
"Pulang dari sini, kamu pergi temui Mpus. Papa tidak mau kalau jarak akan membuat kalian semakin jauh," ucap Tuan Felix.
Rian mengangguk dan tersenyum melihat Tuan Felix yang menatapnya tajam. Sosok ayah yang selalu membuatnya selalu merasa tidak sendiri.
"Jangan pulang kalau kamu belum menyelesaikan semuanya," ucap Tuan Felix sebelum ia benar-benar pergi.
Sebuah tantangan yang menurutnya sangat berat, karena ia bahkan tidak bisa menghubungi Riri. Bagaimana caranya agar ia bisa menyelesaikan semua masalahnya dengan Riri?
Langkhnya sangat berat. Gedung tinggi itu sudah ia tinggalkan. Tangannya masih menghubungi nomor Riri. Namun sampai saat ini, masih tetap tidak aktif.
Ia melihat spion dan merapikan rambutnya. Menarik napas dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Lalu ia meyakinkan dirinya untuk menemui Riri. Selesai atau tidak selesai, ia harus mencobanya dulu.
Kegelisahan menguasai dirinya saat perjalanan menuju rumah Mr. Aric semakin dekat. Terleboh saat mobil sudah berhenti di depan rumah mewah itu. Dadanya berdebar tidak menentu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Kegelisahannya berakhir saat melihat Riri menghampiri mobilnya. Riri tampak biasa saja. Tidak terlihat marah atau kecewa padanya.
"Mas kenapa ke sini?" tanya Mpus pelan.
"Kamu tidak marah padaku?" Rian balik bertanya.
Riri menggeleng dengan wajah bingung.
"Lalu kenapa kamu tidak mengaktifkan ponselmu?" tanya Rian.
"Ponselku mati Mas. Kemarin terjatuh saat aku mau menghubungimu," jawab Riri.
"Kenapa tidak diperbaiki? Kamu membuatku khawatir," ucap Rian.
"Mr. Aric sedang ada tamu. Aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku sampai bolos kuliah. Apalagi alasan keluar hanya untuk memperbaiki ponsel," ucap Riri.
"Memangnya tamu siapa? Dia tidak mengganggumu, kan?" tanya Rian.
"Mas," ucap Riri sambil mendelik tidak suka.
"Loh kenapa? Aku hanya khawatir jika ada yang mengganggu calon istriku," ucap Rian.
Ya, jika kebanyakan wanita senang mendapat perhatian seperti itu, maka berbeda dengan Riri. Ia sering merasa risih dengan rasa cemburu Rian yang menurutnya tidak beralasan.
Selama ini Riri merasa dirinya sangat rendah. Dia hanya seorang pembantu. Menurutnya, tidak mungkin ada yang tertarik apalagi menggodanya. Namun berbeda dengan cara berpikir Rian. Wajah cantik Riri selalu membuat Rian khawatir.
"Jangan selalu merasa rendah dibanding yang lain. Kamu ini sama-sama manusia. Apalagi kamu cantik. Aku takut kehilangan kamu," ucap Rian.
"Ya bukannya begitu Mas. Kira-kira dong, mereka itu bule. Banyak yang jauh lebih cantik dari aku. Apalagi mereka itu sudah tua. Aku rasa mereka tidak akan menyukaiku," ucap Riri
"Hussst, jangan terlalu polos. Wajah cantik khas Indonesia itu sangat menggoda. Rasa itu tidak mengenal usia. Aku takut bule-bule tua itu akan menggodamu," ucap Rian.
__ADS_1
Riri hanya tertawa. Sampai akhirnya ia menutup mulutnya saat menyadari jika tawanya terlalu keras.
"Tidak ada yang lucu, Pus." Rian menggeleng tidak mengerti dengan tawa Riri.
"Aku hanya lucu saja mendengar kata bule tua," ucap Riri.
"Sama sekali tidak lucu," ucap Rian.
"Tapi lebih lucu wajah Mas yang sedang marah begitu. Menggemaskan sekali," ucap Riri.
Rian yang tengah memalingkan wajahnya langsung menatap Riri. Meyakinkan dirinya dengan kalimat yang sudah masuk ke dalam gendang telinganya. Membuat dadanya berdebar tidak karuan. Bibirnya mereka secara tiba-tiba. Namun senyum itu hanya sebentar. Kini bibirnya sudah mengerucut lagi.
"Jadi kamu membandingkan aku dengan bule tua?" tanya Rian.
Riri kembali tertawa.
"Ah, kamu tidak bisa serius." Rian mendecak kesal.
"Kalau aku serius menghadapi kemarahan dan kecemburuan Mas yang menurutku sangat tidak masuk akal itu, kita akan selalu bertengkar Mas. Masalah tidak akan selesai. Mas kesini mau menyelesaikan masalah, kan?" tanya Riri tiba-tiba.
Rian menatap Riri dengan serius. Kalimatnya terdengar begitu dewasa dan membuatnya malu sendiri. Benar kata Riri, ia memang keterlaluan.
"Pus, maaf ya!" ucap Rian sambil menggenggam tangan Riri.
"Mas, sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu." Riri tersenyum manis.
"Lalu maksud kalimatmu kemarin?" tanya Rian.
"Sebenarnya aku tidak suka jika harus membahas kesalahan yang sudah berlalu," jawab Riri.
