
Dalam perjalanan menjemput Naura dan Narendra, Rian memikirkan ucapan Tuan Felix tadi. Tentang tanggung jawabnya untuk keluarganya nanti. Ah, tiba-tiba rasa rindunya begitu menggunung dan tidak bisa ia kendalikan.
Sebuah benda pipih yang ada di sakunya sudah ia ambil dan dalam genggamannya. Baru saja tangannya mengetik nama Riri, Riri sudah lebih dulu menghubunginya.
"Baru saja aku mau meneleponmu," ucap Rian.
Mungkin rasa rindu yang sama pada dua orang yang berbeda ini merupakan alasan kenapa Riri menghubunginya di waktu yang tepat.
"Mas sedang apa?" tanya Riri.
"Latihan menjemput anak-anak," jawab Rian gemas sendiri.
"Memangnya Mas mau punya anak berapa?" tanya Riri.
"Sebanyak-banyaknya," jawab Rian.
"Aduh," ucap Riri.
"Loh memangnya kenapa? Kamu mau punya akan berapa?" tanya Rian.
"Dua saja Mas," jawab Riri.
"Irit sekali," ucap Rian.
"Mas, anak itu harus terjamin masa depannya. Jangan semangat produksinya saja. Kita juga harus siap untuk mendidiknya," ucap Riri.
"Iya, iya. Kalau aku sih terserah ibunya saja," ucap Rian.
Rian yang sangat bersemangat dan asyik bercerita dan membayangkan masa depan mereka yang begitu membahagiakan, ternyata harus emosi saat tiba-tiba mendengar suara Hiro.
"Kamu dimana?" tanya Rian kesal.
"Aku di kampus Mas," jawab Riri.
"Memangnya segitu sempitnya kampus sampai harus meneleponku di dekat si tengil itu?" tanya Rian kesal.
"Bukan begitu Mas," ucapan Riri terhenti saat panggilan itu sudah berakhir.
Riri menghela napas panjang saat mendapati kekecewaan Rian. Lagi-lagi karena ulah Hiro, ia dan Rian kembali bertengkar. Marah? Tentu. Namun Riri tidak ingin membuat masalah menjadi tambah banyak. Ia memilih untuk segera pergi menjauh dari Hiro.
"Mau kemana Ri?" tanya Hiro.
"Ke kelas," jawab Riri ketus.
Hiro bersikap seolah sangat tenang. Ia membiarkan Riri pergi meninggalkannya begitu saja. Tanpa ia tahu kalau senyum penuh kemenangan sudah Hiro berikan saat punggung wanita cantik itu berlalu semakin menjauhinya.
Aku sudah bilang, tidak akan aku biarkan kalian bahagia di atas penderitaan Kakakku.
Riri membayangkan betapa kesalnya Rian saat ini. Beberapa pesan ia kirimkan untuk meminta maaf pada Rian. Namun seperti biasa, pesan itu hanya dibaca tanpa ada balasan sedikitpun.
"Aku harus kuat. Ini tantangannya saat menjalani hubungan jarak jauh. Komitmen aku dan Mas Rian memang menuntutku untuk lebih sabar," gumam Riri.
Rian yang menerima pesan dari Riri memang hanya membacanya tanpa merespon permintaan maaf dari Riri. Rasa kesalnya masih menguasai dirinya. Bayangan Hiro dengan wajah tengilnya membuat Rian menggenggam erat setir mobil. Ia membayangkan jika setir itu adalah leher Hiro yang ia cekik sekuat tenaga.
__ADS_1
"Anak itu benar-benar membuatku marah," gerutu Rian.
Rian memastikan wajahnya baik-baik saja. Merapikan rambutnya yang sempat ia acak untuk melampiaskan rasa kesalnya. Tidak lupa Rian berlatih untuk tersenyum. Ia tidak mau kedua keponakan kembarnya menyadari ada perubahan dari dirinya.
