Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Titisan dewa angin


__ADS_3

"Ada apa menghubungiku pagi-pagi begini? Pakai nomor baru pula," tanya Nyonya Helen.


"Aku baru saja kena jambret. Belum sempat mengurus nomor baruku," jawab Nyonya Nathalie.


"Lalu kenapa menghubungiku? Kalau kena jambret itu ya telepon kantor polisi," ucap Nyonya Helen.


"Aku meneleponmu bukan untuk laporan kena jambret. Tapi untuk menanyakan Mia dan anak kembarnya," ucap Nyonya Nathalie.


"Mereka baik-baik saja," jawab Nyonya Helen singkat.


Ya, hubungan Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie semakin merenggang saat keluarga Nyonya Nathalie pindah dari Jakarta. Ada masalah perusahaan yang membuat keluarga Tuan Ferdinan harus pindah jauh dari Jakarta. Bahkan mereka pindah pulau. Sudah beberapa tahun terakhir mereka pindah ke Sulawesi.


Hubungan itu semakin memburuk saat Sindi, anak angkat Nyonya Helen harus ikut ke sana. Sempat adu mulut karena Nyonya Helen mempertahankan Sindi dan Danu tetap bertahan di Jakarta. Tuan Wira juga sempat menjanjikan posisi yang tepat untuk Danu. Mereka tidak ingin jauh dengan Dandi, cucu mereka dari anak angkatnya.


Namun keinginan itu ditolak keras oleh Nyonya Nathalie. Ungkapan kalau ia lebih berhak atas Sindi daripada Nyonya Helen membuat sakit yang akan selalu basah. Luka itu kini semakin sakit saat Nyonya Nathalie kembali menghubunginya.


"Bolehkah kita bertemu? Kebetulan aku di Jakarta," ucap Nyonya Nathalie.


"Untuk apa?" tanya Nyonya Helen.


"Aku merindukan cucu kembarmu. Apa kamu tidak merindukan Dandi? Dia semakin lucu," ucap Nyonya Nathalie.


"Untuk apa aku merindukan orang-orang yang tidak pernah merindukanku sama sekali?" tanya Nyonya Helen.


"Ayolah. Ini sudah bertahun-tahun berlalu. Apa kamu masih tetap dengan kemarahanmu?" Nyonya Nathalie berusaha membujuk Nyonya Helen.


Hati yang luka itu enggan memberi maaf. Belas kasihnya sudah lenyap saat Sindi menghilang begitu saja. Bahkan Nyonya Helen menganggap Sindi tidak ada dalam hidupnya lagi.


"Aku rasa kamu tahu alasanku bersikap seperti ini," ucap Nyonya Helen.


"Aku baru tahu kalau ternyata kamu itu begitu pendendam," ucap Nyonya Nathalie.


"Pendendam? Terima kasih," ucap Nyonya Helen.


Dengan segera Nyonya Helen mengakhiri panggilan itu. Napasnya yang terengah-engah menandakan kalau wanita itu tengah menahan amarahnya.


"Dasar orang tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia bilang aku pendendam setelah apa yang terjadi selama ini." Nyonya Helen menggerutu.


Tidak ingin pusing sendiri, ia menelepon suaminya untuk menyusul pergi ke kantor. Setelah mendapat izin, ia segera bersiap dan meninggalkan rumah. Berharap rasa kesal dan marahnya juga tertinggal begitu saja.


Sayangnya rasa kesal itu masih tetap ia rasakan meskipun sudah bertemu dengan Tuan Wira dan Dion. Justru suami dan anaknya yang menyadari perbedaan sikapnya.


"Mama kenapa?" tanya Dion.


"Tidak," jawab Nyonya Helen.


Nyonya Helen tidak ingin mengadukan masalah ini. Ia berusaha menutupi rasa kesalnya. Namun pada akhirnya Dion dan Tuan Wira berhasil membuat Nyonya Helen bicara.

__ADS_1


"Kenapa jadi kamu yang diam?" tanya Tuan Wira pada Dion.


Dion hanya menggeleng dan sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Setelah bertahun-tahun ia nyaman dengan lenyapnya Danu dari kehidupan Mia dan Dion, kini bayangan itu muncul kembali.


Bukan tidak percaya pada istrinya, tapi bagaimanapun Danu adalah mantan suaminya. Dion sebenarnya lebih suka jika Danu tidak kembali lagi ke Jakarta. Tapi apa daya, apa yang tidak ia harapkan akhirnya akan menjadi kenyataan.


"Kamu cemburu?" tanya Nyonya Helen.


"Ah, Mama. Aku dan Mia bukan ABG lagi. Kenapa harus cemburu-cemburu. Lagi pula aku percaya pada Mia," jawab Dion yang berusaha menutupi perasaannya.


"Itu kamu sadar. Sudahlah Di, dia itu hanya masa lalu saja. Kebahagiaan Mia sekarang sudah bersamamu," ucap Tuan Wira.


"Iya Pah," ucap Dion dengan senyum yang terpkaksa.


Dengan cepat kabar tentang Nyonya Nathalie sampai juga ke telinga Mia. Sama seperti Dion, Mia juga merasa tidak nyaman dengan hadirnya Danu ke Jakarta. Sebenarnya masalah bukan pada Danu. Namun sikap Nyonya Nathalie yang kadang-kadang membahas tentang masa lalu.


