Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mereka hilang


__ADS_3

Terlalu asyik bermain, Tuan Felix menghubungi Rian berkali-kali. Namun tidak satupun dari panggilanny terjawab. Sampai akhirnya Mia dan Dion pulang, Rian masih belum pulang dan tanpa kabar.


"Jadi Rian juga tidak bilang pada Papa?" tanya Mia panik.


Berbeda dengan Mia, Dion terlihat lebih tenang bahkan ia berusaha menenangkan Mia. Tuan Felix masih terus menghubungi Rian. Sementara Mia mencoba menghubungi Nyonya Helen.


"Ma, dari mana saja? Aku menelepon Mama dari tadi," ucap Mia panik.


"Ada apa, Mi? Tadi Mama sedang ada acara dengan teman Mama," ucap Nyonya Helen.


"Ma, Naura dan Narendra hilang." Mia menangis sesenggukan.


"Mia, jangan bilang begitu. Mereka hanya sedang pergi dengan Rian," ucap Dion.


"Tapi Rian tidak bisa dihubungi A," ucap Mia.


"Mia, halo. Ada apa ini? Rian membawa kabur cucu Mama?" tanya Nyonya Helen.


Mendengar pertanyaan Nyonya Helen, Dion mengambil ponsel dari tangan Mia. Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman yang semakin runyam.


"Bukan Ma, Rian hanya menjemput mereka. Tapi sampai sekarang masih lost kontak," ucap Dion mencoba meluruskan kesalahpahaman itu.


"Kenapa tidak lapor polisi?" tanya Nyonya Helen panik.


"Mama tenang dulu ya! Kita pasti melakukan yang terbaik," jawab Dion.


"Ya sudah Mama pulang dulu ya mau ganti baju. Nanti Mama segera ke sana," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Dion.


Panggilan sudah berakhir, namun Mia masih terus menangis. Nampak Tuan Wira yang memberikan air minum pada Mia. Ia terlihat sangat sedih. Tuan Felix merasa bersalah dengan sikap Rian yang tiba-tiba menghilang.


Kemana kamu, Ri? Apa kamu tidak tahu kalau Mia begitu tersiksa dengan kehilangan Naura dan Rendra? Ri, kabari Papa sekarang. Papa tidak tega melihat Mia.


"Sayang, ganti baju dulu ya! Kita mau cari Naura dan Rendra," ucap Dion.


"Berangkat sekarang saja A," ucap Mia.


"Mi, ganti baju dulu. Ayo biar aku temani," ucap Dion.


Mia mengikuti Dion dan mengganti pakaiannya. Ia bergegas untuk mencari mereka bertiga.


"Mia, ayo makan dul!" ucap Dion.


"A, nanti saja. Kita harus mencari anak-anak kita," ucap Mia.


"Sayang, kamu jangan begitu. Kamu harus sehat," bujuk Dion.


"Mia tidak akan sehat kalau tidak bertemu dengan si kembar," ucap Mia.


Dion menghela napas panjang. Ia mengerti apa yang dirasakkan oleh istrinya. Namun ia juga khawatir dengan kesehatan Mia.


"Aku bawa bekal ya! Nanti kita makan di jalan," ucap Dion.


"Terserah A. Mia hanya ingin bertemu dengan Naura dan Rendra," ucap Mia sambil mengusap pipinya yang sudah berderai air mata.

__ADS_1


Mia dan Dion berangkat untuk mencari Rian dan kedua anaknya. Selama dalam perjalanan, Mia terus menangis tidak berhenti. Ia takut terjadi sesuatu pada mereka.


"Mi, jangan menangis terus. Matamu sudah bengkak," ucap Dion.


"Mia juga tidak mau menangis. Tapi air matanya tidak bisa ditahan," ucap Mia sambil kembali mengusap kedua pipinya.


"Sabar ya sayang. Kamu tenang saja. Kita pasti akan menemukan mereka," ucap Dion mengusap kepala Mia.


Mobil Dion berjalan menyusuri jalanan dari sekolah menuju beberapa titik yang mungkin dilalui mereka. Bahkan hampir setiap mall sudah mereka singgahi dan hasilnya nihil.


"A, ini sudah mall terakhir. Kenapa kita tidak lapor polisi saja?" tanya Mia.


"Mi, kita tidak bisa melapor begitu saja. Kita cari dulu. Aku yakin bisa menemukan mereka. Kamu tenang ya!" jawab Dion.


"Mia tidak bisa tenang A. Mia khawatir sekali. Mereka tidak ada di rumah dan kita tidak tahu dimana keberadaan mereka," ucap Mia.


"Mi, jangan begitu. Berbicara dan berpikir positif saja. Berdoa sebanyak mungkin," ucap Dion.


Sementara di jok belakang, Tuan Felix bungkam. Dion melihat dari spion bahwa ayah mertuanya itu sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Papa baik-baik saja, kan?" tanya Dion memastikan.


"Iya. Jangan khawatirkan Papa. Papa baik-baik saja," ucap Tuan Felix.


Tuan Felix nampak mengangkat wajahnya sebentar namun ia segera menunduk kembali. Sibuk lagi dengan ponsel yang masih dalam genggamannya.


"Halo," ucap Tuan Felix.


Dion dan Mia ikut menguping pembicaraan Tuan Felix. Saat menyebut nama Rian, Dion segera menepi dan menghentikan mobilnya. Keduanya melihat ke arah Tuan Felix yang sedang bicara dengan seseorang.


"Sayang, apa aku bilang. Mereka ada. Mereka tidak hilang," ucap Rian sambil mengusap kepala Mia.


"Iya A," ucap Mia dengan rasa lega.


