Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kamu cemburu?


__ADS_3

Danu dan Sindi tengah mengatur napas setelah pertempuran malam ini. Belum sempat mandi, ponsel Danu berdering. Rian memanggilnya.


"Halo," ucap Danu saat panggilan sudah terhubung.


Rian mengabarkan jika akan ada proyek besar yang sudah menanti. Danu tentu sangat senang mendengar berita itu. Kemajuan perusahaan adalah prestasi luar biasa baginya. Meskipun awalnya ia sempat ragu saat bekerja di perusahaan Rian, tapi perlahan ia semakin yakin jika keberadaannya di sana sangat dibutuhkan oleh Rian.


"Setidaknya ada orang yang mengakui kemampuanku," ucap Danu setelah panggilan sudah selesai.


"Hey, kenapa bicara begitu? Tidak ada yang meragukan kemampuan Mas," ucap Sindi sambil memeluk Danu.


Sindi adalah satu-satunya orang yang selalu meyakinkannya tentang setiap keraguannya. Wanita yang menjadi istrinya itu adalah kekuatannya saat merasa paling lemah dan tidak berguna.


"Aku beruntung memilikimu," ucap Danu sambil mengecup dahi Sindi.


"Sekali lagi Mas bicara seperti itu, bisa-bisa Mas dapat hadiah gelas." Sindi tertawa pelan.


Ya, wajar Sindi mengatakan hal itu. Ucapan Danu yang selalu mengungkapkan keberuntungannya atas keberadaan Sindi di sampingnya memang sudah sangat sering. Bahkan Sindi bisa mendengar kalimat itu setiap hari.


Jatuh bangun rumah tangga mereka dalam bidang ekonomi membuat keduanya belajar banyak hal. Hal itu juga membuat hubungan keduanya semakin kuat. Danu semakin yakin jika wanita yang membersamainya selama ini adalah wanita terbaik yang ia miliki.


Dukungan Sindi membuat Danu semakin semangat dalam menjalani hari-harinya. Sebanyak apapun pekerjaannya di kantor, Danu jarang sekali mengeluh. Ia mengerjakan semuanya dengan penuh semangat dan tanggung jawab.


Termasuk proyek besar yang sudah dibicarakan Rian saat itu. Bisa dikatakan bahwa proyek ini adalah proyek terbesar sepanjang perusahaan itu berdiri. Danu dan Manto saling bekerja sama untuk membantu Rian menyelesaikan proyek itu dengan maksimal.


Proyek itu berjalan panjang, hingga nyaris satu tahun. Rian yang fokus dengan proyek ini sampai lupa jika penantiannya untuk Riri hampir usai. Tepat di waktu yang sudah disepakati, Riri membalas satu pesan Rian yang masuk pagi itu.


Sayangnya Rian yang sibuk dengan pekerjaan tidak bisa membalas cepat balasan dari Riri. Ia tidak menyangka jika Riri akan membalas pesannya. Karena seperti biasa, setiap pagi rian akan mengirim sebuah pesan untuk Riri. Tanpa melihat kembali ponselnya, Rian fokus dengan kegiatan pagi ini.


Riri yang tidak biasa membalas pesan Rian hanya bisa cemas saat pesannya diabaikan oleh Rian. Ia sempat berpikir jika Rian lelah dengan sikap dinginnya selama ini. Ada rasa penyesalan saat harus menahan diri untuk tidak membalas pesan yang Rian kirim terus menerus setiap harinya.


"Kenapa kamu tidak membalas pesanku, Mas?" gumam Riri pelan.


Riri menghela napas panjang dan dalam saat berusaha berpikir positif. Tapi di satu sisi ia juga menyadari bahwa ini yang dirasakan Rian selama ini. Hampir dua tahun ia mengabaikan pesan dari Rian. Tapi hanya satu kali pesannya diabaikan, ia merasa menjadi orang yang paling sedih.


Tanpa Riri ketahui jika Rian sedang sibuk hari ini. Ia menghadiri meeting penting dan bergelut dengan pekerjaan yang sangat banyak. Bahkan hari ini ia sampai melupakan makan siangnya. Beruntung Danu mengingatkannya dengan memberikan menu makan siang yang dikirim Sindi.


