
Bunyi alarm di ponselnya membuat Rian bangun. Ia menggeliat dan menguap. Rasanya tidur malam ini begitu nyenyak. Mungkin karena seharian kemarin ia sibuk dengan urusan kerja dan urusan keluarganya. Tapi semua itu membuahkan hasil. PR Rian hanya satu, Nyonya Helen.
"Pagi Ma," sapa Rian dengan ceria saat bertemu di ruang makan.
"Habis dapat undian kamu?" tanya Nyonya Helen dingin.
Rian berusaha mencairkan suasana di temat yang begitu membeku. Sejak ia masuk ke ruang makan hingga sarapannya selesai, tidak satu kata pun yang keluar dari mulut Tuan Wira.
"Ma, nanti pulang kerja aku bawa Rendra ke sini ya!" ucap Rian.
"Tidak usah. Nanti dia ngomong seenaknya lagi. Mama suka pusing," ucap Nyonya Helen.
Hey ada apa ini? Kenapa harus ada penolakan? Ada apa sebenarnya? Tidak pernah begini sebelumnya. Yang ia lihat kasih sayang Nyonya Helen pada Naura ataupun Narendra sama saja. Lalu kenapa saat ini begitu berbeda?
"Mama menolak Rendra ke rumah ini?" tanya Rian meyakinkan.
"Mama tidak suka sama anak tukang ngadu," jawab Nyonya Helen.
"Astaga Ma. Rendra tidak pernah mengadu sama sekali," ucap Rian.
"Ah sudahlah. Mama pusing," ucap Nyonya Helen sambil pergi tanpa pamit.
Rian tercengang melihat perubahan sikap Nyonya Helen. Ia sama sekali tidak mengenali ibu angkatnya itu. Rian segera mencari Tuan Wira. Ia butuh penjelasan tentang apa yang terjadi di rumah ini.
"Mama mu itu terlalu lebay. Semua di dramatisir. Sudahlah Rian, biarkan saja. Nanti juga dia baik sendiri," ucap Tuan Wira saat mendapati beberapa pertanyaan dari Rian.
"Pah, Mama itu hanya terlalu khawatir. Papa harusnya bantu jelasin ke Mama," ucap Rian.
"Cape, gak mempan-mempan. Mungkin kalau sama kamu baru bisa," ucap Tuan Wira.
Merasa tidak menemukan titik terang, Rian pamit ke kantor. Sepanjang perjalanan ia berpikir bagaimana cara agar keluarganya kembali harmonis. Lagi-lagi Riri hadir saat ia sedang gelisah.
Riri menemani Rian sepanjang jalan menuju kantornya. Wanita itu selalu saja memberi ide yang membuatnya tidak merasa buntu lagi.
"Oke, aku coba ya! Terima kasih sa-yang," ucap Rian ragu.
Dengan ragu dan malu-malu Rian memberanikan diri memanggil Riri dengan panggilan sayang. Tapi Riri diam.
"Kamu marah?" tanya Rian.
__ADS_1
"Ti-tidak," jawab Riri ragu.
Riri memang tidak marah, tapi sepertinya ia tidak percaya. Saat ini ia tengah memegang dadanya yang berdebar tidak menentu. Kali pertama Rian memanggilnya begitu lembut hingga menembus hatinya yang paling dalam.
"Kamu kenapa?" tanya Rian.
"Tidak Mas. Sudah dulu ya!" ucap Riri sebelum panggilan itu berakhir.
Rian menatap layar ponselnya dengan bingung. Ia tidak peka dengan sikap Riri yang tegang karena ucapannya. Ah, sejenak ia melupakan Riri. Ia segera ke kantor.
Seperti biasa, sudah ada Manto di ruangannya. Berdasarkan informasi dari Manto, Danu juga sudah masuk ke ruangannya. Rian langsung fokus dengan laptopnya. Sesekali Manto melihat Rian yang sedang asyik dengan pekerjaannya. Bahkan sampai jam istirahat pun, Rian masih belum bergeming.
"Mau saya bawakan makan siangnya ke sini, Pak?" tanya Manto.
"Makan siang?" Rian balik bertanya.
Rian terkejut saat melihat jam. Ternyata sudah jam istirahat. Saking sibuknya ia tidak sadar waktu istirahat sudah tiba.
