
"Aku sangat mencintaimu, Pus. Aku takut kehilanganmu," ucap Rey sambil mengolok-olok Rian.
Tentunya tidak hanya ucapan, tawa Rey juga pecah saat selesai mengejek sahabatnya itu. Sementara Rian yang berdiri di samping Rey hanya berusaha menahan malu. Ia tidak bisa menutupi wajahnya yang memerah.
"Dasar tukang nguping," ucap Rian sambil berlalu meninggalkan Rey.
"Mas tidak mau menungguku pulang? Aku kan baru masuk kelas," ucap Rey dengan nada gemulai.
Apalagi kalau bukan karena ingin melihat Rian semakin kesal dan malu. Namun sayangnya Rian tidak menggubris apa yang dilakukan Rey. Ia segera masuk dan mengemudikan mobilnya meninggalkan kampus. Ia tidak tahu kalau Hiro ternyata menemui Riri di kelasnya.
"Hiro," ucap Riri saat melihat Hiro masuk ke dalam kelasnya.
Riri yang terkejut dengan kedatangan Hiro segera menarik tangan Hiro agar keluar dari kelasnya. Apa yang dilakukan Riri ternyata malah menarik perhatian teman sekelasnya. Suara teriakan dari teman-teman sekelasnya membuat Riri marah pada Hiro.
"Kamu ini mau apa?" tanya Riri saat mereka sudah lumayan jauh dari kelas.
"Kenapa? Aku hanya ingin menemuimu saja. Todak boleh?" tanya Hiro dengan wajah polos dan pura-pura bersalah.
Riri yang begitu lembut tentu menjadi serba salah. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Bukan begitu. Tapi kamu jangan masuk ke kelas. Aku tidak enak dengan teman-teman yang lain," ucap Riri.
"Tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Hiro.
"Tadi kita sudah bertemu. Kita juga bisa bertemu nanti setelah pulang. Memangnya sepenting apa pertanyaanmu?" tanya Riri yang berusaha menahan kekesalannya.
"Ya sudah minta nomormu saja. Biar nanti aku menelepon saat sudah di rumah," jawab Hiro sambil memberikan ponselnya.
Tanpa pikir panjang Riri segera mengambil ponsel Hiro dan menuliskan nomornya.
"Jangan pernah mengulangi hal memalukan seperti tadi," ucap Riri tegas saat mengembalikan ponsel Hiro.
"Iya. Maaf dan terima kasih," ucap Hiro sambil menerima kembali ponselnya.
Kamu memang mudah aku perdaya Riri. Ini tidak seru. Aku tidak punya tantangan untuk mengalahkan Rian. Terlalu mudah.
Hiro mengecup ponselnya dengan senyum sinis. Lalu kembali ke kelasnya. Satu kemenangan sudah di depan mata. Hiro merasa Rian akan segera merasakan apa yang Maudi rasakan. Begitu pikiran Hiro saat ini.
Tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya, Hiro harus memendam dendam yang membara. Ketidakterbukaan ayahnya dan Maudi pada Hiro, sudah membuat salah paham yang terlalu jauh.
Langkah Hiro selanjutnya adalah mendekati Riri tiada henti agar membuat Rian tidak nyaman dan berharap kuliahnya kacau. Seperti hari ini, Hiro mengantar Riri pulang dan diam-diam mencuri foto Riri dalam mobilnya.
Untuk saat ini aku hanya bisa menyimpan foto dia. Tapi setelah ada peluang, aku akan membuat kamu gila, Rian.
__ADS_1
"Heeeey, Hiro! Stoooop!" teriak Riri sambil memukul Hiro.
"Eh, iya." Hiro mengerem mobil mendadak.
Riri sampai kesal karena nyaris saja dia menabrak kaca mobil.
"Kamu kalau sedang ada masalah jangan ajak-ajak aku ya!" ucap Riri ketus.
"Aduh maaf. Aku gerogi bawa wanita cantik sepertimu," ucap Hiro mencari alasan.
Riri menatap Hiro dengan dahi yang mengkerut. Ia hanya melihat Hiro sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa pujian Hiro itu terdengar sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Hiro.
"Terima kasih," jawab Hiro.
Tanpa menjawab pertanyaan Hiro, Riri memilih untuk segera turun dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Hiro sedang tersenyum senang dengan apa yang yang sudah ia lalui hari ini.
Riri tidak benar-benar masuk. Ia mengintip. Melihat Hiro benar-benar sudah pergi. Setelah memastikan mobil Hiro pergi, Riri mengusap dadanya. Ia terkejut saat ponsel dalam genggamannya berdering.
"Mas Rian," ucap Riri.
Bibirnya mengembang saat melihat nama Rian terpampang di layar ponsel. Dengan cepat, Riri menjawab panggilan dari Rian. Namun wajah bahagia itu tidak lama karena ternyata Rian kecewa saat tahu Riri pulang dengan Hiro.
"Tidak penting. Jadi kamu berharap aku tidak mengetahuinya kan?" Rian balik bertanya.
