Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Donor darah


__ADS_3

Rian menggeliat saat alarm berbunyi nyaring di samping telinganya. Meraba ponselnya dan mematikan alarm yang mengganggunya. Matanya masih tertutup dan Rian kembali terlelap.


"Rian, Rian," panggil Tuan Felix sambil mengetuk pintu kamar Rian berkali-kali.


Rian yang merasa itu sebuah mimpi hanya menggeliat dan menarik selimut. Ia tidur lagi. Tanpa ia tahu kalau Tuan Felix sedang menggerutu di luar kamarnya.


"Riaaaan," teriak Tuan Felix sambil mengetuk pintu semakin keras.


Rian segera bangun. Matanya langsung terbuka sempurna. Dadanya berdetak tidak karuan. Dengan kepala yang masih pusing, ia segera membuka pintu dan mendapati Tuan Felix berdiri tegap di depan kamarnya.


"Pah," ucap Rian dengan suara serak sambil menggisik matanya.


"Astaga Rian. Jam berapa ini?" tanya Tuan Felix dengan kesal.


"Maaf Pah," ucap Rian.


"Mandi dan segera ke ruang makan. Papa akan menunggumu di sana," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian pelan.


Rian baru berani mengangkat kepalanya saat melihat langkah Tuan Felix semakin menjauh dari kamarnya. Ia segera mandi dan bersiap.


Mandi tercepat sepanjang sejarah yang Rian lakukan membuatnya malu sendiri. Saat sedang merapikan kemejanya, Rian melihat busa sabun masih ada di telinganya.


"Tidak bersih," ucap Rian sambil mengelap telinganya.


Melihat jam yang terus berjalan, Rian hanya menyemprotkan parfum lebih banyak dari biasanya. Ia segera menemui Tuan Felix yang sudah menunggunya di ruang makan.


"Rian, kamu tidak mandi ya?" tanya Tuan Felix yang mengipaskan tangannya di depan hidungnya.


Rian mengangkat tangannya dah mencium ketiaknya.


"Mandi," jawab Rian setelah yakin kalau tubuhnya sudah sangat wangi.


"Berapa botol parfum yang kamu tumpahkan ke bajumu?" tanya Tuan Felix.


"Sedikit," jawab Rian pelan.


"Apanya yang sedikit. Ini sangat menyengat Rian," ucap Tuan Felix.


"Nanti juga kalau kena angin wanginya berkurang kok Pah," jawab Rian.


Tuan Felix beberapa mendengus dan menunjukkan ketidaksukaannya. Rian yang merasa tidak nyaman segera mengganti pakaian dan menyemprotkan parfum seperti biasa.


"Nah kalau begini kan lenih normal," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


"Kamu semalam begadan? Mengerjakan tugas?" tanya Tuan Felix. "Atau memikirkan Maudi? Atau justru Mpus yang membuatmu tidak bisa tidur semalaman?" lanjut Tuan Felix saat melihat Rian akan membela diri.


Rian diam karena bingung dengan option yang disebutkan oleh Tuan Felix. Ia hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Sarapan dulu Pah," ucap Rian yang mencoba mengalihkan bahasannya pagi ini.


"Pasti urusan Mpus nih. Yakin deh," ucap Tuan Felix.


"Pah, ayo sarapan." Rian masih mencoba untuk tidak membahas soal Riri pagi ini.


"Tapi Papa senang sih kalau kamu semakin dekat dengan Riri. Akhirnya kamu tahu kalau ada wanita baik yang pantas untuk diperjuangkan," ucap Tuan Felix. "Papa sarapan, nih." Lanjut Tuan Felix sambil menyuapkan roti ke dalam mulutnya.


Rian tidak bisa menjawab ucapan Tuan Felix. Ia hanya diam dan melanjutkan sarapannya. Mereka keluar rumah bersama. Arah kantor dan kampus yang berlawanan membuat mereka berpisah sejak keluar dari gerbang.


Seperti apa yang Tuan Felix, Rian ternyata benar-benar menunggu Riri. Namun sepertinya Riri tidak masuk hari ini. Pikiran buruk Rian tertuju pada Mr. Aric.


Apa jangan-jangan keadaan Mr. Aric semakin memburuk?


Rian menepis pikiran buruknya. Ia berusaha untuk selalu berpikiran positif saat ini. Namun sampai akhirnya perkuliahan selesai, Rian tidak bisa berhenti memikirkan Riri.


"Aku harus ke rumah sakit," gumam Rian.


"Rey , aku duluan ya!" ucap Rian menepuk bahu Rey.


"Kamu pulang bareng dengan Riri?" tanya Rey.


"Tidak. Aku sendiri," jawab Rian.


"Dia tidak masuk lagi?" tanya Rey menahan tangan Rian yang bersiap untuk kabur.


"Aku tidak tahu," jawab Rian.


Rey mengerutkan dahinya. Ia melihat ada yang aneh dengan Rian. Namun pikirannya teralihkan saat Maudi meneleponnya.


Rian menghela napas panjang. Ia segera pergi. Ia memang kesal saat mendengar Rey begitu mesra dengan Maudi. Tapi kali ini hatinya tidak sepedih dulu. Entah karena rasa cinta itu sudah mulai memudar, atau justru karena rasa sakit itu terlalu sering ia rasakan.


