
"Sudah sampai. Kamu istirahat ya!" ucap Rian.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Riri.
Rian tersenyum saat mendengar kalimat itu entah yang keberapa kalinya.
"Aku pulang. Jangan lupa ya!" ucap Rian.
"Lupa apa?" tanya Riri.
"Mimpiin aku agar tidur mu indah," jawab Rian.
"Mas," ucap Riri dengan wajah memerah.
Rian menatap Riri sampai benar-benar masuk ke dalam rumah. Lalu ia masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangan mengantar Riri hingga tidak terlihat lagi dalam pandangan matanya.
"Akhirnyaaaaa," teriak Rian saat mobil sudah melaju.
Di hadapan Riri, Rian terlihat begitu santai dan tenang. Namun setelah ia sendiri, teriakan demi teriakan beradu dengan tingginya volume musik dalam mobilnya. Sengaja, agar tidak terlalu nyaring suara kebahagiaannya. Rasanya Rian ingin sekali berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang ia jumpai di setiap sudut jalanan. Namun ia sadar, tidak semua orang peduli padanya.
Tuan Felix, mungkin satu-satunya orang yang akan sangat peduli dan ikut bahagia jika tahu hal ini. Rian sangat bersemangat untuk pulang. Ia sudah tidak sabar menunggu waktu untuk bercerita.
"Pah," panggil Rian dengan suara yang begitu nyaring dan ceria.
"Ri," jawab Tuan Felix yang baru saja mengangkat wajahnya.
"Papa kenapa?" tanya Rian.
Senyum Rian yang sudah mengembang tiba-tiba berubah. Perlahan meredup bahkan terlihat gurat khawatir melihat Tuan Felix yang tengah menekuk wajahnya di ruang keluarga.
"Papa baik-baik saja. Bagaimana kencanmu dengan Mpus?" Tuan Felix balik bertanya untuk mengalihkan bahasan Rian.
"Pah, cerita padaku. Ada apa?" tanya Rian.
Rupanya Tuan Felix tidak bisa mengalihkan pertanyaan Rian. Sepertinya Tuan Felix tidak punya pilihan lain selain menceritakan apa yang terjadi sore tadi.
"Apa Papa tidak cerita pada Kak Mia?" tanya Rian.
Tuan Felix menggeleng.
"Mungkin sudah waktunya Kak Mia tahu Pah. Kita tidak bisa menutupi semua ini selamanya," ucap Rian.
"Tadinya seperti apa katamu, Papa ingin Mia tahu cerita ini saat jita sudah kembali membaik." Tuan Felix menundukkan kepalanya, mwnyangganya dengan kedua tangannya.
"Pah, aku tahu. Tapi kita tidak bisa membuat Kak Mia menunggu kepastian tentang penjualan tanah itu. Karena imbasnya nama baik Kak Mia dan Kak Dion akan menjadi jelek juga," ucap Rian.
__ADS_1
Tuan Felix menengadahkan kepalanya. Menatap langit-langit kamarnya. Tidak lama ia memejamkan matanya.
"Jadi Papa harus cerita pada Mia?" tanya Tuan Felix.
"Menurutku iya Pah. Karena Kak Mia butuh keputusan Papa," jawab Rian.
Suara berat Tuan Felix terdengar begitu sakit oleh Rian. Ia tidak tahu jika bahagia luar biasa yang ia rasakan ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan ayahnya.
"Pah, maaf ya!" ucap Rian.
"Tidak perlu minta maaf. Kamu sudah melakukan yang terbaik," ucap Tuan Felix.
"Kalau saja aku tidak meminta Papa untuk menggunakan uang untuk masa depanku, mungkin ini tidak akan terjadi. Aku menyesal," ucap Rian.
"Ri, kalau saja kamu tidak meminta Papa untuk melakukan itu mungkin perusahaan sudah tutup sejak saat itu. Semua yang terjadi adalah jalan yang terbaik yang harus kita lalui," ucap Tuan Felix.
"Apa kita coba hubungi Kak Sindi?" tanya Rian.
"Jangan! Mia pasti akan marah. Kalau kita harus memberti tahu masalah perusahaan, Mia adalah orang pertama yang berhak tahu. Meskipun Papa tahu Mia akan sedih dan sedikit kecewa karena kita telat memberi tahunya," ucap Tuan Felix.
"Pah, jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik. Nanti, setelah perusahaan membaik kita akan mengganti uang itu. Meskipun mungkin Kak Mia tidak membutuhkan semuanya," ucap Rian.
Tuan Felix mengangguk. Harapannya agar Mia tidak ikut terbebani dengan masalahnya, ternyata pupus. Ia tidak punya cara lain untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
"Ya sudah. Papa ke kamar dulu ya!" ucap Tuan Felix.
Membiarkan Rian menyelesaikan semuanya dengan Mia adalah salah satu cara Tuan Felix melihat kedewasaan Rian. Bagaimana cara Rian bicara dengan Mia menjadi penilaian tersendiri bagi Tuan Felix. Ah tidak hanya itu. Mungkin momen itu juga digunakan untuk menyembunyikan rasa tidak enak Tuan Felix pada Mia. Sehingga ia bersembunyi pada proses pendewasaan Rian.
