
Taman belakang adalah pilihan tepat untuk mereka saling bercerita satu sama lain. Adem dan tidak akan mengganggu siapapun. Karena anak-anak sedang bermain di tempat yang disediakan Mia khusus untuk anak mereka. Tawa Mia dan yang lain yang cukup menggelegar tidak akan mengganggu keasyikan anak-anak.
Meskipun sambil bersenda gurau, namun Rian sudah mulai memahami cerita ketiga kakak perempuannya. Saling curhat tentang suami. Tanpa ada niat saling membuka aib, namun mereka saling berbagi cerita dan pengalaman.
Rian yang mulai beranjak dewasa mendapat banyak sekali pelajaran dari obrolan ini. Ketiganya juga mengingatkan Rian untuk mempersiapkan diri agar menjadi laki-laki bertanggung jawab. Meskipun ketiganya bukan kakak kandungnya, namun mereka benar-benar perhatian pada Rian.
"Om Rian, Om Rian," teriak Yaza, anak Maya dan Reza.
"Iya," jawab Rian dengan lembut.
"Ayo main!" ajak Yaza.
"Yaza, om Rian sedang bicara dengan bunda. Miannya sama Mba aja ya di dalam," bujuk Maya.
"Tidak apa-apa Kak. Aku main dengan anak-anak aja. Kakak lanjut ngobrol aja," ucap Rian.
Sikap Rian yang lembut dan menyukai anak-anak membuat empat keponakannya selalu nempel jika ada Rian. Ketiganya juga meyakini jika Rian akan menjadi seorang ayah yang baik kelak.
"Gak kerasa ya Rian sudah kuliah. Sudah bujangan," ucap Maya saat melihat Rian pergi menjauh.
"Iya. Perasaan baru kemarin dia masih jadi anak SMP," tambah Sindi.
"Malah sekarang sudah berpikir tentang pernikahan," ucap Mia.
"Hah?" tanya Maya dan Sindi bersamaan.
Mia menceritakan apa yang sering Rian ceritakan padanya. Ada rasa cemburu saat Sindi tahu, kini Rian lebih percaya pada Mia dibanding dirinya. Namun ia segera menepis pikiran buruknya. Bagaimanapun, hubungan Mia dengan Rian lebih dekat jika dibandingkan dengan dirinya. Rian saja tinggal dengan ayah kandung Mia. Wajar jika Rian lebih terbuka pada Mia, begitu pikir Sindi.
"Eh, bayangkan nanti kalau Rian nikah, kita sudah tua ya?" ucap Maya tiba-tiba.
Mia dan Sindi saling menatap dan tertawa puas. Mereka sudah lama tidak berkumpul dan tertawa bersama. Kesibukan masing-masing membuat mereka sulit mengatur waktu untuk bertemu.
"Ayo makan siang dulu!" ajak Tuan Felix.
Ketiganya terkejut saat Tuan Felix mengingatkan untuk makan siang. Padahal mereka baru merasa beberapa menit saja berkumpul bersama. Namun ternyata beberapa jam sudah mereka lewati begitu saja tanpa terasa.
"Sudah berkumpul di sini?" tanya Sindi saat melihat Dion, Danu dan Reza di ruang makan.
__ADS_1
"Sudah lama. Menunggu ibu-ibu yang asyik menggosip membuat cacing di perutku semakin demo. Ayo makan!" ucap Dion sembari menyiapkan piringnya.
"Enak saja. Siapa yang menggosip? Kami hanya saling bercerita saja," ucap Mia.
"Ah, pasti ada bahasan gosipnya walaupun cuma lima menit. Ayo ngaku!" ucap Dion.
"Tidak cukup lima menit, ada lah tiga puluh menitan." Sindi membuat Mia menepuk bahunya.
Mereka semua tertawa. Bahagia rasanya bisa berkumpul seperti itu. Saat itu mereka merasa tidak ada beban sama sekali dalam hidupnya. Mereka juga sepakat untuk menyempatkan berkumpul meski sebentar dalam waktu sebulan sekali.
"Iya sudah seharusnya begitu. Kalian ini masih tinggal di Jakarta. Sibuknya seperti pejabat saja," sindir Tuan Felix.
Tuan Felix merasa senang saat melihat Mia berkumpul dengan teman-temannya seperti itu. Ia tahu jika Mia terlalu sibuk dengan perusahaan dan anak kembarnya.
"Tapi Papa jangan iri ya!" ucap Sindi memanas-manasi.
Selama ini, Sindi adalah orang yang paling dekat dengan Mia. Ia bahkan sudah memanggil Tuan Felix dengan sebutan Papa, seperti Mia. Sedangkan Maya, ia nampak masih canggung dengan sebutan itu.
"Eh, Rian mana?" tanya Danu.
"Iya ya. Tadi sedang mengobrol, Yaza mengajak Rian untuk main. Aku cari Rian dulu di ruangan anak," ucap Maya.
"Kenapa? Rian mana?" tanya Sindi.
