Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tolong jangan begini


__ADS_3

Mobil Rian sudah terparkir di depan rumah Shelin. Dada Rian bergemuruh tak menentu. Ia tidak tahu alasan apa yang akan digunakan saat mereka bertanya 'kemana saja?'.


"Permisi," ucap Rian saat sudah meyakinkan dirinya.


Nampak kedua orang tua Shelin yang sedang duduk segera bangkit dan menatap Rian dengan tatapan tidak menyenangkan. Rian sadar akan kesalahannya, maka ia pasrah dengan semua yang akan dilakukan kedua orang tua Shelin.


"Pah, Ma," Rian mengulurkan tangan.


Sayangnya uluran tangan Rian diabaikan. Rian yang kikuk hanya menarik tangannya kembali. Tidak ada rasa marah, karena ia sangat sadar bahwa apa yang ia dapatkan semua karena ulahnya.


Dulu Rian sangat diperlakukan dengan baik oleh kedua orang tua Shelin. Perlakuan itu berbanding terbalik setelah perginya Rian ke Jerman tanpa kabar pada mereka.


"Aku ke sini mau minta maaf," ucap Rian pelan.


Rian menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap kedua orang tua Shelin.


"Kami hanya perlu kepastian," ucap ibunya Shelin.


"Ma, jangan begitu. Biarkan tamu kita duduk dulu," ucap ayahnya Shelin


Sekilas memang terkesan membela Rian. Tampang ayahnya Shelin kini lebih santai dibanding Ibunya. Nada bicaranya pun lebih pelan. Namun ada makna tersirat dalam kalimat yang keluar dari mulutnya.


'Tamu kita'


Dua kata yang janggal dalam telinga Rian. Apakah mereka benar-benar sudah menganggap Rian asing? Ah sudahlah. Semua memang pantas ia dapatkan. Yang harus ia lakukan saat ini adalah meminta maaf. Menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat, dan kembali mengurus acara pernikahannya nanti.


Rian duduk setelah dipersilahkan. Berusaha menghilangkan apa yang sedang menjadi ketidaknyamanannya.


"Kemana saja kamu?" tanya ibunya Shelin.


"Aku sedang ada urusan pekerjaan, Ma." Rian mencoba berbohong.


"Kenapa tidak ada kabar ke Shelin? Apa kamu tahu betapa tersiksanya Shelin beberapa hari ini? Apa ini pantas Shelin terima?" tanya ibunya Shelin.


"Ma, maafkan aku. Aku benar-benar sedang sibuk," ucap Rian.


"Sibuk? Sampai kamu tidak punya waktu sekedar untuk mengabari Shelin? Mungkin memang karena Shelin bukan prioritasmu," ucap ibunya Shelin.


"Kamu puas? Shelin sudah sangat sedih dengan kesibukanmu," tambah ayahnya Shelin.


"Pah, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku mencintai Shelin," ucap Rian.


Dari atas, Shelin. memegang dadanya. Ia sejak tadi mendengarkan obrolan kedua orang tuanya dengan pria yang akan menjadi suaminya itu. Jawaban Rian sama sekali tidak membuatnya bahagia. Ia justru sakit saat mendengar ucapan itu.

__ADS_1


"Omong kosong," ucap Shelin pelan.


"Buktikan! Cinta itu bukan hanya sekedar ucapan, tapi perbuatan. Tidak seharusnya kamu pergi begitu saja tanpa kabar," ucap ayahnya Shelin.


"Percuma kamu bilang sayang sampai mulutmu berbusa. Tapi tindakanmu sama sekali tidak membuktikan ucapanmu. Semuanya hanya omong kosong," ucap ibunya Shelin.


Rian hanya menunduk dan mengiyakan setiap kalimat penuh amarah dari kedua orang tua Shelin. Ia tidak berani membuka mulutnya. Seketika lidahnya kelu.


"Aku kembalikan ini!" ucap Shelin


Suara khas Shelin membuat Rian terperangah. Ia melihat sebuah cincin tergeletak di atas meja. Sementara Shelin masih berdiri membuang muka.


"Shelin, apa ini?" tanya Rian.


"Aku yakin kamu sudah tahu apa maksudku," jawab Shelin.


"Tidak Shelin. Tolong jangan begini," ucap Rian.


Bukan hanya Rian, tapi kedua orang tua Shelin juga ikut terkejut dengan sikap Shelin yang terlalu berani. Tanpa berunding, tiba-tiba Shelin mengambil keputusan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


"Kamu yang memaksaku seperti ini. Ini yang kamu mau kan?" tanya Shelin sambil. emnyeka sudut matanya.


Ingin rasanya ia berdiri tegar tanpa tangisan. Namun air mata itu menghambur begitu saja tanpa bisa ia tahan.


"Shelin," ucap ibunya sambil merangkul Shelin dan berusaha menguatkan anaknya.


"Jangan begitu Shelin. Ambil dan pakailah!" ucap ayahnya.


Begitupun ayahnya Shelin. Meskipun ia begitu kesal dengan sikap Rian yang menghilang tanpa kabar, tapi ia tahu kalau Shelin sangat mencintai Rian.