"Ya ampun Kak, aku sampai lupa. Terima kasih," ucap Rian.


Manto bisa bernapas lega dan mengusap dadanya saat Rian sadar jika jam makan siang sudah hampir habis.


"Pak Manto tidak makan? Lupa juga ya?" tanya Rian.


Hah? Lupa? Mana mungkin saya lupa kalau cacing di perut saya demo saat tidak mendapat jatah siang ini.


"Iya Pak. Saya juga lupa," jawab Manto.


Manto terpaksa berbohong karena tidak mungkin jika harus jujur. Tentu Rian akan sangat merasa bersalah dan Manto tidak menginginkan hal itu. Ia tahu jika Rian orang yang sangat tidak enakan. Kejujurannya tentu akan membuat Rian menjadi fokus akan kesalahannya. Sementara saat ini, Rian harus fokus pada pekerjaannya.


Rian segera makan. Ia yang tidak sempat mengirim pesan seperti biasa siang ini, membuat Riri semakin cemas di Jerman. Sementara Rian sendiri, ia masih makan dengan lahap tanpa memikirkan Riri. Karena memang biasanya Riri sama sekali tidak pernah merespon pesannya.


"Pak, hari ini saya izin untuk tidak lembur di kantor. Saya akan bawa pekerjaannya ke rumah. Boleh?" tanya Manto saat selesai makan siang.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya.


"Kalau tidak boleh tidak apa-apa Pak. Saya bisa lembur kok," jawab Manto.


"Ah, bukan begitu. Boleh, boleh kok. Pak Manto boleh pulang lebih cepat. Saya hanya bertanya alasan Bapak saja," ucap Rian.


"Istri saya sedang sakit. Kasihan kalau saya pulang terlalu malam," ucap Manto.


"Sakit apa? Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Rian.


"Sudah Pak. Tadi pagi sebelum ke sini saya ke rumah sakit dulu. Istri saya asam lambungnya kumat," ucap Manto.


Rian kagum dengan sikap Manto. Tanggung jawabnya di kantor tidak membuat tanggung jawab Manto sebagai seorang suami hilang. Sebagai staf yang sangat bertanggung jawab di kantor, Manto membuktikan bahwa hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan keluarganya di rumah.


Seketika Rian teringat Riri. Ia membayangkan jika suatu saat mereka menikah. Ia juga akan berusaha menjadi seperti Manto. Bukan hanya pengusaha yang sukses, tapi juga suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab kelak.


Rian merogoh ponsel yang ada dalam sakunya. Ia berniat untuk menceritakan kegiatannya hari ini yang sangat menguras energinya. Namun tiba-tiba matanya membulat sempurna setelah melihat sebuah pesan yang sangat ia tunggu selama ini.


Manto mengerutkan dahinya saat melihat Rian mengucek matanya berkali-kali. Lalu senyum yang menghiasi bibirnya membuat Manto semakin bingung. Tidak lama Rian berterikan kegirangan sambil memeluk dan mencium ponselnya berulang kali.


"Bapak baik-baik saja kan?" tanya Manto ragu.


Rian baru menyadari jika apa yang dilakukannya tidak normal. Ia segera duduk dan berusaha bersikap tenang.


"Ya, saya baik-baik saja Pak. Maaf, ada sesuatu yang membahagiakan untuk saya siang ini." Rian tersenyum bahagia.


"Tentang perusahaan?" tanya Manto.


"Oh, maaf Pak." Manto merasa tidak enak atas pertanyaannya sendiri.


"Tidak apa-apa Pak. Ayo siap-siap pulang!" ajak Rian.


"Bapak tidak lembur juga hari ini?" tanya Manto.


"Tidak," jawab Rian sambil menggeleng namun bibirnya yang tak henti tersenyum.


Manto mengangguk dan bersiap untuk pulang. Meskipun rasa penasarannya belum terjawab, tapi ia senang karena bisa pulang lebih ceoat dari biasanya. Istrinya pasti sudah menunggu kedatangannya di rumah.


