Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Pria romantis


__ADS_3

"Kamu boleh ke sini kapanpun kamu mau," ucap Riri melalui sambungan telepon.


Rian hanya diam mendengarkan percakapan istrinya dengan Rara. Setelah panggilan itu berakhir, Rian segera membahas tentang jadwalnya.


"Mas mau pergi seminggu?" tanya Riri sedih.


Sebelum menjawab, Rian segera memeluk Riri. Mengusap halus wajah cantiknya dan kepalanya. Ia tahu Riri akan sangat sedih. Apalagi setelah kepergian Tuan Wira dan Nyonya Helen. Riri selalu khawatir saat sedang berjauhan dengan Rian.


"Ini urusan pekerjaan. Aku akan pulang setelah urusanku selesai," jawab Rian.


Rian juga mengingatkan jika Riri tidak sendiri. Ada Bu Risa yang menemaninya di rumah itu. Tuan Felix pun ada. Meskipun selama siang hari, Tuan Felix akan pergi ke kantor. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun seperti mendiang Tuan Wira, Tuan Felix adalah tipe pekerja keras. Ia akan semangat menjalani pekerjaannya tanpa mengenal malas.


"Kan ada Kak Danu sama Kak Reza. Kenapa harus Mas yang pergi?" rengek Riri.


"Aku yang dibutuhkan di sana. Kak Danu dan Kak Reza akan menghandle perusahaan di sini. Lagi pula nanti Kak Danu akan dipindahkan ke perusahaan Papa Wira," ucap Rian.


Ya, perusahaan Tuan Wira tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Danu dan Tuan Felix akan mengurus perusahaa. Tuan Wira. Sedangkan Reza dan Hiro akan tetap bertahan di perusahaan Rian.


Rian dan Dion berusaha sekuat tenaga mengatur strategi, agar semua perusahaan bisa berdiri kuat. Dengan bantuan dari orang-orang yang sudah mereka anggap saudara, perlahan tapi pasti semua berjalan sesuai dengan harapan.


Meskipun pasti ada yang dikorbankan. Apalagi kalau bukan waktu. Ya, para istri mengeluh karena suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Hanya Sindi yang tidak mengeluh. Selain anaknya yang sudah besar, Sindi juga terlalu asyik mengurus rumah makan yang sedang ia kembangkan.


Mia hingga Riri seringkali mengeluh pada Sindi. Sebagai seorang sahabat dan saudara, Sindi tentu tidak ingin melihat yang lainnya sedih. Ia selalu mengingatkan mereka bahwa yang dilakukan suami mereka semata-mata demi keluarga juga.


Begitulah ikatan yang terbentuk diantara mereka. Membuat hubungan kekeluargaan semakin erat dan sangat hangat. Satu sama lain saling mengingatkan dan membantu. Tidak ada rasa iri dan saling menjatuhkan.


"Mi, besok Yaza ulang tahun. Ajak yang lain untuk kumpul di sini ya!" pinta Maya dalam panggilan teleponnya.

__ADS_1


Mia senang mendapat undangan itu. Tapi ia berpikir akan lebih asyik jika acara itu berlangsung di rumah Nyonya Helen. Selain rumah itu berukuran paling besar, mereka juga bisa menghangatkan rumah yang nyaris sepi itu.


"Ah, aku takut merepotkan dan mengganggu. Riri kan masih punya anak kecil," ucap Maya.


"Sudahlah. Kamu kan tahu Riri seperti apa. Dia pasti senang kita kumpul di sana," ucap Mia.


"Tapi acara tidak mewah. Aku hanya ingin berkumpul saja dengan keluarga besar kita," ucap Maya.


Akhirnya Maya sudah setuju bahwa ulang tahun Yaza akan dilangsungkan di rumah Nyonya Helen. Ah tidak. Lebih tepatnya rumah Riri. Mereka sudah membicarakan ini jauh-jauh hari. Riri dan Rian resmi menjadi pemilik rumah besar itu. Mereka tidak mau rumah itu dijual. Hingga Riri dan Rian akan tetap di sana dan menjaga rumah itu.


