
Selama perjalanan, Shelin tidak membuka mulutnya sama sekali. Suasana di dalam mobil begitu hening. Sesekali Hiro melihat Shelin yang hanya menatap ke samping dan mengusap sudut matanya.
"Shelin," panggil Hiro.
"Hemm," jawab Shelin.
"Apa kamu sakit hati?" tanya Hiro.
"Kamu tidak punya pertanyaan lain yang lebih berbobot?" Shelin balik bertanya.
"Ok, maaf. Tapi aku punya sesuatu. Mungkin ini akan membuatmu sedikit lebih tenang," ucap Hiro.
"Apa?" tanya Shelin tanpa melihat ke arah Hiro.
Shelin masih tetap membuang muka. Ia baru melihat ke arah Hiro saat pria itu memberikan sebuah ponsel.
"Apa ini?" Shelin menatap Hiro mencari jawaban.
"Aku rasa semua orang tahu kalau ini ponsel," jawab Hiro.
"Aku serius Hiro," ucap Shelin.
"Iya. Ini ponsel," ucap Hiro.
"Ah, tidak lucu." Shelin menepis tangan Hiro yang memberikan ponsel padanya.
Hiro tertawa. Ia berusaha mencairkan suasana. Namun sayangnya Shelin tidak menggubris sama sekali. Shelin masih setia dengan kekecewaannya.
"Ini, aku punya sesuatu." Hiro memberikan kembali ponselnya kepada Shelin.
"Hiro, ini tidak lucu. Aku sedang tidak ingin becanda sama sekali," ucap Shelin.
"Aku serius. Buka lah," ucap Hiro.
"Aku ingin pulang. Sudahlah Hiro," ucap Shelin.
Rian menepi. Menghentikan mobilnya dan menatap Shelin.
"Hiro, apa yang kamu lakukan?" tanya Shelin panik.
"Ya ampun, apakah wajahku sekriminal itu sampai kamu begitu ketakutan?" tanya Hiro.
"Aku mau pulang," ucap Shelin.
"Aku akan mengantarmu pulang. Tapi setelah kamu mendengar ini," ucap Hiro.
Hiro memutar rekaman saat ia bicara dengan Riri. Bagaimana Riri mengikhlaskan Rian untuk Shelin. Riri meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak berharap lagi meskipun rasa itu masih sangat besar untuk Rian.
Shelin merasa dadanya sangat sesak. Alih-alih ia bahagia dengan rekaman itu, ucapan Riri yang begitu tulus ternyata semakin menyakiti hatinya.
"Jangan menangis seperti itu," ucap Hiro.
"Aku mau pulang," ucap Shelin sambil menangis terisak.
Hiro meminta maaf karena sudah memberikan rekaman itu. Awalnya ia berharap jika rekaman itu akan membuat Shelin tenang, tapi kenyataannya malah membuat wanita itu kembali menangis.
Shelin tidak menyalahkan Hiro. Ia tahu niat baik Hiro namun hatinya yang menolak. Ia merasa sangat sakit dengan ketulusan Riri. Bagaimana bisa ia menikah hanya karena belas kasihan Riri. Sementara ia tahu mereka berdua saling mencintai.
Sesampainya di rumah, Shelin berlari tanpa pamit pada Hiro. Ia sudah terlalu sakit saat menerima kenyataan kalau ternyata ia hanya jadi penghalang diantara kedua orang yang saling mencintai.
__ADS_1
Entah terima kasih atau justru harus marah pada Hiro. Nyatanya hari ini Hiro sudah memberikan kenyataan pahit yang sebenarnya ia tidak mau tahu sama sekali.
"Kaliam jahat. Kalian semua jahat. Apa salahku?" ucap Shelin di tengah isak tangisnya.
Di luar ibunya mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Namun Shelin tidak membukanya. Ia sama sekali hanya ingin sendiri. Menangis sepuasnya dan tidur setelah ia lelah.
Tanpa sepengetahuan Shelin, ayah dan ibunya tengah khawatir dengan keadaan Shelin. Apalagi saat mereka masih belum bisa menghubungi Rian.
"Mereka kenapa ya?" tanya ayahnya Shelin.
Ibunya Shelin hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Berharap semuanya membaik meskipun tidak tahu kapan waktu itu bisa ia temui.
"Mama," ucap Shelin.
