Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kembali bersemangat


__ADS_3

"Sudah pulang, Ri?" tanya Tuan Felix.


"Papa baru pulang?" tanya Rian saat melihat Tuan Felix masih mengenakan kemeja.


"Tidak. Papa sudah sampai ke rumah sekitar tiga puluh menit yang lalu. Tapi Papa langsung mengecek data keuangan," ucap Tuan Felix.


"Pah, jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau Papa sakit karena masalah ini. Kita akan baik-baik saja dan menuntaskan semuanya," ucap Rian.


Rian duduk di samping Tuan Felix dan menuangkan secangkir teh hangat.


"Minum dulu Pah," ucap Rian.


Tuan Felix menghela napas panjang. Lalu ia meneguk teh hangat yang diberikan Rian untuknya. Ia merasa memang tidak bisa bersikap santai seperti Rian. Ini bukan hanya tentang perusahaannya. Tapi semua tentang masa depan anak yang sangat baik dan berbakti padanya.


"Papa tidak mengerti kenapa kamu bisa sesantai itu. Apa karena kamu tidak peduli dengan masa depanmu?" tanya Tuan Felix.


"Aku hanya yakin tentang kekuatan doa dan usaha. Itu saja. Tentang masa depan, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan jalan untukku nanti. Papa jangan khawatir. Aku sudah terbiasa hidup jauh lebih susah dari pada saat ini," ucap Rian.


"Ya, Papa mengerti. Tapi Papa takut saat kamu lulus, Papa tidak bisa memberikan apapun padamu. Lalu apa gunanya Papa mengangkatmu anak, membawamu ke sini, sementara Papa sendiri tidak bisa memberikan jaminan masa depan untukmu." Tuan Felix menunduk.


Rasanya memang sangat berat. Di saat Rian sudah siap bekerja, justru modal yang Tuan Felix gunakan justru digunakan sendiri untuk perusahaannya. Tapi Rian berhasil membuat suasana sore ini terharu.


"Pah, apa yang Papa berikan adalah bekal untuk masa depanku. Aku diajarkan banyak hal dari Papa selama ini. Bekal masa depan yang paling mahal adalah pengalaman dan ilmu. Kalau aku tidak dibawa oleh Papa, mungkin selama ini aku akan menjadi tukang lotek." Rian tersenyum.


Rian membayangkan bagaimana saat diusianya yang masih duduk di bangku sekolah menengah, ia harus berjualan lotek untuk bertahan hidup. Ya, keluarga Mia memang yang membawanya ke rumah itu. Namun pada akhirnya Tuan Felix yang meyakinkan Rian perihal masa depannya.


Rian yang awalnya hanya berharap bisa lulus sampai SMA, ternyata justru kuliah bahkan bisa menggunakan beasiswa. Dan itu terjadi di Jerman. Negara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Rian.


"Kamu memang anak yang baik, Ri. Kamu selalu mengingat setiap kebaikan orang kepadamu. Tanpa sedikitpun kamu mengingat kebaikanmu pada orang lain," ucap Tuan Felix.


Ya, Rian selalu menganggap Tuan Felix adalah pahlawan yang bisa mengubah semua harapannya. Namun ia sendiri lupa jika kebaikan Tuan Felix karena kebaikannya saat mendonorkan darahnya.


"Pah, setiap orang harus selalu mengingat kebaikan orang lain dan mengingat keburukan kita pada pada orang lain. Kata almarhum bapak, itu bisa membuat kita selalu berusaha untuk memperbaiki diri." Rian kembali tersenyum saat mengingat ucapan Pak Baskoro.


Almarhum bapak? Tuan Felix mengernyitkan dahinya saat menyadari almarhum bapak yang yang dimaksud oleh Rian.


Baskoro? Aku tidak percaya jika dia mengajarkan hal seperti ini pada Rian. Aku pikir dia tidak memiliki sisi positif selama hidupnya.


Tuan Felix akhirnya paham, jika semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sekalipun dia sendiri bukan orang yang baik.


"Bapakmu pasti bangga dengan pencapaianmu saat ini," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Bapak pasti akan sangat berterima kasih pada Papa saat meliat aku sudah menjadi manusia seperti sekarang ini," ucap Rian.


"Ah, sudah malam. Ayo istirahat! Besok kita kembali bertempur di medan perang," ucap Tuan Felix.


"Haha, medan perang. Ok, kita akan berperang melawan rasa takut dan ketidakyakinan Papa. Kita akan buktikan jika kita memang akan memenangkan peperangan kali ini," ucap Rian.


Kali ini Tuan Felix yang tertawa. Ia merasa kalimat Rian menggelitik. Benar. Musuh yang paling besar saat ini adalah ketakutan dan ketidakyakinan, yang kini menguasai diri Tun Felix. Namun berkat Rian, perlahan semuanya membaik.


"Papa tidak tahu akan menjadi seperti apa hidup Papa tanpa kamu, Ri." Tuan Felix menatap Rian penuh syukur.


"Ayo jadi apa? Kalau aku sih jelas kalau tidak ada Papa, aku akan jadi tukang lotek. Itu PR ya buat Papa. Ingat-ingat lagi, Papa akan jadi apa kalau tidak ada aku. Aku ke kamar duu ya!" ucap Rian sambil tertawa.


Tuan Felix hanya menggelengkan kepalanya mendengar PR yang Rian berikan untuknya.


