
Dion selalu menahan Mia saat ingin membahas Riri. Niat Mia hanya ingin mengingatkan Rian jika banyak hal yang seharusnya bisa membuat Rian bertahan dengan hubungannya. Namun Dion merasa itu semua hanya akan membuka kembali luka di hati Rian yang memang belum sembuh.
Sudah semakin lama Rian dan Riri tidak pernah berkomunikasi. Bahkan Mia dan Tuan Felix pun sudah tidak pernah berkabar dengan Riri. Bayangan Riri seakan memudar dengan sendirinya.
Tuan Felix saja sudah kehilangan jejak Riri. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Riri. Yang ia tahu semuanya sudah berakhir. Namun ada hal yang menarik. Perlahan Rian sudah bisa tertawa lepas tanpa bayang-bayang Riri. Hal ini karena kehadiran Rina, sahabatnya yang berprofesi sebagai perawat.
"Apa kamu mencintai Rina?" tanya Tuan Felix pada saat itu.
Rian tidak mencintai Rina, namun ia merasa nyaman saat dengan wanita itu. Ia juga tahu Rina sudah memiliki kekasih dan tidak mungkin berpaling darinya. Namun entah mengapa banyak yang tidak percaya dengan hubungan persahabatan mereka berdua.
Suatu hari Rian sampai mendatangi rumah sakit dan membungkam mulut teman Rina yang selalu nyinyir pada sahabatnya itu. Semenjak saat itu memang tidak ada lagi yang membuat Rina selalu merasa terpojok. Semua baik meskipun Rina tahu tidak ada yang benar-benar tulus padanya.
"Apa aku perlu membuat mereka semua menyesal?" tanya Rian saat melihat Rina menangis sore itu.
Rina menggeleng. Ia hanya meminta Rian mrnjauhinya. Rian menatap Rina tidak percaya. Ia tidak mau kehilangan sahabat seperti Rina. Namun Rian juga tidak mau Rina merasa terbebani dengan persahabatan mereka.
Perlahan tapkli pasti, Rian berusaha menjauh dari Rina. Ia kembali sendiri dalam menjalani hari-harinya. Tapi tidak saat ia menjemput kedua keponakan kembarnya.
"Itu Om Naura sudah datang bu guru," ucap Naura sambil menunjuk Rian.
Seorang wanita muda yang dipanggil bu guru itu melihat Rian dengan tatapan berbeda.
"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap wanita yang berdiri di samping Naura.
"Dengan saya?" tanya Rian sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Saat itu kita bertemu di sini," ucap wanita itu mengingatkan.
Sayangnya Rian sama sekali tidak mengingat wanita itu. Namanya Shelin wanita yang memang sempat bertemu dengan Rian saat itu. Rian memang tidak mengingatnya sedikitpun. Tapi Shelin sangat mengingat Rian karena wajahnya mirip sekali dengan mantannya.
"Maaf ya Bu Shelin, saya benar-benar lupa." Rian tersenyum hormat.
"Tidak apa-apa. Jangan panggil saya Ibu. Panggil saya Shelin saja," ucap Shelin.
Shelin memang sangat cantik. Jauh lebih cantik dibanding dengan Rina. Tapi ia sama sekali tidak tertarik dengan Shelin. Menurutnya Shelin terlalu agresif untuk mendekatinya.
Naura yang memang suka dengan keramahan Shelin selalu menjodohkan Rian dengan gurunya itu. Bahkan sering kali Naura mengajak Rian untuk makan bersama dengan Shelin.
__ADS_1
Lama kelamaan, Rian dan Shelin semakin dekat. Kabar kedekatan mereka terbuka ke publik. Nama Rian yang semakin naik di kalangan pengusaha muda, membuat berita itu semakin hangat di beberapa media sosial.
Riri yang tahu berita itu hanya bisa menangis pasrah. Ia sedih saat tahu kalau Rian sudah mendapat penggantinya. Pemgabdiannya pada Mr. Aric memang harus ia bayar mahal dengan kenyataan pahit dalam hidupnya.
