
Setelah berunding, akhirnya Rian menyerahkan semuanya pada Tuan Wira. Pernikahannya nanti sepenuhnya menjadi tanggung jawab ayah angkatnya yang begitu menyayanginya. Sementara Rian sendiri lebih fokus dengan pekerjaan kantor dan mengurus Nyonya Helen.
Sebelum benar-benar istirahat, Rian pamit dulu ke kamar Nyonya Helen. Memastikan ibunya baik-baik saja sebelum ia menghabiskan malamnya dengan tidur nyenyak.
"Ri, kata Papa kamu akan sering menemani Mama di sini. Memangnya kamu tidak sibuk?" tanya Nyonya Helen.
"Iya Ma. Aku akan menemani Mama di sini. Aku bisa mengerjakan sebagian pekerjaanku di rumah," jawab Rian.
"Ah, Mama senang sekali Ri. Terima kasih ya sudah sangat peduli sama Mama," ucap Nyonya Helen.
"Mama jangan bilang terima kasih. Aku ini anak Mama. Apa yang aku lakukan ini adalah tanggung jawabku," ucap Rian.
"Tapi Dion tidak begitu," ucap Nyonya Helen sedih.
Rian selalu merasa tidak nyaman saat Nyonya Helen sudah membahas hal seperti ini. Apalagi saat ia dibandingkan dengan Dion. Bagaimanapun Dion adalah anak kandung Nyonya Helen. Tentu Dion akan sangat sakit hati saat tahu apa yang dikatakan ibu kandungnya.
"Sudah malam Ma. Mama istirahat ya! Besok aku ke sini lagi menemani Mama," ucap Rian.
"Iya. Terima kasih ya Ri," ucap Nyonya Helen sambil melambaikan tangannya.
Rian hanya mengangguk dan tersenyum. Ia segera pergi meninggalnya Nyonya Helen untuk istirahat. Di luar sudah ada Tuan Wira yang masih menunggunya.
"Aku ke kamar ya Pah," ucap Rian.
"Iya. Papa minta besok kamu temani Mama dulu ya! Papa melihat Mama jauh lebih baik saat ada kamu," ucap Tuan Wira.
"Papa jangan khawatir. Aku akan selalu berusaha bertanggung jawab atas tugasku," ucap Rian.
"Padahal seharusnya kamu tidak punya tanggung jawab apapun," ucap Tuan Wira.
"Papa kok begitu sih? Kalau seandainya semua tidak terjadi, aku tidak tahu seperti apa nasibku saat ini. Jadi aku mohon jangan berandai-andai seperti itu lagi ya!" ucap Rian.
"Kamu memang anak baik," ucap Tuan Wira sambil menepuk bahu Rian.
Rian merasa saat bahunya ditepuk oleh Tuan Wira, pria itu tampak menumpahkan tanggung jawab yang lebih berat. Namun kakinya semakin kuat. Ia harus lebih yakin menopang semua beban dalam hidup keluarga mereka. Hidupnya bukan hanya tentang dirinya saja. Ia adalah bagian dari keluarga Tuan Wira sejak saat itu.
"Aku harus lebih kuat," gumam Rian sebelum tidur.
Bangun tidur, Rian segera menghubungi Manto. Ia meminta izin untuk tidak masuk kantor. Beberapa pekerjaan sudah ia kerjakan dan sebagian akan ia kerjakan nanti siang. Beruntung Manto dan Danu sangat cekatan. Mereka akan siap menghandle perusahaan saat Rian tidak ada.
"Pagi. Ri, sudah bangun?" tanya Tuan Wira sambil mengetuk pintu.
"Sebentar Pah," jawab Rian.
__ADS_1
Rian segera membuka pintu dan menunjukkan bahwa ia sudah bangun sejak tadi. Rambutnya yang masih basah menjadi bukti bahwa ia sudah mandi pagi ini. Namun pakaian santainya meyakinkan Tuan Wira jika Rian memang siap menemani Nyonya Helen hari ini.
"Papa berangkat sekarang ya!" ucap Tuan Wira.
"Masih pagi Pah," ucap Rian sambil mengernyitkan dahinya.
"Banyak pekerjaan yang belum selesai Ri. Papa sudah beberapa hari ini tidak fokus ke kantor," ucap Tuan Wira.