Rian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia segera menuju rumah sakit tempat Mr. Aric di rawat. Sempat kebingungan karena tidak satupun yang memberi tahu keberadaan Mr. Aric. Padahal ia sangat yakin jika Mr. Aric dirawat di rumah sakit itu.


Berbekal rasa yakin yang begitu kuat, Rian menapaki setiap ruangan rumah sakit yang begitu besar itu. Mencari sosok Riri dan ruangan rahasia tempat Mr. Aric dirawat. Sampai akhirnya ia mendengar suara tangis seorang wanita.


"Pus," panggil Rian.


Perlahan Rian menepuk bahu seorang wanita yang tengah menangis di depan ruang operasi.


"Mas Rian," ucap Riri.


Riri yang terkejut saat mengangkat wajahnya dan melihat sosok Rian segera memeluknya.


"Pus, kamu kenapa?" tanya Rian.


"Mr. Aric Mas, Mr. Aric," jawab Riri sambil tersedu dalam pelukan Rian.


"Mr. Aric kenapa?" tanya Rian yang ikut panik.


Riri menenangkan dirinya. Ia menjelaskan jika Mr. Aric sedang membutuhkan donor darah dengan cepat. Sementara golongan darah yang dibutuhkan Mr. Aric sedang kosong di rumah sakit itu.

__ADS_1


Saat mengetahui golongan darahnya sama dengan Mr. Aric, Rian segera mendaftarkan diri sebagai pendonor.


"Mas, aku tidak yakin ini akan menjadi jalan yang baik. Aku takut," ucap Riri saat menunggu hasil lab Rian keluar.


"Jangan takut! Apa yang aku lakukan adalah caraku untuk membantu Mr. Aric. Tenanglah," ucap Rian.


Tanpa sadar, Rian menggenggam tangan Riri untuk menguatkannya. Namun Riri yang tidak biasa dengan perlakuan seperti membuatnya merasa risih. Riri melepaskan tangannya dari genggaman Rian.


"Maaf ya Mas," ucap Riri.


"Oh iya. Aku yang minta maaf kalau kamu merasa tidak nyaman," ucap Rian.


Mereka menoleh ke arah pintu lab. Senyum lebar tampak di wajah keduanya saat Rian bisa menjadi pendonor untuk Mr. Aric.


"Aku ke masuk ya!" ucap Rian.


"Mas, terima kasih ya!" ucap Riri.


Rian mengangkat jempol tangannya. Ia tersenyum lebar saat menatap Riri. Berusaha menenangkan Riri kalau dirinya baik-baik saja.


Waktu terus bergulir. Riri menunggu di luar dengan gelisah. Takut terjadi apa-apa dengan Rian. ia juga khawatir dengan kemarahan Mr. Aric jika tahu Rian adalah pendonor darah untuknya.


Kegelisahannya semakin bertambah saat ponsel Rian yang dititipkan pada Riri berdering tidak berhenti. Tuan Felix menghubungi Rian berkali-kali. Riri merasa jika semua ini akan bertambah rumit.


Tidak hanya kemarahan Mr. Aric, tapi juga kemarahan Tuan Felix pada Rian karena tidak menjawab panggilannya.


"Aku harus gimana ya?" gumam Riri.


Riri nampak berjalan ke sana ke sini mencoba mengurangi kegelisahannya. Namun ia memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi tunggu sambil menangis.


Air matanya sudah ia sapu berkali-kali, namun deraian air mata belum juga reda. Pikirannya mulai melayang pada nasib kuliahnya yang terancam. Riri berpikir jika ia tidak bisa melewati satu semester pun di kampus impiannya itu.


"Tidak. Aku tidak boleh egois. Aku melakukan semua ini karena aku peduli dan sangat khawatir pada Mr. Aric. Soal kuliah, setidaknya aku pernah merasakan menjadi mahasiswa meskipun hanya sebentar." Riri terus bergumam.


Setelah cukup lama menunggu, Riri segera bangun saat tahu Rian sudah keluar. Ia segera menemui Rian yang masih terbaring.


"Mas baik-baik saja kan?" tanya Riri panik.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," jawab Rian.


"Maaf dan terima kasih ya Mas," ucap Riri.


"Sudahlah. Telingaku bosan mendejgar dua kata itu," ucap Rian.


"Oh ya ini ponsel Mas. Tadi Papa terus menghubungi Mas. Cepat pulang. Jangan membuat Papa khawatir," ucap Riri.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Rian.


"Mana mungkin aku menggunakan ponsel orang lain sembarangan," jawab Riri.


Rian segera menghubungi Tuan Felix namun pomselnya segera diambol oleh Riri dan menggagalkan panggilan itu.

__ADS_1


"Jangan dihubungi di sini. Aku takut Papa khawatir pada Mas dan menjemput Mas ke sini. Masalahnya akan menjadi tambah runyam Mas," ucap Riri.


Rian menatap wajah Riri yang penuh dengan ketakutan. Akhirnya Rian mengurungkan niatnya dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


__ADS_2