
Maudi dengan cepat mengikuti mobil kekasihnya yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Maudi memang tidak mencintai pria itu seperti ia mencintai Rian. Namun saat tahu ia dikhianati, rasa kecewa itu memicu kemarahan yang membara.
"Dasar pria kurang ajar!" gerutu Maudi saat melihat mobil di depannya menuju sebuah hotel.
Maudi beruntung bisa membuntuti mobil kekasihnya tanpa dicurigai. Jarak mobil yang sangat dekat karena tidak terhalang mobil manapun membuatnya tidak dikenali. Karena ia tidak menggunakan mobilnya. Saat ini ia pergi dengan menggunakan mobil milik Hiro.
"Berhenti kau!" teriak Maudi sambil menunjuk kekasihnya yang sedang menggandeng wanita lain.
"Maudi," ucap pria itu.
"Jadi ini yang kamu bilang sakit?" tanya Maudi.
"Lalu bagaimana dengan pertemuanmu? Menyenangkan bukan saat kembali bertemu dengan cinta masa lalumu," jawab pria itu.
Maudi diam. Ya, seperti kekasihnya ia juga berbohong. Ia diam-diam menemui Rian. Namun sepertinya nasib Maudi lebih menyedihkan dibanding kekasihnya itu. Kekasihnya dengan bahagia bertemu wanita lain yang bisa saja memuaskannya. Sedangkan Maudi? Ia hanya dipermalukan oleh anak kecil keponakan Rian.
"Urusan kita belum selesai," ucap Maudi geram.
Maudi lebih memilih pergi daripada harus ribut dan merasa tersudut. Dengan air mata yang berderai, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Frustasi. Maudi berteriak di dalam mobil. Ia meluapkan amarahnya yang tidak terkontrol. Sampai akhirnya sebuah mobil polisi mengejarnya karena Maudi menerobos lampu merah.
Maudi yang tidak membawa stnk dan melakukan beberapa pelanggaran, akhirnya dibawa ke kantor polisi. Dengan cepat ayahnya datang setelah menerima kabar itu. Sebagai seorang anak, Maudi beruntung memiliki ayah yang sangat peduli padanya. Meskipun beberapa kesalahan sudah ia lakukan, tapi ayahnya selalu jadi garda terdepan untuk membelanya.
"Pah, maaf." Maudi tidak berani menatap wajah ayahnya.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama," ucap ayahnya.
"Iya," ucap Maudi.
Maudi tidak pernah mendengar permintaan maafnya direspon. Ayahnya selalu menjawab dengan kalimat lain. Ia tahu alasannya karena bagi ayahnya, tidak perlu meminta maaf pun ia akan selalu dimaafkan.
Maudi sudah kembali ke rumahnya. Masuk ke dalam kamar yang begitu luas dan mewah. Hampir semua kebutuhan Maudi terpenuhi di dalam kamar. Ia makan dan melakukan aktivitas lainnya tanpa harus keluar dari kamar.
"Apa yang kurang di kamarmu?" tanya ayahnya.
"Tidak ada," jawab Maudi.
"Lalu untuk apa kamu keluar rumah?" tanya ayahnya.
Rulanya ayahnya tidak tahu jika Maudi diam-diam tengah mendekati Rian kembali. Maudi memang sengaja merahasiakan keberadaan Rian di Jakarta karena itu akan membuatnya sulit untuk keluar rumah.
"Aku hanya ingin cari angin saja," jawab Maudi.
"Cari angin atau cari masalah?" tanya ayahnya.
Maudi diam. Semakin ia berbohong, semakin terbongkar semuanya. Ia membungkam mulutnya sampai ayahnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Tenang Maudi. Semua belum berakhir. Kamu tidak akan kalah," ucap Maudi sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Maudi kembali menelepon Hiro untuk mengabarkan apa yang ia alami hari ini. Namun sayangnya Hiro tidak menjawab panggilannya. Maudi rupanya tidak tahu kalau saat ini Hiro sedang berusaha mendekati Riri.
