Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ganti rencana


__ADS_3

"Om mau kemana?" tanya Naura.


"Om mau ke kamar Narendra dulu. Naura mau ikut?" tanya Rian.


Naura menunduk dan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Nanti Rendra marah," jawab Naura takut.


"Kalau begitu Naura harus minta maaf. Biar Rendra tidak marah lagi," ucap Rian.


"Kalau Rendra masih tetap marah?" tanya Naura.


"Kan belum dicoba. Ayo kita ke kamar Rendra!" ajak Rian.


Naura masih menggeleng dan diam. Rian mendekati Naura dan meyakinkannya jika Narendra pasti akan memaafkannya. Akhirnya Naura mau ikut dengan Rian.


"Rendra, ini Om Rian. Om boleh masuk tidak?" tanya Rian sambil mengetuk pintu kamar Narendra yang tertutup rapat.


"Boleh Om. Tapi jangan bawa Naura ke sini," jawab Narendra.


"Om," ucap Naura sedih.


"Tenang saja. Nanti kita bicara baik-baik ya! Naura tunggu dulu di kamar Naura," bisik Rian.


Naura mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya.


"Om sendiri. Om masuk ya!" ucap Rian.


"Iya," jawab Narendra.


Rian duduk di samping Narendra yang sedang tengkurap di atas ranjangnya. Kepalanya terangkat dan tangannya sibuk memainkan ponsel.


"Game baru ya?" tanya Rian basa basi.


Memahami anak di usia ini memang bukan keahlian Rian. Namun ia akan berusaha. Ia ingin belajar menjadi seorang ayah. Ah, Rian membuyarkan lamunannya saat menyadari mimpinya terlalu jauh.


"Om mau apa ke sini?" tanya Narendra.


Narendra mengabaikan pertanyaan Rian. Ia justru bertanya maksud kedatangan Rian. Walaupun sepertinya Narendra tahu apa maksud kedatangan Rian ke kamarnya.


Rian perlahan menjelaskan semuanya. Meskipun Narendra sedikit mengabaikan apa yang disampaikan Rian, namun paling tidak Rian memastikan jika Narendra sudah memaafkan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin seperti Om," ucap Narendra.


"Seperti Om?" tanya Rian.


Ternyata selama ini Narendra mempunyai hobby yang sama dengannya. Ia tersenyum dan senang saat mendengar ucapan Narendra. Pikirannya sudah melayang jauh. Anak yang masih duduk di bangku SD itu nantinya akan menjadi partner kerja yang mengasyikan.


"Om jadi tidak sabar melihat kamu tumbuh besar," ucap Rian.


"Tapi gambarku tidak sebagus Om," keluh Narendra.


"Untuk ukuran anak SD, gambarmu bagus. Kamu hanya perlu sering-sering berlatih," ucap Rian.


"Apa nanti akan bisa sebagus gambar Om?" tanya Narendra antusias.


"Om yakin gambar kamu akan jauh lebih bagus," jawab Rian dengan sangat meyakinkan.


Narendra melepaskan ponselnya dan melihat Rian. Berkali-kali ia bertanya tentang hal yang sama. Dan Rian yakin dengan jawabannya. Narendra yang mendapat dukungan penuh dari Rian menjadi jauh lebih semangat dengan apa yang ia sukai.


Ponsel Rian berdering. Ia melihat nama Riri terpampang di layar ponselnya. Bibirnya langsung merekah. Ia segera pamit pada Narendra untuk kembali ke kamarnya.


"Pus," sapa Rian saat panggilan sudah terhubung.


"Mas, sedang apa?" tanya Riri.


"Ah, Mas. Aku serius," ucap Riri.


"Kamu pikir aku tidak serius?" tanya Rian.


"Sudah ah. Jangan gombal lagi," ucap Riri malu.


"Oh ya si pria tengil itu tidak mengganggumu, kan?" tanya Rian.


Pria tengil? Cukup lama Riri terdiam. Ia mencari pria tengil yang dimaksud oleh Rian. Ah, akhirnya ia paham siapa yang dimaksud kekasih hatinya itu.


"Mas, jangan bahas dia. Aku yakin dia memang sengaja ingin membuat kita ribut dan semakin jauh. Kalau Mas terus meladeninya, dia akan semakin senang. Sudahlah," jawab Riri.


Rian membenarkan apa yang disampaikan Riri. Ia juga berjanji untuk tidak termakan dengan tingkah Hiro yang sangat menyebalkan. Kembali Rian mengingat ucapan Tuan Felix, jika saling percaya dan menjaga kepercayaan adalah salah satu kunci bertahannya hubungan yang terbentang antara Indonesia dan Jerman.


"Aku mengerti. Terima kasih sudah meyakinkan aku untuk hubungan ini ya!" ucap Rian.


"Iya Mas. Ya sudah aku mau menyiapkan pakaian untuk Mr. Aric dulu ya!" ucap Riri.