"Kali ini saja Pus. Aku mau tahu arti kalimatmu. Karena jujur saja, aku merasa kamu seperti ingin melepaskanku begitu saja. Kenapa? Apa karena sikapku yang kurang ajar itu?" tanya Rian.
"Saat itu mungkin aku kesal. Aku hanya takut jika jarak membuat Mas tidak bisa mendapat apa yang Mas inginkan dariku. Jika ada orang yang bisa memenuhi keinginan Mas, jalani saja. Aku yakin jika seandainya kita berjodoh, kita akan kembali bersama." Riri meyakinkan Rian.
Rian benar-benar merasa tertampar dengan ucapan Riri. Ia sangat malu dengan semua kelakuannya.
"Aku akan menahan diriku agar pantas untukmu. Maafkan aku jika sudah membuatmu merasa direndahkan," ucap Rian.
"Mas, tidak begitu. Aku mengerti. Bahkan jujur saja aku juga menginginkan hal yang sama. Namun sepertinya aku harus menyadarkan diriku sendiri kalau ini belum waktunya," ucap Riri.
"Terima kasih karena kamu juga sudah mengingatkan aku ya," ucap Rian.
"Ririiiiii," teriakan terdengar sangat keras dari dalam rumah.
"Mas, aku masuk dulu. Kalau seandainya besok aku tidak sempat menemuimu, berangkatlah. Wujudkan semua cita-cita Mas. Nanti aku akan menemui Mas setelah lulus," ucap Riri.
__ADS_1
Belum sempat Rian membalas ucapan Riri, wanita itu sudah turun dan segera masuk ke dalam rumah Mr. Aric. Rian diam sebentar dan melihat ke arah rumah yang sudah tertutup rapat itu.
"Aku akan menunggu hari itu tiba, Pus. Aku akan menunggumu," gumam Rian.
Mobil kembali melaju menjauhi rumah Mr. Aric. Meninggalkan wanita yang sangat ia cintai itu. Kini perasaannya sudah membaik. Paling tidak, satu beban berkurang saat tahu jika Riri tidak marah padanya.
"Sudah selesai?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah pulang.
"Sudah Pah," jawab Rian dengan senyum lebarnya.
"Begitu dong. Baru anak Papa. Jangan membuat Papa malu. Laki-laki harus.." ucapan Tuan Felix segera dipotong oleh Rian.
"Bertanggung jawab. Aku sudah sangat paham itu," ucap Rian.
Tuan Felix hanya tertawa dan meminta Rian untuk segera packing barang-barang yang akan dibawa ke Indonesia. Rasa sedih kembali menyelinap di hati keduanya. Namun seolah ingin saling menguatkan, keduanya tampak baik-baik saja. Berusaha menyembunyikan rasa sakitnya masing-masing.
"Jangan bawa barang banyak-banyak," ucap Tuan Felix saat menemani Rian packing di kamarnya.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Rian.
Tangannya yang tengah sibuk memilah barang bawaannya seketika berhenti. Pandangannya kini beralih pada sumber suara yang melarangnya membawa banyak barang pribadinya.
"Ongkosnya mahal," jawab Tuan Felix dingin.
"Ya ampun Pah. Perhitungan sekali sih?" ucap Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus belahar hemat. Nanti kamu akan merasakan bagaimana hidup mandiri dan mengatur uang sendiri," ucap Tuan Felix.
"Pah, hemat dan pelit itu beda. Jangan disama-sama kan," ucap Rian.
"Yeeee, kok pelit. Papa kan bilang kamu harus hemat," ucap Tuan Felix.
Bukan tentang biaya ongkos yang akan ia bayar untuk barang bawaan Rian. Ia hanya tidak ingin kamar Rian menjadi kosong. Ia menginginkan kamar itu tetap seperti saat ada Rian. Hingga ia tidak merasa sendiri di rumah itu.
"Pah, janji padaku kalau Papa akan baik-baik saja dan menyusulku ke Indonesia ya!" ucap Rian.
"Papa akan baik-baik saja. Kamu juga jaga diri ya di sana! Oh ya Papa akan tinggal di sana dan meninggalkan semua ini jika perusahaanmu sudah mulai stabil. Hingga kamu tidak akan keberatan jika Papa numpang di rumah kamu," ucap Tuan Felix.
"Papa, tidak ada yang menumpang. Papa itu orangtuaku. Sudah seharusnya kita hidup bersama seperti ini Pah. Papa jangan khawatir. Aku akan sukses secepatnya. Bantu doa ya Pah," ucap Rian dengan semangat.
"Tentu. Papa akan selalu mendoakanmu agar kamu bisa segera sukses," ucap Tuan Felix.
Rian tersenyum senang. Ya, ini alasan ia menantang Rian untuk segera sukses. Tidak sedikitpun ia berpikir untuk menyusahkan Rian. Kalaupun ia harus ke Indonesia, ia akan hidup mandiri. Membeli rumah dan menyiapkan bekalnya sendiri. Ia hanya ingin melihat anak-anaknya sukses.
Setelah Mia dan Dion berhasil berdiri sendiri tanpa bayang-bayang Tuan Wira, Tuan Felix pun ingin melihat Rian berdiri dengan kakinya sendiri.
__ADS_1