Mata yang bengkak membuat hati ibunya merasa sangat sakit. Tidak ada yang lebih sakit saat anaknya terluka kecuali ibunya. Pelukan erat membuat Shelin kembali menangis.
"Mama jangan menangis. Aku baik-baik saja," ucap Shelin.
"Kamu kalau ada apa-apa bisa cerita sama Mama," ucap ibunya Shelin.
"Aku baik-baik saja," jawab Shelin.
"Kamu tidak baik-baik saja," ucap ibunya.
Dadanya kembali sesak saat mengingat masalah yang tengah dihadapinya. Akhirnya ia menceritakan semuanya di pelukan Ibunya. Menangis karena bingung dengan keputusan yang harus ia ambil.
"Kenapa kamu harus mengalah? Kamu sudah dipilih oleh Rian dan dia harus bertanggung jawab atas semuanya," ucap ibunya.
Meskipun ibunya sangat marah, ia bisa setenang mungkin di hadapan Shelin. Ia tdiak mau menunjukkan rasa kecewanya atas sikap calon menantunya.
Dalam pandangan ayah dan Ibu shelin, Rian adalah anak yang sopan dan baik. Mereka tidak menyangka jika masalah ini akan datang pada anak semata wayangnya. Haruskah mereka pasrah dan membiarkan Shelin berlarut dalam kekecewaan?
"Tapi kamu juga mencintai dia kan? Rian juga mencintaimu Nak. Makanya dia melamarmu. Ini hanya godaan menjelang pernikahan saja. Yakinlah semuanya akan membaik. Rian akan kembali memperbaiki semuanya," ucap Ibunya.
"Menurut Mama apa aku harus mundur?" tanya Shelin.
Ibunya melepaskan pelukannya dan menatap Shelin dengan tatapan yang penuh makna.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu hanya korban di sini. Rian akan kembali padamu. Percaya sama Mama," ucap ibunya.
Dari kejauhan ayahnya sudah mengepalkan tangannya. Ia mengumpulkan semua energi kemarahannya dalam genggaman tangannya. Senadainya bisa, ia ingin menghajar Rian saat itu juga. Rasanya menghabisi Rian adalah kepuasan yang masih belum sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Shelin.
Bukan hanya itu, reputasinya akan tercoreng. Apa jadinya kalau ternyata anaknya gagal menikah hanya karena calon suaminya bekum move on? Ini hal yang konyol.
"Tidak bisa dibiarkan!" ucap ayah Shelin dengan geram.
Tidak ingin mendengar lebih jauh rasa skait yang dialami oleh Shelin, ayahnya memilih masuk ke kamar dan menenangkan hatinya. Sampai akhirnya istrinya masuk dan memeluknya.
"Anak kita Pah," ucap ibunya Shelin dengan tangisan sejadi-jadinya.
"Jangan begini Ma. Shelin bisa tahu kalau Mama menangis dan ini akan membuat beban tersendiri untuk dia. Kasihan dia," ucap ayahnya Shelin sambil mengusap kepala dan punggung istrinya.
"Mama tidak mau Shelin gagal menikah. Mama malu Pah. Kasihan Shelin. Keluarga kita pasti akan dibully," ucap ibunya Shelin.
Ayahnya Shelin hanya diam memangdang tembok kamarnya yang berwarna putih bersih. Ia merasa begitulah hati Shelin selama ini. Ia selalu menajdi anak yang baik dan tidak pernah menyakiti siapapun. Tapi kenapa ia harus merasakan rasa sakit yang begitu besar seperti ini.
Mereka berdua tidur saat jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Mereka terlelap setelah membahas tentang rencana yang akan mereka ambil ke depannya. Meskipun pada akhirnya mereka belum mendapat kesimpulannya.
"Aku sangat mencintai Rian," ucap Shelin dalam gelapnya malam.
__ADS_1
Shelin sengaja mematikan lampu kamarnya. Ia hanya berteman dengan kegelapan dan dinginnya malam. Hujan lebat di luar sana seakan merasakan gelisah dan sakit yang sedang ia rasakan.
Ibunya mengetuk kamar Shelin, namun tidak ada jawaban. Sedangkan ayahnya segera menarik tangan istrinya. Ia tahu kalau Shelin pasti masih ingin sendiri.
Tanpa sepengetahuan Shelin, orang tuanya pergi ke kantor Rian. Sayangnya mereka tidak bisa bertemu dengan Rian karena sudah beberapa hari Rian tidak masuk.