Tidak ingin masalah menjadi melebar dan panjang, Riri hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama.
Kamu kok jadi posesif begini sih Mas?
Riri yang tidak mendapat perlakuan Rian seperti ini sebelumnya, dibuat bingung dan tidak nyaman. Sedangkan Rian sendiri sengaja bersikap seperti itu, karena tidak ingin jika Hiro berpikir kalau Riri membuka hati untuknya.
Rian melempar ponselnya ke ujung ranjang saat panggilan sudah berakhir. Ia kesal sendiri.
"Kenapa aku harus begitu sih pada Mpus? Dia pasti tidak nyaman karena tidak terbiasa," gumam Rian sambil mengacak rambut hitamnya.
Hari ini Rian lalui dengan perasaan gelisah. Tuan Felix yang sibuk dengan pekerjaan kantor tidak tahu jika Rian tengah gelisah tentang perasaanny. Bahkan Tuan Felix baru pulang setelah jam dua belas malam, saat Rian sudah tertidur.
Keesokan paginya Rian bangun dan mandi. Hari ini ia masuk siang. Hingga bisa bersantai menunggu Tuan Felix di ruang makan. Namun sayangnya Rian tidak kunjung bertemu dengan ayahnya.
"Pah," panggil Rian.
Tidak ada jawaban, perlahan tangan Rian menyentuh handle pintu. Tidak dikunci, Rian membuka perlahan pintu. Sekali lagi Rian memanggil ayahnya. Setelah tidak ada jawaban, Rian membuka pintu itu semakin lebar dan masuk. Kosong. Ayahnya tidak ada di sana.
__ADS_1
Rian segera berlari menuju ke parkiran. Ia melihat mobil ayahnya sudah tidak ada. Ia yakin kalau Tuan Felix sudah berangkat ke kantor. Namun ia tetap khawatir karena tidak ada kabar apapun dari ayahnya.
"Ri," sapa Tuan Felix dari balik sambungan telepon.
Rian segera menanyakan keberadaan Tuan Felix. Ia kesal saat Tuan Felix melupakan dirinya hanya karena pekerjaan kantor. Tanpa ia sadari, justru ia yang terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri.
"Ya sudah aku ke kantor sekarang," ucap Rian sebelum mengakhiri panggilan itu.
Rian bersiap dengan laptop dan tugas kuliahnya. Rencananya ia akan ke kampus langsung dari kantor ayahnya. Sudah lama juga Rian tidak ke kantor. Ada rindu tersendiri saat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Rian, sudah Papa bilang. Kamu jangan ke kantor. Fokuslah dengan kuliahmu. Ingat kamu sudah semester akhir," ucap Tuan Felix.
"Aku tahu Pah. tapi aku ke sini hanya untuk bertemu dengan Papa," jawab Rian.
"Jangan kamu bilang kalau kamu merindukan Papa," ucap Tuan Felix.
"Memang kenyataannya seperti itu. Sekarang aku susah sekali punya waktu sama Papa," keluh Rian.
"Rian, mengertilah. Apa yang Papa lakukan hanya untuk masa depanmu. Perusahaan sudah kembali stabil," ucap Tuan Felix.
"Aku mengerti. Hanya saja, aku tidak terbiasa seperti ini. Kalau aku boleh memilih, aku tidak ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin di sini," ucap Rian.
"Papa tidak meragukan kemampuanmu Ri. Tapi walau bagaimanapun, selembar kertas yang kamu perjuangkan selama ini akan sangat berpengaruh untuk masa depanmu. Meskipun kamu anak Papa, kamu tetap butuh legalitas," ucap Tuan Felix.
Rian mengangguk. Kemudian ia menunduk. Ia sendiri mengiyakan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Namun hatinya tetap sedih saat tahu bagaimana cara ayahnya bekerja.
Waktu Tuan Felix memang tersita untuk bekerja. Ia bahkan hanya beberapa jam saja di rumah. Ia berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.
Rian berusaha untuk mengerti. Tapi ia sendiri tetap merasakan sebuah penyesalan. Ia selalu berandai-andai. Jika saja saat perusahaan ayahnya sedang kacau, ia sudah lulus. Mungkin ia tidak akan melihat Tuan Felix yang harus berjuang sendirian.
"Aku mengerti Pah. Aku janji setelah lulus nanti, aku akan tinggal dulu di sini. Ya paling tidak satu tahu. Aku harus mencari pengalaman dulu Pah," ucap Rian.
Rian memang akan di sana satu tahun sambil menunggu Riri benar-benar lulus. Setelah itu Rian akan mengajak Riri untuk kembali ke Indonesia
"Hey, kok malah melamun?" tanya Tuan Felix sambil menggebrak meja.
"Si-siap Pah," jawab Rian gugup sambil mengusap dadanya.
"Apanya yang siap?" tanya Tuan Felix.
"Hah? Emm," jawab Rian kebingungan.
"Ham, hem, ham, hem saja kerjaanmu." Tuan Felix menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum.
__ADS_1