
"Jadi kapan kita akan ikut pindah?" tanya Dion.
"Malam ini, A. Mia mau siapkan semua barang-barang kita setelah pulang kerja," jawab Mia.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kalau Papa sudah berangkat ke Jerman?" tanya Dion.
"Memangnya kenapa kalau Papa ikut tinggal di rumah Papa Wira?" tanya Mia.
Dion tahu kehadiran Tuan Felix di rumah Tuan Wira akan menjadi warna baru. Namun ia tidak mau jika ayah mertuanya salah paham dengan langkah ini.
"Ya sudah, aku ikut keputusan Aa." Mia mengakhiri panggilannya dengan perasaan kecewa.
A Dion aneh. Kemarin-kemarin membujuk Papa habis-habisan karena mau tinggal di sana. Giliran Papa sudah boleh malah ditunda-tunda.
Saat makan siang, Dion yang sedang ngantor di kantor Tuan Wira menemui Mia di kantornya. Mia memang menyambut kedatangan Dion, namun tidak seperti biasanya.
"Kamu marah ya, Mi?" tanya Dion.
Mia menggeleng dan mencoba mengalihkan pembahasan. Ia menawarkan menu makan siang di luar. Tidak ingin membuat Mia semakin marah, ia hanya mengikuti Mia. Ia memesan salah satu makanan yang akan dipesan untuk makan siangnya.
Selama beberapa waktu, Mia tidak mengajaknya bercerita. Ia pun menjawab pertanyaan Dion dengan singkat. Dion sangat paham jika wanita cantik itu tengah marah padanya.
Dion berusaha lebih tenang. Ia tidak mengikuti emosinya untuk kembali marah pada Mia. Meskipun kesal, ia berusaha untuk tetap tersenyum saat Mia sesekali menatapnya.
"Masuk," ucap Mia saat pintu ruangannya diketuk.
Seseorang masuk membawa makanan yang mereka pesan.
"Selamat makan," ucap Dion dengan menirukan gaya Mia.
Ya, Mia melupakan kebiasaannya karena sedang kesal pada Dion. Padahal biasanya Mia selalu mengucapkan selamat makan saat mereka akan makan.
"Iya A. Selemat makan," jawab Mia pelan dengan senyum yang dipaksakan.
Dion tidak terlalu serius menganggap sikap Mia. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan siangnya dengan lahap. Percuma jika ia membahasnya sebelum makan. Itu hanya akan membuat makan siangnya tidak berselera dan berantakan.
"Mi, jangan seperti anak kecil dong." Dion mulai membahas kekesalan Mia.
"Apa sih A," ucap Mia malas.
"Ya sudah kita menginap malam ini," ucap Dion.
"Serius? Beneran ya A!" ucap Mia sambil memeluk Dion.
Wajah Mia seketika menjadi sangat ceria. Dion sampai menggelengkan kepalanya. Mia memang sudah semakin berumur, tapi di hadapan Dion ia akan menjadi sangat manja seperti anak kecil.
"Sudah tidak marah?" tanya Dion sambil menatap Mia.
Mia menutup wajahnya sambil menggeleng.
__ADS_1
"Ya sudah aku kembali ke kantor Papa ya!" ucap Dion.
"Iya. Hati-hati ya A," ucap Mia.
Mia yang bahagia mengantar Dion sampai ke gerbang perusahaan. Ia melambaikan tangannya saat mobil Dion sudah melaju semakin menjauh.
"Akhirnya Mia bisa merawat Papa lagi. Maafkan Mia ya Pah. Selama ini Mia terlalu sibuk sendiri. Bahkan Mia sampai melupakan kewajiban Mia untuk merawat Papa," gumam Mia.
Mia kembali bekerja setelah ia cukup puas dengan keinginannya. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera berkumpul dengan mertuanya.
Kriiiing.. Kriiiing
Dering telepon di mejanya membuat Mia mengangkat wajahnya. Ia menjawab panggilan itu.
"Siap, siap." Mia kembali menutup panggilannya.
Setelah itu, Mia menutup wajahnya dan mengusapnya pelan. Napasnya terdengar berat. Ada rasa kesal namun tidak bisa ia ungkapkan. Tangannya mengepal menahan rasa yang bergejolak dalam dadanya.
Dengan malas, Mia kembali bekerja. Meskipun dalam keadaan tidak baik, ia masih berusaha untuk bersikap profesional. Sampai akhirnya jm pulang sudah tiba, Mia masih menatap layap laptopnya.
"Mi, belum siap-siap?" tanya Dion.
Mia cemberut dan menggeleng. Ia juga meninggalkan layar laptopnya dan nemeluk Dion sambil menangis.
"Hey, ada apa?" tanya Dion bingung.
Mia tidak menjawab. Ia hanya menangis tersedu dalam pelukan Dion. Dion tahu kalau Mia masih belum siap bercerita. Usapan lembut Dion akhirnya mampu membuat tangisan Mia mereda.
"Mia harus ke luar kota A," jawab Mia.
"Kapan?" tanya Dion.
"Sekarang. Soalnya besok pagi harus sudah ada di lokasi," jawab Mia.
"Ya sudah aku antar ya! Kamu tidak perlu sampai menangis begitu," ucap Dion.
"Harusnya kan malam ini kita semua menginap di rumah Papa," ucap Mia sedih.
"Mi, kan masih banyak waktu. Kamu kan memang sudah lama menantikan proyek ini," ucap Dion.