Rian sangat mengerti keadaan Tuan Wira dan segera mengantarnya sampai ke depan pintu. Ia juga melihat sebentar ke kamar Nyonya Helen. Saat melihat ibu angkatnya masih tidur nyenyak, ia duduk di depan kamar ibunya sambil membuka laptop. Menyicil pekerjaan yang lumayan banyak dan harus segera ia selesaikan.
Rian masih fokus dengan pekerjaan kantornya. Sementara Tuan Wira tengah membagi fokusnya. Ia meminta bantuan Dion dan Mia untuk menyiapkan pesta pernikahan Rian. Awalnya pesta itu memang akan diadakan dengan sangat sederhana. Hanya ada syarat sah menikah saja.
Selain karena acaranya dadakan, Riri juga sudah setuju jika acaranya dibuat sederhana. Namun karena Dion, Tuan Wira mengubah pola berpikirnya. Dion cukup memikirkan masa depan Rian.
Menurut Dion, jika pernikahan itu berlangsung sederhana maka reputasi perusahaan akan dipertaruhkan. Mereka pasti akan membicarakan pernikahan dadakan Rian yang digelar dengan sangat sederhana. Belum lagi pernikahan itu adalah sebuah momen penting. Dion tidak mau jika Rian akan menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu akad pernikahannya.
"Papa tenang saja. Aku dan Mia akan urus semuanya. Katanya Mia sempat bicara dengan Riri. Paling tidak Mia sudah punya gambaran pesta seperti apa yang akan digelar nanti," ucap Dion.
"Di, terima kasih banyak ya. Papa yakin ini semua bukan hanya akan membahagiakan Rian, tapi Mama. Mama tentu akan sangat bahagia dengan pesta pernikahan Rian," ucap Tuan Wira.
Kini Tuan Wira semakin yakin bahwa setiap anak akan memegang tugasnya sendiri. Meskipun kadang di hati kecilnya, ia sempat merasa jika Dion terlalu sibuk dengan pekerjaannya namun ternyata Dion sangat membantunya dalam hal lain.
Tuan Wira segera menyelesaikan pekerjaan kantornya yang sempat terbengkalai. Namun walaupun begitu ia selalu memantau perkembangan Dion dalam persiapan pernikahan Rian.
"Ya sudah. Biar Naura sama Rendra Papa jeput sekarang ya!" ucap Tuan Wira.
"Biar Mia telepon mereka dulu. Mereka pasti sangat senang. Terima kasih banyak ya Pah," ucap Mia.
"Hey, seharusnya Papa yang mengucapkan terima kasih. Maaf karena kamu akan semakin lelah dengan semua ini," ucap Tuan Wira.
"Tidak lelah sama sekali. Mia sangat menikmati setiap pekerjaan yang Mia jalani. Papa tenang saja," ucap Mia.
Seperti yang Tuan Wira duga, Mia memang lelah. Namun ia tidak mau orang lain tahu kelelahannya. Apalagi Mia yakin jika rasa lelahnya akan sangat berarti dan membahagiakan untuk Rian. Maka Mia merasa tidak ada alasan untuknya merasa lelah.
Mia dan Dion sangat mempersiapkan pesta itu dengan matang. Sebenarnya tidak dari nol. Karena Rian sudah sempat memulai semua persiapan ini. Jadi semua itu sedikit meringankan Mia dan Dion.
"Malam," sapa Mia saat sudah sampai di rumah Tuan Wira.
Nampak Tuan Wira dan Rian yang menyambut mereka dengan sangat hangat. Sedangkan kedua anak kembarnya dan Nyonya Helen sudah tidur lebih awal. Ada rasa kecewa saat Mia tidak bisa mengobrol dengan mertuanya yang sedang sakit itu. Namun rasa kecewanya hilang saat tahu jika Nyonya Helen semakin membaik.
"Mama sudah terlihat lebih berisi lagi ya Pah," ucap Mia saat menutup pintu kamar Nyonya Helen.
"Mama sudah mulai makan banyak. Makanya kamu jangan khawatir. Mama sudah semakin membaik," ucap Tuan Wira.
__ADS_1
"Iya Pah. Maaf ya kalau Mia tidak bisa mengurus dan menemani Mama," ucap Mia.
