Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tingkat akhir


__ADS_3

Saat bangun tidur, Mia langsung mengingat masalah yang tengah menimpa ayahnya. Dia segera membangunkan Dion yang masih terlelap.


"A," ucap Mia sambil mengguncang pelan bahu suaminya.


"Emmmmh," Dion menggeliat namun masih memejamkan matanya.


"Aa," ucap Mia lagi sambil mengguncang tubuh Dion lebih cepat.


"Apa sih, Mi." Dion membalikkan badannya hingga membelakangi Mia.


"Aa, bangun!" ucap Mia.


Kali ini Mia mengguncang semakin keras hingga Dion membuka matanya.


"Apa sih, Mi?" tanya Dion.


"Aku gelisah soal penjualan tanah itu," jawab Mia sambil cemberut.


"Ya ampun Mi. Kamu kenapa harus gelisah? Nanti kalau orang itu menghubungi lagi, kita tentukan tempat untuk transaksi dan selesai. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," ucap Dion sambil mengusap kepala Mia.


"Apa Aa serius?" tanya Mia.


"Tentu. Sejak kapan aku tidak serius padamu?" Dion balik bertanya.


"Terima kasih ya A," ucap Mia sambil memeluk suaminya.


Dion memang orang yang selalu membuat Mia tenang. Bagi Mia, Dion adalah solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.


Pantas saja kamu selalu bilang ingin seperti A Dion, Ri. Suamiku memang benar-benar idaman. Dan aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan memperlakukan pasanganmu seperti A Dion memperlakukanku. Siapapun wanita itu, dia adalah orang yang sangat beruntung. Dan aku harap wanita itu adalah Mpus.


Seperti halnya Mia, Tuan Felix juga berharap jika Riri adalah wanita yang akan berjodoh dengan Rian. Mereka tahu kalau perjalanan Rian masih sangat panjang. Namun keduanya sama-sama memiliki harapan yang sama. Tentunya demi kebaikan Rian di masa yang akan datang.


Dering ponsel membuat Mia melepaskan pelukannya. Ia meraih ponselnya dari atas nakas. Nama Rian nampak mengisi layar ponselnya.


"Rian, A." Mia menunjukkan ponselnya pada Dion.


"Katakan padanya tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Semuanya sudah selesai," ucap Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Sementara Mia menjawab panggilan dari Rian, Dion pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor.


"Kakak serius?" tanya Rian terkejut setelah mendengar penjelasan dari Mia.


Meskipun Mia tidak melihat ekspresi wajah Dion, namun dari suaranya jelas terdengar jika Rian sangat bahagia. Berkali-kali Rian mengucapkan terima kasih untuknya dan Dion. Ada perasaan senang saat mendengar Rian begitu senang dengan kabar darinya.


"Aku yakin Papa pasti akan senang," ucap Rian setelah yakin dengan penjelasan Mia.


"Aku akan sangat menyayangi Papa. Aku berharap Papa selalu bahagia. Tolong Rian, kalau ada apa-apa cerita padaku. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi," ucap Mia sedih.


"Iya Kak. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi," ucap Rian.


Lama mengobrol, sampai akhirnya Mia pamit karena akan pergi ke kantor. Rian menitipkan salam dan ucapan terima kasih untuk Dion. Tidak lupa salam rindu juga ia titipkan untuk keponakan kembarnya.


"Ri," panggil Tuan Felix sambil membuka pintu kamar Rian.

__ADS_1


"Pah," ucap Rian.


Rian yang sedang tersenyum lebar dengan ponsel yang masih dalam genggamannya, membuat Tuan Felix mengerutkan dahinya. Rasa curiga dan ingin tahu, rupanya sedang menyelinap dalam dirinya.


"Kamu sedang apa? Apa Mpus baru saja menghubungimu?" tanya Tuan Felix.


"Tidak," jawab Rian sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong!" ucap Tuan Felix.


"Mana mungkin aku berbohong Pah," ucap Rian.


"Lalu kamu kenapa? Apakah sudah dapat lotre?" tanya Tuan Felix.


"Ini lebih dari lotre," jawab Rian.


"Apa?" tanya Tuan Felix semakin penasaran.


Rian segera menceritakan apa yang terjadi. Alih-alih bahagia dan tersenyum, Tuan Felix justru terlihat bersedih. Mata yang terlihat berkantung itu jelas menampakkan gurat kesedihan.


"Pah, aku salah ya?" tanya Rian.


"Tidak. Kamu tidak salah," jawab Tuan Felix sambil mengusap punggung Rian.


"Lalu kenapa Papa bersedih?" tanya Rian.


"Papa hanya merasa merepotkan kalian. Gara-gara masa lalu Papa, akhirnya kamu dan Mia yang harus ikut menanggung semua ini," jawab Tuan Felix.


"Pah, aku dan Kak Mia adalah anak Papa. Apapun yang terjadi pada kita, maka sudah seharusnya kita hadapi sama-sama." Rian menenangkan Tuan Felix.


Saat remaja seusianya masih fokus dengan kuliahnya, Rian sudah dituntut untuk mempelajari semua tentang perusahaan. Bahkan Tuan Felix merasa jika ia sudah merampas masa depan Rian.


