Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Terjebak


__ADS_3

Rian merenungi ucapan Tuan Felix saat sudah berada di kamarnya. Ia duduk di depan jendela dan melihat ke luar rumah. Malam yang mulai menyapa membuat Rian menatap kosong.


"Apa aku harus memperjuangkan Riri? Benarkah aku mencintainya? Haruskah aku kembali bersaing dengan Rey urusan wanita?" gumam Rian.


Rian menutup jendela kamarnya. Berbaring di atas ranjangnya dan berusaha memejamkan matanya. Hatinya kembali gelisah.


Dering ponsel membuka Rian membuka matanya dan meraih ponselnya.


"Maudi? Mau apa lagi dia?" gumam Rian.


Rian mengabaikan panggilan itu. Ia menutup telinganya dengan bantal hingga akhirnya tertidur. Melupakan kegelisahannya sebentar. Meskipun saat terbangun, ia merasa pusing dengan puluhan panggilan dari Maudi.


"Ke kampus?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah rapi.


Rian mengangguk dan duduk di ruang makan. Mengambil selepais roti dengan selai strawberry. Menyuapkannya tanpa bicara sedikitpun.


"Aku sudah bilang, jangan sampai rasamu mengalahkan asamu. Hati-hati dengan rasamu Ri," ucap Tuan Felix mengingatkan.


Rian kembali mengangguk. Rasanya ia enggan membahas tentang asa dan rasa pagi ini. Yang ia inginkan adalah pergi ke tempat tenang dan berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin melampiaskan semuanya.


"Papa berangkat duluan. Kalau kamu tidak siap, jangan paksakan. Istirahat dulu di rumah," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


Rian memang belum siap. Ia melihat jam berwarna cokelat yang melingkar di pergelangn tangannya. Ia melihat waktu terus berjalan semakin cepat. Sementara dirinya semakin tidak siap untuk bertemu siapapun di luar sana.


Ketakutan terbesarnya adalah saat ia harus melihat Riri dan Rey datang bersama. Belum lagi Maudi yang akan terus mengganggunya karena Rey sudah memutuskan hubungannya dengan Maudi.


Rian memutuskan untuk tidak berangkat ke kampus. Ia kembali ke kamarnya dan beristirahat. Saat ia terbaring, ia mendengar ketukan pintu. Ia berdiri dan mendekati sumber suara.


Saat tangannya menyentuh tarikan pintu, ia terkejut karena seorang pria tua sudah lebih dulu membuka pintu.


"Kamu yang namanya Rian?" tanya pria itu.


"Tuan siapa?" tanya Rian terkejut.


Maudi menarik tangan pria itu dan menenangkannya. Sebutan Papa menjadi ketakutan tersendiri pada Rian.


"Kurang ajar," ucap pria itu sambil menghantam wajah Rian.


Rian tersungkur dan bangkit sambil memegang pipinya. Hidungnya berdarah dan Maudi berusaha mengusapnya.


"Berhenti Maudi! Pria kurang ajar dan tidak bertanggung jawab seperti itu tidak perlu kamu bela," ucap pria itu.


"Pah cukup Pah. Kita bisa bicara baik-baik," ucap Maudi sambil menangis.


Maudi tidak tega melihat Rian sampai berdarah seperti itu. Bagaimanapun ia tahu jika Rian tidak bersalah. Tapi saat ini ia juga sedang dalam posisi sulit. Hanya Rian yang bisa menyelamatkannya.

__ADS_1


Pria tua itu adalah ayah Maudi yang sedang mengunjungi Maudi. Ia tidak sengaja melihat kertas yang tergeletak di kamar Maudi. Terkejut dan sangat marah saat melihat isi dari kertas itu.


Maudi yang tidak bisa mengelak lagi hanya bisa memberi tahu alamat Rian. Meskipun ia tidak tahu akan menjadi seperti apa nantinya, ia hanya punya pilihan itu.


Maudi sudah mencoba mengabari Rian sejak semalam. Namun Rian tidak menjawab panggilannya. Maudi hanya bisa menangis saat ia melihat Rian yang menerima hantaman dari ayahnya.


"Ada apa ini?" tanya Rian sambil tertatih.


"Laki-laki macam apa kamu? Mana orang tuamu? Apakah dia tidak mendidikmu hah?" tanya pria itu dengan suara yang begitu keras.


Rian hanya menatap Maudi. Menuntut Maudi untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Ia hanya melihat Maudi menangis.


"Ri, maaf." Hanya ucapan itu yang bisa Maudi ucapkan.


"Dia yang seharusnya minta maaf. Dia yang seharusnya minta maaf dan bertanggung jawab. Jangan merendahkan dirimu seperti itu Maudi!" ucap pria itu.


"Pah, ayo kita pulang! Ayo! Aku bisa jelaskan semuanya di rumah," ucap Maudi.


"Papa tidak perlu penjelasan apapun. Yang Papa butuhkan hanya pertanggung jawaban dari pria itu," ucap pria itu menunjuk lurus ke arah Rian.


"Apa yang harus aku pertanggungjawabkan?" tanya Rian.


"Masih punya muka kamu bertanya apa yang harus kamu pertanggungjawabkan?" tanya pria itu sambil mendekat.


Maudi berusaha menarik ayahnya namun sia-sia. Ia malah terhempas ke atas sofa.