"Biar saya makan di kantin saja," lanjut Rian.
Saat akan ke kantin, Rian menemui Danu dulu. Mengajaknya makan siang bersama di kantin, namun Danu menolak. Alasannya karena Danu sudah membawa bekal makan siang yang dibuatkan oleh Sindi.
"Ayo kita makan berdua saja yang ini," jawab Danu.
"Ah, tidak Kak. Aku makan di kantin saja sama Pak Manto," ucap Rian.
"Besok aku bawakan dua ya!" ucap Danu.
"Tidak usah Kak. Aku hanya becanda kok," ucap Rian.
Rian pergi meninggalkan Danu. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Manto masih menunggunya di depan ruangan.
"Pak Manto belum berangkat?" tanya Rian.
"Saya menunggu Bapak," jawab Manto.
"Ya ampun, saya pikir Bapak sudah berangkat ke kantin duluan. Ya sudah ayo!" ajak Rian.
Selesai makan siang, Manto segera bersiap untuk kembali ke ruangannya. Namun Rian menahannya. Ia bertanya tentang perkembangan perusahaan secara santai. Ia meminta keterangan sangat rinci tapi tidak terlihat serius.
__ADS_1
"Bapak mau menikah?" tanya Manto.
Manto yang mendengarkan dan menjawab pertanyaan Rian bisa menyimpulkan kalau Rian tengah bersiap untuk mengumpulkan aset.
"Kok Bapak nanya begitu?" Rian balik bertanya.
"Memangnya Bapak tidak mau menikah?" tanya Manto.
"Ya mau lah," jawab Rian cepat.
"Nah kan dugaanku tidak salah?" ucap Manto.
Rian menuduh Manto dukun karena seolah tahu dan bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Namun Manto hanya tertawa. Sebenarnya bukan Manto yang bisa menebak, tapi Rian yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Manto menjelaskan untuk menikah tidak perlu menunggu mapan. Karena menurutnya yang perlu dipersiapkan bukan selalu tentang materi. Rian perlu belajar banyak hal yang membuatnya merasa menikah tidak semudah itu.
"Sudah Pak, jangan terlalu dipikirkan. Yang perlu Bapak lakukan adalah bersiap lahir batin," ucap Manto.
Kalimat penutup yang membuat Rian merasa PR itu terlalu berat. Ah, bicara tentang PR, Rian ingat kalau ada tugas dari Riri yang harus segera ia kerjakan.
Selesai makan siang, Rian memang duduk di hadapan laptop. Tapi tangannya justru sibuk dengan ponselnya. Ia memesan dan mengirim sebuah bunga yang cantik untuk Nyonya Helen. Tidak lupa ia menyisipkan sebuah surat yang diketik. Tentu karena menjaga kerahasiaan tujuannya. Ia memang harus sedikit lebih ribet agar Nyonya Helen tidak curiga padanya.
Di waktu yang hanya berselang beberapa puluh menit itu, Rian menghubungi orang yang bisa membelikan alat-alat untuk melukis. Tentunya ia juga tidak lupa menyelipkan sebuah surat kepada Narendra.
Setelah semuanya siap, Rian meminta orang kepercayaannya melakukan tugasnya. Namun saat ia menunggu, tidak satu pun sebuah panggilan dari ibu dan Narendra. Tidak ada satupun yang mengucapkan terima kasih padanya.
Mungkin hal itu terjadi karena mereka berdua sibuk dengan keterharuannya. Mereka senang dengan kiriman yang didapatkannya. Hingga tidak ada satupun yang menyangka jika hadiah itu bukan dari Rian.
Setalah jam pulang, Rian segera pulang ke rumah. Ia tidak mau kehilangan momen Nyonya Helen saat menerima bunga yang Rian berikan. Rian sempat mencari beberapa ruangan di rumah itu untuk mencari Nyonya Helen. Namun ia tidak menemukannya.
"Apa aku ke kamar saja ya?" tanya Rian pelan.
Rian duduk di sofa. Ia melonggarkan dasinya yang melingkar di lehernya.
"Rian, kamu sedang apa?" tanya Tuan Wira.
"Papa, aku mencari Mama." Rian menunduk.
"Kemana memangnya dia?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
"Loh kok Papa malah balik bertanya?" ucap Rian bingung.