Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Sprei?


__ADS_3

"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Rian.


"Tidak. Aku hanya membayangkan kalau mereka akan berpikir kita sudaaaah," jawab Riri menggantungkan ceritanya.


Riri bergidik saat membayangkan semua mata akan tertuju padanya saat keluar dari kamar. Ia sampai menghela napas panjang saat akan keluar. Baru saja tangannya menyentuh handle pintu, Riri segera melepasnya kembali. Ia duduk di tepi ranjang.


Sementara Rian terlihat lebih santai. Ia tengah merapikan rambutnya. Dalam pantulan cermin, Rian melihat Riri begitu cemas. Ia hanya tersenyum tipis melihat kecemasan istrinya.


Berbeda dengan Riri, Rian lebih santai. Karena ia tidak merasa sudah melakukan apa yang mereka bayangkan. Ia tinggal jujur saja kalau semua itu ditunda selama satu minggu. Ah, mengingat kata satu minggu tiba-tiba membuatnya kembali merasakan kekecewaan itu lagi.


"Mau kemana?" tanya Riri saat melihat Rian melenggang di hadapannya.


"Keluar, sarapan. Kamu tidak mau sarapan?" Rian balik bertanya.


Riri menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Diet?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Riri dengan wajah cemberut.


"Ya sudah ayo makan!" ajak Rian.


"Mas yang keluar duluan," ucap Riri.


"Memangnya kenapa?" tanya Rian.


"Aku malu," jawab Riri.


"Kenapa harus malu?" tanya Rian.


"Nanti mereka berpikir macam-macam tentang kita," jawab Riri.


"Ya biarkan saja. Yang penting kan kita tidak macam-macam. Lagi pula kalau macam-macam juga kan sudah boleh. Kamu istriku sekarang," ucap Rian sambil mengecup singkat bibir Riri.


Manis sekali. Ah, ini sudah terlalu siang untuk memint cicilan lagi. Ia harus segera ke kantor karena banyak sekali pekerjaan yang belum ia kerjakan. Seandainya masih ada waktu, ia akan ******* habis semua sajian yang ada pada tubuh istrinya itu. Tidak semua, kecuali daerah perboden yang tak bisa ia lalui.


Semakin menatap Riri dengan lekat, semakin kotor isi kepalanya. Apalagi saat ia melihat Riri dengan pakaian ketat di bagian dadanya. Kencang dan berisi membuat Rian teringat bagaimana hangat dan gempalnya bagian itu. Bagaimana ia menikmati semua itu dan...


"Aw," teriak Rian sambil mengusap tangannya yang dicubit Riri.


"Kondisikan pikiranmu, Mas. Aku tidak suka Mas melihatku seperti itu," ucap Riri sambil menutup dadanya dengan silangan tangannya.


"Iya, iya. Makanya pakai baju yang benar. Jangan berusaha memancing pikiranku menjafi kotor. Ini masih pagi. Nih pakai ini," ucap Rian memberikan sebuah cardigan panjang yang menggantung di dekat ranjang.


Rian keluar lebih dulu. Sementara Riri mengikutinya selang sepuluh detik. Ia harus memastikan tidak ada kalimat-kalimat yang menyudutkan mereka. Ia tidak mau wajahnya seperti tomat masak saat mendengar celotehan keluarga barunya itu.

__ADS_1


"Ekhem," deham Tuan Felix.


Dehaman Tuan Felix berhasil membuat Riri menghentikan langkahnya sebentar. Ia berbalik dan melihat siapa orang di belakangnya. Saat tahu bahwa itu adalah Tuan Felix, tiba-tiba keringat dingin membanjiri tangannya. Dingin sekali. Ia merasa bahwa bahasan malam pertama akan dimulai.


"Bagaimana rasanya?" tanya Tuan Felix saat melihat Riri tengah gelisah.


"Rasa?" tanya Riri.


Wajahnya langsung memerah bak tomat yang sudah matang. Ia bahkan sampai tidak bisa berpikir apa-apa saat pertanyaan itu masuk ke telinganya.


"Rasanya ah mantap. Sekarang kan kita sudah satu rumah Pah. Aku tidak perlu menelepon Mpus lagi setiap malam. Sekarang dia sudah ada di sini," ucap Rian sambil mengusap kepala Riri.


"Baguslah kalau begitu. Papa senang kalau kalian bahagia. Kamu betah di sini kan, Pus?" tanya Tuan Felix.


"Be-betah kok Pah," jawab Riri gugup.


Tuan Felix hanya bisa menahan tawa saat melihat kegugupan Riri. Ia bisa membaca bagaimana paniknya Riri saat mendapat pertanyaan itu darinya. Beruntung Rian segera membantu Riri menjawab pertanyaan itu, kalau tidak mungkin Tuan Felix juga akan bingung dan ikut gugup.


Langkah Riri kembali dilanjutkan. Ada ruang makan yang sudah menunggu dirinya. Bukan hanya menu yang berjejer, tapi Tuan Wira dan Nyonya Helen juga sudah menunggunya di sana. Senyuman keduanya membuat Riri salah tingkah.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan pertama yang berhasil membuat Riri panik setengah mati. Ia tidak bisa menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Hanya anggukan kepala dan senyuman yang bisa ia lakukan untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


Pertanyaan kedua semakin membuat Riri panik. Kata mengganggu yang digunakan oleh Tuan Wira tiba-tiba mengandung konotasi yang sangat luas dan membuat Riri menegang. Beruntung Rian segera menjawab pertanyaan Tuan Wira.


