Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Hiro


__ADS_3

"Ayo Maudi! Waktumu sudah habis," panggil ayahnya Maudi dari dalam mobil.


"Iya Pah," jawab Maudi.


Meski dadanya sesak, Maudi mengikuti ucapan ayahnya. Ia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan semua impian terbesarnya.


Aku pergi. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Aku akan menjadi bayangan gelap yang akan membuat kalian merasakan sakit yang aku alami saat ini.


Mobil melaju semakin menjauh dari kampus itu. Sama halnya seperti harapan dan impian Maudi yang semakin jauh bahkan nyaris hilang.


"Kamu tidak perlu bersedih. Di Indonesia pun kamu masih bisa kuliah," ucap ayahnya Maudi.


Maudi tidak menjawab. Ia tidak ingin membahas tentang kuliah. Seandainya bisa memilih, ia ingin hanya tidur dan menghabiskan waktunya untuk menangis. Meratapi penyesalannya yang tidak berguna sama sekali.


Indonesia. Negeri indah penuh cinta. Tapi tidak bagi Maudi. Cintanya tertinggal di Jerman. Seperti tertinggalnya sebagian hidupnya. Bersama ayah da adik laki-lakinya, Maudi hidup dalam kemewahan.


"Mo, makan dulu!" ucap Hiro.


Hiro adalah adik Maudi satu-satunya yang usianya tidak jauh dengan Maudi. Hanya berbeda dua tahun saja. Bahkan tahun depan Hiro juga sudah masuk kuliah. Mo, adalah nama panggilan Hiro untuk Maudi.


"Aku belum lapar," jawab Maudi.


"Mo, mau sampai kapan seperti ini? Aku tahu kamu kecewa, tapi aku yakin Papa punya alasan kuat untuk keputusannya ini. Meskipun aku tidak tahu apa alasannya," ucap Hiro.


"Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi Hiro. Lebih baik belajar yang baik," ucap Maudi malas.


"Kamu tidak berniat menceritakan semuanya padaku, Mo?" tanya Hiro.


"Tidak perlu," jawab Maudi.


"Kenapa? Kamu tidak percaya jika aku bisa menjaga rahasiamu?" tanya Hiro.


"Sudahlah. Kamu jangan banyak tanya. Keluar dari kamarku!" ucap Maudi.


Hiro menghela napas panjang dan menyimpan makanan untuk Maudi di atas nakas kamarnya. Meskipun Maudi keras kepala, Hiro selalu sabar dalam menghadapi kakak perempuannya itu.


"Aku keluar, tapi kamu makan ya! Aku tidak mau kamu sakit, Mo." Hiro keluar setelah Maudi tidak merespon ucapannya sama sekali.


Setelah suara pintu tertutup, Maudi memastikan jika Hiro sudah benar-benar keluar dari kamarnya. Ia tersenyum kecut.


"Kamu memang selalu baik meskipun aku selalu bersikap semauku. Terima kasih Hiro," ucap Maudi.


Di luar kamar, Hiro mencari ayahnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Maudi. Bagaimanapun, ia tidak tega melihat Maudi murung begitu.


"Hiro," panggil ayahnya.


"Pah, aku mencari Papa dari tadi." Hiro mendekat kepada ayahnya.


"Ada apa?" tanya ayahnya.


"Ada apa dengan Maudi? Kenapa dia murung begitu?" tanya Hiro.

__ADS_1


"Biarkan saja dulu dia tenang. Nanti biar dia yang menjelaskan semuanya padamu," jawab ayahnya. "Papa istirahat dulu," lanjutnya.


Hiro hanya mematung. Ia berdiri menatap punggung ayahnya. Nampak ada masalah. Tapi apa? Hiro tidak tahu jika ayahnya mencabut kuliah Maudi di Jerman.


"Ada apa ini? Kenapa aku diperlakukan seperti anak kecil?" ucap Hiro.


Hiro hanya menggelengkan kepalanya. Ia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Matanya menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang ia lipat ke belakang kepalanya.


Dalam kesendirian, Hiro memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi pada Maudi. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, Hiro bisa membuktikan jika ayahnya berhasil mendidiknya menjadi anak yang baik.


Malam sudah berganti, sementara Hiro yang sibuk mencari tahu penyebab kemurungan Maudi, Rian tengah menikmati hari-hari bahagianya. Ketenangan hidupnya tanpa gangguan dari Maudi.


"Hari ini kamu terlihat begitu bahagia, Ri. Jadian sama Mpus ya?" goda Tuan Felix.


"Ih Papa apaan sih?" ucap Rian.


"Kamu jangan malu. Papa siap kok jadi teman curhat kamu," ucap Tuan Felix.


"Pah, aku dan Mpus hanya berteman. Tidak lebih dan jangan berharap lebih," ucap Rian.


"Loh, kenapa? Mpus menolakmu ya?" tanya Tuan Felix.


"Aduh, ini lagi. Tidak ada tolak menolak Pah," jawab Rian.


"Kalau begitu yang ada tarik menarik dong?" goda Tuan Felix.