"Jangan mengahalangiku untuk menghabisi anak ini. Kalau dia tidak bisa bertanggung jawab, aku yang harus memaksanya." Pria itu semakin mendekat kepada Rian.


"Pah, cukup pah! Biar aku yang bicara dengan Rian," ycap Maudi.


Maudi menarik tangan ayahnya namun pria itu tidak mengindahkan rengekannya. Tatapan kebencian jelas terlihat saat ayahnya menatap Rian.


"Maudi, ada apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Rian.


"Jangan berpura-pura bodoh seperti itu! Aku semakin benci kepadamu," ucap pria itu.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi," ucap Rian.


Tangan itu melepaskan genggamannya. Ia menarik sebuah kertas dari sakunya dan melemparkannya dengan kasar.


"Lihat itu!" teriak pria itu.


Rian melihat Maudi sebelum ia mengambil kertas itu. Pikirannya sudah melayang buruk saat melihat Maudi yang tidak menjelaskan apapun padanya.


"Aku hanya membantunya!" ucap Rian saat melihat kertas itu.


"Membantu? Kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa? Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kamu bodohi semudah itu," ucap pria itu.

__ADS_1


"Maudi, jelaskan padanya jika aku tidak terlibat dalam masalah ini. Aku hanya membantumu, kan?" ucap Rian sambil menggenggam tangan Maudi.


Rian benar-benar memohon agar Maudi bisa menjelaskan semuanya. Namun sayangnya Maudi tidak bicara sepatah katapun. Ia hanya menangis dan meminta maaf.


"Maudi aku tidak butuh permintaan maafmu. Aku hanya butuh kejujuranmu saja. Aku mohon Maudi," ucap Rian.


"Pah, kita pulang ya! Biar aku bicara dengan Rian. Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja," ucap Maudi.


"Pulang? Kamu gila ya! Mana mungkin Papa membiarkan pria ini lepas begitu saja," ucap pria itu.


"Pah, aku janji aku akan jelaskan semuanya. Rian hanya butuh waktu!" ucap Maudi.


"Maudi, apa maksudmu? Aku tidak butuh waktu apapun. Aku hanya butuh kejujuranmu," ucap Rian.


"Berhenti membual! Aku pusing mendengar ucapanmu," ucap pria itu.


"Pah, ayo pergi! Aku janji Rian akan bertanggung jawab," ucap Maudi.


"Baiklah, Papa memberi waktu sehari saja. Besok dia harus sudah menghadap dengan orang tuanya ke rumah," ucap pria itu.


Pria itu berjalan cepat meninggalkan rumah Rian. Maudi mengikutinya, namun Rian menarik tangannya.


"Maudi, aku tidak mungkin bertanggung jawab. Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan padamu. Aku justru membantumu. Aku harap kamu tahu cara berterima kasih," ucap Rian.


"Rian, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya butuh bantuanmu. Tolong akui saja semua ini di hadapan Papa," ucap Maudi.


"Mana mungkin aku bisa seperti itu! Aku bukan pelakunya. Sampai kapanpun aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan," ucap Rian.


"Rian aku mohon. Aku tidak punya pilihan lain. Jika kamu tidak bertanggung jawab, Papa akan mencabut kuliahku. Aku masih ingin berkuliah," ucap Maudi.


"Kamu egois Maudi. Itu semua kesalahanmu dan orang lain. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? Cari pria itu dan minta pertanggung jawaban padanya," ucap Rian kesal.


"Aku tidak bisa meminta bantuannya," ucap Maudi.


"Bukan bantuan, tapi kewajiban dia untuk bertanggung jawab atas kesalahan kalian berdua. Aku bahkan korban di sini. Aku yang masih berharap padamu harus menelan kecewa. Memang benar, selama itu aku bodoh karena masih menggantungkan harapanku padamu. Tapi setelah kejadian itu, semua harapanku sudah pupus. Jadi maaf. Aku tidak bisa membantumu," ucap Rian.


"Rian, aku tahu kamu pasti bisa memaafkanmu. Rasa cintamu akan kembali tumbuh saat kita sudah bersama," ucap Maudi.


"Maaf Maudi, tapi hatiku sudah bukan milikmu lagi." Rian menarik napas panjang setelah mengucapkan kalimat itu.


"Apa karena pembantu murahan itu?" tanya Maudi.


"Jaga mulutmu! Kamu yang murahan. Riri tidak pernah memberikan kehormatannya pada pria lain yang belum berhak atas dirinya," bela Rian.


Maudi yang awalnya merasa bersalah, kini berubah menjadi kesal dan sakit hati. Ia jsutru ingin membalas semua ucapan Rian yang menyakiti hatinya.


"Kamu lancang Rian. Aku pastikan kamu yang akan menikahiku. Kertas itu akan menjadi bukti kuat bahwa kamu pelakunya," ucap Maudi.

__ADS_1


Rian sudah emosi. Namun Maudi segera pergi meninggalkan Rian untuk menyusul ayahnya yang sudah menunggunya diluar. Sesaat Rian memegang dadanya. Dadanya sesak dan tubuhnya sangat lemas. Saat Rian berniat mengejar Maudi, sudah terlambat. Mobil sudah melaju jauh meninggalkan rumah Rian.


Tuhaaaaan, kenapa aku bodoh sekali saat itu. Aku terjebak dalam kebodohanku sendiri.


__ADS_2