"Anak baik sepertiku tidak pernah mengganggu siapapun Pah," jawab Rian.


"Baguslah. Papa tidak mau menantu Papa tidak betah tinggal di sini hanya karena kamu selalu mengganggu tidurnya," ucap Tuan Wira.


Riri menelan salivanya. Ia tahu obrolan itu arahnya kemana. Riri sudah sangat dewasa dan mengerti arti obrolan antara ayah dan anak itu. Apalagi senyuman dari Tuan Felix dan Nyonya Helen yang meyakinkan dugaannya.


"Eh tunggu dulu. Kamu mau kemana?" tanya Tuan Wira saat menyadari kalau Rian menggunakan kemeja dan celana bahan serta jas yang masih di tenteng.


Tuan Felix dan Nyonya Helen baru menyadari pakaian Rian. Karena selama ini yang mereka incar adalah ekspresi Rian yang terlihat gugup. Namun pada kenyataannya, Rian terlihat lebih santai dan tenang. Tidak seperti Riri yang mudah salah tingkah.


"Ke kantor. Kenapa?" tanya Rian.


"Ke kantor?" tanya Nyonya Helen.


"Heem," jawab Rian sambil mengangguk.


"Heh, bikin malu keluarga. Kembali ke kamar dan ganti pakaianmu," ucap Nyonya Helen.


"Loh, memangnya kenapa Ma? Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor," ucap Rian.

__ADS_1


"Pekerjaan di kantor jangan kamu khawatirkan. Ada Manto dan Danu di sana. Apalagi Tuan Felix sudah punya rencana untuk menggaet Reza agar masuk di perusahaanmu," ucap Nyonya Helen.


"Ah, benarkah Kak Reza akan gabung di perusahaan kita, Pah?" tanya Rian pada Tuan Felix.


"Rencananya begitu. Papa mau perusahaan tidak keteteran kalau pekerjaan sedang menumpuk," jawab Tuan Felix.


"Aku senang kalau Kak Reza benar-benar bergabung di perusahaan. Tapi aku tidak mau karena ada Kak Reza, aku jadi malas. Aku harus tetap ke kantor," ucap Rian.


"Kamu memang harus ke kantor. Tapi tidak untuk saat ini. Mpus tidak boleh kamu tinggalkan," ucap Nyonya Helen.


"Aku sudah izin sama Mpus kok. Riri juga mengizinkan," jawab Rian. "Iya kan, Pus?" tanya Rian pada Riri.


"Iya Ma. Mas Rian juga mengajakku ke kantor. Tapi aku lebih memilih di sini saja," jawab Riri.


"Permisi," ucap salah seorang asisten rumah tangga.


Dengan tubuh yang merengkuh, wanita yang sudah bekerja belasan tahun itu menunduk hormat.


"Ada apa Bi?" tanya Nyonya Helen.


"Maaf mengganggu waktu sarapannya. Saya ada perlu pada Mas Rian," jawab wanita itu.


"Saya? Ada apa Bi?" tanya Rian.


"Saya mau izin mengambil sprei Mas," jawab wanita itu.


"Sprei?" tanya Nyonya Helen.


"Iya Nyonya. Tadi Mas Rian meminta saya mencuci spreinya. Tapi saya tunggu tidak ada sampai sekarang. Saya takut Mas Rian dan Mbak Riri keburu berangkat Nyonya," jawab wanita itu.


Tuan Felix dan Tuan Wira memalingkan wajah saat mendengar jawaban wanita itu. Mereka menduga jika sprei dicuci karena ternoda. Dan noda itu bukan sembarang noda. Rupanya mereka salah paham dengan noda yang ada pada sprei di kamar Rian.


"Rian, kamu kalau..euh ya hati-hati dong. Kenapa sampai berceceran begitu?" ucap Nyonya Helen gemas.


Riri menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak mau wajah merahnya kembali menjadi tontonan keluarga Rian. Sementara kakinya menginjak kaki Rian. Ia melampiaskan kekesalannya karena Rian sudah meminta asisten rumah tangga untuk mencuci sprei tanpa mengatakan apapun padanya.


"Ma, tenang. Ini tidak seperti yang dibayangkan," ucap Rian panik.


Kepanikan Rian semakin memuncak saat melihat kedua ayahnya tengah tertawa sambil memalingkan wajahnya. Belum lagi Riri yang terus menutupi wajahnya. Ia tidak bisa bayangkan apa yang akan Riri lakukan saat mereka sudah berdua nanti.


"Kamu itu jangan bikin malu. Kenapa tidak tanya Mama dulu kalau kamu tidak tahu caranya. Kamu bisa pakai kain diatas sprei," ucap Nyonya Helen.


"Tapi Ma aku tidak," ucap Rian.


"Tidak, tidak. Tidak apa? Bikin malu saja. Itu seharusnya jadi rahasia kalian berdua. Ini malah jadi rahasia umum," ucap Nyonya Helen kesal.

__ADS_1


__ADS_2