"Sudahlah Mia. Jangan memulai bahasan seperti ini lagi. Papa tidak suka. Lebih baik kit bahas tentang persiapan pernikahan Rian yu!" ajak Tuan Wira mengalihkan pembicaraan.
"Ayo!" ajak Mia.
Tuan Wira senang saat berhasil mengalihkan fokus Mia. Meskipun ia juga sempat berpikir demikian, namun ia selalu tidak tega melihat wajah memelas Mia yang dipenuhi tasa bersalah. Hal itu selalu membuatnya merasa sangat jahat karena sempat berpikiran buruk tentang menantunya itu.
Rian dan Dion terlihat sedang asyik mengobrol saat Mia dan Tuan Wira datang menghampiri mereka. Mereka duduk bersama dan membahas tentang rencana minggu depan. Pesta yang membahagiakan bagi Rian dan sebuah kejutan spesial untuk Nyonya Helen.
"Jadi kapan Riri akan pulang?" tanya Dion.
"Sehari sebelum akad dia sudah di Indonesia," jawab Rian.
"Sehari sebelum akad?" tanya Dion sambil mengerutkan dahinya.
"Memangnya kenapa?" Rian balik bertanya.
"Urusan dengan walinya bagaimana? Apa sudah siap saat waktunya nanti?" tanya Dion.
"Katanya semua akan diselesaikan," jawab Rian.
"Ri, kamu sebagai laki-laki jangan lembek. Jangan selalu membiarkan wanitamu terlalu mandiri. Nanti lama-lama kamu tidak begitu berarti untuknya," ucap Mia saat melihat Rian yang ragu dengan jawabannya sendiri.
Rian menatap wajah Mia saat mendengar ucapan Mia. Apa yang Mia ucapkan memang menjadi sebuah ketakutan tersendiri dalam hatinya. Ia sadar siapa dan apa yang dimiliki Mia saat ini. Jika dibahas, mungkin Mia sudah tidak membutuhkan apapun darinya selain status.
"Sudahlah. Yang penting kan pernikahan ini akan segera terlaksana. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak," ucap Tuan Wira.
"Tapi aku takut kalau nanti pesta yang sudah kita rencanakan," ucap Mia menjeda ucapannya. "Astaga, Ri maafkan aku ya. Mulutku ini kadang memang sangat menyebalkan. Maaf ya," lanjutnya.
"Tidak apa-apa Kak. Santai saja," ucap Rian.
Ucapan Rian tidak sesuai dengan raut wajahnya. Lagi-lagi Rian tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisah yang menguasai dirinya. Apa yang diucapkan Mia memang kenyataan. Ketakutan Mia adalah ketakutan terbesarnya saat ini. Namun bagaimanapun ia sudah tidak mau berdebat dengan Riri.
Tidak sekalipun Rian bertanya terlalu dalam tentang keluarganya. Ia merasa ranah itu terlalu sensitif untuk saat ini. Memberikan ruang sepenuhnya untuk Riri menyelesaikan semua masalahnya sendiri mungkin akan menjadi pilihan terbaik Rian. Bukan tidak peduli, namun ia takut ketersinggungan Riri yang akan membuat masalah semakin melebar.
"Biasalah kalau mau menikah itu memang ada saja masalahnya. Pinter-pinter menguasai diri saja. Ingat kedepankan logika," ucap Tuan Wira.
Semua diam dan merenungi ucapan Tuan Wira. Ya, saat ini mereka memang sedang bermain perasaan. Apa yang diucapkan Tuan Wira tentang logika memang benar adanya. Godaan dan cobaan pernikahan itu tidak hanya setelah resmi berumah tangga. Bahkan menjelang pernikahan pun sudah ada bibit masalah yang sebenarnya harus bisa mereka selesaikan.
"Sudah malam. Ayo tidur. Kita harus istirahat biar kepala kita fresh. Hati kita juga fresh," ucap Tuan Wira memberi komando setelah obrolan mereka selesai.
Semua kembali ke kamar dengan pikirannya masing-masing. Mengistirahatkan sejenak badan dan kepalanya sebelum besok kembali bertempur dengan semua rencana dan pekerjaan kantor.
__ADS_1