"Kemana dia?" tanya ibunya Shelin.
"Sedang ada tugas ke luar kota Nyonya," jawab Manto.
"Sampai kapan?" tanya ibunya.
Manto perlu beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab. Ia mengatakan bahwa Rian akan segera kembali setelah urusan pekerjaan itu sudah selesai. Meskipun ia sendiri tidak yakin kapan Rian akan kembali.
Kedua orang tua Shelin memang tidak terlihat berapi-api. Tapi dari cara mereka bicara, Manto yakin jika keduanya sedang menyimpan emosi yang begitu besar.
Mereka pamit setelah meminta Rian untuk segera menemui mereka jika sudah pulang. Manto hanya mengangguk dan mengantar keduanya sampai parkiran. Bagaimanapun mereka adalah calon mertua Rian, pemilik perusahaan tempat dimana ia bekerja.
Manto segera Menghubungi Tuan Felix setelah keduanya benar-benar pulang. Ia dibuat terkejut saat Tuan Felix mengabarkan jika Rian sudah pulang dari Jerman. Tanpa pikir panjang, ia mengajak Danu untuk menemui Rian di rumah kontrakannya.
Benar dugaan Manto, Rian ada di sana dan tengah duduk santai di teras rumahnya. Segelas teh yang masih mengepul dari cangkir, menemaninya pagi ini.
"Pak Manto, Kak Danu." Rian segera membenahi duduknya dan menyambut kedatangan keduanya.
"Pak Rian sehat?" tanya Manto.
Danu tidak banyak bertanya. Ia hanya mengikuti Manto tanpa berkata apapun.
"Baik. Saya baik, Pak. Apa ada laporan yang harus saya selesaikan?" tanya Rian.
"Tidak Pak. Kami hanya ingin memastikan Bapak baik-baik saja. Karena besok kita akan meeting dengan perusahaan X," jawab Manto.
"Iya. Besok saya masuk. Nanti tolong kirim laporan yang harus saya presentasikan besok ya!" pinta Rian.
Danu mengamati Rian dalam diam. Sesekali mereka beradu pandang meskipun tanpa bertegur sapa. Tidak saling marah, namun Danu sendiri bingung apa yang harus ia bahas dengan Rian di saat seperti ini.
"Oh ya Pak, ada yang mau saya sampaikan. Tapi sepertinya ini sensitif. Saya jadi bingung," ucap Manto.
"Apa? Katakan saja," ucap Rian.
Manto melihat Danu untuk meminta pendapat. Anggukan kepala Danu meyakinkan Manto untuk menyampaikan amanat yang dititipkan oleh kedua orang tua Shelin.
"Jadi meraka menemui saya ke kantor?" tanya Rian dengan wajah pasrah.
"Iya Pak," jawab Manto.
"Sudah berapa kali?" tanya Rian.
"Baru sekali ini Pak. Maaf kalau kedatangan saya ke sini membawa kabar yang kurang berkenan. Saya dan Pak Danu permisi. Kami harus kembali ke kantor," ucap Manto.
Setelah Manto dan Danu pergi, Rian mengambil cangkir tehnya yang sudah mulai dingin. Kini kepalanya yang panas. Ia kembali berpikir tentang langkah yang harus diambil olehnya.
"Aku harus menyelesaikan semua ini," ucap Rian.
Ia masuk dan membawa kunci mobilnya. Ruamh Shelin adalah tujuannya. Meskipun hatinya sempat ragu karena belum yakin dengan langkah yang akan ia tempuh.
"Aku sangat mencintaimu Pus. Tapi Shelin sangat baik. Dia terlalu baik untuk aku sakiti. Tapi apa aku harus menikah dengan Shelin? Sudah siapkah aku dengan kenyataan ini?" gumam Rian.
Hatinya semakin gelisah saat ia meyakini pernikahan itu sekali dalam seumur hidupnya. Tidak ada pilihan lain setelah ia menikah dengan Shelin. Semua tentang Riri harus ia kubur dalam-dalam. Dan sampai saat ini ia belum bisa melakukan hal itu.
__ADS_1
Berharap bisa memperjuangkan kebahagaiaan, ternyata ia malah melukai hatinya sendiri dan kedua wanita baik yang ada di hidupnya. Tapi selama dalam perjalanan, ia meyakinkan dirinya untuk memilih. Dan Shelin adalah pilihannya.