf Pak, bukannya saya lancang. Saya hanya takut Tuan Felix salah paham. Saya takut penilaian Tuan Felix pada saya menjadi buruk. Kalaupun kinerja saya tidak sebaik yang Bapak harapkan, saya harap Bapak beri tahu saya. Biar saya perbaiki," ucap Manto.


"Tidak begitu Pak. Buat saya kinerja Bapak sangat luar biasa. Hanya saja saya belum bisa menjelaskan alasan saya," ucap Rian.


"Baiklah, saya hanya menyarankan untuk selalu melibatkan Tuan Felix sementara ini dalam pengambilan keputusan. Karena yang saya tahu, perusahaan ini masih dalam pengawasan Beliau. Maaf jika saya lancang," ucap Manto dengan hormat.


"Iya Pak, saya mengerti. Saya justru berterima kasih atas saran Bapak. Jangan pernah sungkan untuk selalu mengingatkan saya," ucap Rian.


Obrolan itu tidam lama. Mereka kembali dengan aktivitas masing-masing. Setelah itu mereka pulang. Rian masih memikirkan tentang apa yang Manto ucapkan. Ya, ia melupakan Tuan Felix. Ia menarik napas dalam lalu menepi. Ia menghubungi Tuan Felix. Namun dua kali panggilan itu diabaikan.


"Papa kemana ya?" tanya Rian sambil memegang erat ponselnya.


Rian memutuskan untuk pulang ke rumah Nyonya Helen setelah panggilannya tidak dijawab oleh Tuan Felix. Mungkin ia harus menyimpan cerita tentang Danu dan Sindi sementara ini.


Malam ini Rian istirahat. Kepalanya sakit memikirkan tentang tawarannya terhadap Danu. Di satu sisi ia memang sangat ingin membantu Danu. Tapi di sisi lain, Rian melupakan kebijakan Tuan Felix. Ia tidak bisa seenaknya.


Ah, aku harus gimana ini?


Rian berbaring dan menutup kepalanya dengan bantal. Tidak lama ia membukanya kembali karena merasa napasnya tersenggal. Diliriknya ponsel yang disimpan di sampingnya. Hasilnya sama. Ponselnya masih sepim Tidak ada satupun panggilan atau hanya sebuah pesan dari Tuan Felix ataupun Riri.


Dengan malas Rian mencoba mengecek isi ponselnya. Hampir tujuh puluh persen isi galerinya adalah foto Riri. Tiga puluh persennya lagi foto dan video keponakan kembarnya. Sementara ia tidak menyimpan satupun foto dirinya.


Setelah matanya terasa lelah, Rian menyimpan kembali ponsel itu di atas nakas. Ia berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Berusaha untuk lari dari semua pikirannya yang tidak karuan. Meskipun sulit, akhirnya Rian bisa tidur nyenyak malam ini.

__ADS_1


__ADS_2