"Kamu kenapa sih mengikuti terus?" tanya Riri kesal.
"Memangnya aku mengganggumu? Tidak, kan?" Hiro balik bertanya.
"Jelas kamu sangat menggangguku Hiro. Aku tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti ini," ucap Riri.
"Kamu pikir aku nyaman setiap kali bertemu kamu selalu mengabaikanku," ucap Hiro.
"Aku tidak mengabaikanmu. Itu karena aku hanya sedang sibuk saja," ucap Riri.
"Sesibuk itukah kamu sampai tidak bisa hanya sekedar menyapaku. Bahkan menjawab sapaanku saja begitu ketus. Atau jangan-jangan," ucap Hiro menjeda ucapannya.
"Jangan-jangan apa? Jangan sampai aku menjauhimu karena kamu menuduhku yang tidak-tidak," ucap Riri.
"Aku hanya berpikir jika pacarmu itu melarangmu untuk sekedar bicara denganku," ucap Hiro.
"Mas Rian tidak pernah melarangku seperti itu. Aku juga tidak merasa mengabaikanmu. Itu hanya perasaanmu saja Hiro," ucap Riri.
Riri berusaha menyelesaikan tugasnya dan segera kembali ke kelas. Di perpustaan memang tempat umum. Riri tidak mungkin bisa melarang Hiro untuk pergi. Satu-satunya jalan adalah ia yang harus pergi dari sana.
"Selesai," ucap Riri.
"Mau ke kelas dan pulang. Aku harus sampai di rumah tepat waktu," jawab Riri.
"Kalau begitu aku siap mengantarmu dengan cepat dan selamat," ucap Hiro.
"Sudahlah Hiro, aku akan pulang dengan sopir. Kamu fokuslah dengan kuliahmu saja. Aku permisi," pamit Riri.
Hiro diam dan hanya mengangguk. Ia menarik napas panjang saat harus mengatur emosinya. Ia pergi ke kamar mandi setelah Riri meninggalkannya.
"Wajahku tidak terlalu jelek. Bahkan lebih tampan aku jika dibandingkan Rian. Aku bingung kenapa Kak Maudi dan Riri begitu mencintai Rian. Apa lebihnya dia?" gumam Hiro sambil mengamati wajahnya pada cermin.
Hiro segera keluar dari kamar mandi saat menyadari ponselnya bergetar. Siapa lagi kalau bukan Maudi. Wanita itu marah dengan semarah-marahnya pada Hiro. Sebagai seorang adik yang tahu tentang keadaan kakaknya, Hiro hanya meminta maaf dan mendengarkan setiap omelannya.
"Kakak jangan khawatir. Aku akan membuat mereka semakin jauh," ucap Hiro.
"Kamu cuma modal bicara saja. Buktinya Rian tidak sekalipun meresponku, Hiro." Maudi terus meluapkan amarahnya pada Hiro.
Sementara Hiro sendiri bingung dengan jawaban yang bisa menenangkan Maudi. Ia masih berusaha mendengarkan kemarahan Maudi sambil memijat kepalanya. Lama-lama ia pusing sendiri dengan sikap Maudi.
"Kak, Kak, Halo," ucap Hiro.
Hiro segera mengakhiri panggilannya dan mematikan ponselnya. Ia ingin beristirahat sejenak dengan beban yang ada di pundaknya. Tujuannya untuk membalaskan dendam harus terganggu saat pagi tadi Hiro mendapat panggilan dari ayahnya.
__ADS_1
Saat menceritakan apa yang terjadi pada Maudi, kini harapan ayahnya hanya Hiro. Tentu saja hal ini membuat Hiro sangat terkejut. Sementara perkuliahannya saja tidak mendapat nilai bagus. Bahkan beberapa mata kuliah masih ada yang harus ia ulang.
"Jaga diri baik-baik. Pulang cepat dengan hasil yang bagus ya. Papa sudah menunggumu," ucap ayahnya.