"Tahu ah," ucap Rian sambil memalingkan wajahnya.


Dengan perasaan perasaan penuh harap, Rian berusaha tenang dan tidak menunjukkan apapun pada Tuan Felix. Ia tidak ingin jika ada orang yang tahu tentang perasaannya pada Riri.


"Semoga kehadiran Mpus bisa membuat semangat belajar kamu semakin tinggi ya!" ucap Tuan Felix.


"Paaaah," ucap Rian.


"Iya, iya sudah sana berangkat!" Tuan Felix melambaikan tangan pada Rian.


Rian pergi dengan wajah yang memerah. Ia melihat wajahnya dari spion.


"Hey, ada apa ini? Kenapa dadaku berdebar tidak karuan begini ya?" gumam Rian sambil memegang dadanya.


Rian berusaha menenangkan dirinya sebelum akhitnya mobil melaku menuju kampus. Namun sayangnya, pemandangan pagi ini membuat Rian sakit. Ia melihat Riri dan Rey sedang mengobrol di bebangkuan.


Lama Rian tidak keluar dari mobil. Ia mengamati keduanya yang terlihat begitu asyik. Rasanya sakit saat mendapat kenyataan jika Rey bisa membuat Riri tertawa bahagia.


"Apakah sosok Rey yang selama ini bisa membuatmu bahagia, Pus?" tanya Rian sambil menggenggam erat setir mobilnya.


Setelah Rey dan Riri tidak lagi di sana, Rian keluar dari dalam mobil. Pikiran dan perasaannya kacau. Ia masuk ke dalam kelas dan tidak mendapati Rey di sana.


Pikiran Rian semakin kacau, saat ia menduga jika Rey sengaja menghabiskan waktunya pagi ini dengan Riri. Senyum yang mengembang sejak di rumah telah sirna. Ia tidak lagi bisa tersenyum. Rasanya ia sudah kalah sebelum berperang.


Belum juga Rian mencoba menyatakan perasaannya, ia sudah melihat Rey lebih dulu mendekati Riri. Meskipun ia tidak tahu kedekatan seperti apa yang sedang terjalin diantara keduanya, namun Rian sudah merasa sangat sakit dengan kedekatan mereka.

__ADS_1


Selang beberapa menit sebelum kedatangan dosen ke kelas, Rey baru datang dengan senyum lebar yang mengembang. Rian segera menunduk saat melihat Rey. Ia tidak ingin bicara dengan Rey dengan perasaannya yang sedang kacau.


"Ri," sapa Rey.


Mau tidak mau Rian mengangkat wajahnya dan tersenyum saat Rey menepuk bahunya.


"Kenapa?" tanya Rey.


Seperti biasa, Rian bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Rey bisa menebak jika Rian sedang tidak baik-baik saja. Rian beruntung karena kedatangan dosen membuat Rey segera mengabaikan pertanyaannya.


Setelah selesai, Rian segera meninggalkan ruangan. Bahkan saat Rey mencoba menahan Rian, ia segera menghindar.


"Aku ada urusan dulu," ucap Rian.


Urusan apa? Rian hanya sedang mencari alasan bisa terbebas dari pertanyaan Rey. Ia segera pergi ke perpustakaan. Ruangan yang jarang sekali dikunjungi oleh Rey. Namun Rian tidak tahu jika tempat itu menjadi tempat favorit Riri.


"Mas Rian," sapa Riri.


Rian yang sedang duduk di pojok ruang perpus terkejut dengan kehadiran Riri.


"Pus," ucap Rian.


"Mas Rian di sini juga?" tanya Riri.


"Iya. Aku pikir kamu tidak di sini," jawab Rian.


"Aku sering ke sini Mas. Mas lagi cari buku apa?" tanya Riri.


"Ini, aku cari buku ini." Rian meraba rak buku dan mengambil sebuah buku cukup tebal secara acak.


"Itu kan buku memasak. Mas mau jadi koki?" tanya Riri menahan tawanya.


Rian menelan salivanya dengan susah payah saat melihat buku yang ia pegang ternyata buku tentang memasak.


"A-aku mau belajar memasak. Ya, aku mau belajar memasak. Boleh kan?" tanya Rian gugup.


Lagi-lagi Riri bisa menebak keadaan Rian yang sedang tidak baik-baik saja.


"Mas kenapa?" tanya Riri.


Kenapa semua orang bertanya kenapa sih? Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.


Rian hanya tersenyum dan menggeleng.


"Mas, kalau ada apa-apa bisa cerita padaku. Mas kan pernah bilang kalau kita akan melanjutkan cerita kita," ucap Riri.


"Kapan-kapan saja ya. Aku takut kamu sedang sibuk," ucap Rian.


"Aku tidak sibuk sama sekali Mas," jawab Riri.


"Kalau tidak sibuk kenapa tidak menemui Rey? Dia ada di kelas," ucap Rian.

__ADS_1


Ririr mengerutkan dahinya.


"Rey?" tanya Riri bingung.


__ADS_2