"Tidak Pah. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin menyudahi pertunangan ini sebelum terlambat," ucap Shelin yang mulai menutup wajahnya.


Air matanya yang mulai turun dengan deras membuatnya harus bersembunyi diantara kedua telapak tangannya. Sementara ibunya terus memeluk Shelin. Menguatkan anak gadisnya yang sedang sangat rapuh itu.


"Sayang, jangan mengambil keputusan saat sedang emosi. Tenangkan dirimu," ucap ibunya.


Shelin menggeleng. Ia kembali meyakinkan Rian kalau ia sudah tidak bisa melanjutkan pertunangan itu. Ia berjanji akan menemui keluarga Rian saat perasaannya sudah membaik.


"Shelin, aku tahu aku salah. Tapi aku berjjanji akan memperbaiki semuanya. Aku jannji," ucap Rian.


"Lebih baik kamu pulang. Aku sudah mengambil keputusan. Dan keputusan ini sudah aku pikirkan matang-matang," ucap Shelin di sela isak tangisnya.


"Tidak Shelin. Aku akan tetap di sini sampai kamu memaafkanku," ucap Rian.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu. Jadi pulanglah," ucap Shelin.


"Kalau kamu sudah memaafkanmu, pakailah ini. Jangan pernah sekalipun kamu melepaskannya lagi ya!" ucap Rian.


Cincin yang akan Rian pasangkan di jemari Shelin tiba-tiba ditepis. Shelin menolaknya. Sekali lagi ia meyakinkan Rian jika hubungannya sudah tidak bisa dipertahankan.


Bagi Shelin, lebih baik malu dan sakit saat ini dari pada nanti lebih dari ini. Ia tahu bagaimana Rian sangat mencintai Riri. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan apa jadinya jika Rian yang menjadi suaminya.


Setelah berpikir berulang kali akhirnya ia mengambil keputusan ini. Ia memilih untuk gagal menikah dari pada harus gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bagaimanapun, Rian tidak akan bahagia sepenuhnya jika di hatinya tersimpan rasa untuk wanita lain.


"Shelin, maafkan aku." Rian mencoba menggenggam tangan Shelin, namun Shelin tetap menolak.


"Shelin, pakai cincinnya!" pinta ayahnya.


"Tidak mau," jawab Shelin sambil menggeleng.


"Ayolah Shelin. Jangan mempermalukan keluarga," ucap ayahnya.


"Apa Papa mau aku menderita seumur hidupku? Hidup dengan pria yang tidak mencintaiku hanya akan membuat aku sakit dan terluka. Papa mau begitu?" tanya Shelin.


Ayahnya tidak bisa menjawab pertanyaan Shelin. Memang benar jika Shelin akan merasa tersiksa dengan rumah tangga seperti itu. Tapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya ia saat semua orang tahu anaknya batal menikah. Lagi pula ia yakin kakau Rian pasti berubah.


"Sayang, jangan begitu. Semua ini hanya ujian menjelang pernikahan. Pakai lagi cincinnya ya!" bujuk ibunya.


Shelin tetap menggelengkan kepalanya. Ia sudah yakin dengan keputusannya. Ia mundur karena tidak ingin terjebak dalam sebuah keterlanjuran.


Ya, memang benar. Saat ini Rian sedang kehilangan rasa cintanya pada Shelin. Namun. karena terlanjur bertunangan, ia ingin mempertahankan semua itu. Karena mundur pun percuma, Riri tdiak akan kembali padanya.


"Shelin, pakailah!" ucap Rian sambil berusaha mengembalikan cincin itu pada jemari Shelin.


Shelin tetap dengan keputusannya. Ia menolak dan meminta Rian untuk pulang. Melihat sikap Shelin yang tidak mungkin ia luluhkan, akhirnya ia pamit untuk pulang. Ia memberi waktu pada Shelin untuk menenangkan dirinya.


"Aku akan kembali lagi besok. Kita akan bicara lagi dengan situasi yang lebih baik dari ini," ucap Rian.


Shelin sama sekali tidak merespon ucapan Rian sampai akhirnya Rian benar-benar pulang. Sementara cincin itu masih tergeletak di atas meja.


Setelah Rian pulang, sebentar mata Shelin menyapu sudut ruangan. Ia menghela napas panjang saat melihat cincin itu di atas meja. Tanpa ragu, ia kembali ke kamarnya. Meninggalkan cincin itu begitu saja.


"Shelin, Shelin," panggil ibunya dan berusaha mengejar.


"Jangan Ma!" ucap ayahnya Shelin sambil menarik lengan istrinya.


"Kenapa Pah?" tanya ibunya Shelin.

__ADS_1


"Biarkan dia sendiri dan menenangkannya diri. Nanti kita ke sana ya setelah semuanya membaik," jawab ayahnya Shelin.


Ibunya hanya mengangguk. Padahal ia sangat ingin memeluk Shelin dan kembali mengingatkannya untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Namun ia mengurungkan niatnya. Memberikan waktu untuk sendiri seperti yang disampaikan oeh suaminya.


__ADS_2