Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Soal Mpus ya?


__ADS_3

"Pak Rian tidur?" tanya Danu pelan saat membuka pintu ruangan.


"Iya," jawab Manto tak kalah pelan.


Bahkan Danu tahu jawaban Manto hanya dengan melihat anggukan kepalanya dan gerakan mulutnya. Karena melihat Rian sedang tidur, Danu tidak lama ada di sana. Setelah mengantar makan siang titipan dari istrinya, Danu segera pamit untuk kembali ke ruangannya.


Manto diam sejenak dengan kotak makan siang di hadapannya. Ia tidak enak jika harus makan sendiri. Tapi kalau menunggu Rian bangun, sampai kapan? Sedangkan perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.


"Lebih baik aku makan siang di ruangan Pak Danu," gumam Manto.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Manto memberanikan diri untuk makan siang di ruangan Danu. Tidak perlu mengetuk pintu, karena kebetulan pintu ruangan Danu sedikit terbuka. Nampak dengan jelas Danu yanh sedang makan dengan lahap.


"Ada apa? Makanannya tidak enak?" tanya Danu saat melihat Manto membawa kotak makan siangnya.


"Bukan, bukan begitu. Saya hanya ingin numpang makan siang di sini. Boleh?" pinta Manto.


Meskipun sempat bingung dengan ucapan Manto, akhirnya Danu menganggukkan kepalanya. Ia mempersilahkan Manto untuk masuk. Karena saat masuk ke ruangan itu Dsnu sudah mulai makan, Manto segera membuka kotak makan siangnya.


"Kenapa makan di sini?" tanya Danu saat selesai makan siang.


"Memangnya tidak boleh?" Manto balik bertanya.


"Bukannya begitu. Hanya saja saya tidak pernah kedatangan Pak Manto di jam makan siang. Apalagi saat ada Pak Rian," jawab Danu.


"Loh, kan Pak Danu tahu sendiri kalau Pak Rian sedang tidur. Saya tidak enak kalau makan di sana," ucap Manto.


Sebenarnya bukan tidak enak, tapi Rian ketiduran di sofa yang biasa ia gunakan untuk makan siang. Manto tidak mungkin harus makan di meja kerjanya. Hingga ia memberanikan diri pergi ke ruangan Danu.


"Pak Rian seharusnya tidak memaksakan diri untuk ke kantor. Lebih baik beristirahat dulu sampai benar-benar pulih," ucap Danu.


"Seharusnya begitu Pak. Tapi semangat Pak Rian sangat tinggi," ucap Manto.


Belum selesai mereka mengobrol, Rian masuk ke ruangan Danu dengan membawa sebuah berkas di tangannya.


"Pak Manto di sini?" tanya Rian.


"Eh, Pak Rian sudah bangun?" Manto terkejut dengan kedatangan Rian ke ruangan Danu.


"Aku pikir Pak Manto di kantin. Tahunya di sini," ucap Rian.


"Iya Pak maaf. Saya segera kembali ke ruangan," ucap Manto.


Rian menarik tangan Manto saat bergegas kembali ke ruangannya.


"Tidak usah buru-buru Pak. Santai saja. Ini masih jam istirahat," ucap Rian.

__ADS_1


Manto mengangguk. Ia terligat kaku. Selain tidak berada di ruangannya saat Rian terbangun, ia juga malu melihat Rian masuk ke ruangan itu membawa berkas. Padahal ini masih jam istirahat.


Beberapa obrolan mereka lanjutkan saat Rian meminta mereka kembali mengobrol. Termasuk Danu yang menyarankan agar Rian bisa istirahat dulu di rumah. Bicara tentang rumah, Rian tiba-tiba jadi tidak enak saat ingat apa yang terjadi kemarin. Masih jelas terbayang bagaimana wajah Nyonya Helen saat menyindir Danu.


Ingin sekali ia meminta maaf atas tingkah Nyonya Helen yang tidak bisa terkontrol. Tapi apa boleh buat, di sana ada Manto. Ia tidak bisa seenaknya membahas tentang Nyonya Helen. Lagi pula membahas apa yang sudah terjadi kemarin hanya akan membuat Danu kembali tidak nyaman. Jadi Rian memilih bungkam dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.