Malam itu menjadi malam yang terpahit bagi hidupnya. Ia kembali merasa hanya sendiri di dunia ini. Keluarganya yang memang sudah sejak lama tidak ada komunikasi, dan serang ia sudah benar-benar kehilangan pria yang paling ia cintai.
Ingin rasanya Riri menangis dan mengadu pada Tuan Felix. Tapi ia sadar diri bahwa ia bukan siapa-siapa lagi bagi Rian. Sudah beberapa bulan yang lalu Rian mengakhiri hubungan mereka.
Tenang Riri, kamu masih punya Mr. Aric. Kamu tidak sendiri. Jangan menangis dan mengemis rasa yang memang sudah tidak ada lagi untukmu.
Riri menguatkan dirinya sendiri. Ia berusaha tenang meskipun ditengah ketegangannya. Sejak kemarin Mr. Aric sudah tidak sadarkan diri. Ia takut. Sangat takut.
Berkali-kali Riri mendekat dan mengguncang pelan tubuh Mr. Aric. Berharap pria yang tengah tidak sadarkan diri itu mendengar ketakutannya dan bangun untuk menenangkannya. Tapi itu hanya sebuah harapan belaka. Mr. Aric masih tetap mememjamkan matanya dan tidak meresponnya sama sekali.
Sampai akhirnya Riri memang benar-benar sendiri. Mr. Aric meninggalkannya untuk selamanya. Bersama orang kepercayannya Riri melakukan konfrensi pers. Ia membuka semua rahasia yang selama ini ia tutup rapat.
Semua berjalan seperti yang Mr. Aric inginkan. Tidak ada yang tahu tentang beritanya kecuali jika ia memang sudah benar-benar tiada. Sepuluh bulan berlalu tanpa sedikit pun rahasia Mr. Aric terbuka. Hingga saat kabar meninggalnya Mr. Aric tersebar menjadi kabar duka yang sangat mengejutkan.
Tentu saja berita itu sampai ke telinga Tuan Felix dan Rian. Keduanya menegang. Keringat yang menetes di pelipis mereka adalah tanda kalau mereka benar-benar terkejut dengan berita itu.
Wajah Riri terlihat jelas di setiap berita yang menayangkan kabar duka itu. Mata sembabnya dan wajahnya yang pucat, serta badannya yang semakin kurus menjadi saksi jika selama ini Riri memendam kabar duka sendirian.
Rasanya Rian ingin pergi ke Jerman. Memeluk Riri dan menenangkannya. Namun itu tidak mungkin, karena saat ini ia tengah berada di pesta pertunangannya dengan Shelin. Guru Naura yang membuatnya berhasil melupakan Riri selama ini.
Munculnya Riri dengan berita yang membuatnya tidak percaya, membuat Rian menjadi pria paling jahat selama ini. Ia tengah dihadapkan dengan masalah yang sesungguhnya.
Perasaannya untuk Shelin seketika memudar. Wanita cantik yang kini sudah resmi menjadi tunangannya itu, tiba-tiba membuatnya gelisah. Haruskah ia mundur dan mempertahankan cintanya dengan Riri? Tidak. Ia hanya akan menyakiti hati Shelin. Dan Riri juga belum tentu bisa menerimanya.
"Maafkan Papa," bisik Tuan Felix.
Sebagai seorang ayah, Tuan Felix tahu apa yang dirasakan oleh Rian. Ia menyesal karena tidak bisa menemukan Riri dan tidak tahu tentang berita itu sama sekali. Seperti Rian, saat ini Tuan Felix yang sedang berada di Indonesia lebih memikirkan Shelin.
"Papa tidak salah. Aku yang egois," ucap Rian sambil mengusap kasar wajahnya.
Pesta pertunangan yang digelar mewah dan dihadiri banyak sekali orang berpengaruh di beberapa perusahaan besar. Tidak mungkin Rian tiba-tiba membatalkan pertunangan itu. Shelin memang wanita yang baik. Dia tidak salah apapun. Tidak adil rasanya jika ia harus menjadi korban keegoisan Rian.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Shelin.