"Rian tidur dengan anak-anak," jawab Maya.
"Tidur? Padahal tadi dia bangun paling siang," jawab Sindi.
"Narendra sama Naura juga sudah sangat jarang tidur siang," ucap Mia dengan sedikit bingung.
Ternyata rasa nyaman yang diberikan oleh Rian pada anak-anak membuat mereka bisa benar-benar mengikuti apa yang Rian minta. Tapi sayangnya, Rian juga ikut terlelap saat anak-anak tidur.
"Biarkan saja. Rian sedang menikmati masa-masa liburannya. Di sana Rian tidak pernah tidur siang. Waktunya ia habiskan dengan belajar dan belajar," ucap Tuan Felix.
Ya, Dion dan Mia adalah pasangan suami istri yang menjadi tolak ukur masa depan bagi Rian. Mereka bisa bekerja sama dalam pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah.
Mia yang begitu cerdas dan cekatan urusan pekerjaan, tidak begitu saja melupakan kewajibannya untuk mengurus suami. Begitupun Dion, ia yang begitu penuh wibawa saat di kantor, akan sangat bijak dan menyayangi anak kembarnya saat di rumah.
__ADS_1
"Rian sepertinya sudah mau menikah ya," ucap Sindi.
Mia segera menyikut Sindi. Ia tidak ingin bahasan ini menjadi bahasan saat di meja makan. Apalagi di hadapan Tuan Felix yang tidak suka dengan pembahasan ini.
"Dia masih terlalu muda. Biarkan dia tumbuh menjadi seorang pengusaha sukses. Wanita itu banyak. Kalau dia sukses, dia bisa pilih wanita mana yang ia inginkan." Tuan Felix memperjelas apa tujuannya untuk Rian.
Semuanya diam. Sindi menutup mulutnya rapat-rapat. Ia sangat merasa bersalah telah mengeluarkan kalimat itu. Danu memberikan senyumnya untuk Sindi. Seolah ia menenangkan istrinya. Mia juga mengusap tangan Sindi. Sindi senang saat orang-orang masih menyemangatinya.
Selesai makan, Tuan Felix pergi lebih dulu meninggalkan meja makan. Danu segera memburu istrinya. Posisi duduk mereka yang saling berhadapan membuat Danu tidak bisa segera menenangkan Sindi saat ia merasa ketakutan karena kesalahannya.
Melihat Danu mendekati Sindi yang duduk di sampingnya, Mia segera menjauh dan pindah duduk di samping Dion. Semua menyaksikan bagaimana rasa sayang dan peduli Danu yang begitu tinggi untuk Sindi.
"Sin, maafin Papa ya!" ucap Mia.
"Aku yang seharusnya minta maaf Mi. Aku tidak tahu kalau Papa akan semarah itu," ucap Sindi.
"Tuan Felix tidak marah. Ia hanya takut saja. Harapannya untuk Rian sudah ia tata dengan baik. Ia takut kecewa. Itu saja," ucap Danu menenangkan.
"Terima kasih ya!" ucap Sindi sembari memeluk Danu.
Mereka kembali melanjutkan obrolannya sembari menunggu anak-anak bangun. Saat mereka sudah bangun, Sindi dan Maya segera pamit. Hari sudah semakin sore.
"Sin, Papa mau bicara dulu sebentar. Sama kamu ya Dan," Tuan Felix meminta waktu untuk bicara.
Danu mengangguk dan mengajak Sindi untuk bicara dengan Tuan Felix.
"Maafin Papa. Papa tahu sikap Papa tadi berlebihan. Papa hanya tidak bisa mengontrol diri Papa. Apalagi kamu pasti tahu tentang wanita yang digilai Rian itu. Papa khawatir sekali jika Rian bertemu dengan orang yang salah," ucap Tuan Felix.
"Kami mengerti Pah. Harusnya aku yang minta maaf. Aku tidak tahu Papa sekhawatir ini. Aku janji akan mengingatkan Rian juga untuk tidak bersama wanita itu lagi," ucap Sindi.
"Terima kasih Sin. Danu terima kasih ya kamu sudah membuat Sindi menjadi istri yang sangat baik," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih juga karena Tuan sudah menyayangi istri saya seperti anak Tuan sendiri. Terima kasih karena Tuan tidak membedakan kasih sayang Tuan untuk Sindi dan Mia. Sindi sangat bahagia dengan kehadiran sosok Tuan dalam hidupnya," ucap Danu.
"Kamu terlalu berlebihan Danu. Ya sudah kalian kalau mau pulang hati-hati ya! Salam untuk Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan," ucap Tuan Felix.
"Papa kenapa?" tanya Rian saat melihat Tuan Felix diam setelah kepergian Sindi dan Danu.
__ADS_1
"Papa bangga dengan Danu. Ia sudah berhasil membuat Sindi bahagia. Papa yakin anak baik akan selalu Tuhan pertemukan dengan anak yang baik lagi," ucap Tuan Felix.