Tuan Felix segera menyerahkan ponselnya pada Mia.


"Kak, maafkan aku sudah membuat Kakak khawatir. Aku terlalu asyik bermain dengan mereka," ucap Rian.


"Rian, kamu ini bukan anak kecil. Seharusnya kamu tahu waktu atau paling tidak kamu menghubungiku dulu. Biar aku tidak panik begini," ucap Mia.


Jujur saja, Mia memang sangat kesal dengan cara Rian. Namun rasa leganya saat tahu kalau kedua anak kembarnya baik-baik saja sudah mengalahkan semuanya.


"Iya Ri. Aku harap kamu jangan begini lagi ya," tambah Dion.


"Di, Papa yang salah. Papa yang meminta Rian untuk tidak menggunakan ponselnya. Papa hanya ingin bermain sebentar saja," ucap Tuan Wira.


Mia dan Dion yang sangat mengenali suara itu langsung saling menatap. Dugaan yang rasanya tidak mungkin itu ternyata memang begitu adanya. Mereka menghilang karena sedang asyik bermain dengan Tuan Wira.


Ah benarkah? Mia kembali bertanya untuk meyakinkan dugaannya. Dan benar. Itu memang benar suara Tuan Wira. Pikiran mereka sudah berpencar ke berbagai arah. Untuk mendapatkan jawaban yang rinci, Dion menyudahi panggilan itu dan segera melajukan mobilnya.


"Pantas saja kita tidak menemukan mereka," ucap Tuan Felix.


Ya, tidak satupun dari mereka yang berpikir jika Rian akan membawa Naura dan Narendra ke rumah Tuan Wira. Karena seperti yang mereka tahu kalau Tuan Wira tidak ingin penyakitnya diketahui oleh kedua cucu kembarnya.


"Ayo dong A lebih cepat lagi," pinta Mia yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua anak kembarnya.

__ADS_1


"Sabar dong Mi," ucap Dion.


"Santai saja Dion. Jangan membahayakan diri sendiri. Ingat ini jalan raya bukan sirkuit balapan," ucap Tuan Felix mengingatkan.


Dion mengangguk dan kembali menormalkan injakan gasnya. Meskipun sebenarnya ia sendiri sudah ingin memeluk kedua anak kembarnya.


"Naura, Rendra," panggil Mia saat mobil sudah terparkir di depan rumah Tuan Wira.


"Mi, jangan teriak-teriak begitu. Kita kan sudah yakin kalau Naura dan Rendra ada di sana" ucap Dion.


"A, Mia sudah tidak sabar." Mia segera berlari masuk ke dalam rumah yang sempat beberapa tahun ia singgahi itu.


"Mamaaaaa," teriak Naura menyambut kedatangan ibunya.


Mia segera memeluk dan menangis. Naura panik saat melihat sikap ibunya.


"Mama kenapa?" tanya Naura.


"Maafkan Mama ya Naura. Mama tahu banyak salah dan kadang tidak ada waktu untuk kamu. Tapi Mama sangat sayang padamu," ucap Mia.


"Mama kenapa?" tanya Naura lagi.


"Maafkan Mama," jawab Mia tanpa dimengerti oleh Naura.


"Mama jangan menangis," ucap Narendra sambil mengusap kedua pipi Mia.


"Rendra, maafkan Mama ya!" ucap Mia sambil memeluk Narendra dan menangis.


"Pah, Mama kenapa?" tanya Narendra bingung.


"Mi, sudah jangan begitu. Kamu membuat Naura dan Rendra bingung," ucap Dion.


Perlahan Mia mulai tenang. Kini perhatiannya tertuju pada Tuan Wira. Ayahnya yang begitu keras menentang kehadiran Naura dan Narendra kini justru sedang asyik bermain bersama bahkan hingga lupa waktu.


Rian pun menjelaskan semuanya. Mia hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Rian. Lagi-lagi Rian adalah orang yang membuat keluarganya kembali dekat. Semangt Tuan Wira pun sudah mulai tertata.


"Pah, cucu kita hilang. Naura dan Rendra hilang Pah," teriak Nyonya Helen sambil menangis.


Semua diam saat mendengar teriakan dan langkah yang semakin mendekat. Saat Nyonya Helen menyadari kalau semuanya sedang berkumpul di sana, ia mengucek kedua matanya.


"Ah Tuhan, kenapa ini?" tanya Nyonya Helen sambil mengucek kembali kedua matanya.


"Omaaaa," teriak Naura sambil memeluk Nyonya Helen.


"Hah? Ini bukan halusinasiku?" tanya Nyonya Helen.


"Oma kenapa? Hari ini Mama dan Oma aneh," ucap Naura bingung.


Rian kembali menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Antara bahagia dan bingung saat melihat semua berkumpul. Sikap santai Tuan Wira adalah hal yang membuat Nyonya Helen tidak percaya. Ia tidak menyangka jika hati suaminya bisa luluh begitu cepat.


"Kamu kok tidak menelepon Mama dulu, Ri?" tanya Nyonya Helen.


"Tadi aku menelepon Mama. Tapi tidak ada jawaban. Sementara Naura dan Rendra terus mendesak untuk bertemu dengan Papa. Ya sudah, aku ke sini saja." Rian membela diri.


Menelepon? Ya, hari ini Nyonya Helen sedang reuni dengan teman-temannya. Sejak tadi siang ia memang agak mengabaikan ponselnya. Sampai ia tidak tahu kalau Rian sempat meneleponnya sebanyak dua kali.

__ADS_1


"Ah, ini momen yang selama ini Mama nantikan," ucap Nyonya Helen penuh haru.


__ADS_2