Kalimat yang terngiang-ngiang di telinga Hiro. Hal yang berat dan sangat sulit ia jalani. Karena tujuannya kuliah ke Jerman saja hanya untuk membalas dendam. Dendam yang ia sendiri tidak tahu betul tentang kenyataan yang terjadi sebenarnya.
Hari ini Hiro merasa sangat lelah. Ia melupakan niatnya untuk mengantar Riri pulang. Ia justru pulang lebih dulu. Bahkan sebelum ia menyelesaikan mata kuliah terakhirnya.
Di dalam sebuah kamar, Hiro duduk mendekap lututnya. Ia merasa hidupnya tidak ada tujuan. Membalas dendam ia masih belum tuntas. Harapan ayahnya yang tidak mungkin ia penuhi. Ah, semuanya membuat Hiro pusing.
Kepulan asap memenuhi ruangan kamarnya. Entah sudah berapa batang rokok yang Hiro isap. Ia hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Karena untuk saat ini, ia hanya bisa melakukan itu untuk meluapkan kerisauannya.
Hiro melupakan Riri. Kini justru Riri yang mencari tahu apa yang terjadi dengan Hiro. Tidak biasanya Hiro sekusut itu. Ia tidak mendapat info apa-apa sampai akhirnya jemputannya sudah datang.
Setelah sampai ke rumah, ia segera menyelesaikan tugasnya. Baik itu tugas kuliah ataupun tugas di rumah. Ponselnya berdering saat sedang membereskan lemari Mr. Aric. Tahu di kamar itu ada cctv, Riri segera keluar untuk menjawab panggilan dari Rian.
"Kamu sedang sibuk?" tanya Rian.
"Tidak Mas. Aku hanya sedang membereskan lemari Mr. Aric," jawab Riri.
"Kapan kamu membereskan lemariku?" goda Rian.
"Nanti ya Mas. Kalau Mas sudah membayatku dengan mahar," balas Riri.
Mendengar kata mahar, Rian menjadi tertarik untuk membahas tentang masa depan dengan Riri. Hal yang selalu membuatnya bahagia. Rian nampak tertawa lepas saat membayangkan hari bahagia itu tiba.
"Sudah ah Mas. Jangan bahas itu lagi. Malu sendiri tahu," ucap Riri.
"Kenapa harus malu? Masa sama calon suami aja bisa malu," gida Rian kembali.
Rian memang selalu sukses membuat pipi Riri memerah. Termasuk saat ini, Riri memegang pipinya yang semakin memerah saat Rian terus-terusan memuji dan menggodanya.
"Oh ya kamu di sana baik-baik saja kan? Dia tidak mengganggumu, kan?" tanya Rian.
Dia? Ya, tentu yang dimaksud dia oleh Rian adalah Hiro. Riri sudah paham kemana arah pembicaraan Rian.
"Tidak. Mas juga di sana tidak diganggu siapa-siapa kan?" Riri balik bertanya.
Rian menghela napas panjang. Pertanyaan Riri membuat Rian justru jujur dengan apa yang terjadi. Riri sakit, namun ia senang saat Rian bisa mengakui semuanya.
"Pus, kok kamu diam saja? Kamu marah?" tanya Rian.
"Tidak Mas. Aku hanya senang saja kalau akhirnya kamu bisa jujur tentang semua ini" jawab Riri.
"Hey, jangan khawatir. Aku akan selalu jujur padamu. Kamu juga jangan takut, aku sama sekali tidak akan tergoda dengan siapapun. Sudah ada kamu yang mengisi dan memenuhi ruang hati dan kepalaku," ucap Rian.
"Makin lancar ya Mas gombalnya," ucap Riri sambil tertawa.
__ADS_1
Riri tidak benar-benar tertawa. Ia hanya sedang berusaha mengalihkan pembahasan tentang Maudi. Ia sudah malas jika bahasan tentang wanita itu terlalu lama. Ia juga tidak ingin pembahasan ini melebar dan membuatnya semakin sakit hati.