"Hallo Kak," ucap Rian saat panggilan sudah terhubung dengan Mia.
Saat itu, Rian baru beranjak dari ruang keluarga. ia baru menuju kamarnya setelah mendengar suara Mia yang penuh dengan keceriaan. Rian menanyakan kabar keluarga Mia dan perkembangan Narendra serta Naura. Keponakan kembar yang selalu membuatnya rindu.
"Oh ya kamu kok terdengar lemas begitu? Bukannya kamu baru pulang kencan?" goda Mia.
"Hehe," Rian mengacak rambut dan mengusap kasar wajahnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa bulan terakhir.
"Apa? Kenap kalian jahat sekali? Apakah kalian tidak pernah menganggapku ada?" ucap Mia kesal.
"Maaf Kak, tapi.." Belum usai Rian menjelaskan semuanya, namun Mia sudah mengakhiri panggilannya begitu saja.
Rasa kesal Mia benar-benar membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan Mia menangis saat mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya selama ini.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion sambil memburi dan memeluk Mia yang sedang nangis tersedu.
"Papa dan Rian jahat A. Mereka tidak pernah menganggap Mia ada," ucap Mia disela isak tangisnya.
__ADS_1
Dion segera mengusap kepala Mia dan berusaha menenangkan istrinya. Ia menjelaskan jika seharusnya Mia bersyukur atas semua yang sudah dilakukan Tuan Felix dan Rian.
"Apanya yang harus disyukuri A? Mereka sama sekali tidak pernah menganggap Mia ada," ucap Mia.
"Justru karena mereka sayang padamu, Mi. Mereka tidak mau berbagi rasa pahit. Saking sayangnya mereka padamu, mereka hanya ingin berbagi rasa manis. Mengertilah," ucap Dion.
Meskipun Mia tidak bisa menerima semua itu dengan mudah, namun sepertinya Mia harus bersyukur karena memiliki suami seperti Dion. Pria yang selalu menjadi api saat emosinya kian membara. Karena penjelasan Dion, Mia akhirnya tenang dan luluh.
"Jadi apa yang harus kita perbuat A?" tanya Mia.
"Kita beli tanah itu. Bagaimanapun, lokasinya sangat strategis. Kalau saja Papa tidak jadi membangun perusahaan untuk Rian di sana, kita bisa menjualnya kembali beberapa tahun ke depan. Dan aku yakin harganya pasti tinggi," jawab Dion.
Mia melihat wajah Dion. Pria yang selalu membuatnya jatuh cinta dan merasa tenang saat bersamanya. Selalu ada cara yang Dion lakukan hingga Mia mengerti dan yakin tentang apapun yang terjadi padanya.
"Kita akan gunakan tabungan?" tanya Mia.
Ya, wajar jika Mia ragu. Harga untuk pembelian tanah itu sangat fantastis. Rasanya berat jika perusahaan yang harus membayarnya.
"Apa yang kita dapatkan saat ini adalah pemberian dari Papa. Tidak seharusnya kita perhitungan," ucap Dion.
Mia tersenyum senang saat mendengar jawaban yang memang ia inginkan.
"Aku ikut terserah A saja," ucap Mia.
"Jadi kalau kataku kita buat adonan?" goda Dion.
"Kan tadi sudah," jawab Mia.
"Lagi," ucap Dion.
Tanpa menunggu jawaban, Dion segera menyerang Mia. Wanita yang sudah melahirkan anak kembar untuknya namun tetap selalu menarik di matanya.
Bentuk tubuh Mia yang masih bagus terawat, membuat Dion tidak pernah bosan untuk menikmati apa yang Mia miliki. Ia sama sekali tidak pernah terpikir untuk menjamah wanita lain, karena hanya Mia yang mampu memuaskannya.
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Apa yang Dion lakukan pada Mia adalah salah satu bentuk usahanya agar beban pikiran Mia teralihkan. Ia hanya ingin membuat Mia bahagia malam ini dengan serangan bertubi-tubi yang dilakukannya.
Membuat Mia menyerah adalah suatu keberhasilan yang pantas dibanggakan bagi Dion. Mia yang menikmati tidur nyenyak meskipun sudah marah dan kesal, adalah prestasi tersendiri baginya.
"Tidur nyenyak sayang," ucap Dion sambil mengecup dahi istrinya.
Bibir Dion tersenyum puas saat melihat dada istrinya dipenuhi tanda merah hasil karya dirinya beberapa jam yang lalu.
Kamu memang selalu menggoda, Mi.
Dion segera menutup dada istrinya yang masih terbuka begitu saja saat wanita cantik itu tetidur pulas. Kepuasan yang Dion berikan berhasil membuat Mia terkulai lemas dan melupakan semua bebannya. Menyambut mimpi indah yang membuat Mia semakin terlihat cantik saat sedang tertidur.
__ADS_1