"A, jangan berpikiran buruk ya. Kita tidak perlu terlalu menyikapi kedatangan mereka. Apa kita pindah dulu ke rumah? Biarkan Naura dan Narendra di rumah Mama sementara waktu?" tanya Mia pada sambungan telepon.


"Apa itu baik menurutmu?" tanya Dion.


"Ya, mungkin lebih baik." Mia mencoba memberi pendapat.


Maksud Mia adalah menghindari pertemuannya dengan Nyonya Nathalie. Soal bertemu dengan Sindi, ia bisa bertemu hanya berdua saja. Sindi yang merupakan sahabat Mia pasti akan sangat mengerti dengan keadaan ini.


Sementara Nyonya Nathalie tidak ada kepentingan dengan Mia. Hingga akan terlalu memaksa jika ia menemui Mia, padahal Naura dan Narendra ada di rumah Nyonya Helen.


Setelah bicara dengan Mia, Dion merasa lebih tenang. Ia kembali bekerja meskipun masih ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya. Namun ide Mia bisa membuatnya menghindari pertemuannya dengan masa lalu istrinya itu.


Pulang kerja, Dion tidak langsung ke rumah Tuan Wira. Ia menjemput Mia di kantornya. Dengan wajah lusuh, ia segera memeluk Mia.


"Kenapa harus ada badai ditengah tenangnya keluarga kita yang harmonis?" tanya Dion tiba-tiba.


"Aa kenapa? Jangan bilang badai. Kita tidak sedang di lautan. Kita sedang berada di sejuknya puncak. Kita sedang menikmati indahnya pernikahan. Badai sudah kita lalui dulu," ucap Mia.


"Tapi aku takut," ucap Dion.


Mia mengeratkan pelukannya.


"Mia janji tidak akan ada badai. Pelukan ini adalah salah satu cara Mia menjawab semua kegelisahan Aa. Mia hanya sayang sama Aa," ucap Mia.


"Eh, maaf." Rian kembali keluar setelah selangkah masuk ke ruangan Mia.


Ruangan Mia yang terbuka membuat Rian masuk tanpa mengetuk pintu. Ia tidak tahu kalau Dion dan Mia sedang berpelukan dengan begitu romantis.


"Masuk, Ri." Dion segera melepas pelukannya dengan Mia.


"Tidak apa-apa. Aku menunggu di sini saja," ucap Rian.

__ADS_1


"Ayo masuk!" ajak Mia sambil menemui Rian.


"Maaf ya Kak," ucap Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Tidak apa-apa. Ayo masuk!" ajak Mia lagi.


Rian masuk dan bingung dengan sikap Dion yang murung. Mia pun menceritakan apa yang sedang terjadi. Ternyata Rian setuju dengan ide Mia.


"Jadi nanti kalau Kak Sindi ke rumah Mama Helen, biar aku suruh ke rumah Kakak. Kak Danu biar sama aku saja," ucap Rian.


"Tapi kalau Nyonya Nathalie mau ikut gimana?" tanya Dion.


"Tenang. Aku akan tahan," jawab Rian.


"Tuh kan. Aa tenang saja. Nyonya Nathalie mah sudah ada pawangnya," ucap Mia sambil tertawa.


Dion pun ikut tertawa. Paling tidak, Rian akan menghubunginya jika Nyonya Nathalie pergi ke rumahnya. Ia bisa membawa Mia keluar dari rumah. Meskipun ia sendiri tidak tahu akan membawa Mia kemana.


"Oh ya kamu ada apa ke sini?" tanya Dion pada Rian.


"Memangnya tidak boleh ya? Apa jangan-jangan Kak Dion cemburu lagi padaku," tuduh Rian.


"Anak kurang ajar," ucap Dion sambil memukul pelan bahu Rian.


Rian hanya terkekeh. Ia pun menjelaskan kalau kedatangannya ke kantor Mia karena ingin curhat tentang Riri. Mia sangat mendukung jika Rian bolos kerja untuk menemui Riri. Ini kesempatan yang langka.


"Tenang saja. Kan ada Manto," ucap Mia.


"Iya si manusia super titisan dewa angin," tambah Dion.


Mia dan Rian menatap Dion lalu tatapan mereka saling beradu. Tawa pun tidak bisa dielakkan lagi.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Kakak kalau marah lucu juga ya!" ucap Rian.


"Hah?" tanya Dion.


"Aa ada-ada aja," ucap Mia sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak, kalau marah karena cemburu ya biasa aja. Kenapa Pak Manto yang jadi sasaran? Dikatain titisan dewa angin segala," ucap Rian.


"Loh, memang benar kan? Papa Felix pernah cerita kalau Pak Manto itu bisa kerja nyaris 24 jam tanpa tidur. Berkutat dengan ratusan lembar kertas setiap harinya. Kurang super gimana tuh? Kebayangkan gimana kertas-kertas itu bertebaran di mainin sama Pak Manto? Ngeri gak tuh?" ucap Dion.


"Sudah ah a, ayo pulang!" ajak Mia.


Mia tidak mau jika Dion terus berkelanjutan membahas tentang Manto untuk melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


__ADS_2