Kamu memang anugerah terbaik yang Tuhan hadirkan untukku. Aku tidak pantas terus-terusan mengeluh seperti ini. Aku tidak perlu takut kehilangan apapun. Karena harta paling berharga yang aku miliki sebenarnya Rian dan Mia. Kehilangan kasih sayang mereka yang seharusnya aku takutkan. Semangat! Ya, aku harus semangat.


Malam ini Tuan Felix membawa semangatnya ke dalam mimpi. Ia buat seindah mungkin dan akan ia wujudkan saat ia kembali terbangun.


"Pagiii," teriak Tuan Felix saat melihat Rian sudah ada di ruang makan.


Rian yang terkejut dengan teriakan Tuan Felix sampai tersedak. Ia bingung dengan perubahan Tuan Felix yang begitu drastis.


"Papa sudah mendaat jawaban untuk PR yang kamu berikan," jawab Tuan Felix.


Rian semakin bingung saat mendengar PR. PR apa? Ah iya, Rian mengingatnya sekarang. Tapi ia tidak menyangka jika PR itu dijadikan sangat serius oleh Tuan Felix.


"Apa?" tanya Rian.


Tangannya masih memegang roti yang siap ia masukkan ke dalam mulutnya. Namun Rian berhenti saat menanti jawaban dari Tuan Felix. Ia ingin tahu jawaban apa yang bisa membuat Tuan Felix sebahagia itu.


"Kalau seandainya kamu tidak ada di hidup Papa, mungkin saat ini Papa hanya akan menjadi pria tua bangka yang tidak punya semangat hidup sama sekali. Dan Tuhan itu sangat baik, hingga ia menghadirkan kamu dalam hidup Papa. Jadi Papa tidak perlu takut lagi tentang perusahaan. Karena.." ucapan Tuan Felix dijeda.


"Karena apa?" tanya Rian penasaran.


"Nungguin ya?" ucap Tuan Felix sambil tertawa.


"Papa, aku serius." Rian terlihat begitu kesal.


"Karena harta Papa yang paling berharga adalah kamu dan Mia. Papa hanya akan menjadi miskin saat tidak memiliki kasih sayang dari kalian. Selama kalian masih menyayangi Papa, Papa rasa Papa akan tetap menjadi orang yang paling kaya. Sekalipun perusahaan tidak kembali stabil," ucap Tuan Felix.


Kekesalan Rian runtuh seketika saat penjelasan Tuan Felix begitu menyentuhnya. Ia tidak menyangka jika pagi ini, ia sudah kembali melihat Tuan Felix yang ia kenal sebelumnya. Pria yang selalu bersemangat dan ceria. Rian berjanji untuk selalu membuat Tuan Felix seceria ini.

__ADS_1


"Dan perusahaan akan kembali stabil kalau Papa sudah bersemangat seperti ini. Karena apa yang terjadi, sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jadi Papa harus selalu memikirkan hal yang baik ya!" ucap Rian.


"Siap. Ayo sarapan dan kita berangkat! Hari ini kamu masuk siang kan di kampus?" tanya Tuan Felix.


"Iya Pah. Hari ini aku masuk siang. Jadi kita akan bertempur bersama di medan perang," jawab Rian sambil tertawa.


Keduanya menikmati suasana pagi yang begitu hangat. Meskipun tujuan mereka tempat yang sama, tapi mereka berangkat dengan mobil yang berbeda. Karena setelah jam istirahat, Rian akan ke kampus.


Saat tiba di kampus, Rian merasa semakin semangat karena melihat semangat Tuan Felix yang begitu membara. Ia tersneyum melihat perubahan luar biasa di pagi ini.


"Ri, sudah siang. Kamu sebaiknya bersiap untuk ke kampus. Biar semua ini Papa yang kerjakan," ucap Tuan Felix.


Rian mengangguk dan segera bergegas. Jika biasanya ia sering mengulur waktu, kali ini Rian segera bersiap. Melihat Tuan Felix sudah kembali bersemangat, ia tidak perlu merasa khawatir dengan pekerjaan di kantor.


Semangat Tuan Felix menular begitu baik. Siang ini Rian merasa kuliah paling semangat menurutnya. Ah, tidak hanya menurutnya. Rey dan Riri juga merasakan hal itu.


"Aku ikut bahagia untuk semua perubahan Papa," ucap Riri.


Rey menatap Riri bingung. Ia tidak tahu jika selama ini Riri memang memanggil Tuan Felix Papa.


"Aku juga ikut senang kalau Papa sudah berubah," ucap Rey.


Kini Rian yang menatap Rey dengan bingung.


"Kenapa? Apa cuma Riri yang boleh memanggil Tuan Felix dengan sebutan Papa?" tanya Rey saat menyadari tatapan kebingungan dari Rian.


"Ah tidak," jawab Rian.


"Sayang sekali ya kita tidak jadi libur ya. Padahal tadinya aku mau ke kantormu hari ini," ucap Rey.


Ya, memang ada perubahan jadwal libur. Libur diundur menjadi hari besok. Dan Rey tidak bisa ke kantor Rian besok karena orang tuanya akan datang mengunjunginya.


"Jangan lupa oleh-olehnya ya!" ucap Rian sambil menepuk bahu Rey.


"Tergantung ya," ucap Rey.


"Tuh kan. Giliran ada emak sama bapaknya aja, sombong." Rian menggoda Rey.


Mereka berdua asyik saling bergurau satu sama lain. Sampai akhirnya Rian menyadari kesedihan Riri.


"Pus, kita makan yu!" ajak Rian mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2