"Iya. Jangan lupa untuk selalu mengabariku kalau sempat ya!" ucap Rian.

__ADS_1


"Iya Mas. Terima kasih untuk pengertiannya ya!" ucap Riri.


Panggilan sudah berakhir. Namun ponselnya masih ada dalam genggamannya. Rian tersenyum bahagia. Sampai akhirnya terdengar notifikasi sebuah pesan. Ia segera melihat layar ponselnya. Nomor baru masuk dan mengirim sebuah pesan yang tidak diinginkan oleh Rian.


Foto Riri saat bersama Hiro terkirim ke ponsel Rian. Banyak sekali. Dari mulai saat di kampus, hingga saat di bandara. Tangan Rian sudah mengepal. Wajahnya sudah sangat merah dan hatinya kesal. Ingin rasanya Rian menghantam wajah Hiro yang menyebalkan itu.


Tiba-tiba teringat wajah cantik dan suara lembut Riri. Rian memejamkan matanya dan mengingat semua pesan Riri.


Aku harus bisa menahan diriku. Jangan biarkan pria tengil itu menang. Maafkan aku tengil. Aku tidak mau melihatmu menang. Biarkan aku meredam semua kemarahanku karena ulahmu tanpa kamu tahu caranya.


Rian membiarkan pesan itu. Ia hanya membuka namun tidak membalas apapun. Hiro yang sedang menunggu balasan sudah mulai kesal dengan sikap dingin Rian.


"Kemana si pria jahat itu? Apa aku salah nomor? Ah tidak. Jelas kalau itu nomor Rian. Aku akan membalas dendammu Kak. Tenang saja," ucap Hiro yang sedang menggenggam erat ponselnya.


Seperti dugaan Rian, Hiro akan kalah jika ia mengabaikan pesannya. Saat ini, Hiro tengah marah-marah karena tidak satupun pesan yang diterimanya dari Rian. Berharap Rian marah dan kesal, nyatanya Hiro sendiri yang harus merasakan kemarahan dan kekesalan.


Dengan cepat Hiro mengambil tindakan. Ia segera menghubungi Maudi dan memberi tahu keadaan Rian. Maudi terkejut saat tahu jika Rian sudah kembali ke Indonesia.


"Tahu dari mana kamu?" tanya Maudi.


"Tidak penting. Yang penting sekarang Kakak punya kesempatan untuk kembali mendekati pria yang Kakak cintai," jawab Rian.


Maudi berterima kasih dan dangat bahagia dengan informasi yang diterimanya. Selama ini ia berhasil memanfaatkan adiknya sendiri. Semua cerita bohong sudah berhasil menumbuhkan kebencian Hiro pada Rian.


"Seandainya Rian bukan pria yang Kakak cintai, aku pasti sudah menghabisinya." Hiro menggerutu saat panggilannya dengan Maudi sudah berakhir.


Di negara yang berbeda, dua rencana tersusun oleh Maudi dan Hiro. Maudi yang akanendekati Rian kembali, dan Hiro yang akan membuat Rian menjauhi Riri.


Perjalanan waktu satu tahun dirasa cukup bagi Hiro untuk membuat semua rencananya dengan Maudi berhasil. Namun sayangnya, Hiro menemukan kendala saat sulit sekali menemui Riri. Apalagi untuk mendekatinya.


"Aku harus mengganti rencanaku," gumam Hiro.


Riri memang benar-benar membatasi aksesnya dengan Hiro. Ia tidak ingin jika Hiro memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Rian kesal. Karena ia sudah tahu trik itu dari Rian.


Rasa saling percaya diantara keduanya sudah mulai membuat Hiro kesal sendiri. Kini Hiro membalikkan rencananya. Ia meminta foto-foto Maudi saat bersama dengan Rian untuk dikirim pada Riri.


Seperti pagi ini, Maudi menemui Rian di rumah Mia. Rian yang belum siap dengan rencana Maudi, kecolongan. Maudi berhasil mengambil foto mereka berdua, seakan-akan terlihat akrab. Tidak lama, foto itu sampai pada Riri.


Riri segera memegang dadanya saat foto itu masuk ke dalam galerinya. Sesak, sakit. Ia meneteskan air mata. Rupanya Riri tertipu dengan semua foto yang ia terima.


"Sabar Riri. Kamu bisa. Kamu kuat. Jangan biarkan Hiro membuatmu hancur begini. Hiro pasti senang melihatku menangis seperti ini," ucap Riri sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Seperti halnya Rian, Riri juga melakukan hal yang sama. Ia hanya membuka pesan itu tanpa membalasanya. Hal itu tentu membuat Hiro semakin kesal.

__ADS_1


"Mereka benar-benar menyebalkan," teriak Hiro sambil mengacak meja yang ada di kamarnya.


__ADS_2