Menjaga kebersihannya dan semua kenangan yang ada di sana. Terlalu manis jika rumah itu sudah tidak lagi dihuni oleh bagian dari mereka. Tidak ada bagi warisan atau yang lainnya. Mereka hanya mengatur agar semua aset tetap dikelola dengan baik dan tetap menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Serius Kak?" tanya Riri saat Maya memberi tahu rencana ulang tahun Yaza.


"Kamu kira-kira gimana?" Maya balik bertanya.


Benar kata Mia, Riri justru senang dengan kabar ini. Tidak ada beban yang nampak di wajah cantinya. Polos dan sangat tulus.


Rencana ulang tahun Yaza yang disiapkan sederhana oleh maya ternyata diubah oleh Riri. Tanpa sepengetahuan Maya, Riri sudah menyiapkan semuanya. Bahkan acara ulang tahun Yaza membuat Naura iri dan sempat kesal.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Mia.


Naura menggelengkan kepalanya. Bibirnya masih tetap mengerucut. Ia menahan kesal karena Riri memperlakukan Yaza dengan sangat istimewa. Sampai saat ini, Naura merasa ia adalah satu-satunya yang harus menjadi perhatian Riri.


"Ini buatmu," ucap Riri.


Naura tersenyum saat melihat sebuah kado yang diterima Naura. Riri yang sudah sangat mengenal Naura tentu tahu sifat keponakannya itu. Sebuah kado yang disiapkan Riri itu akhirnya mengubah kecemburuan Naura.

__ADS_1


Semua yang melihat tingkah Naura menggelengkan kepalanya. Mereka juga bisa melihat dan menilai bagaimana cara Riri menyikapi semua keponakannya. Terlihat sangat tulus dan penuh kasih.


Beberapa teman Yaza menghadiri acara ulang tahun yang disiapkan oleh Riri. Dari kejauhan Riri dan yang lain mengamati bagaimana perubahan Yaza dan yang lainnya.


"Mereka sudah bukan anak kecil lagi," ucap Maya sambil tersenyum.


Ada rasa cemas yang tersirat dalam ucapannya. Bukan hanya Maya, sebenarnya Mia dan Sindi pun merasakan hal yang sama. Anak-anak itu kini sudah tumbuh menjadi remaja bahkan Naura sudah terlihat puber.


"Kakak-kakak tidak ada yang mau nambah anak?" tanya Riri.


Pertanyaan Riri membuat suasana menjadi kikuk. Mereka saling menatap, mencoba menjawab pertanyaan Riri dengan jawaban yang tepat. Namun akhirnya Sindi tertawa.


"Kok ketawa?" tanya Riri.


"Sudah kadaluarsa," jawab Mia sambil menggelengkan kepalanya.


Riri mengerutkan dahinya. Ia menyangkal pikiran kadaluarsa itu. Mia dan yang lain masih bisa memiliki anak jika mereka mau. Namun nyatanya kini mereka hanya fokus dengan anak yang sudah ada dan menginjak usia remaja.


Apa hanya aku yang menginginkan banyak anak?


Riri ikut tersenyum meskipun pertanyaannya masih belum terjawab. Ia berpikir jika punya anak banyak akan membuatnya senang saat tua nanti. Seperti ini, saat semua anak Nyonya Helen berkumpul dan saling peduli meskipun Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah tidak ada.


Namun semakin lama, Riri semakin paham. Tidak perlu ada hubungan darah untuk membentuk sebuah keluarga yang sangat baik. Bahkan mereka yang tengah menikmati acara ulang tahun pun sebenarnya tidak terikat hubungan darah.


Mata Riri mengedar. Melihat satu per satu diantara mereka yang tengah asyik berbincang. Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan kadang Riri merasa ia pun lebih akrab dengan keluarga barunya dibanding Rara, kakak kandungnya sendiri.


"Hey, kok melamun?" tanya Rian sambil mengecup pipi Riri.

__ADS_1


Rian adalah pria romantis. Semakin lama pernikahannya dengan Riri, Rian justru semakin menunjukkan rasa cintanya. Ia selalu bersikap sangat manis dan tidak malu meskipun di hadapan orang lain. Ia dengan bangga mengagumi istrinya.


__ADS_2