Sampai akhirnya jam kerja sudah selesai, Rian dan Manto baru kembali ke ruangannya. Mereka berkutat dengan pekerjaannya masing-masing dan pulang saat jam kerja sudah selesai.


Ada yang berbeda dari biasanya. Kali ini Rian tidak pulang ke rumah Nyonya Helen. Ia memilih untuk pulang ke rumah Mia. Sudah lama ia tdiak menginap di rumah Mia. Semalam juga Mia sudah menghubunginya dan meminta maaf karena belum melihat kondisi Rian. Siang tadi Mia dan Dion baru pulang dari luar kota.


Awalnya Mia akan menemui Rian di kantornya siang tadi. Tapi Rian melarangnya karena ia yang akan menemui Mia di rumahnya. Kedatangan Mia sangat ditunggu oleh Mia dan Dion. Terlebih oleh Naura dan Narendra. Hingga saat Rian datang, pelukan hangat ia dapatkan dari keponakan kembar kesayangannya.


"Om kemana saja? Naura kangen," ucap Naura.


"Om sibuk sayang. Maafkan Om yang jarang main sama kalian ya!" ucap Rian.


"Naura, jangan begitu. Om Rian masih sakit," ucap Mia saat melihat Rian menggendong Naura.


"Om sakit apa?" tanya Naura sambil menatap lekat wajah Rian.


"Tidak. Om tidak sakit. Om sudah sehat," jawab Rian dengan senyumnya yang mengembang.


Mia dan Dion tidak bisa mengganggu Naura dan Narendra yang tengah bercerita dengan Rian. Sudah diprediksi akan seperti ini, Mia dan Dion hanya ikut menyaksikan ketiganya bercerita layaknya anak seumuran. Rian memang selalu mengimbangi mereka hingga mereka benar-benar nyaman saat bercerita dengan Rian.


Setelah puas melepas rindu dengan Rian, Naura dan Narendra kembali ke kamar karena harus mengerjakan PR. Mia yang dari tadi menunggu kesempatan untuk bicara dengan Rian, segera menghampirinya saat kedua anak kembarnya sudah tidak ada.


"Santai saja Kak. Aku tidak sakit. Hanya kecapean saja. Kurang istirahat," ucap Rian.


"Makanya kalau ada masalah itu jangan menyiksa diri sendiri. Masalah boleh berdatangan, tapi logika harus tetap jalan. Makan dan tidur harus tetap dijaga," ucap Mia.


Seolah Mia sudah tahu semuanya, ia meyakinkan Rian kalau hidup memang seperti itu. Apalagi setelah nanti Rian benar-benar sukses di perusahaannya. Godaannya bukan lagi ditinggal wanita, tapi digoda wanita.


Sebenarnya bukan nanti, sejak saat ini juga sudah mulai banyak wanita yang berani mencuri pandang mencari perhatian. Tapi Rian masih terlihat dingin dan tidak meresponnya sama sekali.


Mia pikir setelah hubungannya dengan Riri kandas, Rian akan menggunakan kesempatan ini untuk menggaet banyak wanita cantik yang menggodanya. Tapi sepertinya salah. Rian justru terkesan mati rasa. Mia tidak melihat semangat menikah pada diri Rian.


"Hati-hati jadi bujang lapuk loh," ucap Mia.


"Ih, amit-amit." Rian menepuk meja lalu menepuk kepalanya dengan kepalan tangannya.


Mia hanya tertawa melihat apa yang dilakukan Rian. Tapi setelah itu ia kembali memberi semangat pada Rian. Meskipun Rian menyebut hubungannya sudah kandas, tapi ia tidak yakin kalau Rian benar-benar sudah tidak bersama Riri.


"Tapi kamu masih sayang kan sama Mpus?" tanya Mia.


"Ah apaan sih Kak. Sudahlah jangan bahas dia lagi," ucap Rian dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kamu belum tahu yang sebenarnya. Kakak cukup mengenal Mpus. Rasanya tidak mungkin dia meninggalkanmu begitu saja. Kakak yakin pasti ada alasan kuat kenapa dia mengambil keputusan ini," ucap Mia.