Mia diam. Dion memang benar, sudah sejak lama ia menantikan proyek ini. Tapi sayangnya dia datang di saat yang kurang tepat. Untungnya Dion adalah suami yang selalu mendukung istrinya. Dion selalu memberi sudut pandang yang berbeda hingga Mia tidak merasa sendiri.
"A, terima kasih ya!" ucap Mia.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku sudah bilang kalau aku akan selalu mendukung karirmu. Ini kan yang kamu nantikan selama ini?" tanya Dion.
"Iya A," jawab Mia.
Mia beruntung berada di sekeliling orang-orang yang selalu mendukungnya. Meskipun Mia meninggalkan Dion dan kedua anak kembarnya, mereka selalu mendukung langkah Mia.
__ADS_1
Saat ini pun sama. Dion justru membantu Mia menyiapkan berkas yang harus dibawa ke luar kota. Sebelum pergi, mereka ke rumah untuk membawa semua kebutuhan Mia. Tidak lupa ke rumah Tuan Wira untuk pamit dan menitipkan anak-anak.
"Papa, mau tinggal di sini atau menginap di rumah Papa Wira?" tanya Mia pada Tuan Felix.
Melihat Tuan Felix masih ragu, Dion menjelaskan bahwa ia akan meminta Rian untuk pulang jika Tuan Felix ingin di rumah itu. Namun Tuan Felix cukup kooperatif. Ia memilih untuk menginap di rumah sahabat sekaligus besannya.
"Biar sekalian sama anak-anak juga," ucap Tuan Felix.
Mereka bertiga berangkat. Mia dan Dion yang pamit untuk ke luar kota dan menitipkan anak-anaknya pada yang lain. Mereka tentu tidak keberatan. Bahkan Mia mendapat dukungan dan doa dari semua keluarga.
Mia lega. Ia berangkat dengan perasaan senang. Tidak lama, hanya satu hari. Ia hanya harus mempresentasikan apa yang ia siapkan sebaik mungkin. Besok malamnya ia bisa kembali lagi ke Jakarta.
"Mama, hati-hati ya!" ucap Naura dan Rendra bersamaan.
"Iya. Kalian juga baik-baik ya di sini," ucap Mia dan Dion sambil melambaikan tangannya.
Jarak antara dua kota yang terpisah cukup jauh membuat Mia sudah merindukam kedua anak kembarnya. Malam sudah larut. Seharusnya ia istirahat, tapi matanya sulit terpejam. Ia mencoba menghubungi Rian dan melakukan panggilan video.
Naura dan Narendra sudah tidur dengan nyenyak. Mia tenang saat memastikan kalau kedua anaknya baik-baik saja dan sudah terlelap.
"Titip mereka ya Ri," ucap Mia.
"Iya. Kakak jangan khawatir. Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja," ucap Rian beruasaha menenangkan Mia.
Mia tertidur setelah ia mengakhiri panggilan itu. Tidak lama. Karena ia harus bangun lebih pagi dan persiapan untuk acaranya. Berkas yang siap dipresentasikan oleh Mia sudah tersimpan di atas meja saat ia selesai mandi.
"A, biar Mia saja." Mia merasa tidak enak dengan perhatian Dion yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Sudahlah. Kamu ini kurang tidur. Pasti lelah, jadi aku bantu kamu. Ya sudah sekarang cepat bersiap. Aku tidak mau nanti kamu sampai terlambat," ucap Dion.
Mia memang tidak enak saat Dion selalu bersikap seperti asiaten saat ia sedang sibuk dan tegang seperti itu. Namun waktu terus berjalan dan ia sudah harus bersiap.
Sebuah pakaian bernuansa maroon sudah Mia kenakan. Dion pun menggunakan pakaian senada dengan Mia. Mereka tampak sangat serasi. Apalagi perlakuan Dion yang begitu romantis kepada Mia, berhasil membuat banyak pasang mata iri.
"A, Mia tidak percaya diri." Mia tampak menggulung salah satu ujung bajunya.
"Jangan begitu. Aku yakin kamu pasti bisa," ucap Dion memberi semangat untuk ketujuh kalinya sejak mereka bangun tidur.
"Terima kasih A," ucap Mia.
Mereka berdua sudah duduk bersama orang-orang yang akan berpengaruh besar terhadap bisnisnya. Dion terus menyemangati Mia melalui tatapan matanya.
Dion menatap Mia tidak berhenti saat wanita cantik itu mulai mempresentasikan berkas yang ia bawa. Kekaguman menyeruak, membuat Dion benar-benar bangga bisa mendapatkan wanita luar biasa yang bisa mendampinginya.
Suara riuh tepuk tangan dari orang-orang hebat yang ada di sana membuat Mia menelan salivanya. Ini adalah mimpi yang tidak pernah ia sangka. Akhirnya ia bisa berdiri dan berjuang untuk peruasahaan yang dipimpinnya.
Sebuah kontrak besar sudah deal. Peruasahaan Mia digadang-gadang akan menjadi perusahaan terbesar dan termaju beberapa tahun ke depan. Berita bahagia ini pun dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga keluarga Tuan Wira.
Mereka semua ikut bahagia dan mendoakan kesuksesan bagi Mia. Terlebih Tuan Felix. Akhirnya ia bisa menyaksikan Mia tertawa bahagia saat sudah mencapai puncak karirnya.
__ADS_1
Aku tahu kamu pasti bisa, Mia. Aku yakin kamu akan mampu mewujudkan impianmu.