"Om Riaaaan," teriak Naura yang lebih dulu memeluk Rian.
"Nauraa cantiik," ucap Rian sambil memeluk Naura.
"Jadi kan ke mall dulu?" tanya Narendra.
"Siap," ucap Rian sambil menghormat bak sedang upacara.
"Ayo!" ajak Narendra dengan sangat semangat.
Sepertinya Rian berhasil menyembunyikan perasaannya saat ini. Kedua keponakannya masih menikmati waktu-waktu bersama Rian. Sementara Rian yang berusaha melawan rasa kesalnya hanya membuat dadanya sakit.
"Riaaan," panggil seorang perempuan.
Rian menghela napas saat mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia mengajak Naura dan Narendra pergi dari tempat itu. Dengan wajah bingung, keduanya mengikuti langkah Rian yang menarik tangan mereka tak tentu arah.
"Kita mau kemana, Om?" tanya Naura.
"Kita harus pergi menyelamatkan diri," jawab Rian.
"Kenapa, Om? Ada orang jahat ya?" Tanya Narendra.
"Iya. Bahaya," jawab Rian.
"Jangan, kelamaan. Lebih baik kita kabur saja," jawab Rian.
"Rian," panggil Maudi lagi.
Sepatu hak tinggi akhirnya membuat Maudi tertinggal jauh dari Rian dan kedua keponakan kembarnya. Ia hanya berteriak kesal saat melihat Rian segera membawa kedua keponakan kembarnya ke dalam mobil.
"Om, mana penjahatnya? Tante yang itu?" tunjuk Naura pada kaca spion.
"Iya. Dia siluman ular. Bahaya," jawab Rian yang dengan cepat melajukan mobilnya keluar dari mall itu.
"Untung kita berhasil kabur ya, Om." Narendra memegang dadanya sambil melihat Maudi yang semakin tertinggal jauh.
"Iya. Kalau begitu kita pindah mall saja ya," ucap Rian.
"Aku mau pulang saja," jawab Narendra.
"Naura juga ah," ucap Naura.
"Loh memangnya kenapa?" tanya Rian.
"Takut siluman ularnya tiba-tiba muncul di mall yang lain. Siluman kan bisa menghilang," jawab Narendra.
Rian menahan tawanya. Tapi itu lebih baik. Lagi pula saat ini perasaannya sedang tidak baik. Ia ingin segera kembali ke rumah dan tidur. Melupakan apa yang sudah terjadi sebelum ia menjemput kedua keponakan kembarnya.
"Sayang, tapi Om tidak enak. Nanti kalian pikir Om tidak tepat janji," ucap Rian basa basi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Om. Ke mall nya bisa nanti saja. Naura mau ke pak ustadz dulu," ucap Naura.
"Memangnya mau apa?" tanya Rian.
"Mau minta Pak Ustad menangkap siluman ularnya. Biar mall bebas dari kejahatan siluman ular yang tadi," jawab Naura.
Rian mengusap keringat yang membasahi dahinya. Ia tidak tahu harus senang atau justru pusing karena masalah siluman ular akan semakin panjang dan runyam. Tapi itu urusan nanti. Ia ingin segera pulang dan tidur.
"Om mau istirahat ya!" ucap Rian saat sampai ke rumah Tuan Wira.
"Om, kunci pintunya. Hati-hati!" ucap Naura.
Ternyata urusan siluman ular sudah membuat Narendra dan Naura membuat kesimpulan sendiri. Rian akan menjelaskan semuanya setelah bangun tidur. Tapi sayangnya Naura sudah sangat antusias dengan cerita siluman ular.
Tidak puas dengan menceritakan semuanya pada Tuan Wira dan Nyonya Helen, Naura segera menelepon Tuan Felix dan kembali menceritakan semua itu.