"Alasannya sudah jelas. Dia lebih memilih Mr. Aric dibanding denganku," ucap Rian.


Mia menjelaskan bahwa yang terjadi pada Riri sekarang bukan perkara mudah. Ia mencoba role playing. Memutar keadaan seolah Rian yang berada di posisi Riri.


"Coba kalau seandainya kamu diminta untuk menikahi Riri saat ini juga. Tapi Papa meminta kamu tidak menikah dulu karena ingin fokus mengurus perusahaan Papa. Mana yang akan kamu pilih? Papa atau Mpus?" tanya Mia.


"Kak, situasinya berbeda. Jelas tidak bisa dibandingkan," ucap Rian.


"Dimana letak perbedaannya?" tanya Mia.


"Papa itu ayahku. Aku tidak mungkin membandingkan Papa dengan dia," ucap Rian.


"Loh, apa bedanya dengan Mpus?" tanya Mia.


"Maksudnya?" Rian balik bertanya.


Menurut Rian mungkin hubungan Riri dan Mr. Aric hanya sebatas majikan dan pekerja saja. Tapi Mia mengungkap sisi lain. Riri yang memang sudah merasa sendiri sejak menginjakkan kakinya di Jerman, menganggap kebaikan Mr. Aric bukan sebatas majikan saja.


Mia pernah mendengar langsung dari mulut Riri, jika ia sudah menganggap Mr. Aric adalah ayahnya sendiri. Meskipun tidak ada ucapan langsung dari Mr. Aric yang menganggap Riri anak atau hanya sekedar keluarganya, tapi Riri merasakan kasih sayang itu.


Rasa yang sudah tidak pernah ia dapatkan dari ayah kandungnya, kini ia dapatkan dari Mr. Aric. Mia sangat mengerti keputusan yang diambil Riri saat ini. Meskipun ia yakin saat ini Mia tengah merasa sangat berat dengan keputusannya.


"Curhat apa nih? Kelihatannya serius sekali," ucap Dion yang tiba-tiba datang.


"Biasa," jawab Mia.


"Soal Mpus ya?" tanya Dion.


Mia hanya tersenyum saat mendengar nama itu. Namun Rian tidak bergeming. Rasa kecewanya sudah membunuh logikanya. Ia tidak berpikir seperti yang Mia pikirkan. Yang ada di kepala Rian saat ini adalah Riri meninggalkannya dan memintanya menunggu selama satu tahun. Itu saja.


"Ri, kamu mau cari dimana lagi perempuan begitu? Langka tahu," ucap Dion.


"Ah sama saja," ucap Rian.


"Coba bawa ke sini kalau ada yang seperti Mpus. Kakak tanggung biaya nikahnya kalau kamu memang dapat yang seperti Mpus," tantang Dion.


Mia yang sudah lelah menjelaskan namun tidak membuahkan hasil, akhirnya menyerahkan semuanya pada Dion. Namun ia masih belum melihat perubahan ada keyakinan Rian. Sampai saat ini Rian masih meyakini kalau Riri sudah meninggalkannya dan lebih mementingkan orang lain.


Bukan masalah Mia yang mengenal Riri dengan cukup baik, tapi ia juga tahu perasaan Riri. Ia hanya takut Rian menyesal saat mencoba membuka hati untuk wanita lain. Karena ia tahu kalau Rian sangat mencintai Riri. Apa yang dirasakan Rian saat ini bukan benci, Rian hanya sedang kecewa saja.


"Ah, Kak Mia sama Kak Dion sama saja. Kenapa sih kalian membela dia terus?" tanya Rian.


"Aku tidak membela dia sama sekali. Aku justru hanya takut kamu salah melangkah. Kamu harus ingat ya Ri. Kalau sampai kamu salah mengambil keputusan, penyesalan yang akan kamu rasakan itu seumur hidup. Makanya pikir dengan kepala dingin," ucap Dion mengingatkan.

__ADS_1


Rian yang saat ini masih dikuasai dengan kekecewaan yang mendalam, sama sekali tidak menghiraukan ucapan Dion. Ia rasa Dion dan Mia hanya sedang membela Riri saja.


__ADS_2