Belum lagi perihal pembelian tanah itu. Tuan Felix semakin merasa tidak berguna menjadi seorang ayah. Karenanya, Mia justru turut merasakan imbas atas masalah yang sudah menimpanya.


Tanpa Tuan Felix sadari, berkat ketulusannya membuat Rian dan Mia sama sekali tidak pernah merasa terbebani. Mereka justru ingin sama-sama membantu Tuan Felix agar kembali bangkit dari keterpurukannya.


Hari-hari berlalu dengan sedikit dingin bagi Rian. Tuan Felix yang sering menyendiri membuat Rian kembali merasa kehilangan sosok ayah seperti biasanya.


Hampir dua tahun berlalu semenjak kejadian itu. Rian sudah semester tujuh. Sudah tingkat akhir. Saat tugas kuliahnya semakin banyak sedangkan ia masih disibukkan dengan pekerjaan kantor.


"Papa bangga padamu," ucap Tuan Felix.


"Terima kasih Pah," ucap Rian.


Meskipun Rian tidak tahu kebanggaan apa yang membuat Tuan Felix memberinya sebuah kado. Ia hanya menerima kado itu dengan bibir yang mengembang.


"Berkat semua usahamu, akhirnya perusahaan nyaris kembali normal. Papa tahu ini sulit. Tapi keyakinan dan kerja kerasmu membuktikan semuanya. Perusahaan kembali membaik. Mulai sekarang, Papa ingin kamu fokus kembali pada kuliahmu." Tuan Felix menatap Rian dengan lekat.


"Tapi bagaimana dengan perusahaan?" tanya Rian.


"Papa kembali akan merekrut orang di perusahaan," jawab Tuan Felix.


"Aku takut Pah. Biarkan aku tetap dengan tugasku," ucap Rian.


"Tidak Ri. Ini semester akhir. Sudah seharusnya kamu menyelesaikan semuanya dengan fokus," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Papa yakin?" tanya Rian.


"Yakin," jawab Tuan Felix.


Melihat Tuan Felix begitu yakin, Rian akhirnya mengiyakan. Ini sebenarnya yang harus ia lakukan. Tingkat akhir harus ia selesaikan dengan baik.


Tidak terasa, dua tahun sudah ia jalani dengan banyak liku-liku kehidupan. Dari sana Rian banyak belajar tentang hidup. Apalagi kehadiran Riri yang menemaninya selama ini, membuat Rian semangat.


"Sebentar lagi Mas lulus. Mas mau pulang ke Indonesia?" tanya Riri.


"Iya. Kamu sendiri bagaimana, Pus?" tanya Rian.


"Tidak tahu," jawab Riri sambil menggeleng.


"Kenapa tidak tahu?" tanya Rian.


"Aku merindukan keluargaku. Aku ingin kembali hidup menjadi manusia normal pada umumnya. Memiliki keluarga dan merasakan hangatnya kasih sayang," jawab Riri.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Rian.


"Mr. Aric memintaku untuk tetap di sini dan mewujudkan mimpiku di sini. Katanya aku akan lebih berkembang jika ada di sini," jawab Riri.


Rian melihat kesedihan di wajah cantik Riri. Ia tidak tahu kalau kesedihan itu tidak hanya tentang keluarganya dan cita-citanya. Namun ada rasa takut saat Riri tidak lagi bersama dengan Rian.


Lalu bagaimana hubunganku dengan kamu, Mas. Kamu di sana pasti bertemu lagi dengan Mba Maudi. Ah, aku tidak bisa membayangkan jika nanti kalian menikah.


Riri menggeleng dan memejamkan matanya.


"Kamu kenapa, Pus?" tanya Rian.


"Eh tidak Mas," jawab Riri.


Riri mengusap pelan wajahnya saat telah tersadar dari lamunannya. Ia malu sendiri dengan tingkahnya.


"Kamu jangan khawatir. Kita hanya beda satu tahun. Aku akan menunggumu di sini selama kamu belum lulus. Setelah itu, aku akan bicara kepada Mr. Aric. Aku akan melamarmu," ucap Rian.


Melamar? Mendengar kata itu Riri sampai tersedak.


"Minum, minum." Rian memberikan segelas air.


Riri segera menerima gelas itu dan meneguknya hingga kandas.


"Pelan-pelan," ucap Rian mengingatkan.


Riri hanya mengangguk tanpa menghentikan tegukannya.


"Terima kasih Mas," ucap Riri.


Riri menatap Rian dengan perasaan tidak percaya. Ia tidak menyangka jika Rian akan benar-benar serius dengan hubungannya.


"Kamu mau kan menikah denganku?" tanya Rian.


"Hah?" tanya Riri dengan mata terbelalak.


"Ya, aku tahu ini masih terlalu cepat. Aku juga belum bisa menjadi seorang suami dari segala sisi. Namun aku ingin meyakinkanmu, jika aku benar-benar menginginkanmu untuk masa depanku." Rian menggenggam tangan Riri.

__ADS_1


Senyum Rian mengembang saat merasakan tangan Riri yang begitu dingin dan berkeringat. Ia senang walaupun Riri tidak mengiyakan keinginannya. Tapi setidaknya tidak ada penolakan dari wanita yang sangat ia cintai itu.


__ADS_2