Mia yang mendengar cerita itu hanya bisa tertawa dan menepuk dahinya. Sementara Tuan Felix hanya berusaha menjelaskan tentang siluman ular yang hanya cerita fiktif saja.
"Ini nyata Opa. Naura dan Rendra lihat kok perempuannya. Cantik tapi dia memang selalu ada kalau kita jalan-jalan di mall," ucap Naura.
Tuan Felix kembali menjelaskan tentang kehadiran Maudi dalam hidup Rian. Tapi nampaknya cerita itu belum masuk dalam kepala Naura yang sudah lebih dulu menganggap cerita siluman ular.
"Pah, sudah. Percuma dijelaskan panjang lebar. Tidak akan selesai," bisik Mia.
Akhirnya Tuan Felix menyudahi panggilan Naura. Ia berpura-pura mengiyakan dan percaya semua cerita cucunya itu. Ingin rasanya segera bertemu dengan Rian dan memarahinya, karena sudah menanamkan konsep di luar nalar pada cucu kesayangannya.
"Sudah Pah. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menghubungi orang properti," ucap Mia.
Tuan Felix segera menghubungi orang properti dan menyiapkan semua kebutuhan kantor baru Rian. Ia cukup sedih karena ada saat acara peresmian kantor itu, ia sudah berada di Jerman lagi. Untuk menebus rasa bersalahnya, ia akan menyelesaikan semuanya sebelum akhirnya ia benar-benar kembali ke negaranya.
"Jangan sedih Pah. Ada Mia di sini. Mia pasti akan bantu Rian. A Dion juga tidak mungkin membiarkan Rian berjuang sendirian," ucap Mia.
"Iya, Mi. Papa percaya padamu. Papa titip Rian ya! Rian harus sukses sepertimu," ucap Tuan Felix.
"Kita adalah keluarga. Maka sudah seharusnya kita berjuang bersama ya!" ucap Mia.
Sore hari sebelum pulang, Dion selalu menjemput Mia ke kantor. Tak lupa ia menanyakan kabar perusahaan Rian.
"Semuanya sudah selesai. Papa sudah urus semuanya," ucap Mia.
"Syukurlah. Aku yakin Rian pasti bahagia dan beruntung sekali memiliki Papa," ucap Dion.
"Rian juga beruntung bisa mengenal keluargamu. Mereka memberikan kasih sayang yang begitu tulus untuk Rian. Akhirnya anak itu bisa tumbuh baik meskipun ayah kandungnya itu sangat kurang ajar," ucap Tuan Felix.
Ayah kandungnya itu kurang ajar? Mia meunduk. Ya, orang yang dimaksud Tuan Felix adalah Pak Baskoro. Pria yang selama ini Mia anggap sebagai ayah kandungnya juga.
Melihat kesedihan Mia, Dion segera mengalihkan pembicaraan. Ia memberikan sedikit tambahan ide untuk kantor Dion. Mia kembali berkutat dengan laptopnya saat ayah dan suaminya sedang asyik membahas tentang kantor itu.
Mia tidak berhak marah. Karena memang selama ini Bapak tidak pernah memberikan kasih sayangnya untuk Mia. Tapi kenapa hati Mia sakit saat Papa membahas kejelekan Bapak? Pak, Mia sudah memaafkan Bapak. Maafkan Papa Mia juga ya! Semoga Papa bahagia di surga. Papa jangan khawatir, Rian baik-baik saja. Anak kandung Papa baik-baik saja.
Mia menahan air mata yang sudah nyaris terjatuh membasahi kedua pipinya. Bayangan bagaimana kehidupannya saat bersama Pak Baskoro kembali membawa Mia pada sosok ibunya yang begitu sabar dan kuat.
Ibu, Mia sudah bahagia bersama dua pria yang hebat. Suami dan ayah kandung Mia. Ibu pasti bahagia juga kan di surga? Mia akan selalu tersenyum bahagia biar ibu juga bahagia di surga. Mia sayang ibu.
__ADS_1