Hari ini hanya Danu yang lembur di kantor. Sementara Rian dan Manto pulang lebih awal. Keduanya berpisah di parkiran. Manto pulang ke rumahnya, sedangkan Rian yang awalnya akan pulang ke rumah Tuan Wira akhirnya memilih pulng ke kontrakannya.


"Hai Ri," sapa suami Rina.


"Hai," ucap Rian.


"Tumben ke sini?" tanya Rina.


"Bebas dong. Ini kan rumah kontrakanku," jawab Rian yang terburu-buru masuk ke dalam rumah itu.


Rina dan suaminya saling menatap saat melihat Rian masuk ke rumah kontarakannya dengan wajah yang ceria. Hal yang ganjil menurut mereka. Karena biasanya Rian akan datang ke rumah itu saat sedang sedih. Setiap kali Rian mengunjungi rumah itu raut wajahnya tidak pernah seceria itu.


"Rian kenapa ya?" tanya Rina.

__ADS_1


"Temannya bahagia harusnya bersyukur. Jangan bingung begitu," jawab suaminya.


"Kamu juga sama," ucap Rina sambil mengusap wajah suaminya yang masih bengong menatap rumah kontarakan Rian.


Mereka berdua tidak tahu kalau saat ini Rian sedang berbunga-bunga karena Riri sudah membalas pesannya. Rian sengaja memilih rumah kontrakannya agar ia bisa bebas mengekspresikan rasa bahagianya.


Berkali-kali Rian membaca pesan yang ia terima dari Riri. Sampai akhirnya ia tersadar dan segera menghubungi Riri.


"Halo," ucap Riri.


Suara yang selama ini Rian nantikan berhasil membuat Rian terpana. Bukan menjawab, Rian justru memegang dadanya yang ebrdegup sangat kencang. Ia masih tidak percaya jika suara itu bisa ia dengar kembali. Setelah bertahun-tahun diabaikan, kini ia mendapat lampu hijau.


"Kamu sehat?" tanya Rian gugup.


Rian sudah lupa bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. Ia bahkan terdengar begitu gugup dan formal. Tentu hal itu membuat Riri tertawa.


"Ma-maaf. Aku gugup," ucap Rian sambil memegang dadanya.


Rian segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sangat senang saat mendengar suara Riri yang mulai banyak bicara dengannya.


"Mas, kemarin aku wisuda." Riri memberi kode pada Rian.


"Kamu pasti terlihat sangat cantik. Sayangnya aku tidak bisa melihat kecantikanmu," ucap Rian.


Riri cemberut saat kodenya tidak sampai pada Rian. Ia yang berpikir jika Rian akan membahas tentang hubungan mereka, harus menelan kecewa karena Rian hanya memuji dan mulai gombal padanya.


Banyak hal yang mereka bahas lewat sambungan telepon itu. Tapi Rian masih membahas tentang masa lalunya. Ia kembali mengingatkan Riri tentang perjuangannya sabar sampai akhkirnya pesannya terbalas. Setalah penantian selama bertahun-tahun dan sempat lelah bahkan ingin menyerah beberapa kali.


"Kenapa tidak menyerah?" tanya Riri.


"Karena aku yakin rasa itu masih ada di hatimu," jawab Rian.


Riri tersenyum senang mendengar jawaban Rian. Meskipun Rian belum membahas tentang rencana masa depannya, paling tidak Riri yakin jika Rian masih setia dengan perasaannya.


"Shelin apa kabar?" pancing Riri.


"Dia baik," jawab Rian santai.


Diluar dugaan Riri, ternyata Rian tidak gugup seperti yang dibayangkannya.


"Sering bertemu sama Shelin?" tanya Riri.


"Sering. Bahkan kemarin tidak sengaja aku bertemu dengannya.Kenapa?" Rian balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya bertanya saja," jawab Riri ketus.


Ada rasa cemburu di dadanya saat mendengar jika Rian masih sering bertemu dengan mantan tunangannya itu. Bisa saja perasaan Rian untuk Shelin kembali tumbuh seiring dengan seringnya pertemuan itu.


"Kamu cemburu?" tanya Rian.


Riri segera mengelak. Ia berusaha menyembunyikan rasa cemburunya sebisa mungkin.

__ADS_1


__ADS_2