__ADS_1
"Ya, ya. Aku baik," jawab Rian.
Rian terlihat berusaha tenang meskipun Tuan Felix tahu kalau anaknya itu tengah menyimpan kegelisahan yang begitu besar. Tamu undangan semakin lama semakin berkurang, hingga menyisakan keluarga inti saja.
Pesta pertunangan itu sudah selesai. Shelin sedang berganti pakaian dan Rian terlihat sendiri. Tuan Felix menghampirinya. Berusaha menenangkan Rian agar ia bisa menerima semua keputusannya. Jalan hidupnya sudah ia pilih sendiri.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa," ucap Rian sambil menutup wajahnya.
Bagaimanapun rasa untuk Riri masih tersimpan baik dalam hatinya. Namun kedatangan Shelin seolah mengubur semua itu semakin dalam dan nyaris tidak pernah terbuka lagi. Namun setelah berita ini, semua menyeruak ke permukaan dengan sendirinya.
Bukan lagi hanya rasa cinta, tapi rasa bersalah memenuhi penyesalannya. Ketidaksabarannya membuat ia terjebak dengan keputusannya sendiri. Tiba-tiba ia teringat ucapan Rina tempo lalu. Rina pernah mengingatkannya untuk mencari tahu dulu alasan semuanya. Namun Rian tetap dengan keputusannya sendiri.
Inilah hasilnya. Setelah pertunangannya, Rian nyaris kehilangan keceriannya. Hari-harinya hanya diselulimuti rasa bersalah dan penyesalan. Shelin bahkan menyadari perubahan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Shelin.
Rian tidak punya jawaban. Hanya berbohong agar bisa menutupi semua yang ia rasakan.
"Apa kamu menyesal bertunangan denganku?" tanya Shelin.
"Kamu jangan bicara yang tidak-tidak," bantah Rian.
Setelah itu, semua berjalan dengan tidak baik. Serinh terjadi cekcok antara mereka berdua. Aura kebahagiaan sudah semakin menjauh. Tak jarang Shelin menangis karena sikap Rian yang tiba-tiba menjadi dingin.
Rian tidak tahu mengapa rasa untuk Shelin tiba-tiba mulai menghilang. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Padahal antara Rian dengan Riri pun tidak pernah terjalin komunikasi lagi.
Mia dan Dion yang menyadari hubungan mereka yang tidak baik segera mengingatkan Rian agar lebih dewasa. Bagaimanapun sikap Rian akan berpengaruh pada nama perusahaan. Belum lagi Rian akan memepermalukan dua keluarga besar.
Pertunangan mereka tersebar di berbagai media. Tidak mungkin Rian mundur begitu saja. Kalau pun Rian kembali pada Riri, maka Riri akan jadi bahan gunjingan. Mereka akan menyebut Riri sebagai pelakor meskipun ia tidak tahu apa-apa. Sekeras apapun Rian berusaha mengejar Riri, semua hanya akan menimbulkan masalah baru.
Sudah terlambat. Rian hanya bisa berusaha menata hatinya lagi. Ia tidak mau tahu semua tentang Riri. Cukup sudah ia tahu bagaimana menderitanya Riri karena ulahnya. Ia sudah tidak mau terlibat apapun lagi dalam hidup Riri.
Sudah waktunya Mpus bahagia tanpaku. Aku hanya berharap Mpus bertemu dengan orang yang tepat. Bukan pria sepertiku.
Rian mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa. Hari-harinya sudah semakin kacau. Perusahaan nyaris dipegang penuh oleh Danu dan Manto.
Keduanya memang tidak tahu masalah apa yang dihadapi oleh Rian. Namun yang mereka tahu Rian sedang tidak fokus dengan perusahaan. Atas perintah Tuan Felix, Manto dan Danu berusaha mengambil alih pekerjaan Rian yang mulai terbengkalai.
__ADS_1